FAKTOR SOSIOKULTURAL DALAM PROSES BELAJAR DAN PENGAJARAN BAHASA


Oleh:

Sitti Fauziah M. M.Pd

Abstrak: Budaya adalah bagian integral dari interaksi antara bahasa dan pikiran. Faktor sosial dan kultur atau budaya memiliki hubungan yang erat dengan bahasa. Setiap kali kita mengajarkan satu bahasa, kita juga mengajarkan satu sistem yang kompleks tentang kebiasaan budaya, nilai-nilai, cara berpikir, merasa, dan bertindak.
Faktor-faktor sosiokultural juga berkaitan erat dalam proses pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing. Pebelajar bahasa kedua bisa terputus aksesnya dengan penutur asli (dan berdampak juga pada input yang dibutuhkan) akibat jarak sosial dan jarak psikologis. Akulturasi dan pemerolehan bahasa kedua juga ditentukan oleh seberapa jauhnya jarak sosial (social distance) dan jarak psikologis (psychological distance) antara pebelajar dan budaya bahasa sasaran.
Oleh karena itu, Guru dapat memberi pemahaman pada murid-murid tentang pentingnya memahami budaya kelompok pemakai bahasa sasaran jika mereka ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik dan mencapai tingkat mahir.

Kata Kunci: Faktor Sosiokultural, Pengajaran Bahasa Kedua

Pendahuluan
Dalam proses pembelajaran bahasa banyak faktor yang mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tersebut dan salah satunya adalah faktor-faktor sosiokultural. Faktor sosial dan kultur atau budaya memiliki hubungan yang erat dengan bahasa. Setiap kali kita mengajarkan satu bahasa, kita juga mengajarkan satu sistem yang kompleks tentang kebiasaan budaya, nilai-nilai, cara berpikir, merasa, dan bertindak (H. Douglas Brown, 2000: 65).
Bahasa, di samping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Antara anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Bahasa memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya.
Melalui bahasa seorang anggota masyarakat perlahan-lahan belajar mengenal adat istiadat, tingkah laku dan tata krama masyarakatnya. Ia mencoba menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya melaui bahasa. Seorang pendatang baru dalam sebuah masyarakat pun harus melakukan hal yang sama. Bila ingin hidup tenteram dan harmonis dengan masyarakat itu ia harus menyesuaikan dirinya dengan masyarakat itu, untuk itu ia memerlukan bahasa, yaitu bahasa masyarakat tersebut. Bila ia dapat menyesuaikan dirinya maka ia pun dengan mudah membaurkan dirinya (integrasi) dengan segala macam tata-krama masyarakat tersebut.
Bahasa menunjukkan perbedaan antara satu dengan yang lainnya, tetapi masing-masing tetap mengikat kelompok penuturnya dalam satu kesatuan. Setiap individu memungkinkan untuk menyesuaikan dirinya dengan adat istiadat dan kebiasaan bahasa masyarakat itu. Dua orang yang mempergunakan bahasa yang sama, akan mempergunakan pula kata-kata yang sama untuk melukiskan suatu situasi yang identik. Kata sebagai sebuah simbol bukan saja melambangkan pikiran atau gagasan tertentu, tetapi juga melambangkan perasaan, kemauan dan tingkah laku seseorang.
Dalam tulisan ini akan memaparkan pengertian tentang budaya, juga hubungan antara belajar bahasa kedua dan belajar konteks budaya bahasa kedua tersebut. Beberapa topik akan dibahas diantaranya adalah jarak sosial (social distance), budaya dalam kelas, kebijakan politik dan kebahasaan, bahasa-budaya dan pikiran, juga beberapa contoh penerapannya dalam pengajaran bahasa di kelas.

Definisi Budaya
Kultur atau budaya adalah pengetahuan yang diperoleh secara sosiai — socially acquired knowledge. Pengetahuan ini diperoleh dari orang-orang lain di dalam lingkungan sekelilingnya; bisa melalui petunjuk langsung atau dari mengamati perilaku mereka (R.A. Hudson, 1988: 77). Budaya juga didefinisikan sebagai gagasan, kebiasaan, keahlian, seni, dan peralatan (tools) yang menjadi ciri satu kelompok masyarakat pada suatu masa tertentu. Tapi budaya bukan hanya sekedar kumpulan dari bagian-bagian kecil. Larson dan Smalley dalam Brown (2000:176) memandang budaya sebagai penuntun tingkah laku seseorang dalam suatu komunitas; budaya membuat orang peka terhadap suatu masalah, dan budaya juga menolong kita untuk mengetahui apa yang orang lain harapkan dari kita (H. Douglas Brown, 2000: 176). Kenyataannya memang tidak ada satupun kelompok masyarakat yang tidak mempunyai budaya.

Stereotipe Budaya
Dalam pertukaran budaya, kita menyadari bahwa semua aspek yang ada dalam budaya yang masuk akan bercampur dengan budaya kita, baik budaya positif maupun negatif. Tentu saja pandangan seseorang tentang budaya yang masuk itu berbeda-beda. Jika seseorang berpandangan tertutup (close-minded) maka mereka tidak akan bisa menerima perbedaan-perbedaan dari budaya mereka. Dan hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sebuah ‘stereotype’ tercipta. Stereotype melukiskan tipikal dari anggota masyarakat. Contohnya, ada anggapan bahwa orang Amerika semuanya kaya, santai, matrealistis, terlalu ramah, dan suka minum kopi. Orang Italia umumnya penuh gairah (passionate), kekasih yang hebat, dan suka minum anggur merah. Sedangkan orang Inggris sopan, pelit, dan suka minum teh.
Stereotype mungkin benar dalam menduga watak ‘umum’ anggota budaya tertentu tapi tidak akurat untuk menggambarkan satu individu karena setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Olen karena itu stereotyping atau pelabelan orang dari budaya berbeda haruslah dihindari baik pebelajar maupun guru bahasa kedua harus memahami perbedaan budaya, menyadari bahwa setiap orang berbeda-beda dan menghormati perbedaan tersebut.

1. Attitudes (sikap)
Menurut Gardner (1979), sikap memengaruhi motivasi yang pada akhimya akan mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua atau Second Language Acquisition-SLA (Diane Larsen Freeman, Michael H. Long, 1992: 173); dengan kata lain sikap memiliki efek penting namun tidak langsung terhadap SLA. Salah satu sikap yang paling banyak diteliti adalah sikap si pebelajar terhadap para pembicara (speakers) bahasa sasaran (target language-TL.) tersebut. Makin positif sikap si pebelajar maka makin bagus pula kemajuan belajarnya..
Sebuah studi dilakukan oleh Hermann (1980) yang meneliti satu kelompok yang terdiri dari 750 anak-anak Jerman yang sedang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (Diane Larsen Freeman, Michael H. Long, 1992: 175). la menemukan bukti bahwa anak anak yang sudah belajar bahasa Inggris selama lima tahun menunjukkan sikap positif yang jauh lebih tinggi terhadap budaya sasaran (target culture) dibandingkan kelompok yang baru mulai belajar bahasa Inggris. Kesimpulan Hermann adalah: kepuasan yang didapatkan pebelajar dari prestasinya dalam kegiatan belajar bisa mempengaruhi sikapnya terhadap satu kelompok ethnolinguistic bahkan bisa menghasilkan perubahan sikap. Jadi, bisa disimpulkan bahwa sikap dan kemajuan belajar sangat terkait erat dan mempengaruhi satu sama lain.
Meneliti lebih dalam lagi, menurut Freeman dan Long (1991) ada beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi sikap dan motivasi pebelajar untuk mempelajari satu bahasa.

a. Orang Tua
Beberapa studi sudah menyelidiki peran orang tua dalam pembentukan sikap si pebelajar terhadap pengguna TL. Diantaranya Feenstra (1969) yang menyimpulkan bahwa anak-anak Anglophone di Canada yang belajar bahasa Perancis sebagai bahasa kedua di Montreal tidak harya mengadopsi sikap orang tuanya terhadap komunitas French Canada tapi sikap ini juga mempengaruhi prestasi anak-anak itu dalam mempelajari bahasa Perancis.

b. Teman Sebaya (peers)
Penelitian Elias-Olivares (1976) menunjukkan bahwa generasi kedua Mexican American lebih suka memakai dialek calo daripada memakai bahasa Spanyol standar yang mereka pelajari di kelas bilingual. Hal ini dikarenakan anak-anak yang sudah lebih lama memakai calo akan mengolok-olok jika mereka berusaha bicara dengan bahasa standar.

c. guru
Sikap guru terhadap murid sudah tentu mempengaruhi kualitas belajar. Bahkan Tucker dan Lambert (1973) menyatakan sikap guru lebih penting daripada sikap orang tua atau masyarakat dalam mempengaruhi hasil pemerolehan bahasa kedua.

d. Etnis
Kelompok etnis seseorang bisa menentukan sikap dan perilaku terhadap anggota kelompok lain dan pada akhirnya bisa mempengaruhi pembelajaran bahasa kedua/asing.

2. Akulturasi
Teori akulturasi berfokus pada pertanyaan kenapa pebelajar bahasa kedua, tidak seperti pebelajar bahasa pertama, kerap gagal mencapai kefasihan (mastery) bahasa sasaran. Penjelasannya disebut dengan istilah ‘distance’ atau ‘jarak’. Pebelajar bahasa kedua bisa terputus aksesnya dengan penutur asli (dan berdampak juga pada input yang dibutuhkan) akibat jarak sosial atau jarak psikologis. Dalam kasus seperti itu maka perkembangan kemampuan pebelajar menjadi berhenti ‘fossilizes’ dan tidak ada perkembangan lebih lanjut pada interlanguage.
Akulturasi adalah proses modifikasi sikap, pengetahuan, dan perilaku dengan cara menambahkan elemen-elemen baru pada latar belakang budaya seseorang, mengurangi beberapa elemen yang sudah ada sebelumnya, dan penyusunan ulang (reorganisasi) elemen-eleinen lain (Barry McLaughlin, 1989). Keseluruhan proses akulturasi tersebut membutuhkan adaptasi sosial dan psikologis.
Akulturasi dan pemerolehan bahasa kedua ditentukan oleh seberapa jauhnya jarak sosial (social distance) dan jarak psikologis (psychological distance) antara pebelajar dan budaya bahasa sasaran. Social distance berhubungan dengan individu sebagai anggota kelompok sosial yang berhubungan dengan kelompok sosial lain yang anggota-anggotanya bicara dengan bahasa berbeda. Sedangkan Psychological distance adalah hasil dari beragam faktor-faktor afektif yang menyangkut si pebelajar sebagai individu, misalnya gegar budaya dan motivasi tinggi/rendah.
Gegar budaya (culture shock) adalah pengalaman yang sering terjadi pada pebelajar bahasa kedua pada budaya keduanya. Artinya, pebelajar itu belajar bahasa kedua di tempat yang baru dengan budaya yang baru juga. Gegar budaya identik dengan rasa asing, marah, frustasi, tidak senang, sedih, kesepian, bahkan sakit fisik.
Gegar budaya ini digambarkan sebagai tahap kedua dalam pemerolehan budaya (culture acqusition), yang seluruhnya terdiri dari:
1. Euphoria dan excitement;
2. Gegar budaya (culture shock),
3. Culture stress;
4. Asimilasi dan adaptasi.

Namun, gegar budaya juga bisa dianggap sebagai sesuatu yang positif yaitu sebagai pengalaman be!ajar lintas budaya dimana seseorang menjadi sadar akan perkembangan, proses belajar, dan perubahan vang terjadi pada dirinya. Melalui pengalaman ini seseorang akan mendapatkan cara pandang yang berbeda atas dirinya sendiri dan memahami nilai-nilai, sikap, dan cara pandang orang lain yang diturunkan dari budaya mereka.

3. Social Distance (jarak sosial)
John Schuman dalam Brown (2000:185) mendeskripsikan jarak budaya seperti di bawah ini:
1. Dominansi; sehubungan dengan kelompok bahasa target (Target Language Group), apakah kelompok pembelajar bahasa kedua (second language group-L2 group)
tersebut dominan, non-dominan, atau sub-ordinat secara politik, budaya, teknis, dan ekonomi?
2. Integrasi; bagaimana pola integrasi kelompok L2? Apakah secara asimilasi, akulturasi, atau preservasi? Apakah derajat/tingkat kelompok L2 saling terpisah?
3. Kepaduan; apakah kelompok L2 saling terpadu? Seberapa banyakkah anggota kelompok L2 tersebut?
4. Kesamaan; apakah ada kesamaan budaya antara kelompok L2 dan kelompok TL dalam hal sistem nilai dan kepercayaan? Bagaimana sikap-sikap keduanya satu sama lain?
5. Lama tinggal; Seberapa lamanya kelompok L2 berniat untuk tinggal di daerah TL?

Kelima faktor diatas digunakan pula oleh Schumann untuk mendeskripsikan situasi belajar bahasa yang ‘baik’ dan yang ‘buruk’. Situasi belajar yang buruk adalah:
1. Kelompok TL menganggap bahwa kelompok L2 dominan dan kelompok L2 pun beranggapan sama terhadap diri mereka. Kelompok L2 padu dan besar, budaya keduanya tidak sama, keduanya memiliki pandangan yang buruk satu sama lain, dan
kelompok L2 bemiat untuk tinggal di wilayah TL sebentar saja.
2. Situasinya sama dengan poin 1 tapi kelompok L2 justru menganggap diri mereka sebagai kelompok minoritas dan dianggap demikian pula oleh kelompok TL.

Situasi belajar yang baik adalah: kelompok L2 tidak mendominasi kelompok TL. Keduanya saling berasimilasi atau minimal berakulturasi. Budaya keduanya mirip/sama Kelompok L2 hanya sedikit dan tidak begitu padu. Kedua kelompok saling menghargai. Kelompok L2 berniat untuk tinggal di wilayah TL lebih lama. Kondisi-kondisi inilah yang akan meminimalkan jarak atau kesenjangan dan pemerolehan bahasa target akan tercapai.
Salah satu kelemahan hipotesis Schumann tersebut terletak pada cara pengukuran jarak yang ada, seberapa besar jarak tersebut, bagaimana cara mengukurnya, dan bagaimana cara pengukuran tersebut dapat menjadi tolak ukur perbandingan jarak yang ada. William Acton kemudian menentukan solusi dengan tes PDAQ (Professed Difference in Altitude Questionnare) yang mengkarakterisasi pebelajar bahasa yang baik/berhasil. Tes ini memiliki tingkat akurasi tinggi. Tes ini mencoba menggambarkan perbedaan-perbedaan konsep kata (misalnya ‘perceraian’ atau ‘polisi’) berdasarkan jarak antara pebelajar dengan masyarakat mereka sendiri secara umum, dengan anggota kelompok TL, dan antara masyarakat mereka sendiri dengan masyarakat kelompok TL.
Teori Acton didukung pula oleh Lambert yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa asing terjadi seiring dengan kondisi/situasi di mana pebelajar telah ‘keluar’ dari budaya awalnya tapi belum seutuhnya berasimilasi dengan/ ke dalam budaya TL. Menurut optimal distance model (Brown: 1980) tentang pemerolehan bahasa kedua, orang dewasa yang gagal menguasai bahasa kedua dalam budaya kedua mungkin telah gagal menyelaraskan antara perkembangan linguistik dengan budaya.

6. Budaya dalam Kelas
Tidak semua siswa dapat dengan mudah beradaptasi dengan budaya baru. Ada sebagian siswa yang mengalami hambatan psikologis dan efek-efek budaya lainnya. Siswa yang mengalami haI ini bisa merasa diasingkan oleh orang-orang disekitarnya dalam budaya kelompok TL. Keterasingan budaya ini dapat diatasi dengan teknik role-play (untuk berkomunikasi secara oral) dan menggunakan teknik lain seperti bacaan, film, atau pemainan simulasi.
Belajar bahasa yang baik adalah dengan mempelajari bahasa tersebut di wilayahnya, misalnya belajar bahasa Jepang di Jepang. Tapi kendalanya adalah siswa terkadang masih membawa dan cenderung menerapkan budaya aslinya ke dalam budaya barunya. Geert Hofstede dalam Brown (2000:190) menggunakan empat kategori untuk mempelajari norma budaya dari lima puluh negara yang berbeda:
1. Budaya individualisme melawan budaya kolektivisme. Dalam budaya individualis, seseorang dipandang berdasarkan kepentingannya sendiri atau kepentingan anggota
keluarganya. Sedangkan dalam budaya kolektivisme, seseorang dipandang sebagai anggota kelompok/keluarga/marga/organisasi tersebut sejak kelahirannya.
2. Perbedaan derajat. Seseorang dengan posisi/pangkat yang tinggi akan diperlakukan dengan hormat sedangkan seseorang dengan pangkat rendah akan diperlakukan dengan rendah pula.
3. Menghindari kebingungan, dilakukan dengan cara menjaga tingkah laku dan sikap.
4. Gender. Ada budaya yang meletakkan semua peran sosial pada pihak lelaki (patrilineal).

7. Kebijakan Berbahasa dan Politik
Bicara tentang bahasa dan masyarakat tidak terlepas dari faktor-faktor politik tentang penggunaan bahasa dan kebijakan berbahasa. Bahasa Inggris yang sekarang ini telah menjadi ‘lingua franca’ telah menimbulkan perdebatan internasional tentang pembuatan kebijakan berbahasa yang harus berhadapan dengan bermacam-macam legitimasi bahasa lnggris yang ada.
a. Status bahasa Inggris dalam keberagamannya
b. Munculnya konsep baru terhadap konteks penggunaan bahasa Inggris. Contoh: adanya bahasa Inggris Melayu di Malaysia dan Singapura, bahasa Inggris India di India. Hal ini dinamakan sebagai proses nativisasi atau pengaslian.
c. ESL (English as a Second Language) dan EFL (English as a Foreign Language).
d. ESL berarti bahasa Inggris dipelajari sebagai bahasa kedua dan digunakan di negara tersebut. EFL berarti bahasa Inggris hanya dipelajari sebagai bahasa asing dan bukan sebagai bahasa sehari-hari. Pebelajar harus bisa membedakan status budaya dan sosiopolitikalnya dalam bahasa asli dan bahasa target, tujuannya mempelajari bahasa tersebut, dan intensitas motivasi pebelajar tersebut.
e. Imperialisme linguistik dan hak-hak bahasa
f. ’Penjajahan’ bahasa asli oleh bahasa asing (bahasa Inggris), Sebagai guru, kita harus waspada terhadap penerapan sistem nilai asing terhadap siswa.
g. Kebijakan berbahasa dan kewajiban menggunakan bahasa Inggris

Satu lagi bentuk manifestasi penguasaan sosiopolitis di dunia ada pada kebijakan pemerolehan bahasa kedua. Kebijakan berbahasa bervariasi antara penggunaan bahasa dalam pendidikan anak dengan penggunaan bahasa secara resmi dalam suatu negara. Untuk mengatasinya diperlukan kehati-hatian dalam pembuatan kebijakan berbahasa karena bahasa akan dianggap sebagai suatu sistem nilai bagi generasi selanjutnya dalam masyarakat tersebut.

8. Hubungan Bahasa, Pikiran, dan Budaya
Perkembangan kognitif dan perkembangan linguistik berjalan beriringan dan berinteraksi satu sama lain. Cara sebuah gagasan/fakta dinyatakan mempengaruhi cara kita membentuk konsep tentang gagasan tersebut. Misalnya, persuasi dalam bahasa iklan, dalam ceramah seorang politisi, atau kisah menyentuh dalam sebuah novel.
Budaya adalah bagian integral dari interaksi antara bahasa dan pikiran. Contoh faktor budaya adalah gaya wacana percakapan. Misalnya, gaya obrolan santai di US tidak terlalu blak-blakan dibandingkan dengan gaya percakapan di Yunani. Pendapat bahwa bahasa dan budaya tidak bisa terpisahkan dipopulerkan oleh ahli-ahli Jerman seperti Johann, Herder (1803) dan Wilhelm von Humboldt (1835). Mereka menyatakan bahwa:
….different people speak differently because they think differently, and that they think differently because their language offers them different ways of expressing the world around them.” (Kramsch, 1998: him 11).

Gagasan ini disebut sebagai linguistic relativity. Ide ini dikemukakan lagi di US oleh linguis Edward Sapir (1939) dan muridnya Benjamin Lee Whorf (1941) saat meneliti bahasa suku Hopi (lndian Amerika). Pandangan \Vhorf tentang saling ketergantungan antara bahasa dan pikiran dikenal dengan nama hipotesis Sapir-Whorf.
Hipotesis Sapir-Whorf mengatakan bahwa struktur bahasa yang kerap dipakai oleh seseorang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak orang tersebut. Hipotesis ini menimbulkan banyak kontroversi sejak dirumuskan oleh Whorf pada tabun 1940. Banyak orang tidak mau menerima ide bahwa bahasa menentukan pikiran (versi keras dari hipotesis ini) dan bukan sebaliknya. Namun sejalan dengan waktu, versi lemah hipotesis ini, yang didukung oleh penemuan-penemuan bahwa memang ada perbedaan budaya dalam asosiasi semantik yang dimunculkan oleh konsep-konsep yang tampakuya umum, dapat diterima secara luas.
Contoh kasus: Bahasa anak Navajo membedakan antara kata kerja ‘memungut benda bulat’ seperti bola dengan ‘memungut benda panjang, tipis, dan lentur’ sepeiti tali. Saat disajikan tali biru, tali kuning, dan tongkat biru, lalu diminta memilih benda apa yang paling cocok dengan tali biru, hampir semua anak Navajo memilih tali kuning karena mengasosiasikan benda atas dasar bentuk fisik. Sedangkan anak berbahasa inggris hampir selalu memilih tongkat biru, mengasosiasikan dengan dasar warna, walau sebetulnya dua kelompok anak ini sama-sama bisa membedakan antara warna dan bentuk dengan baik.
Eksperimen ini mendukung versi lemah hipotesis Whorf bahwa para pengguna bahasa cenderung memilah dan membedakan pengalaman yarig mereka temui secara berheda-beda tergantung kategori semantik yang tersedia di bahasa masing-masing.
Maka kita sebetulnya tidak terkurung oleh makna budaya yang ada dalam bahasa kita tapi kita juga bisa memperkaya makna tersebut melalui interaksi pragmatik dengan pengguna bahasa lain.

9. Penerapan di Kelas
Hubungan bahasa-budaya adalah faktor penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Di dalam kelas guru bisa:
1. Membantu murid untuk menyadari tentang akulturasi dan tahap -tahapnya;
2. Menekankan pentingnya bahasa kedua sebagai alat yang berguna untuk menyesuaikan diri di budaya yang baru;
3. Lebih peka terhadap murid-murid yang nampaknya putus asa dan berusaha seoptimal mungkin untuk membantu mereka.

Prinsip ini juga harus melandasi teknik-teknik yang dipakai guru bahasa asing di dalam kelas. Berikut adalah contoh checklist untuk menilai apakah teknik-teknik yang dipakai guru cocok secara budaya (Brown, 2000: hlm 202):
1. Apakah teknik tersebut mengindahkan nilai-nilai dan kepercayaan yang merupakan bagian dari budaya murid?
2. Apakah teknik tersebut tidak merendahkan stereotype budaya manapun, termasuk budaya murid-murid Anda?
3. Apakah teknik tersebut tidak memiliki kemungkinan untuk merendahkan bahasa asli murid-murid Anda?
4. Apakah teknik tersebut mengindahkan tingkat kerelaan (willingness} murid untuk berpartisipasi secara terbuka akibat faktor-faktor kolektivitas/individualitas dan kedudukan antara guru-murid?
5. Jika teknik tersebut mengharuskan murid untuk keluar dari zona nyaman budaya mereka, apakah hal itu dilakukan dengan empati dan cermat?
6. Apakah teknik tersebut peka terhadap peran lelaki dan perempuan yang dianggap baku dalam budaya murid-murid Anda?
7. Apakah teknik tersebut menghubungkan unsur-unsur bahasa khusus (mis. Kategori tata bahasa, leksikon, wacana) dengan cara berpikir, merasa, dan bertindak yang dipengaruhi oleh budaya?
8. Apakah teknik tersebut dapat menggali latar belakang pengalaman murid yang melimpah, termasuk pengalaman pribadi mereka dalam budaya lain?

Penutup
Faktor-faktor sosiokultural berkaitan erat dalam proses pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing. Dengan mengenali hubungan yang kompleks tersebut guru bahasa dapat merancang perlakuan apa yang oocok terhadap murid-muridnya di kelas, baik dari segi pendekatan maupun teknik. Guru juga dapat memberi pemahaman pada murid-murid tentang pentingnya memahami budaya kelompok pemakai bahasa sasaran jika mereka ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik dan mencapai tingkat mahir.

Daftar Pustaka
Brovvn, H. Douglas. Principles in Language Learning and Teaching-4th Ed. Longman. New York, 2000
_____. Teaching by Principles, An Interactive Approach to Language Pedagogy, Second Edition, Longman. New York, 2000.
Gorys Keraf. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Jakarta: Penerbit Nusa Indah, 1994.
Kramsch, Claire. Language and Culture. Oxford University Press. Oxford, 1998.
Larsen-Freeman, Diane dan Long, Michael H. An Introduction to Second Language Acqusition Research. Longman, New York, 1992.
McLaughlin, Barry. Theories of Second Language Learning. Edward Arnold, Great Britain, 1989.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: