PESANTREN DI INDONESIA: Dilema dan Prospek


Oleh:

Hasan Basri, M.Pd.I

Abstrak: Di Indonesia, pendidikan agama (Islam) dipelopori oleh pesantren. Pesantren telah merintis dan mengembangkan sistem pendidikan yang terbukti sangat berjasa dalam mendidik anak bangsa yang mampu mengawal nilai-nilai Islam dan menyebarkannya ke seluruh pelosok Nusantara. Bukan hanya itu, pesantren pun telah berjasa melahirkan kader-kader bangsa yang mampu mempertahankan jati diri bangsa Indonesia serta mengusir penjajah dari bumi nusantara ini. Pesantren lahir sekaitan dengan upaya penyebaran agama Islam dan pembinaan umat Islam di nusantara.

Kata Kunci: pesantren, pendidikan Islam, dilema dan prospek

Pendahuluan
Pendidikan dalam Islam diarahkan pada pembinaan potensi (fiţrah) yang dibawa sejak lahir. Dalam konteks sosial pendidikan dilaksanakan dalam rangka pewarisan kebudayaan , yakni pembentukan manusia yang memiliki kesadaran akan kewajiban, hak, tanggung jawab sosial, serta sikap toleran agar keharmonisan hubungan sosial antara sesama dapat berjalan. Dengan demikian, dalam pendidikan Islam pendidikan lebih berat diarahkan dalam rangka pembentukan kepribadian muslim yang memiliki budi pekerti mulia. Di sini terlihat bahwa aspek penting dalam pendidikan agama adalah masalah akhlak. Untuk membentuk budi pekerti mulia tersebut, peranan agama sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan agama sebagai waşīilah ke arah itu juga penting.
Dewasa ini pesantren dihadapkan pada dua hal yang sangat menantang, di satu sisi begitu banyak peluang yang menunggu peran nyatanya, namun di sisi lain dilema yang dihadapi dalam pengembangannya masih belum bisa dituntaskan. Namun demikian, kajian ilmiah perlu terus digalakkan karena mendiamkan masalah ini bukanlah pilihan bijak.

Sejarah Pesantren
Kehadiran pesantren sangat erat kaitannya dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Oleh karena itu, membahas mengenai pesantren di tanah air, tidak dapat dipisahkan dari membahas mengenai sejarah Islam itu sendiri. Mengenai masuknya Islam di Indonesia, terdapat tiga teori yang dapat digunakan menjelaskannya, yakni: teori Mekah, teori Gujarat, dan teori Persia. Teori Mekah berpendapat bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia terjadi pada abad 1 H (abad 7 M) langsung dari Arab. Daerah pertama yang didatangi adalah di Peureulak (Aceh). Sedangkan teori Gujarat yang diletakkan oleh Snouck Hurgronje berpendapat bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia terjadi pada abad ke-13 M di Samudera Pasai (Aceh) dari Gujarat, India. Adapun teori Persia berpandangan hampir sama dengan teori Gujarat, yakni terjadi pada abad ke-13 di Samudera Pasai namun berasal dari Persia. Di antara tiga versi tersebut, teori Mekah sepertinya yang paling banyak diperpegangi oleh para ahli sejarah sekarang.
Pada abad ke-7 M atau abad pertama hijriyah memang telah diketahui terdapat komunitas muslim di Indonesia (Peureulak), namun lembaga pendidikan yang dikenal dengan pesantren belum diketahui adanya ~paling tidak nama tersebut belum dikenal di saat itu. Lembaga pendidikan yang ada pada masa-masa awal itu adalah masjid atau yang lebih dikenal dengan nama meunasah di Aceh. Di meunasah inilah masyarakat muslim belajar agama. Lembaga pesantren seperti yang kita kenal sekarang berasal dari Jawa.
Islam masuk ke Jawa berkat usaha seorang penduduk asli di daerah itu pada abad ke-12 M. Namun, usaha dakwah yang lebih berhasil di Jawa terjadi pada abad ke-14 M yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim dari tanah Arab. Konon Maulana Malik Ibrahim ini adalah keturunan Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad saw). Ia mendarat di pantai Jawa Timur bersama beberapa orang kawannya. Mereka menetap di dekat kota Gresik, berhadapan dengan Madura. Sehingga pada abad ke-15 telah terdapat banyak orang Islam di daerah itu yang terdiri dari orang-orang asing, terutama dari Arab dan India. Di Gresik, Maulana Malik Ibrahim tinggal menetap dan menyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya tahun 1419 M. Sebelum meninggal dunia, Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mengkader para muballigh dan sebagian di antara mereka kemudian dikenal juga dengan wali. Para wali inilah kemudian yang meneruskan penyiaran dan pendidikan Islam melalui pesantren. Jadi, sebenarnya Maulana Malik inilah sebagai perintis lahirnya pesantren di tanah air yang kemudian dilanjutkan oleh Sunan Ampel. Akan tetapi yang dikenal kemudian adalah Raden Fatah yang mendirikan Pondok Pesantren Gelagah Arum serta mendirikan organisasi dakwah bernama Bhayangkari Islam di Bintaro pada tahun 1476. Pesantren inilah yang merupakan pondok pesantren pertama yang dikenal dalam sejarah.
Akan tetapi, sumber ini tidak memberikan penjelasan apakah saat itu Raden Fatah menyebut pengajian dan pengajaran yang diberikannya di tempatnya itu sebagai pesantren. Ada kemungkinan penamaan pesantren ini berkembang secara evolusi. Atau mungkin penamaan itu terambil dari suatu praktek yang mirip dengannya dalam tradisi masyarakat tertentu.
Tidak tersedianya penjelasan yang memuaskan mengenai asal usul penamaan pesantren ini menyebabkan munculnya sejumlah spekulasi di kalangan pemerhati pesantren di tanah air. Termasuk asal kata pesantren sendiri dalam bahasa Indonesia yang digunakan sekarang.
Mengenai asal-usul pesantren terdapat dua versi, pertama, pendapat yang mengatakan bahwa pesantren berasal dari tardisi Hindu di nusantara. Fakta yang dikemukakan adalah bahwa jauh sebelum Islam telah ada pesantren sebagai tempat mengajarkan agama Hindu. Fakta lain yang dikemukakan bahwa pesantren bukan dari tradisi Islam karena tidak ditemukan pesantren di Negara-negara Islam seperti yang ada di Indonesia. Sementara lembaga serupa banyak ditemukan dalam masyarakat Hindu, seperti di India, Myammar, dan Thailand.
Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pesantren timbul dan berakar dari tradisi Islam sendiri, yakni timbul dari tradisi tarekat. Pesantren erat kaitannya dengan pendidikan kaum sufi. Pandangan ini dikaitkan dengan fakta, bahwa penyebaran Islam di Indonesia pada awal-awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Pemimpin tarekat disebut kiai. Salah satu kegiatan tarekat adalah mengadakan suluk, melakukan ibadah di masjid di bawah bimbingan kiai. Untuk keperluan ini, kiai menyediakan ruang-ruang khusus untuk menampung para santri (tempat menginap dan memasak) di sebelah kiri dan kanan masjid. Di samping mengerjakan amalan-amalan agama, santri juga mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dari kitab-kitab klasik. Kegiatan ini kemudian dinamai pengajian. Inilah cikal bakal munculnya pesantren.
Ketiga, mengatakan bahwa pesantren sebenarnya diadopsi dari tradisi lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah. Martin Van Bruinessen, salah seorang yang mendukung versi ini berpandangan bahwa pesantren cenderung lebih dekat dengan salah satu model sistem pendidikan di al-Azhar. Senada dengan itu, Zamaksyari juga berpendapat bahwa pesantren, khususnya di Jawa, merupakan kombinasi antara madrasah dan pusat kegiatan tarekat, bukan antara Islam dengan Hindu.
Munculnya beberapa versi tersebut disebabkan karena tidak tersedianya sumber tertulis yang dapat meyakinkan semua pihak. Namun, dari ketiga versi tersebut, sebenarnya mempunyai sisi kebenaran yang dapat dipertemukan. Versi yang mengatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi Hindu, ada benarnya jika memang diterima bahwa nama itu memang berasal dari India atau berasal dari bahasa Sangsekerta. Adapun versi yang mengatakan bahwa pesantren tumbuh dari tradisi sufi juga dapat diterima, jika dilihat fakta sejarah bahwa tardisi pesantren memang mempunyai kesamaan dengan praktek hidup (tapi tidak seluruhnya) yang dijalani oleh kaum sufi. Begitu juga versi yang mengatakan bahwa pesantren merupakan adopsi dari tradisi pendidikan di Timur Tengah, karena memang orang yang mula-mula mengembangkan pesantren adalah mereka yang telah menimba ilmu di Timur Tengah terutama di Mekah dan di Mesir.
Dari argumen tersebut, dapat dikatakan bahwa pesantren yang berkembang di Indonesia adalah tradisi Islam yang dibawa dari Timur Tengah (tempat datangnya Islam). Akan tetapi, penamaan pesantren boleh jadi benar dari bahasa India, dan boleh jadi dinamakan demikian karena memang mempunyai kemiripan dengan salah satu tradisi Hindu di India. Dan hal ini adalah suatu hal yang bisa saja terjadi. Namun, karena kata pesantren sudah menjadi bahasa Indonesia, dan lembaga pesantren ini juga telah berkembang dengan mengambil bentuk ciri khas keindonesiaan, maka tidak salah kalau dikatakan pesantren tumbuh dari tradisi yang berkembang di Indonesia. Dengan kata lain, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam ala Indonesia. Ia tumbuh dan berkembang mengikuti tumbuh dan berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia.

Elemen Pesantren
Pada mulanya, pesantren hanya terdiri dari kiai yang mengajar, santri yang belajar, dan kitab yang dipelajari. Pada perkembangan selanjutnya, para santri yang jumlah semakin bertambah membutuhkan tempat khusus, maka didirikanlah asrama yang dikenal dengan pondok. Karena semakin bertambahnya jumlah santri dan rumah kiai tidak lagi bisa menampung jumlah santri, maka didirikanlah masjid dalam lingkungan rumah dan pondok itu. Selanjutnya, dapat disaksikan bahwa elemen-elemen itu menjadi unsur pembentuk dari sebuah pesantren yang populer dengan sebutan elemen pesantren, yakni: kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab kuning.

Pola Umum Pendidikan Pesantren
Mukti Ali menyebutkan bahwa pola umum pendidikan tradisional yang diperankan pesantren meliputi: 1) adanya hubungan yang akrab antara santri dan kiai, 2) tradisi ketundukan dan kepatuhan seorang santri kepada kiai, 3) pola hidup sederhana, 4) kemandirian atau independensi, 5) berkembangnya iklim dan tradisi tolong menolong dan suasana persaudaraan, 6) disiplin yang ketat, 7) berani menderita untuk mencapai tujuan, dan 8) kehidupan dengan tingkat religiusitas yang tinggi.
Pola umum pendidikan dalam pesantren tersebut mewarnai perjalanan pesantren di masa awal sampai munculnya pesantren dengan pola baru seperti yang dikenal sekarang. Dengan munculnya pesantren-pesantren versi baru seperti yang banyak berkembang sekarang, maka pola pendidikan pesantren mengalami perubahan dari pola sebelumnya yang lebih bersifat tradisional.
Dalam studinya, Dhofier menggolongkan pesantren menjadi dua, yang selanjutnya disebut sebagai model pesantren, yakni pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern).
Yang tergolong salaf adalah pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikannya. Adapun jika terdapat sistem madrasah atau sekolah di dalamnya dianggap sebagai pelengkap untuk memudahkan pelaksanaan sistem sorogan dan wetonan (bendongan).
Sedangkan pesantren khalaf adalah pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum pendidikannya. Untuk melaksanakan kurikulum ini, maka pesantren memasukkan madrasah atau sekolah dalam pendidikannya, baik sistem maupun lembaganya. Dibandingkan pesantren salaf, pesantren khalaf memiliki kelebihan dari sisi materi pendidikannya yang lebih lengkap, sehingga santrinya di samping mendalami ilmu-ilmu keislaman yang bersifat naqliyah juga ilmu-ilmu yang bersifat aqliyah. Namun hal ini tidak bisa diartikan bahwa pesantren khalaf lebih berkualitas.

Dilema dan Prospek Pesantren
Seiring dengan lajunya modernisasi di segala bidang kehidupan, termasuk modernisasi di dunia pendidikan, telah menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dan orientasi dalam dunia pendidikan termasuk pesantren. Pergeseran itu paling tidak disebabkan oleh beberapa faktor: pertama, adanya kolonialisme dan dimasukkannya sistem pendidikan liberal yang dibawa oleh penjajah terutama Belanda. Kedua, orientasi keilmuan pesantren tidak lagi terpusat ke Hijaz, tapi telah merambah ke wilayah Timur Tengah lainnya bahkan ke Eropa. Ketiga, gerakan pembaruan dalam Islam yang terjadi di dunia Islam dan menganggap pesantren sebagai lembaga pendidikan yang ”kolot” sehingga harus diperbarui. Keempat, persentuhan pesantren dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan melakukan program pemberdayaan masyarakat dengan menangani berbagai proyek pengembangan di berbagai bidang.
Faktor-faktor tersebut pada gilirannya membuka ruang untuk terjadinya benturan yang “memaksa” pesantren untuk mengubah wajah, yang hal itu memunculkan masalah baru berkaitan dengan jati diri pesantren sebagai lahan persemaian dan pengembangan nilai-nilai budaya islami.
Menghadapi kenyataan seperti itu dan kemungkinan yang lebih merugikan lagi di masa mendatang, pesantren-pesantren pun mengambil bentuk sendiri-sendiri. Ada yang larut dalam gelombang modernisasi, ada yang menjauh, dan ada pula yang mengambil sebagian manfaat dari modernisasi sambil berusaha tetap mempertahankan ciri khasnya. Akan tetapi, apapun pilihan yang diambil masing-masing mempunyai dampak yang serius, dan sudah barang tentu berpengaruh terhadap eksistensi pesantren sebagai pengawal tradisi islami.
Jika pesantren memilih tertutup untuk semua jenis modernisasi, maka mungkin akan ditinggalkan oleh laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada akhirnya akan ditinggalkan oleh masyarakat. Tetapi, jika pesantren memilih terbuka menerima segala tawaran modernisasi, maka mungkin juga akan ketinggalan karena di luar telah lebih dahulu menyerapnya dibanding pesantren. Dan kemungkinan serius bisa terjadi berupa terkikisnya nilai-nilai yang sejak lama diukir di dunia pesantren, dan pada akhirnya mungkin juga akan ditinggalkan oleh masyarakat karena tidak mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Sehingga kemungkinan yang dianggap lebih baik adalah pesantren mengambil sikap terbuka pada modernisasi sambil tetap mempertahankan jati dirinya.
Apa yang disaksikan dewasa ini menunjukkan bahwa pesantren telah berubah. Sejumlah hal baru telah masuk dan berkembang di pesantren. Interkasi antara nilai-nilai baru dan lama terus bergumul. Hasil dari pergumulan itu memunculkan format baru pesantren yang belum pernah dikenal sebelumnya. Masuknya madrasah dan sekolah, dengan segala sistem, metode, dan kurikulum pendidikannya dalam pesantren adalah salah satu hasil dari pergumulan itu.
Sejumlah dampak dari perubahan itu menimbulkan beban yang cukup berat dan tidak boleh diabaikan. Pemerintah kemudian turun tangan untuk meringankan beban itu dengan membuka Direktorat Pembinaan Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di Departemen Agama.
Meskipun upaya-upaya tersebut terus digalakkan, tetapi ternyata masih menyisakan sedikit keraguan di kalangan masyarakat, akankah pesantren mampu bertahan sebagai pesantren seperti keadaannya di masa lalu ~sekurang-kurangnya seperti keadaan sekarang. Keraguan ini sepintas dapat dimaklumi dengan melihat kenyataan sekarang di mana anak-anak usia sekolah lebih cenderung memilih sekolah-sekolah “umum” dari pada pesantren. Pilihan seperti itu dilatarbelakangi oleh orientasi yang berkaitan dengan lapangan kerja di masa mendatang, yang sepintas dapat dibenarkan.
Olehnya itu, di masa depan pesantren perlu melakukan pembenahan yang meliputi: konsep (visi, misi) yang harus berpijak pada bagaimana Islam memandang manusia (pisik, psikis, individu, dan sosial), 2) materi atau kurikulum perlu ditata agar terlihat dukungan pada konsep tersebut, dan 3) perlu melakukan penataan manajerial. Oleh karena itu, Departemen Agama sebagai pembina pesantren harus mengarahkan pengembangan pesantren pada prinsip partisipasi (pelibatan dalam akselerasi pendidikan dan pengembangan masyarakat), kemitraan dengan pemerintah, dan pembedayaan yang diarahkan sebagai tempat tafaqquh fî al-dîn dan tafaqquh fî al-dunyā. Dalam konteks berbeda, Nurcholis Madjid menawarkan agar pesantren mengadakan pembaruan dengan bertumpu pada pemaduan antara unsur keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan.
Namun demikian, masalah-masalah yang dihadapi lembaga pendidikan Islam tersebut merupakan tantangan yang harus selalu diupayakan solusi terbaik. Bagaimanapun lembaga ini memiliki prospek ke depan dengan mempertimbangkan kondisi, seperti mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, pesantren tumbuh dan telah mengakar dari budaya bangsa Indonesia, dan di abad serba materi, terdapat adanya kecenderungan manusia untuk kembali menggali dan memfungsikan agama sebagai pedoman dan segala aspek kehidupan. Pesantren mempunyai peluang besar untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap kecenderungan tersebut.

Penutup
Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa untuk mengatasi dilema dan menyonsong prospek cerah pesantren dan madrasah di masa depan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Hendaknya ciri khas pesantren sebagai pusat pengkajian ilmu-ilmu keagamaan dan pembinaan akhlāq al-karîmah tetap dipertahankan dengan tetap memelihara eksistensi kelima elemen pesantren yang terdiri dari kiai, santri, masjid, pondok dan pengajaran kitab klasik.
2. Pesantren hendaknya tetap pada posisi semula sebagai milik perorangan atau masyarakat yang tetap harus diperhatikan oleh pemerintah dari segi pengembangannya, termasuk fasilitas dan pendanaan, namun pemerintah hendaknya tidak terlalu jauh mencampurinya sampai ke dapur.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: