PENDIDIKAN ISLAM MASA BANI ABBASIYAH TANPA DIKOTOMI


Oleh:
Dra. Faizah Binti Awad, M.Pd

Abstrak: Masa keemasan Islam atau sering disebut peradaban Islam dalam bidang pendidikan ditancapkan pada masa Daulah Abbasiyah. Pada masa itu, hampir tak ditemukan adanya sekularisasi ilmu atau pendikotomian ilmu Islam dengan ilmu umum, sebagaimana yang berlangsung hari ini di dunia Islam secara umum dan di Indonesia pada khususnya.
Oleh karena itu, pada masa ikeemasan tersebut, tidak dikenal peristilahan ilmu agama dan ilmu umum, yang ada adalah terintegrasinya sifat-sifat ilmu sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri dengan objek yang masing-masing berbeda.

Kata Kunci: pendidikan, Bani Abbasiyah, dikotomi

Pendahuluan
Dalam sejarahnya, pendidikan Islam telah mengalami pasang surut. Dari zaman Rasulullah saw. hingga tiga rezim sesudahnya (kekhalifahan Rasyidin, Daulah Umaiyyah, dan Abbasiyah) masing-masing dengan karakteristik perkembangannya yang beragam sesuai dinamika yang berkembang pada masa itu.
Masa keemasan Islam atau sering disebut peradaban Islam dalam bidang pendidikan ditancapkan pada masa Daulah Abbasiyah. Sebuah rezim yang dalam sejarah Islam dinisbahkan dari mana silsilah keluarga Nabi Muhammad saw., al-Abbas (paman Nabi). Kemajuan yang pesat diperoleh dinasti Abbasiyah dalam berbagai bidang kehidupan pada masa itu –untuk sekedar membandingkan dengan peradaban Islam kini– secara jujur diakui, belum tertandingi. Bahkan pada masa itu, hampir tak ditemukan adanya sekularisasi ilmu atau pendikotomian ilmu Islam dengan ilmu umum, sebagaimana yang berlangsung hari ini di dunia Islam secara umum dan di Indonesia pada khususnya. Bahkan pada masa itu, tidak dikenal peristilahan ilmu agama dan ilmu umum, yang ada adalah terintegrasinya sifat-sifat ilmu sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri dengan objek yang masing-masing berbeda.
Daulah Abbasiyah dengan segenap kelebihan dan kekurangannya khususnya yang berkaitan dengan perkembangan-perkembangan ilmiayah ilmu pengetahuan, dan dinamika serta karakteristik politik yang berlangsung kurun waktu lima abad perlu menjadi kajian utama dalam membincangkan proses perkembangan pendidikan dahulu hingga saat ini.

Periode Kekhalifahan Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah memiliki rentang waktu sekitar lima abad, terhitung 132 H/750 M sampai dengan 656 H/125 M. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
Para sejarawan membagi masa pemerintahan bani Abbasiyah menjadi lima priode:
1. Priode pertama (132H/750M-232H/847M) disebut priode pengaruh Persia pertama.
2. Priode kedua (232H/847M-334H/945M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3. Priode ketiga (334H/945M-447H/1055M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, priode ini juga disebut sebagai masa pengaruh Persia kedua.
4. Priode keempat (447H/1055M-590H/1194M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah biasanya disebut juga dengan masa pengarruh Turki kedua
5. Priode kelima (590H/1194M-656H/1258M), masa khalifah bebasa dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
Penulis tidak secara gamblang menyinggung semua perjalanan Abbasiyah secara priodik guna menghindari objek pembahasan yang tidak berkait dengan kemajuan pendidikan.

Dinasti Abbasiyah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung pada zaman Abbasiyah hampir belum ditemukan kesamaannya dalam perkembangan peradaban dunia Islam sesudahnya. Peradaban yang ditemukan dan dihasilkan dalam kurun zaman itu belum maksimal menjadi rujukan berharga bagi peradaban umat Islam saat ini. Malah Islam sebagai ajaran pengetahuan tidak teraplikasi kecuali hanya pada aspek normatifnya belaka yang berupa ibadah. Spirit kekaryaan belum sepenuhnya membumi sebagaimana seharusnya. Akhirnya tampak beberapa ajaran yang menghendaki kedinamisan dan kekreatifitasan dalam mengelola alam tidak terbukti kecuali hanya ucapan –ucapan lisan yang tak berbekas.
Masa antara tahun 750-935 M, merupakan puncak perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang ditandai dipraktekkannya kehidupan Islam yang demokratis sebagai ciri orang beradab. Tindakan penguasa Abbasiyah pada masa-masa awal yang tak mengenal warga kelas dua berimplikasi pada pemberian kesempatan sama dalam meraih prestasi khususnya bekerja di pemerintahan dan Istana Khalifah al-Mahdi (775-785M).
Berbeda dengan kepemimpinan Harun al-Rasyid (786-809M) dan puteranya al-Ma`mun (813-833M), yang kurang demokratis, absolut, hidup mewah, raja yang menentukan segala-galanya, tanpa jelas perbedaan tuan dan budak, tetapi di sisi lain tanpak keberpihakan pada pengembangan ilmu, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan menyediakan beasiswa yang banyak. Dan yang paling pokok adalah mempelopori kebangkitan budaya-budaya besar.
Kritik sastra, filsafat, puisi, kedokteran, matematika, dan astronomi berkembang pesat tidak saja di Baghdad tetapi juga di Kufah, Basrah, Jundabir, dan Harran. Pada masa-masa awal sudah ada sekitar 800 orang dokter dengan berbagai kehliannya, apoteker, dan kelengkapan-kelengkapan kesehatan lainnya. Sementara putranya al-Ma’mun, dikenal sebagai khalifah yang cinta ilmu. Pada masanya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia memberi gaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah. Salah satu karya besarnya adalah pembangunan Bait al-Hikmah sebagai perpustakaan besar. Pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Pada periode pertama, pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politik para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setalah periode ini berakhir, pemerintah Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
Tampak bahwa kemajuan pendidikan yang dialami ummat Islam masa itu tidak mengenal dikotomi atau sekularisasi ilmu, duniawi dan ukhrawi, melainkan integrasi keilmuan tanpa memandang objek kajian.
Semangat pluralitas rupanya juga sangat terpelihara baik pada masa Ma`mun. Kepercayaan Sultan yang diberikan kepada para penerjemah nonmuslim menandakan bahwa peristiwa itu sebuah keharmonisan bersama tanpa pandang SARA.
Berguru ke masa lalu itu, selayaknya bangsa kita meneladani dan meniru. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, peristilahan dikotomi tampak dalam praktek pendidikan selama ini, seperti pembedaan antara ilmu agama dan ilmu umum, antara madrasah yang identik dengan pendidikan keagamaan dan sekolah umum yang identik dengan ilmu-ilmu non agama. Padahal jika hendak mengambil hikmah terhadap perkembangan peradaban ilmu pengetahuan masa Abbasiyah, dengan pasti penddidikan bangsa saat ini tidak seperti apa yang berlangsung kini.
Masih terasa, bagaimana rezim orde baru tidak memperkenankan pengembangan pendidikan bagi madrasah/pesantren. Bagaimana anggaran pendidikan yang tak seimbang antara madrasah/pondok pesantren dengan sekolah lainnya, sarana dan prasarana yang tak seimbang sampai kepada kualitas pengajar dan guru yang di bawah standar akibat tidak pernah diberikan spesialisasi dan kekhususan dalam melaksanakan tugas kepengajaran. Akibatnya pesantren tidak diminati, tidak berkualitas bahkan terkesan jumud dan kumuh. Pemahaman istilah modern yang berkembang masa orde baru pada hakikatnya adalah sekularisasi.
Dalam beberapa literatur sejarah tentang perkembangan masa Abbasiyah, tak ditemukan satu pun kata adanya dualisme pendidikan di dalamnya. Kemajuan ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, dan gerakan-gerakan penterjemahan lainnya berjalan seiring lahirnya para fuqaha, mufassir, muhaddis dan keahlian-keahlian lainnya. Ibnu Sina terkenal dengan Avicenna cukup heboh dengan ilmu tabib/kedokteran yang ditemukannya. Namun di sisi lain beliau juga cukup menguasai filsafat, matematika dan lain-lain.
Hal yang paling mengagumkan adalah para kaum dzimmi yang juga berpartisipasi mencapai zaman keemasan dengan menerjemahkan naskah-naskah filsafat dan kedokteran Hellenisme klasik dari bahasa Yunani dan Syiria ke dalam bahasa Arab.
Dengan belajar dari masa lalu, menjadikan para ahli muslim membuat penemuan-penemuan ilmiah yang lebih banyak pada masa itu dari pada masa-masa sebelumnya yang pernah tercatat dalam sejarah. Selain itu, juga berkembang industri-industri perdagaangan.
Kemajuan lain yang dicapai yang sangat bermanfaat dalam perjalanan Islam kemudian adalah berkembangnya ilmu dan ushul fiqhi, disusun dan dicetaknya kitab-kitab hadis, penafsiran Alquran. Dalam bidang fiqhi muncul emapat imam mazhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Untuk Hadis dikenal tokoh imam Malik dengan kitab Muwatta’-nya. Dan tidak kalah pentingnya adalah lahirnya para filosof dan sufi yang cukup memberi pengaruh pada dinamika umat sampai sekarang, misalnya al-Kindi (w. 870), filosof pertama dalam Islam, al-Farabi (w. 960), Ibnu Rusyd, dan lain-lain. Di bidang Tasauf dikenal tokoh perempuan, Rabiah al-Adawiyah (w.801), Abu Yazid al-Bustami (w.874), Husain al-Mansyur atau dikenal al-Hallaj (w.922), dan lain-lain.
Perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah bukan berarti dominan kemajuannya diperoleh pada masa itu, tetapi sebahagian besarnya sudah berembrio dari awal kebangkitan Islam sebelumnya. Dalam bidang pendidikan, misalnya, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
1. Maktab atau Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tulisan dan tempat para remaja belajar dasar –dasar ilmu seperti tafsir, hadis, fiqhi dan bahasa.
2. Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, meramntau untuk memnuntut ilmu kepada Seseorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu ibadah atau agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan berlangsung di istana atau dirumah penguasa terasebut dengan memanggil ulama ahli kesana.
Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan bani Abbas, dengan bedirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana orang juga dapat membaca, menukis dan berdiskusi.
Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa arab, baik sebagai bahasa adminstrasi yang sudah berlaku sejak Umaiyyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan ini diperoleh paling tidak ditentukan oleh dua sebab, seperti disebutkan dalam kitab Duhā al-Islām:
1. Terjadinya asimilasi antar bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Adapun pengaruh Yunani tampak pada terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Mansur hingga Harun Al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantik. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas, sehingga bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
3. Kegiatan-kegiatan tersebut telah membantu memperkuat ikatan-ikatan dan cara beripikir di antara bagian-bagian Negara Islam, serta telah menggiatkan gerakan ilmu pengetahuan yang pada abad IV H telah mencapai puncaknya.17
Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan, membawa kemajuan di bidang ilmu-ilmu normatif maupun ilmu-ilmu umum. Dalam bidang tafsir, sejak awal dikenal dua metode penafsiran, bi al-ma’śur dan bi al-ra’yi. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqhi dan ilmu teologi. Perkembangan logika dikalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.
Imam-imam mazhab hukum yang empat, hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat – pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kuffah, kota yang berada ditengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yan lebih tinggi, karena itu mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rassional dari pada hadis. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid.
Terkait dengan teologi, perkembangan pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna harus dirumuskan pada pemerintahan pertama Bani Abbas, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran rasional dalam Islam. Hadis juga mengalami perkembangan yang sama. Ini disebabkan tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadis untuk bekerja.
Pengaruh gerakan terjemahan selanjutnya terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama dibidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolabe. Al-Fargani yang dikenal di Eropa dengan nama al-Farqnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
Dalam dunia kedokteran dikenal nama al-Razi dan Ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Ia juga menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteran berada ditangan Ibn Sina. Ibn sina juga berhasil menemukan system peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedia kedokteran paling besar dalam sejarah.
Dalam bidang lain, masa Abbasiyah juga menemukan pencahayaan atau optika (kaca mata). Penemunya adalah Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haytami. Di bidang kimia, ada Jabir ibnu Hayyan yang teorinya menemukan bisanya logam seperti timah, besi dan tembaga diubah menjadi emas atau perak dalam sebuah campuran tertentu. Matematika dan astronomi ada Muhammad Ibnu Musa al-Khawarijmi. Dalam bidang sejarah terkenal al-Mas’udi yang juga ahli dalam bidang geografi.
Kemajuan ilmu pengetahuan tidak saja terjadi dalam lingkup kekuasaan Bagdad dan sekitarnya, tetapi sampai ke Eropa (Spanyol) seperti di Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Adurrahman al-Nashir mendirikan Universitas Cordova, perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran di bawah cahaya pengetahuan dan peradaban.
Kemajuan peradaban dan pengetahuan pada masa Abbasiyah, sebagai jawaban bahwa Islam sebenarnya tidak pernah tertinggal. Jika kemudian tidak sesuai dengan kenyataan hari ini, maka kesalahan umat yang meninggalkan ajaran agamanya. Cetusan dan gagasan umat Islam sangat berarti dalam perkembangan berbagai jenis bidang ilmu di Eropa dan Barat.
Kini kita tidak boleh berbangga dengan masa lalu yang gemilang, tetapi belajar, bekerja dan berkarya terus untuk membuktikan keislaman yang sebenarnya. Dunia saat ini terlanjur mencap Islam kolot, tertinggal dalam berbagai bidang, bahkan dianggap teroris. Cap-cap itu tidak mesti dilawan dengan kekerasan tetapi harus dihadapi dengan belajar keras untuk memperbaiki kualitas umat. Hanya dengan cara itu, Islam kembali dikagumi, dihargai, dan disegani.
Muhammad Abduh berkata, Raaytum al-muslimina bi misra biduni al-Islam waraaytu al-Islama biuruuba biduni almuslimin. (di Mesir saya melihat muslim tanpa Islam dan di eropa saya melihat Islam tanpa muslim). Kemajuan Eropa karena belajar ke Islam. Sekarang dengan jantan kaum muslimin harus belajar ke eropa dan barat. Hanya dengan belajar dari sejarah, bangsa dan umat islam ini dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Kesimpulan
1. Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam tidak dikenal adanya dikotomi dan sekularisasi, apalagi diskriminasi antara pendidikan agama dengan umum. Pendidikan terintegrasi menjadi satu kesatuan, sebagai sebuah khazanah ilmu yang keseluruhan cabang ilmu itu berpayungkan Islam sebagi ajaran universal.
2. Spirit kemajuan yang dicapai pada masa Abbasiyah perlu menjadi teladan sekaligus menjadi jawaban terhadap tantangan kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak menghiraukan nilai-nilai etika dan moralitas.
3. Daulah Abbasiyah dan dengan segala kemajuannya telah melukiskan dalam sejarah bahwa Islam sebagai ajaran yang tidak semata-mata normatif, tetapi juga memuat pedoman dan inspirasi agar manusia menggali kekayaan alam untuk kemaslahatan kemanusiaan. Selayaknya generasi berguru dan berguru, belajar dan belajar, dan tentu berkarya dengan penuh kreativitas membongkar alam ciptaan Tuhan ini untuk kebaikan bersama.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: