TEORI KETELADANAN DAN PEMBIASAAN DALAM PENDIDIKAN


Oleh:
Aminudin, S.Ag

Abstrak: Teori pembiasaan adalah proses pendidikan yang berlangsung dengan jalan membiasakan anak didik untuk bertingkah laku, berbicara, berpikir dan melakukan aktivitas tertentu menurut kebiasaan yang baik.
Dasarnya adalah al-Qur’an dan Hadits serta pendapat para pakar pendidikan. Di antara firman Allah yang berkaitan dengan teori keteladanan adalah QS. al-Maidah (5): 30-31, QS, al-Ahzab (3): 21, dan QS. al-Mumtahanah (60): 4, sedangkan yang berkaitan dengan teori pembiasaan adalah QS. al-Nūr (4): 58. Demikian pula hadits yang dijadikan di antaranya adalas Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Sedangkan dari kalangan para pakar, di antaranya adalah Edward Lee Thoorndike dan Ivan Pavlov.
Keteladanan dan pembiasaan dalam pendidikan amat dibutuhkan karena secara psikologis, anak didik lebih banyak mencontoh prilaku atau sosok figur yang diidolakannya termasuk gurunya. Pembiasaan juga tak kalah pentingnya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena setiap pengetahuan atau tingkah laku yang diperoleh dengan pembiasaan akan sangat sulit mengubah atau menghilangkannya sehingga cara ini amat berguna dalam mendidik anak.

Kata Kunci: Keteladanan, pembiasaan, pendidikan

Pendahuluan
Wahyu pertama diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. di dalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan. Proses pembelajaran itu berlangsung dari tidak tahu menjadi tahu, sebagaimana Allah swt. sendiri yang menyatakannya dalam surah al-‘Alaq ayat 5 dan surah al-Baqarah ayat 31 sebagai berikut:
    
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. al-‘Alaq [96]: 5).
  كلها…
Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya . . . . (QS. al-Baqarah [2]: 31)

Anak didik berangkat dari lingkungan yang berbeda, sedikit banyaknya membawa pengaruh terhadap cara berpikir dan berperilaku, di samping itu usia mereka yang berbeda pada masa puber selalu ingin mencari perhatian mendorongnya melakukan banyak hal.
Atas dasar itulah sebagai pendidik berupaya mencarikan solusi bagi masalah pendidikan yang muncul, agar jangan merasa bosan dan malas belajar, maka anak didik diusahakan menyukai dan senang terhadap pelajaran, salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi adalah apabila mereka senang dan mengagumi guru yang mengajarkannya, selain itu sikap rajin belajar juga disebabkan karena belajar itu sudah menjadi kebiasaannya, olehnya itu faktor keteladanan dan pembiasaan inilah yang penulis angkat dalam pembahasan ini.

Keteladanan dan Pembiasaan dalam Pendidikan
1. Teori keteladanan dalam pendidikan
Berangkat dari segi bahasa “teori” berarti pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dn argumentasi (Departemen Pendidikan Nasional, 2001: 1177). Sejalan dengan itu O,Cannor yang dikutip Abdurrahman Saleh mengatakan: kata “teori”
Sebagaimana yang dipergunakan dalam konteks pendidikan secara umum adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan hanya dianggap absah manakalah kita tetapkan hasil eksperimental yang dibangun dengan baik baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai kepada praktek kependidikan (Abdurrahman Saleh Abdullah, 2005: 21).
Teori dilihat dari sudut pandang tersebut di atas dapat dipahami sebagai suatu pendapat atau asumsi yang diperoleh dari hasil penelitian atau eksperimen, karena itulah Sahabuddin Tumpu mengartikan teori adalah penafsiran sistimatik dari suatu bidang ilmu pengetahuan (Sahabuddin Tumpu, 1999: 23). Apabilan penelitian telah dilakukan, para ilmuan berusaha menafsirkan temuan-temuanya hingga menjadi teori.
“Keteladanan” dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti hal yang dapat ditiru atau contoh. Hery Noer Aly sendiri mengartikan kata “teladan” dalam arti yang sama yaitu memeri contoh (Hery Noer Aly, 1999: 178).
Melalui beberapa pengertian tersebut di atas, penulis dapat menjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan teori keteladanan dalam pendidikan adalah cara mendidik dengan memberi contoh dimana anak didik dapat menirunya baik dari segi perkataan, perbuatan, maupun cara berfikir dan yang lainnya, karena itu seorang pendidik hendaklah berhati-hati di hadapan anak didiknya.

2. Teori Pembiasaan dalam Pendidikan
Pembiasaan berasal dari kata dasar biasa merupakan lazim, seringkali. Pembahasan merupakan proses penanaman kebiasaan, mengupayakan suatu tindakan agar terbiasa melakukannya, sehingga terkadang seseorang tidak menyadari apa yang dilakukannya karena sudah menjadi kebiasaan. Jadi, teori pembiasaan dalam pendidikan adalah yang proses pendidikan yang berlangsung dengan jalan membiasakan anak didik untuk bertingkah laku, berbicara, berpikir dan melakukan aktivitas tertentu menurut kebiasaan yang baik, sebab tidak semua hal yang dapat dilakukan itu baik.

Landasan dan Urgensinya dalam Pendidikan
1. Landasan teori keteladanan dan urgensinya
Muhammad Fadhil Al Jamaly menegaskan, salah satu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan dalam kehidupan manusia sehari-hari adalah, uswatun hasanah atau suri teladan (Muhammad Fadhil al Jamaly, 1993: 135). Teori keteladanan tak dapat disangkal telah memiliki peran yang sangat signifikan dalam usaha pencapaian keberhasilan pendidikan, hal itu disebabkan karena secara psikologis, anak didik lebih banyak mencontoh perilaku atau sosok figur yang diidolakannya termasuk gurunya, karena itu seorang pendidik hendaknya menyadari bahwa, perilaku yang baiok adalah tolak ukur yang menjadi keberhasilan bagi anak didiknya.
Pendidikan keteladanan dengan jalan meniru sebagai bentuk belajar, telah digambarkan oleh Allah swt. Dalam kisa Qabil dan Habil, dimuat dalam surah al-Maidah ayat 30-31 sebagai berikut:
                               
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudarannya, sebab itu dibunuhnyala, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi (30) kemudian Allah swt menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya…. (QS. al-Maidah [5]: 30-31).

Peristiwa pembunuhan yang diikuti penguburan yang dilakukan didalamnya terhadap saudaranya (Habil), oleh Tohirin menganggap didalamnya terkandung proses belajar (Tohirin, 2006: 56). Gambaran pembelajaran itu dapat kita simak lewat tingkah laku burung gagak yang menggali tanah untuk mengubur gagak yang lain (Abdul Mujib, 2006: 175). Perbuatan burung gagak itu ditiru oleh Qabil yang sedang bingung memikirkan apa yang akan dilakukannya terhadap mayat saudaranya, begitu besar hikmah yang diberikan Allah kepada pembunuh (Qabil) dengan menurunkan seekor burung gagak memberi contoh, sehingga Qabil menemui jalan keluar.
Secara historis, Rasulullah saw. berhasil menyebar luaskan Islam lewat sikap dan tingkah laku beliau yang selalu menunjukkan contoh yang baik bagi para sahabatnya, Rasulullah saw. sebagai suri teladan telah dinyatakan Allah swt. dalam surah al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut:
                
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah saw. sebagai suri teladan yang baik selalu mendahulukan dirinya mengerjakan segala perintah yang datang dari Allah swt. sebelum perntah itu disampaikan pada ummatnya, demikian pula larangan-larangan Allah swt. ia senantiasa menjauhinya.
Pribadi teladan juga dapat kita lihat pada sosok Nabi Ibrahim a.s. yang telah dipertegas oleh Allah swt. dalam surah al-Mumtahanah ayat 4 sebagai berikut:
        ….
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…. (QS. al-Mumtahanah [60]: 4).

Nabi Ibrahim a.s. telah melahirkan pendidikan keteladanan dengan menumbuhkan sikap rela berkorban bagi umat manusia, dan menjadilah suatu kebiasaan bagi umat Islam untuk melaksanakan kurban pada hari raya Idul Adha, mencontoh sikap Nabi Ibrahim a.s. yang telah diperintahkan oleh Allah swt. untuk menyembelih anak semata wayangnya yaitu Ismail.
Keberhasilan menerapkan teori keteladanan dalam pendidikan bukan hanya diakui oleh al-Qur’an tetapi orang-orang barat pun turut dalam teori tersebut, teori keteladanan diperkenalkannya melalui belajar sosial dengan istilah social learning theory (teori belajar sosial).
Tokoh utama teori belajar sosial adalah Albert Bandura, seorang psikologi pada Universitas Stanford Amerika Serikat, teori disebut juga dengan teori observation learning, belajar observasional/pengamatan (Muhibbin Syah, 2006: 106).
Manusia dalam hidupnya mempunyai sikap saling ketergantungan dengan manusia lain, demikian pula dalam belajar, ia banyak dipengaruhi oleh keadaan di sekelilingnya, sehingga Albert Bandura dalam teori belajar sosial, memandang tingkah laku manusia timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Adanya keterbukaan seseorang terhadap lingkungannya akan membuka peluang memperoleh pelajaran sebanyak-banyaknya, begitu banyak yang dapat diamati dan dipikirkan untuk diambil pelajaran darinya.
Teori belajar sosial menekankan perlunya imitation (peniruan) terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa. Lewat pengamatan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, seorang anak dapat menirunya, karena itu teramt penting bagi seorang pendidik, untuk memainkan peran sebagai model atau tokoh yang menjadi contoh dan diteladani oleh anak didiknya.
Kepopuleran teori belajar sosial juga tidak lepas dari dukungan Miller dan Dollard, mereka memandang bahwa tingkah laku manusia itu dipelajari melalui prinsip-prinsi psikologi belajar (Sarlito Wirawan Sarwono, 2002: 23) yaitu :
a. Dorongan, yaitu rangsangan kuat dari dalam individu yang mendorongnya untuk bertingkah laku, dorongan itulah yang membuat seseorang terpaksa harus meniru tingkah laku orang lain untuk berbuat, dorognan muncul disebabkan adanya kebutuhan yang mesti terpenuhi, sperti rasa lapar mendorong untuk makan chaus mendorongnya untuk minum.
b. Isyarat adalah rangsangan yang menentukan tingkah laku balas yang akan timbul, misalnya uluran tangan merupakan isyarat bagi seseorang untuk berjabat tangan.
c. Tingkah laku balas, yaitu reaksi individu terhadap rangsangan yang timbul didasarkan pada timgkah laku bawaan, apabila tingkah laku itu tidak sesuai dengan yang diharapkan maka individu tersebut belajar dengan cara dan ralat (trial and error learning), untuk mengurangi belajar dengan coba dan ralat ini, seseorang akan meniru tingkah laku orang lain untuk dmemberikan tingkah laku balas yang tepat.
d. Ganjaran, yakni rangsangan yang menetapkan apakah suatu tingkah laku balas akan diulang atau tidak pada kesempatan lain, dengan adanya pemberian ganjaran maka seseorang akan tahu tingkah lakunya tepat atau tidak.
Membahas tingkah laku tiruan, Mille dan Dollard menyatakan ada tiga mekanismenya, yang tingkah laku sama (same behavior), tingkah laku tergantung (matched depemdent behavior), dan tingkah laku salinan (copying).
Tingkah laku sama terjadi apabila ada dua orang yang bertingkah laku sama terhadap rangsangan atau isyarat sama, akan halnya dengan tingkah laku tergantung, ini timbul akibat adanya kebutuhan untuk meniru seseorang terhadap orang lain, karena disatu pihak adalah lebih pintar, lebih dewasa, atau lebih mampu dari pada pihak yang lain, sedangkan tingkah laku salinan, tingkah laku ini didasarkan pada tingkah laku seseorang yang dijadikan model atau contoh, untuk memperbaiki tingkah lakunya sehingga lebih sesuai dengan tingkah laku model yang dicontoh.
Setelah menganalisis teori dari orang-orang barat, mereka lebih banyak menggunakan hubungan sosial untuk menggambarkan tingkah laku teladan, demikian halnya teori keteladanan yang ditawarkan al-Qur’an, dengan menjadikan sosok pribadi nabi untuk dicontoh dan diteladani.
Luasnya kontak sosial yang dapat terjadi dengan beragam tingkah laku yang dapat ditiru, mulai dari yang positif hingga yang negatifd meminta tugas ekstra seorang pendidik untuk memberikan penawaran bagi tingkah laku negatif yang ditirunya.
Teori keteladanan yang telah dijelaskan tersebut diatas, digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan lewat keteladanan dan peniruan yang baik kepada anak didik, agar memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan, karena itu seorang pendidik hendaknya berperilaku teladan seperti yang dimiliki oleh Rasul, disebabkan pada diri merekalah anak didik akan mencontoh dan meniru apapun yang dilakukan oleh gurunya, untuk itulah Allah swt. Memperingatkan agar tidak memberi contoh yang kurang baik sebagimana ditegaskan Allah swt. Dalam 2 surah, yaitu surah l-Baqarah ayat 44 dan surah Şãf ayat 2-3 sebagai berikut:
 ••         
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dari (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat) maka tidakkah kamu berfikir (QS. al-Baqarah [2]: 44).
                
Hai orang yang beriman, mengapa akamu mengatakan apa ayng tidak kamu perbuat? (2) Amat besar kebencian di sisi Allah swt bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat (Q.S. Şãf [61]: 2-3).

Firman Allah swt. Diatas memberi pelajaran kepada setiap pendidik, supaya tidak hanya mampu memberi teori, tapi lebih dari itu ia dapat menjadi panutan bagi anak didiknya. Amat tercela sikap seorang pendidik yang mengajarkan suatu kebaikkan, sedangkan ia sendiri tidak menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya, orang seperti inilah yang dibenci oleh Allah swt. Bahkan anak didiknya tidak merespek pelajaran yang diajarkannya.

2. Landasan teori pembiasaan dan urgensinya
Teori pembiasaan dapat ditinjau dari sudut pandang al-Qur’an, hadiś, dan para tokoh pendidikan berikut:
a. Teori pembiasaan berdasarkan al-Qur’an dijelaskan oleh Allah swt. Dalam surah al-Nǔr ayat 58 sebagai berikut:
                                ….
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang ayang belum baliq diantara kamu, meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu meninggalkan pakaian (luar )mu ditengah hari, dan sesudah sembahyang isya, (itulah) tiga aurat bagi kamu (QS.al-Nǔr [24]: 58).

b. Sumber hukum yang berasal dari Rasulullah saw.berkenaan dengan teori pembiasaan dapat kita lihat pada hadiś riwayat Abu Dawǔd yang dikutif Hery Noer Aly berikut:

مـروا أولادكـم بـالصـلاة وهـم أبـنـاء سـبـع سـنـيـن واضـبـوهـم عـلـيـهـا وهـم أبـنـاء عـشـر سـنـيـن و فـرقـوا بـيـنـهـم فـى الـمـضـا خـع . ( رواه أبـو داود)
Surulah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (H.R..Abǔ Dawǔd).

c. Teori pembiasan menurut para pakar
Salah seorang tokoh psikologi yang memberi pengaruh terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan teori pembiasaan adalah, Edward lee Thoorndike yang terkenal dengan teori connectionism (koneksionisme) yaitu belajar terjadi akibat adanya asosiasi antara stimulus dengan respon, stimulus akan memberi kesan pada panca indra, sedangkan respon akan mendorong seseorang untuk bertindak (Wiji Suwarno, 2006: 59).

Berdasarkan pendapat itulah, Thorndike mengadakan eksperimen terhadap seekor kucing, melalui hasil eksperimen inilah dia dapat menyusun tiga hukum, salah satu diantaranya adalah hukum latihan (the low of exercise), selanjutnya hukum ini dibagi dua yaitu hukum penggunaan (the low of use), dan hukum bukan penggunaan (the low of diuse).
Hukum penggunaan maksudnya, apanila latihan dilakukan secara berulang-ulang, maka hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat, sebaliknya hukum bukan penggugnaan adalah apanila latihan dihentikan (tidak digunakan) maka hubungan antara stimulus dan espon akan semakin melemah pula.
Sebagai contoh yang dapat kita lihat pada seorang anak didik yang rajin membaca dan mengulang-ulang pelajarannya, pada saat ulangan ia dapat menjawab soal-soal dengan benar, sebaliknya seorang anak yang malas belajar maka ketika ulangan ia sulit menjawab soal-soal.
Tokoh lain yang mengembangkan teori pembiasaan ini adalah Ivan Pavlov, ia terkenal dengan teorinya classical conditioniong (pembiasaan klasik), teori ini didasarkan pada hasil eksperimennya dengan seekor anjing, mula-mula anjing tidak mengeluarkan air liurnya ketika bel dibunyikan, namun setelah bel dibunyikan yang diikuti pemberian makan berupa serbuk daging, menyebabkan anjing itu mengeluarkan air liurnya, semakin sering kegiatan itu diulang, semakin sering pula anjing mengeluarkan air liurnya, hingga asuatu ketika terdengar bunyi bel tanpa diiringi makanan, dan ternyata anjing tetap mengeluarkan air liurnya (Muhibbin Syah, 2006: 96).
Dari hasil percobaan itu dapat diambil pelajaran bahwa, suatu tingkah laku pada awalnya sangat sulit untuk melakukannya, namun karena sering mengulanginya akhirnya ia terbiasa dan menguasai tingkah laku tersebut.
Di sinilah pentingnya pembiasaan bagi anak didik untuk menerapkannya dalam belajar, sebab sesuatu pengetahuan atau tingkah laku yang diperoleh dengan pembiasaan, maka aapa yang diperoleh itu akan sangat sulit untuk mengubah atau menghilangkannya, sehingga cara ini sangat berguna dalam mendidik anak.

Penutup
1. Teori keteladanan dalam pendidikan adalah suatu cara yang ditempuh dalam mendidik dengan jalan memberi contoh atau teladan bagi anak didiknya. Adapun teori pembiasan itu sendiri tak lain adalah proses pendidikan yang berlangsung dengan cara pembiasan.
2. Teori keteladanan dan pembiasan dalam pendidikan mempunyai landasan yang kuat, yang didasarkan pada hukum agama dan para ahli. Teori keteladanan ditunjang oleh QS.al-Maidah(5): 30-31, al-Ahzab (33): 21, dan al-Munthahanah (60): 4, serta pakar seperti Albert Bandura, Miller dan Dollard. Sedangkan teori pembiasan didasarkan pada QS. an-Nur (24): 58, dan hadiś nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawǔd, serta para tokoh terkenal seperti Edward Lee Thoorndike dan Ivan Pavlov.

Daftar Pustaka
Abdullah, Abdurrahman Saleh, Educational, Theory a Quranic Outlook, diterjemahkan M. Arifin dan Zainuddin, Teori-Teori pendidikan berdasarkan al-Qur’an, Cet. III: Jakarta: Rineka Cipta, 2005
Abdul Mujid, Ilmu pendidikan Islam, Cet. I; Jakarta: Kencana, 2006
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: Toha Putra, 1996
Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesaia, Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 2001
Fadhil al-Jamaly, Muhammad, al-Falsafah at-Tarbawiyyah Fil Qur’an, diterjemahkan Judi al-Falasani, Konsep Pendidikan Qur’ani, Cet. I; Solo: Ramadhani, 1993
Noer Aly, Hery, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II; Jakarta: Logos, 1999
Suwarno, Wiji, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Cet I; Yogyakarta:ar-Ruz Media, 2006
Syah, Muhibbin, Psikologi belajar, Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Cet.I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Tumpu, Sahabuddin, Mengajar dan Belajar: Dua Aspek Dari Suatu Proses yang disebut pendidikan, Cet.I; Makassar: Universitas Negeri Makassar, 1999
Wirawan Sarwono, arlito, Teori-Teori Psikologi Sosial, Cet. VII; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: