PERANAN ZAKAT DAN WAKAF DALAM PENINGKATAN EKONOMI UMAT DI INDONESIA


Oleh:

H. Zulkifli M, M.Si, M.Pd

Abstrak: Zakat merupakan salah satu rukun Islam sesudah syahadat dan shalat. Ibadah zakat dapat membersihkan harta benda pemiliknya dengan jalan mengeluarkan sebagian harta bendanya yang memang menjadi hak fakir miskin dan sebagainya. Ibadah ini sekaligus juga membersihkan orang yang menzakati harta bendanya dari kotoran sifat kikir dan dosa. Zakat adalah menyerahkan sebagian harta benda yang telah ditentukan oleh Allah kepada yang berhak menerimanya.
Wakaf merupakan salah satu instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi perekat kohesi sosial bangsa kita. Wakaf merupakan salah satu instrumen ekonomi yang sangat potensial untuk menopang kesejahteraan masyarakat banyak.
Pengelolaan zakat fitrah dan zakat maal dengan baik dapat mengatasi kemelaratan dan kepincangan sosial di dalam masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia.
Wakaf dapat meningkatkan ekonomi umat jika dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, baik wakaf berupa barang tidak bergerak maupun wakaf dana tunai.

Kata Kunci: zakat, wakaf, dan ekonomi umat.
Pendahuluan
Salah satu syari’at Islam yang menjadi sumber dana kegiatan masyarakat Islam adalah zakat. Ibadah zakat ini selain mempunyai dimensi ketakwaan bagi yang menunaikannya juga merupakan manifestasi solidaritas sosial dari kaum muslimin yang memperoleh rizki lebih dari Allah kepada saudara-saudaranya seiman yaang tidak mampu.
Tradisi pelaksanaan zakat dikalangan muslimin Indonesia sebenarnya sudah sangat lama sebagai bagian penting dari kesempurnaan pengamalan ajaran agama Islam. Namun tampaknya tradisi zakat, baru zakat fitrah yang benar-benar secara luas dilaksanakan oleh masyarakat. Zakat maal yang seharusnya potensial kurang sekali mendapatkan perhatian. Hal ini disebabkan karena persepsi fiqhi tentang zakat itu yang belum berkembang dan disegi lain pengelolaannya yang belum sepenuhnya efesien dan efektif.
Namun, yang tidak dapat dipungkiri bahwa zakat maal yang kurang efektif dilaksanakan oleh sebagian umat Islam telah menampakkan bukti dengan berdirinya puluhan ribu masjid, mushallah, langgar, Pesantren, Madrasah, sekolah, Universitas, rumah sakit, acara-acara muktamar atau komprensi Islam, beasiswa, yang dibiayai dari dana zakat (berasal dari anggota, simpatisan (dermawan muslim).
Apakah zakat-zakat tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini menjadi masalah. Sebab kalau pada permulaan latar belakang sejarah, bimbingan ilahi tentang harta kekayaan dan tuntunan tentang zakat, ternyata zakat mampu mengatasi kemelaratan dan kepincangan sosial di dalam masyarakat.
Zakat selama ini banyak dikembangkan di lingkungan masing-masing kelompok masyarakat secara amat terbatas, bahkan mustahik lain, para fakir miskin yang bukan lingkungan terbatas tadi tidak ikut menikmatinya. Lingkungan terbatas itu bisa para kiyai, ustaz, guru mengaji, ulama setempat atau pimpinan organisasi Islam dimana yang bersangkutan menjadi anggotanya. Demikian pula bagi sejumlah umat Islam yang dekat dengan kiyai atau menjadi jamaah dari organisasi seperti Muhammadiyah, Nahdatul ulama dan lain-lain. Bagimana pula terhadap umat Islam yang tidak memiliki kedekatan dengan kiyai atau juga bukan suatu organisasi Islam yang secara biasa mengandalkan kegiatannya dari dana zakat.
Selain zakat yang menjadi pokok masalah juga masalah wakaf dimana wakaf menjadi semakin penting sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi perekat kohesi sosial bangsa kita.
Dalam Islam wakaf merupakan salah satu instrumen ekonomi yang sangat potensial untuk menopang kesejahteraan masyarakat banyak. Namun sampai saat ini waqaf belum di rasakan manfaatnya oleh kepentingan umum. Bahkan pada kondisi-kondisi tartentu benda-benda waqaf sering menjadi beban para nazhir (pengelola waqaf). Untuk itu upaya-upaya pengembangan waqaf terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun dari LSM dan lembaga-lembaga waqaf lainnya.

Zakat dan Peranannya dalam Meningkatkan Ekonomi Umat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam sesudah syahadat dan shalat. Ibadah ini di sebut zakat karena sesuai dengan namanya dapat membersihkan harta benda pemiliknya dengan jalan mengeluarkan sebagian harta bendanya yang memang menjadi hak fakir miskin dan sebagainya. Ibadah ini sekaligus juga membersihkan orang yang menzakati harta bendanya dari kotoran sifat kikir dan dosa. Zakat adalah menyerahkan sebagian harta benda yang telah ditentukan oleh Allah kepada yang berhak menerimanya (Masjfuk Zuhdi, 1988: 37).
Dalam beberapa ayat Al-Qur’an ditemukan agar nasib orang fakir miskin itu diperhatikan, karena itulah diantara misi agama Allah itu diturunkan ke atas dunia ini. “Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian) lagi berikan untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir” (QS. Al-Haji : 28).

Jika kamu menampakkan sedekah (kamu), maka adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Baqarah : 271).

Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifat. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan) Allah, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui” (Q.S. Al-Baqrah: 273).

Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa orang-orang faqir yang sengsara itu harus diperhatikan. Kefakiran itu perlu diperangi dan dihilangkan, karena bisa merusak iman (aqidah), sebagimana sabda Nabi saw. “Kefakiran itu dekat sekali dengan kekufuran”.
Ayat mengenai orang miskin di kemukakan juga dalam beberapa ayat “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya. Kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Isra’:26).
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka) ? mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak pula memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Mudatsir : 42-44).
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui (Q.S. Al-Baqarah : 215).

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang pada dasarnya sangat peduli dan sangat mementingkan nasib orang yang melarat. Sebagaimana halnya kefakiran, maka kemiskinanpun perlu diperangi dan dihapuskan dengan berbagai cara yang telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an.
Jalan yang bisa ditempuh adalah menyantuni mereka dengan memberikan dana (zakat) yang sifatnya konsumtif atau memberikan modal yang sifatnya produktif untuk diolah dan dikembangkan.
Anak-anak yatim yang belum bisa berusaha dan mandiri, orang jompo atau orang dewasa yang tidak bisa bekerja karena sakit atau cacat, maka zakat konsuntif tidak bisa dihindari, mereka wajib disantuni dari sumber-sumber zakat dan infaq lainnya. Lain halnya dengan yang kuat bekerja dan bisa mandiri dalam menjalankan usaha, maka hal tersebut dapat ditempuh dengan memberi modal kepada perorangan atau kepada perusahaan yang dikelola secara kolektif.
Pemberian modal kepada perorangan harus dipertimbangkan dengan matang oleh amil. Apakah yang bersangkutan mampu mengolah dana yang diberikan itu, sehingga pada suatu saat tidak lagi menggantungkah hidupnya kepada orang lain, termasuk mengharapkan zakat. Apabila hal ini dapat di kelola dengan baik atas pengawasan dari Amil maka secara berangsur-angsur orang tidak punya akan terus berkurang dan tidak tertutup kemungkinan, dia bisa menjadi muzakki atau pemberi zakat dan bukan lagi sebagai penerima zakat.
Apabila usaha itu dikelola secara kolektif, maka orang-orang fakir miskin yang mampu bekerja menurut keahliannya masing-masing dapat diikut sertakan. Dengan demikian biaya hidup sehari-hari dapat diambil dari usaha berama itu. Apabila usaha itu beruntung, maka mereka menikmati hasilnya secara bersama-sama. Hal ini memerlukan manajemen yang tertaur dan rapi. Sebagai pimpinannya dapat ditunjuk dari kalangan orang-orang yang tidak mampu itu atau ditunjuk dari kalangan orang-orang yang tidak mampu itu atau ditunjuk orang lain yang ikhlas beramal membantu mereka. Apabila hal ini ditangani dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah akan berhasil dan tidak lagi menjadi beban bagi anggota masyarakat.
Zakat adalah fardu ain atas tiap-tiap muslim yang telah memenuhi syaratnya. Kewajiban zakat adalah berdasarkan Al-qur’an, Hadits dan Ijmak umat (kesepakatan seluruh umat Islam).
Pembayar wajib zakat adalah setiap muslim yang memiliki satu nisab dari salah satu jenis harta yang wajib di zakati. Satu nisab harta adalah jumlah minimal harta benda yang dimiliki, dan jumlah nisabnya tergantung pada jenis harta benda yang dimiliki.
Jenis harta yang wajib dizakati adalah Emas, Perak, hasil tanaman, buah-buahan, barang-barang pedagang, binatang ternak, barang tambang dan barang temuan dari harta terpendam.
Zakat diatas disebut zakat maal. Zakat maal adalah zakat harta benda yang telah cukup memenuhi syarat. Sedang zakat fitrah atau zakat badan adalah zakat yang dikeluarkan setiap warga miskin sehubungan dengan selesainya melaksanakan ibadah puasa. Ajaran zakat selain bernilai ibadah, juga bernilai sosial. Hasil zakat sesungguhnya dapat didayagunakan untuk kepentingan luas sebab dari memberi bahan makanan kepada fakir miskin sehingga membuka kesempatan kerja agar si miskin dapat berswadaya. Dari membangun Madrasah sekolah hingga memberikan beasiswa bagi pemuda pemudi yang cerdas tetapi kekurangan biaya. Dari membebaskan mereka yang tercekik hutang hingga menyantuni mereka yang bergerak diberbagai lapangan juang.
Zakat fitrah dapat diinfestasikan dengan syarat bahwa kebutuhan primer orang-orang fakir miskin di seluruh Indonesia pada hari idul fitri telah dicukupi dari sebagian pengumpulan zakat fitrah. Modal dan keuntungan perusahaan yang didirikan dari hasil Zakat fitrah dipergunakan untuk asnaf yang ada dan syiar Islam.
Pengumpulan dan pembagian zakat fitrah serta penginvestasiannya diatur dan dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah menjamin dan bertanggung jawab terhadap keselamatan modal dan kelebihan yang diperoleh dari zakat fitrah.
Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa tiap-tiap harta benda atau kekayaan dikenakan zakat apabila mencapai nisab dan haulnya. Demikian juga semua bentuk pendapatan atau penghasilan dari perusahaan jasa profesi atau gaji karyawan diwajibkan zakat. Zakat dapat dibayarkan setelah habis haul atau perbulan pada saat penerimaan gaji tersebut.
Zakat berperan membantu, mengurangi dan mengangkat kaum fakir miskin dari kesulitan hidup dan penderitaan mereka. Membantu memecahkan permasalahan yang di hadapi oleh algharimin, ibnu sabil dan para mustahik lainnya. Membina dan merentangkan tali solidaritas (persaudaraan) sesama umat manusia. Mengimbangi ideologi kapitalisme dan komunisme. Menghilangkan sifat bakhil dan loba pemilik kekayaan dan penguasa modal. Menghindarkan penumpukan kekayaan perseorangan yang di kumpulkan di atas penderitaan orang lain. Mencegah jurang pemisah kaya miskin yang dapat menimbulkan malapetaka dan kejahatan sosial.
Mengembangkan tanggung jawab perseorangan terhadap kepentingan masyarakat dan kepentingan umum. Mendidik untuk melaksanakan disiplin dan loyalitas seseorang untuk menjalankan kewajibannya dan menyerahkan hak orang lain.
Kesadaran umat Islam yang makin tinggi untuk bersama-sama pemerintah ikut serta memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Kehendak masyarakat membantu di bidang pendidikan, pembinaan remaja, mengatasi masalah kependudukan, memajukan program perbaikan gizi masyarakat, perbaikan lingkungan hidup. Bahkan keinginan membantu di bidang perbaikan sarana-sarana fisik seperti jalan dan jembatan. Di samping pembangunan fisik yang tradisional seperti mesjid dan madrasah. Keinginan-keinginan seperti ini tumbuh wajar sebagai akibat dari kesadaran masyarakat makin meningkat, oleh upaya pemerintah yang terus menerus mengajak partisipasi rakyat, maupun dorongan oleh para pemimpin agama sendiri. Dan karena terbatasnya dana bantuan pemerintah, maka masyarakat kemudian menoleh kepada potensi yang di anggap masih belum di gali dan bahkan di wajibkan oleh agama adalah zakat.
Lebih dari itu dorongan menunaikan ibadah zakat seharusnya juga di pupuk, karena harapan kebaikan-kebaikan yang dapat di timbulkannya. Di dalam sejarah agama Islam di turunkannya syariat zakat antara lain bertujuan memelihara manusia dari kehinaan dan kemelaratan. Menguatkan persatuan dan kesatuan umat manusia karena di tumbuhkannya solidaritas sosial secara nyata dan terus menerus. Membantu memperlancar tugas-tugas untuk kepentingan umum atau masyarakat luas. Membersihkan kekayaan dalam arti secara nyata menunaikan fungsi sosial dari harta kekayaan. Menolong orang-orang berhutang yang tidak mampu membayar untuk mengurangi ketegangan dan perselisihan di dalam masyarakat. Mengurangi terjadinya akumulasi kekayaan pada beberapa orang/kelompok dan membersihkan dari sifat rakus dan kikir.
Usaha-usaha merealisir pengembangan zakat dewasa ini terus berkembang. Antara lain dilakukan oleh pemerintah Daerah/Propinsi Daerah Khusus ibu kota Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewah Aceh, Sulawesi Selatan dan beberapa Propinsi lainnya di Indonesia.
Hal ini semua yang mendorong umat Islam Indonesia untuk menetapkan dan mengembangkan pelaksanaan zakat secara lebih merata lagi. Baik di dalam rangka menunaikan ajaran agama maupun untuk lebih kongkrit menunjukkan peran sertanya di dalam program-program pembangunan nasional yang dilaksanakan pemerintah berupa pemecahan masalah kemiskinan, perbaikan lingkungan hidup, mencerdaskan kehidupan bangsa, penyediaan sarana pendidikan dan peribadatan lainnya.
Zakat adalah potensi ekonomi dan sumber dana yang amat besar yang berasal dari masyarakat Islam sendiri. Potensi ekonomi yang masih terpendam ini perlu digali dan dikembangkan untuk membiyai aneka sektor pembangunan seperti sosial, pendidikan, mental dan peningkatan produktivitas.
Jika masyarakat Islam Indonesia mengeluarkan zakat fitrah saja maka bisa menghasilkan trilyunan rupiah. Apalagi bila ditambah dengan zakat mall itu lebih tinggi lagi nilainya baik dari sektor jasa (gaji, honorarium, upah) industri, perseroan, pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan dan lain-lain. Apabila zakat fitrah dan zakat maal dikelola dengan manajemen yang baik, maka dapat dipastikan bahwa zakat-zakat tersebut menjadi kekuatan ekonomi dikalangan umat Islam Indonesia. Yang fakir sudah bisa diangkat kehidupannya menjadi lebih baik, demikian pula yang miskin, ibnu sabil dan lain-lain. Memang potensi zakat dikalangan umat Islam Indonesia sangat besar, dan bisa membiayai kepentingan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan dan kemasyarakatan.

Waqaf dan Peranannya dalam Meningkatkan Ekonomi Umat
Wakaf adalah menyerahkan sesuatu yang menjadi miliknya kepada orang atau badan untuk dipelihara dan dimanfaatkan di jalan yang diredhai Allah.
Wakaf bisa terjadi dengan jalan perbuatan yang menunjukkan bahwa seseorang telah mewakafkan harta bendanya. Seperti seseorang membangun masjid atau mushallah kemudian ia mengizinkan kepada masyarakat untuk menggunakannya guna keperluan shalat dan kegiatan agama lainnya. Ucapan atau pernyataan seperti seseorang berkata rumah saya ini, saya waqafkan untuk lembaga pendidikan agama Islam.
Barang yang boleh dan sah diwakafkan adalah semua barang yang dapat diperjual belikan, baik barang tak bergerak seperti tanah, maupun barang yang bergerak termasuk binatang dan semua barang yang dapat dimanfaatkan tanpa menghabiskan barangnya. Karenanya barang yang tidak boleh diperjual belikan oleh agama seperti babi, dan barang yang bisa habis kalau dimanfaatkan seperti bahan makanan/minuman, serta barang cepat rusak (membusuk), tidak sah diwakafkan.
Hukum wakaf itu adalah sunat dan hikmahnya banyak, diantaranya harta benda yang diwakafkan dapat tetap terpeliharan dan terjamin kelangsungannya. Tidak perlu khawatir barangnya hilang atau pindah tangan, karena barang wakaf tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.
Orang yang berwakaf sekalipun sudah meninggal dunia masih terus menerima pahala, sepanjang barang wakafnya itu masih tetap ada dan masih dimanfaatkan seperti sabda Nabi saw. “Apabila orang meninggal, akan terputuslah amalnya (pahalanya), kecuali tiga hal, yaitu sedekah, jariah, (wakaf), atau ilmu yang dapat dimanfaatkan, atau anak yang saleh yang berdoa untuknya (HR. Muslim, Abu Daud, Al-Nasir dan Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah). Menurut riwayat Ibnu Majah, Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya sebagian amalan dan kebaikan orang yang beriman yang dapat mengikutinya sesudah ia meninggal ialah ilmu yang disebar luaskan, anak shaleh yang ditinggalkan, Al-Qur’an yang diwariskan, masjid yang didirikan, rumah yang dibangun untuk musafir, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang dikeluarkan dari harta bendanya pada waktu ia masih sehat/ hidup. Sedekah ini juga dapat menyusulnya sesudah orang tersebut meninggal”. (Masjfuk Zuhdi, 1988:77-78).
Wakaf sebagai salah satu instrumen ibadah tabarru, harus diberikan porsi yang sama banyak sebagimana ibadah zakat. Apalagi wakaf (shadaqah jariah) yang dijanjikan oleh Allah swt. memiliki bobot pahala yang terus mengalir, walaupun para pelaku (wakif) sudah meninggal dunia. Untuk itu pahala pendekatan keagamaan perlu digiatkan oleh para agamawan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan finansial agar mau mewakafkan sebagian hartanya. Bagaimana bentuk pendekatannya tentu saja dibutuhkan kearifan dan metode yang tepat sehingga lebih menyentuh kepada para calon wakif seperti keteladanan dan amanah.
Peran wakaf merupakan salah satu sumber dana yang penting yang besar sekali manfaatnya bagi kepentingan agama dan umat. Di antaranya adalah untuk pembinaan kehidupan beragama dan peningkatan kesejahteraan umat Islam, terutama bagi orang-orang yang tidak mampu, cacat mental/fisik, orang-orang yang sudah lanjut usia dan sebagainya yang sangat memerlukan bantuan dari sumber dana seperti wakaf itu. Mengingat besarnya manfaat wakaf itu, maka Nabi sendiri dan para sahabat dengan ikhlas mewakafkan masjid, tanah, sumur, kebun dan kuda milik mereka pribadi. Jejak (sunnah) Nabi dan para sahabatnya itu kemudian diikuti oleh umat Islam sampai sekarang (Sayid Sabiq : 1971 : 516-517).
Wakaf itu sah apabila orang yang berwakaf itu telah dewasa, sehat pikirannya dan atas kemaunnya sendiri (tidak dipaksa/terpaksa). Setelah terjadi wakaf, sejak itu barang yang diwakafkan tidak boleh diperjual belikan, dihibahkan dan diwariskan. Berdasarkan hadis Ibnu Umar bahwa wakaf barang itu tidak dapat dijual, dihibahkan, dan diwariskan (Muttafaq Alaihi).
Hal ini menunjukkan bahwa barang wakaf itu telah lepas dari kekuasaan orang yang mewakafkan yang semula memiliki barang itu, sehingga ia tidak berhak lagi menjual, menghibahkan, dan kalau ia telah meninggal barang wakaf tersebut tidak boleh pula diwarisi oleh ahli warisnya. Karena itu orang atau badan yang menerima wakaf itu berarti menerima amanat dari Tuhan dan orang yang mewakafkan, maka mereka wajib mengurus barang wakaf itu dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya, agar barang wakaf itu tetap terpelihara dan berlipat ganda kemanfaatannya.
Di kalangan umat Islam, wakaf yang sangat populer adalah masih terbatas pada persoalan tanah dan bangunan yang diperuntukkan untuk tempat ibadah dan pendidikan serta belakangan baru ada wakaf yang berbentuk tunai atau wakaf benda bergerak yang manfaatnya untuk kepentingan pendidikan, riset, rumah sakit, pemberdayaan ekonomi lemah dan lain-lain.
Wakaf tunai bagi umat Islam Indonesia memang masih relative baru. Hal ini bisa dilihat dari peraturan yang melandasinya. Majelis Ulama Indonesia baru memberikan fatwanya pada pertengahan Mei 2002. Sementara landasan hukum yang berbentuk Undang-undang belum ada, baru berupa rancangan Undang-undang (RUU) wakaf yang masih digodok di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Di Indonesia sudah ada beberapa lembaga yang telah melaksanakan wakaf tunai yaitu PB Mathlaul Anwar dengan “Dana Firdaus”, Dompet Dhuafa Republik dengan “Dompet Dhuafa” Bank Muamalat Indonesia (BMI) dengan institusi barunya “Baitul Maal Mua’amalat”. Walaupun pelaksanaannya, pengelolaan wakaf tunai masih belum maksimal dalam pengelolaannya, sehingga sampai saat ini belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat banyak. Akan tetapi, paling tidak upaya untuk memberdyakan wakaf tunai sudah mulai digiatkan dengan segala keterbatasannya. Secara ekonomi wakaf tunai sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, karena dengan model ini daya jangkau mobilisasinya akan jauh lebih merata kepada sebagian anggota masyarakat dibandingkan dengan model wakaf-wakaf tradisional yaitu dalam bentuk harta fisik yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang relatif mampu.
Salah satu model yang dapat dikembangkan dalam mobilisasi wakaf tunai adalah Dana abadi, yaitu dana yang dihimpun dari berbagai sumber dengan berbagai cara yang sah dan halal, kemudian dana yang terhimpun dengan volume besar, diinvestasikan dengan tingkat keamanan yang tinggi melalui lembaga penjamin Syari’ah. Keamanan investasi ini paling tidak mencakup dua aspek. Aspek Pertama yaitu keamanan nilai pokok dana abadi sehingga tidak terjadi penyusutan (Jaminan keutuhan). Aspek kedua adalah investasi dana abadi tersebut harus produktif, yang mampu mendatangkan hasil atau pendapatan karena dari pendapatan inilah pembiayaan kegiatan organisasi akan dilakukan dan sekaligus menjadi sumber utama untuk pembiayaan.
Model dana abadi tersebut sangat layak dijadikan model untuk pengembangan wakaf tunai, karena dapat membantu menjaga keutuhan aset tunai dari wakaf. Selain itu dapat menjadi sumber pendanaan pada unit-unit usaha yang bersifat komersial maupun sosial, sehingga dapat mendorong aktvitas usaha secara lebih luas, terutama dari aspek mobilisasi maupun aspek alokasi dana wakaf. Dalam penerapannya dapat menerbitkan sertifikat wakaf tunai dengn nominal yang berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan target atau sasaran yang akan dituju.
Dalam sejarah Islam, wakaf tunai ternyata sudah dipraktekkan sejak awal abad kedua hijriah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Imam Azzuhri (Wakaf 124 H) salah seorang terkemuka dan peletak tadwin al hadits memfatwakan di anjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan umat Islam. Caranya adalah dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
Ada beberapa peran utama dari wakaf tunai diantaranya wakaf tunai jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas sudah bisa mulai memberikan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi tuan rumah terlebih dahulu. Melalui wakaf tunai asset-asset waqag yang berupa tanah-tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk lahan pertanian. Dana wakaf tunai bisa juga membantu sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam yang cash flow-nya terkadang kembang kempis dan menggaji civitas akademika ala kadarnya. Umat Islam dapt lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan tanpa harus terlalu tergantung pada anggaran pendidikan Negara yang memang semakin lama semakin terbatas.

Kesimpulan
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa zakat sebagai salah satu ibadah wajib (fardhu ain), disamping bernilai ibadah kepada Allah, juga menjadi nilai sosial tinggi dikalangan masyarakat.
1. Pengelolaan zakat fitrah dan zakat maal dengan baik dapat mengatasi kemelaratan dan kepincangan sosial di dalam masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia.
2. Zakat berperan meningkatkan perekonomian Negara dan umat Islam Indonesia jika semua potensi yang ada dijalankan sesuai peraturan perundang-undangan yang ada dan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Pemberi bantuan wakaf yang disebut wakif adalah orang atau orang-orang atau badan hukum yang mewakafkan sebagian hartanya. Selama ini wakaf yang ada dalam masyarakat kita adalah berupa tanah dan bangunan seperti masjid, mushallah, sekolah, panti asuhan dan lain-lain.
4. Wakaf dapat meningkatkan ekonomi umat jika dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, baik wakaf berupa barang tidak bergerak maupun wakaf dana tunai.
5. Wakaf dana tunai dengan model usaha dapat ditingkatkan melalui lembaga-lembaga syari’ah dan LSM lainnya yang merupakan asset bangsa dalam meningkatkan perekonomian umat Islam di Indonesia.
6. Dana zakat dan wakaf dapat digunakan untuk pembangunan fisik dan non fisik terutama dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Jika dana zakat dan wakaf dikelola sesuai undang-undang dan peraturan Ilahi (Al-Qur’an dan As-Sunnah), maka dapat meningkatkan perekonomian umat khususnya umat Islam di Indonseia.

Saran
1. Disarankan kepada pemerintah agar pengumpulan dan pengelolaan zakat dapat diterapkan seperti pada pengumpulan pajak Negara, sehingga potensi zakat dapat dimanfaatkan oleh negara dan dinikmati oleh masyarakat khususnya umat Islam Indonesia.
2. Disarankan kepada pemerintah agar dibuatkan peraturan tentang wakaf sehingga dapat berjalan dengan baik, yang tidak hanya pada barang yang tidak bergerak, tetapi juga dilihat wakaf dana tunai, yang bisa lebih banyak manfaatnya dalam pertumbuhan ekonomi umat Islam di Indoesia. 

Daftar Pustaka
Ash-Shiddieqy, Hasbi. 1975. Fiqhi Islam. Jakarta. Bulan Bintang.
Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Proyek Peningkatan Pelayanan Kehidupan Beragama Pusat Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji.
Departemen Agama RI 2004. Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia. Jakarta: Proyek Ditjen Bimas Islam dan penyelenggara Haji.
Departemen Agama RI. 1996/1997. Pedoman Zakat. Jakarta: Proyek Peningkatan Sarana Keagamaan Islam, zakat dan wakaf.
Departemen Agama RI. 2003. Fiqhi Wakaf. Jakarta: Proyek Ditjen Bimas Islam dan penyelenggaraan Haji.
Departemen Agama RI. 2003. Panduan Pemberdayaan Tanah Wakaf Prodeuktif Strategi di Indonesia. Jakarta: Proyek Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji.
Departemen Agama RI. 2003. Perkembangan Penglolaan Wakaf di Indonesia. Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji.
Departemen Agama RI. 2003. Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf. Jakarta: Ditjen Bimas dan Penyelenggara Haji.
Departemen Wakaf dan Urusan Islam Kuawait. 1992. Risalah Puasa dan Zakat. Jakarta: Media Dakwah.
Masjfuk Zuhdi. 1988. Studi Islam Jilid II Ibadah. Jakarta: Rajawali Pers.
Masjfuk Zuhdi. 1988. Studi Islam Jilid III Muamalah. Jakarta : Rajawali Pers.
Sayid Sabiq. 1971. Fiqhu al-Sunnah Jilid III. Darul Kitab Al-’Aarabi. Libanon.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: