MAJELIS TA’LIM DAN PEMBINAAN UMAT


OLeh:

Samrin, M.Pd.I

Abstrak: Ada beberapa gejala menarik dalam perkembangan kehidupan keagamaan dimasyarakat belakangan ini. Observasi umum memperlihatkan, bahwa setidak-tidaknya dua dasawarsa terakhir kehidupan keagamaan dimasyarakat terlihat begitu semarak. Dan bila di lihat perkembangan kehidupan keagamaan tersebut merupakan sebuah aplikasi dan konsekuensi dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial, budaya politik ekonomi dalam masyarakat.
Salah satu bentuk perkembangan kehidupan keagamaan khususnya dalam pembinaan umat adalah “lembaga” Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal yang mempunyai fungsi dan peranan dalam pembinaan umat, sebagai taman rekreasi rohaniah dan sebagai ajang dialog dan silaturrahmi antara ulama, umara dengan umat.

Kata Kunci: Majelis Ta’lim, pembinaan.

Pendahuluan
Islam merupakan agama yang sempurna dan universal, agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Ia adalah sebuah sistem kehidupan yang tidak ada sistem manapun yang dapat menandingi dan menyamainya karena semua sistem tersebut adalah ciptaan manusia. Sedangkan Islam adalah ciptaan Allah swt, Tuhannya manusia. Oleh karena itulah, manusia dibekali akal pikiran untuk merumuskan sistem yang dapat dijadikan sebagai alat atau jalan untuk menjelaskan pemahaman tentang Islam.
Pada dasarnya konsep Islam tentang pendidikan, bertujuan untuk memelihara fitrah manusia, mewariskan nilai-nilai, dan pembentukan manusia seutuhnya insān kāmil yang berdasarkan pada al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Untuk itulah manusia dibekali dengan akal pikiran agar dapat menciptakan metode pendidikan yang dinamis, efektif dan dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hidup dunia-akhirat.
Kenyataannya, dewasa ini ditemukan banyak metode, kurikulum, dan lembaga pendidikan yang hanya membentuk menurut keinginan dunia modern pada satu sisi dan tidak memperhatikan aspek lain yang tidak dijangkau oleh kemodernan itu sendiri seperti aspek –aspek batiniyah, aspek-aspek rohaniyah bahkan diperparah lagi dengan konsep-konsep pendidikan yang menjerumuskan manusia pada penyimpangan fitrah.
Kondisi seperti ini menuntut adanya penggalian kembali konsep pendidikan yang berpedoman pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Upaya penggalian ini telah dilakukan tanpa henti oleh para cendekiawan Islam dari masa ke masa dan hail dari itu telah dilihat dalam pentas sejarah berbagai macam bentuk pendidikan baik berupa pendidikan informal, formal dan nonformal. Lembaga pendidikan ini pada umumnya berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nliai.
Salah satu model pendidikan nonformal yang diharapkan dapat berkembang bersama dengan lembaga pendidikan lainnya adalah majelis ta’lim. Model pembinaan majelis ta’lim diharapkan dapat menawarkan sebuah solusi dari problematika yang dihadapi umat di antaranya berupa tantangan akibat kemajuan teknologi, masalah hubungan sosial. Masalah pembianaan keluarga dan masalah pendidikan anak (Zakiah Daradjat, 1980: 9-11).
Melihat posisi strategis majelis ta’lim yang berdiri sejajar dengan lembaga pendidikan lainnya seperti sekolah, madrasah atau pesantren menempatkan dirinya mengakar di masyarakat. Sehingga peranannya sebagai sarana pembinaan umat sangatlah penting. Dapat diprediksikan jika seandainya umat Islam hanya terikat pada pendidikan formal yang terbatas pada lembaga sekolah atau madrasah sehingga banyak celah yang tidak tertutupi, sehingga pilihan alternatifnya dapat dialihkan pada majelis ta’lim yang berperan sebagai pembinaan umat.
Berdasarkan hal tersebut diatas penulis mencoba mengangkat permasalahan sekitar majelis ta’lim yang meliputi pengertian, latar belakang munculnya, serta fungsi dan peran majelis ta’lim dalam pembinaan umat

Pengertian Majelis Ta’lim
Meskipun kata majelis ta’lim berasal dari bahasa Arab, tetapi istilah ini sendiri tidak digunakan oleh negara atau masyarakat Arab. Istilah dan penamaan majelis ta’lim lebih banyak ditemukan di Jakarta, Khususnya di kalangan masyarakat Betawi sementara di daerah-daerah lain lebih dikenal dengan Pengajian agama Islam (Ensiklopedi Islam, 1994: 120).
Dari segi etimologis, perkataan majelis ta’lim berasal dari bahasa Arab, yang terdiri dari dua kata yaitu majelis dan ta’lim. Majelis artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan. Dan ta’lim diartikan dengan pengajaran (Ahmad Warson Munawwir, 1997: 202; Tutty Alawiyah AS, 1997: 5). Dengan demikian, secara lughawi “Majelis Ta’lim” adalah tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengkajian agama islam.
Adapun pengertia secara istilah tentang majelis ta’lim, sebagaimana yang dirumuskan pada musyawarah Majelis Ta’lim se DKI Jakarta tahun 1980 adalah: Lembaga pendidikan nonformal Islam yang memiliki kurikulum tersendiri, diselenggarakan secara berkala dan teratur, yang diikuti oleh jamaah yang relatif banyak, dan bertujuan untuk membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan Allah SWT., antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan lingkungannya, dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. (Nurul Huda, dkk., 1984: 5).
Berdasarkan pengertian di atas, tampak bahwa penyelenggaraan majelis ta’lim berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan islam lainya. Seperti pesantren dan madarasah, baik menyangkut sistem, materi maupun tujuannya. Hal ini dapat dilihat bahwa perbedaan antara majelis ta’lim dengan yang lainnya, sebagai berikut:
a. Majelis ta’lim adalah lembaga pendidikan nonformal Islam.
b. Waktu belajarnya berkala tapi teratur, tidak setiap hari sebagaimana halnya sekolah atau madrasah.
c. Pengikut atau pesertanya disebut jamaah (orang banyak), bukan pelajar atau santri. Hal ini didasarkan kepada kehadiran di majelis ta’lim bukan merupakan kewajiban murid menghadiri sekolah atau madrasah.
d. Tujuannya yaitu memasyarakatkan ajaran Islam.

Latar Belakang Historis Berdirinya
Ditinjau dari segi historisnya, majelis ta’lim merupakan lembaga pendidikan tertua dalam Islam sebab sudah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah SAW. (Hasbullah, 1996: 96). Meskipun tidak disebut dengan istilah majelis ta’lim. Pelaksanaannya dikenal dengan pengajian (ta’lim bahasa Arabnya). Pengajian Nabi Muhammad saw berlangsung di rumah Arqam bin Arqam secara sembunyi-sembunyi. Kemudian pengajian ini berkembang di tempat-tempat lain dan dilaksanakan secara terbuka. Hal ini dilandasi dengan adanya perintah Allah swt untuk menyiarkan Islam secara terang-terangan.
Pengajian (majelis ta’lim dalam konteks pengertian sekarang) dengan berbagai dimensinya yang berbeda-beda telah berkembang sejak zaman Rasulullah. Apa lagi pada periode Madinah yang mana Islam telah menjadi kekuatan nyata dalam masyarakat, sehingga menjadikan penyelengggaraan pengajian tersebut lebih pesat, seiring dengan perkembangan ajaran Islam dikala itu.
Seiring dengan perkembangan tersebut, maka muncullah berbagai jenis kelompok pengajian sukarela disebut dengan halaqah yaitu kelompok pengajian di majelis Nabawi atau al-Haram, biasanya ditandai dengan salah satu pilar masjid untuk tempat berkumpulnya peserta kelompok masing-masing dengan seorang sahabat (M. Arifin, 1995: 118).
Adapun metode pengajian yang dilaksanakan pada masa Rasulullah yaitu Rasulullah duduk di masjid Nabawi untuk memberikan pengajian kepada para sahabat dan kaum muslimin ketika itu. Dengan metode tersebut Nabi saw. telah berhasil pula membentuk karakter dan kekuatan umat. Lebih jauh dari itu, Nabi juga berhasil membina para pejuang Islam, yang tidak saja gagah perkasa di medan perjuangan bersenjata dalam membela dan menegakkan Islam, tapi juga terampil dalam mengatur pemerintahan dan membina kehidupan kemasyarakatan (Hasbullah, 1999: 203).
Pada zaman Nabi, di kalangan anak-anak juga dikembangkan kelompok pengajian khusus yang disebut al-Kuttab yang mengajarkan baca al-Qur’an, yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi semacam pendidikan formal untuk anak-anak, karena di samping baca al-Qur’an juga diajarkan ilmu agama seperti Fikih, Ilmu Tauhid dan sebagainya (M. Arifin, 1995: 119).
Pengajian yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. tersebut dilanjutkan dan diterapkan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan seterusnya sampai generasi sekarang. Bahkan di masjid al-Haram sendiri sampai saat ini terdapat pengajian (majelis ta’lim) yang diasuh oleh ulama-ulama terkenal dan terkemuka serta dikunjungi para jamaah dari berbagai bangsa.
Pada masa puncak kejayaan Islam, majelis ta’lim tidak hanya dipergunakan sebagai tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga merupakan tempat para ulama dan pemikir menyebarluaskan hasil penemuan atau ijtihadnya. Barangkali tidak akan salah jika dikatakan bahwa para ilmuan islam dalam berbagai disiplin ilmu ketika itu, merupakan produk dari majelis ta’lim (Nurul Huda dkk., 1984: 7).
Sementara itu di Indonesia, terutama di saat-saat penyiaran Islam oleh para wali dahulu, juga mempergunakan majelis ta’lim untuk menyampaikan dakwahnya. Oleh sebab itu, di Indonesia, majelis ta’lim juga merupakan lembaga pendidikan Islam tertua. Barulah kemudian seiring dengan perkembangan ilmu dan pemikiran dalam mengatur pendidikan, di samping majelis ta’lim yang bersifat nonformal, tumbuh lembaga pendidikan yang lebih formal sifatnya seperti pesantren, madrasah dan sekolah.
Jika diamati perkembangan majelis ta’lim, maka dapatlah dipahami bahwa majelis ta’lim adalah cikal bakal pendidikan formal yang dilaksanakan sekarang ini. Hanya saja penyelenggaraannya sudah terdapat beberapa perbedaan. Majelis ta’lim digolongkan sebagai pendidikan nonformal, sedangkan sekolah atau madrasah sebagai pendidikan formal (baca lembaga pendidikan).

Fungsi dan Peranan Majelis Ta’lim dalam Pembinaan Umat
Pembinaan umat sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Agama Islam bukan hanya sekadar konsep ajaran yang dogmatis, melainkan ajaran yang disampaikan oleh Tuhan melaui Nabi harus membumi pada umatnya.
Untuk membumikan ajaran Islam tersebut diperlukan satu wadah yang dapat mengkoordinir umat Islam khususnya, agar cita-cita dan tujuan untuk menciptakan umat yang menghayati dan mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dapat terealisir.
Salah satu wadah yang dimaksud, adalah “majelis ta’lim”. Wadah ini diharapkan dapat memberi jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan-pertanyaan yang menghadang penghayatan dan mengaplikasikan agama dalam benak umat. Kemudian dapat mendorong untuk meraih kesejahteraan lahir dan batin sekaligus menyediakan sarana dan mekanismenya.
Jika ditinjau dari strategi pembinaan umat, maka dapat dikatakan bahwa majelis ta’lim merupakan wadah atau wahana dakwah islamiyah yang murni institusional keagamaan yang melekat pada agama islam itu sendiri. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh M. Arifin bahwa majelis ta’lim menjadi sarana dakwah dan tabligh yang Islami di samping berperan sentral dalam pembinaan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam juga diharapkan dapat menyadarkan umat Islam dalam rangka menghayati, memahami, dan mengamalkan ajaran agama yang kontekstual sehingga dapat menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan yang meneladani kelompok umat Islam (Arifin, 1995: 119-120).
Berkaitan dengan hal tersebut, fungsi dan peranan majelis ta’lim, tidak lepas dari kedudukannya sebagai alat dan sekaligus media pembinaan kesadaran beragama. Usaha pembinaan umat atau masyarakat dalam bidang agama biasanya menggunakan beberapa bentuk pendekatan, yakni: a) lewat propaganda; yang lebih menitikberatkan kepada pembentukan publik opini, agar mereka mau bersikap dan berbuat sesuai dengan maksud propaganda. Sifat propaganda adalah masal, caranya dapat melalui rapat umum, siaran radio, TV, Film, Drama, Spanduk dan sebagainya; b) melalui indoktrinasi yaitu menanamkan ajaran dengan konsepsi yang telah disusun secara tegas dan bulat oleh pihak pengajar untuk disampaikan kepada masyarakat, melalui kuliah, ceramah, kursus-kursus, training centre dan sebagainya; c) meleui jalur pendidikan, dengan menitikberatkan kepada pembangkitan dan matang dari karsa sehingga cara pendidikan ini lebih mendalam dan matang dari pada propaganda dan indoktrinasi (Salahuddin Sanusi, 1964: 112).
Salah satu di antaranya dengan pendekatan pembinaan mental spiritual melalui jalur pendidikan, inilah yang banyak dipergunakan seperti di sekolah, madrasah, pesantren dan pengajian, termasuk majelis ta’lim. Dengan demikian majelis ta’lim mempunyai kedudukan yang sangat penting di tengah masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, majelis ta’lim berfungsi sebagai berikut:
a. Membina dan megembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.
b. Sebagai taman rekreasi rohaniyah, karena penyelenggaraannya bersifat sentral.
c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturrahmi yang dapat menghidupsuburkan dakwah dan Ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan umara dengan umat.
e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya (Nurul Huda dkk., 1984: h. 9).

Ditinjau dari kelompok sosial dan dasar pengikat jamaahnya, majelis ta’lim dapat dikelompokkan dalam beberapa macam, yaitu (1) majelis ta’lim yang jamaahnya terdiri dari jenis tertentu seperti kaum bapak, kaum ibu, remaja dan campuran (tua, muda, pria dan wanita), (2) majelis ta’lim yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga sosial/keagamaan, kelompok penduduk di suatu daerah, instansi dan organisasi tertentu (Ensiklopedi Islam, 1994: 121).
Untuk metode penyajiannya berupa metode ceramah, halaqah, dan campuran. Sedangkan materi yang dipelajari dalam majelis ta’lim mencakup: pembacaan al-Qur’an serta tajwidnya, tafsir bersama ulumul Qur’an, Hadist dan Mustalahnya, Fiqhi dan Ushul Fiqhi, Tauhid, Ahklak serta materi-materi yang dibutuhkan para jamaah. Disamping kegiatan pengajian rutin, majelis ta’lim juga melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti peringatan hari-hari besar Islam dan kegiatan sosial yang lainnya.
Perkembangan majelis ta’lim dewasa ini cukup mengembirakan dan senantiasa dihadiri banyak jamaah. Hal ini tidak lepas dari adanya kebutuhan dan hasrat masyarakat terhadap pengetahuan tentang agama. Dengan demikian, pengaktualisasian nilai-nilai dan ajaran agama dapat ditingkatkan, sehingga berimplikasi pada umat yang bertanggung jawab terhadap diri, sesama, lingkungan dan Tuhannya.

Penutup
Dari uraian yang telah dipaparkan maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa majelis ta’lim pada awalnya diistilahkan dengan pengajian atau pengajaran agama Islam. Majelis ta’lim juga merupakan lembaga pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi dan peranan dalam pembinaan umat.
Adapun fungsinya adalah untuk membina dan mengembangkan ajaran agama Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah, dapat menghidup suburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah, sebagai sarana dialog antara ulama dan umara dengan umatnya.
Selanjutnya peranannya adalah sebagai sarana dakwah dan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas ajaran agama, sehingga umat Islam dapat menghayati, memahami dan mengamalkanya. Dengan demikian, terciptalah suasana Islami dalam kehidupan manusia.

Daftar Pustaka
Alawiyah, Tutty AS., Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Ta’lim Cet. I; Bandung: Mizan, 1997.
Arifin, M. Kapita Selekta Pendidikan; Islam dan Umum Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Daradjat, Zakiyah. Pendidikan Orang Dewasa. Prasaran Penulis dalam Seminar “Pendidikan Orang Dewasa” yang diselenggarakan oleh PB PGRI Pusat, tanggal 29-31 Mei 1975 di Tanjung Karang. Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 1980.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam. Cet. III; Jakarta: PT. Ichtiar Van Hoeve, 1994.
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Grafindo Persada, 1996.
—–. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. III; Jakarta: Grafindo Persada, 1999.
Huda, Nurul. Dkk. Pedoman Majelis Ta’lim. Jakarta: Proyek Penerangan Bimbingan Dakwah Khotbah Agama Islam Pusat, 1984.
Munawwir, Ahmad Warson. Al-Munawwir-Kamus Arab-Indonesia. Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progresif 1997, h. 202. Lihat juga Tutty Alawiyah AS, Strategi dakwah di lingkungan Majelis Ta’lim. Cet. I; Bandung: Mizan, 1997.
Sanusi, Salahuddin. Pembahasan Sekitar Prinsip-prinsip Dakwah Islam. Semarang: Ramadhani, 1964.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: