KONSEP HIDAYAH DALAM ISLAM


Oleh :
Mansur, S. Ag., M. Pd*

Abstrak :
Hidayah merupakan modal dasar yang sangat utama bagi seorang hamba dalam meraih dan mendapatkan kebahagiaan duniawi dan kesenangan ukhrawi, hidayah menjadi dambaan setiap orang, walau tidak semua orang bisa mendapatkanya.
Agamawan membagi hidayah Allah ke dalam empat tingkatan dengan tahapan yang berbeda-beda. Tahap pertama adalah naluri disusul dengan panca indra, kemudian akal dan yang terakhir adalah agama.
Hidayah yang ada pada diri seseorang, dulu, sekarang dan yang akan datang adalah merupakan hak preoregatif dari Allah Swt.,, tak seorangpun manusia di dunia ini yang mampu memberikannya kepada orang lain, tak terkecuali Rasulullah Saw., Dalam sejarah dikisahkan bahwa ternyata Rasulullah Saw., sekalipun tak mampu memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, walaupun Abu Thalib telah beliau bujuk akan tetapi kenyataan berbicara lain. Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman, padahal Rasul sangat mencintai dan menyayangi beliau.
Hidayah dalam perpespektif Islam berfungsi untuk melahirkan manusia yang mampu mencapai ridha dari Allah Swt., yang senang dan disenangi serta menjadi insan-insan yang pandai berteimakasih.

Kata Kunci : Hidayah, Islam

A. PENDAHULUAN
Sejak awal kehadirannya, Islam telah memperkenalkan hakekakat manusia sebagaimana yang tercermin dalam konsep Fitrah-nya. Namun sampai kini masih tersisa pertanyaan dikalangan kita, apa hakikat fitrah itu sebenarnya. Para ahli telah membahas pengertian fitrah ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari perbedaan pandangan dan pendekatan dicoba ditelusuri makna fitrah yang sesungguhnya. Perbedaan pandangan yang ada itu, ternyata masing-masing berdiri dan berpijak pada argumen yang kuat, sehingga berbagai argumen defenitif itu mengarah pada pengertian yang sama.
Dengan merujuk pada salah satu ayat al-Qur’an, Allah Swt., berfirman pada surat Ar-Rum (30);30:
فأقم وجهك للدين حنفا, فطرت الله التى فطر الناس عليها, لا تبديل لخلق الله, ذلك الدين القيم ولكن اكثر الناس لايعلمون.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”.

Terdapat berbagai argumen yang lahir dari penafsiran ayat tersebut, antara lain :
a. Fitrah berarti suci (Thuhr)
Menurut al-Qurtubi, t. th ; 5106), fitrah berarti kesucian, dalam jasmani dan rohani. Akan tetapi dalam konteks pendidikan, kesucian adalah kesucian dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi (1988; 68) bahwa ;
“Manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehdidupannya, tak peduli dengan lingkungan, masyarakat, dari keluarga macam apapun dia dilahirkan. Islam menyangkal setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa waris, dan tanggungjawab penebusan serta keterlibatannya dalam kesukuan, nasional maupun internasional”.

Dengan demikian sangat tidak beralasan kalau konsep tabulrasa dari aliran behaviorisme, prakarsa Jhon Locke, yang mengatakan bahwa manusia itu lahir tidak mempunyai kecenderungan baik maupun buruk (netral).
b. Fitrah berarti Islam (dienul Islam)
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Namun pemaknaan al-Islam menurut Abu Said al-Khudri, sebagaimana yang ditulis oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya tidaklah tepat, sebab kalau manusia lahir dengan bawaan agama Islam, mengapa pada tahap berikutnya terdapat banyak manusia yang menjadi kafir, dan mengapa pula dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa ada satu kaum yang khusus diciptakan oleh Allah Swt., untuk menjadi penghuni neraka. Allah berfirman, pada surat al-A’raf (7);179.
ولقدذرأنا لجهنم كثيرامن الجن والإنس, لهم قلوب لايفقهون بها ولهم أعين لايبصرون بها ولهمءاذان لايسمعون بها, أولئك كالأنعام بل هم اضل, أولئك هم الغفلوان
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”.

c. Fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah (at-Tauhid).
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya dan mencari secara terus-menerus untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan rasio manusia, penolakan terhadap politeisme bukan saja merupakan pembawaan, tetapi lebih dari itu, merupakan rangkaian analisis dari fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta baik secara mikro maupun secara makro.
Secara kodrati, sebagaimana yang ditulis oleh Muhaimin dan Mujib (1993; 15) manusia telah menemukan tauhid walaupun masih dalam kapasitasnya yang immaterial (alam roh). Hal ini terjadi dari konsensus antara Allah Swt., dan roh yang selanjutnya menjadi konstitusi umum. Sebagian mufassir memadukan makna fitrah dengan al-Islam dan at-Tauhid sebagai upaya kompergensi terhadap pemaknaan fitrah di atas.
Dari sekian banyak makna fitrah yang telah dikemukakan oleh para ahli, sengaja penulis hadirkan karena potensi dasar untuk mendapatkan hidayah dari Allah Swt., ternyata sudah ada pada setiap manusia, baik yang kelak tetap menjadi muslim, maupun yang kemudian menjadi orang-orang kafir dan pembangkan terhadap perintah Allah.
Dari paparan latar belakang yang telah dikemukakan, teridentifikasi dua permasalahan yang dapat dibahas dalam tulisan ini, yaitu ; Pertama, ada berapa jenis hidayah yang dikenal dalam Islam. Kedua bagaimana fungsi hidayah dalam Islam.
Dua hal tersebut menjadi pijakan awal untuk mengetahui jenis-jenis hidayah yang dikenal dalam Islam dan fungsi hidayah itu sendiri bagi seorang muslim.

B. KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
1. Pengertian Hidayah
Hidayah sebagai modal dasar serorang hamba dalam meraih dan mendapatkan kebahagiaan akhirat, maupun kebahagiaan dunia, menjadi dambaan setiap orang. Namun karena pengaruh dari luar diri manusia yang kadang menjadi kendala dan penghadang bagi seseorang untuk meraih dan mendapatkan hidayah. Berikut dikemukakan pengertian hidayah yang telah dikemukakan oleh para agamawan :
Kata hidayah berasal dari kata hadaa yang berarti menunjukkan atau memberi petunjuk Anshari (t. th, 103). Lain halnya dengan Quraish (1992; 55), bahwa hidayah berasal dari akar kata hadaa yang berarti memberi petunjuk (atau) suatu yang mengantar kepada apa yang diharapkan, yang disampaikan kepada manusia secara halus dan lemah lembut. Demikian juga dengan at-Thaba-Thaba’iy (t. th; 37), bahwa hidayah adalah menunjukkan atau memperlihatkan tujuan akhir dengan cara menunjukkan jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Hidayah merupakan petunjuk yang halus yang dapat membawa manusia kepada tercapainya sesuatu yang diinginkan, Abduh (t. th; 62).
2. Pembagian Hidayah Dalam Islam
Dalam posisinya sebagai makhluk termulia dan khalifah di muka bumi, maka manusia senantiasa dikontrol oleh Allah Swt., sebagai penentu pertikal. Hal ini dimaksudkan untuk merealisasikan tujuan penciptaan manusia di muka bumi. Hidayah Allah kepada manusia memiliki posisi yang sangat menentukan dalam rangka merebut posisi yang layak bagi manusia dalam pandangan manusia di dalam masyarakat dan bahkan dalam pandangan Allah Swt.
Mufassir besar Syaikh Ahmad Mustafa al-Maraghi membagi hidayah dalam kitab tafsirnya menjadi lima macam, sebagaimana yang dihimpun oleh Quraish (1992; 55), bahwa para agamawan membagi hidayah Allah ke dalam empat macam dengan tahapan yang bertingkat. Tahap pertama adalah naluri disusul dengan pancaindra, kemudian akal dan yang terakhir adalah agama.
a. Hidayah al-Ilhami (instink, naluri)
Dalam analisa Anshari (t. th; 104), Hidayah semacam ini tidak hanya diberikan kepada manusia akan tetapi juga kepada hewan sekalipun. Hidayah al-Ilham ini berarti denyut hati (gerak hati, inplus) yang ada pada manusia dan hewan, hidayah jenis ini merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu, dorongan dimaksud tidak berdasar pada suatu fikiran, dorongan yang hanya berupa dorongan animal, yang tidak berdasarkan pada pikiran panjang oleh manusia. Hidayah al-Ilham ini diberikan oleh Allah Swt., kepada manusia sejak masih bayi.
b. Hidayah al-Hawasi.
Hidayah al-Hawasi ini bisa juga disebut dengan hidayah pancaindra. Hawas ialah dria, atau indra, ataupun indria, yaitu alat yang peka terhadap rangsangan dating dari luar, seperti rangsangan cahaya, rangsangan bunyi dll. Panca indra yang dimaksud adalah alat melihat, alat mendengar, alat pencium, alat perasa, dan alat peraba. Seperti yang Allah jelaskan dalam surat al-Balad (90) , 8-10.
الم نجعل له عينين ولسانا وشفتين وهد ينه النجدين
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.

Dalam penerimaan hidayah jenis ini, antara manusia dan hewan memiliki persamaan. Hidayah al-Hawasi yang berupa indra ini dianugerahkan Allah Swt., baik kepada manusia maupun kepada hewan. Namun dalam beberapa hal indra hewani lebih sempurna dibandingkan dengan indra manusia. Indra manusia terkadang memberikan informasi dan laporan yang tidak benar, lagi pula sering tidak utuh dan menyeluruh. Mata yang memandang tongkat yang ada di dalam air, seakan benkok padahal kenyataannya tidak demikian.
s. Hidayah al-Aqli
Hidayah aqal ini hadir untuk meluruskan kekeliruan-kekeliruan panca indra. Aqal merupakan pengakomodir semua hal yang dihimpun oleh panca indra, kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang dapat berbeda dengan kesimpulan yang diperoleh indra-indra tersebut. Aqal berperan melebihi peran panca indra. Aqal lebih matang, jauh setelah kematangan panca indra dan karenanya aqal dinyatakan berada pada tingkatan yang ketiga.
Aqal merupakan pembeda antara manusia dan hewan, bahkan malaikat sekalipun. Hidayah aqal inilah yang menyebabkan manusia berbudaya dan sekaligus membedakan antara hewan dan insan. Sebagai makhluk yang berbudaya, maka manusia hidup bersama dengan orang lain, hidup bermasyarakat, meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya setaraf demi setaraf dari tingkat tertentu ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih baik. Namun demikian, aqal saja tidak cukup bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan sejati dan kebenaran hakiki. Hal ini diperingatkan oleh Allah pada surat al-Mulk (90), 22-23.
افمن يمشي مكبا على وجهه اهدى أمن يمشي سويا على صراط مستقم. قل هوالذى انشأكم وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة قليلا ما تشكرون.
“Maka apakah orang yang berjalan terjungkel di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus ?. Katakanlah: Dialah yang menjadikan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”.

Hidayah al-Aqli ini merupakan hidayah yang dikhususkan oleh Allah Swt., kepada manusia, yang diikuti dengan hidayah al-Adyani sebagai pengendali dan pelurus aqal agar jangan tersesat dari jalan-Nya.
d. Hidayah al-Adyani
Hidayah al-Adyani ini biasa juga disebut dengan hidayah agama. Dengan aqal budi manusia semata-mata, belum merupakan jaminan bagi manusia untuk sampai kepada kebenaran yang hakiki. Dengan agama, Tuhan telah memperkenalkan kebenaran demi kebenaran. Kebenaran wahyu untuk mencapai hasrat citanya, kebahagiaan sejati dan kebenaran hakiki yang disuarakan dalam ayat demi ayat-Nya.
Dalam kaca mata, Nasution (1986 ; 79) Aqal sebagai hidayah yang diberikan oleh Allah Swt., merupakan bekal bagi manusia untuk dapat berfikir. Kekuatan fikir yang ada dalam diri manusia ini, menyebabkan dia berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan dan wahyu sebagai penghabaran dari alam metafisika turun ke pada manusia dengan keterangan-keterangan tentang tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap-Nya.
e. Hidayah at-Taufiqi
Di samping agama sebagai hidayah Allah Swt., masih ada hidayah Allah yang lain, yaitu hidayah taufiq atau hidayah al-Maunah. Hidayah kategori ini diposisikan pada tempat ke lima atau yang terakhir dalam sederetan hidayah yang diberikan oleh Allah Swt., kepada manusia. Hidayah taufiq ini semata-mata berada dalam tangan Allah Swt., tidak ada seorangpun yang dapat memberikannya kepada manusia lain. Dalam sejarah dikisahkan bahwa ternyata Rasulullah Saw., sekalipun tak mampu memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, walaupun Abu Thalib telah berusaha dibujuk oleh beliau akan tetapi kenyataan berbicara lain. Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman, padahal Rasul sangat mencintai dan menyayangi beliau. Malah bujukan beliau itu, oleh Allah Swt., dianggap sebagai suatu hal yang salah. Allah Swt., menegur Rasulullah Saw., dengan firman-Nya pada surat al-Qashash (28), 56.
انك لاتهدى من احببت ولكن الله يهدي من يشاء وهوأعلم بلمهتدين.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
Hidayah yang kita peroleh sekarang ini, dulu dan akan datang adalah merupakan hak preoregatif dari Allah, tak seorangpun di dunia ini yang mampu memberikannya kepada orang lain, tak terkecuali Rasulullah Saw., sebagaimana yang tersirat dalam ayat tersebut di atas.
3. Fungsi Hidayah Dalam Islam
Hidayah dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang keberadaannya sangat menentukan masa depan seseorang. Manusia yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah Swt., tidak hanya akan mengalami kesengsaraan duniawi akan tetapi derita nan abadi sudah pasti menanti pada kehidupan akhirat. Hidayah yang diberikan oleh Allah kepada manusia terbagi ke dalam dua bahagian besar, yaitu :
1. Hidayah yang merupakan bawaan sejak lahir
Hidayah bawaan ini merupakan pemberian dan karunia Allah Swt., kepada manusia dengan tidak melalui usaha lebih dahulu untuk mendapatkannya. Hidayah bawaan ini terkadang dimiliki pula oleh makhluk selain manusia, misalnya hewan dengan manusia masing-masing mempunyai rasa, indra dan lain sebagainya.
Adapun hidayah Allah Swt., yang merupakan hidayah bawaan sejak lahir adalah yang berupa hidayah al-Ilhami. Hidayah semacam ini serupa degan pemberian suara hati (gerak hati) kepada setiap orang. Suara hati ini selalu menuntun manusia kearah yang benar. Bisikan hati ini selamanya benar dan tidak pernah bohong serta tidak pernah sepakat terhadap pelanggaran dan ketidak adilan yang dilakukan oleh manusia. Akan tetapi, karena desakan dari luar diri manusia itulah yang selalu melahirkan pengingkaran terhadap kata dan bisikan hati.
Hati yang suci sangat peka dan mudah menerima kebenaran, walau kebenaran itu datang dari orang yang menurut penilaian kita tidak pantas untuk menyuarakannya. Manusia dengan hidayah Allah Swt., berupa hati yang suci mampu menembus hal-hal yang sifatnya metafisika dan di luar jangkauan mata jasadiah kita. Walaupun semua orang mempunyai hati, akan tetapi tidak semua orang memiliki hati yang suci dan peka. Hal ini terjadi dan tergantung pada pemeliharaan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan hati menjadi kotor. Hati yang kotor dapat menyebabkan hati menjadi mati, dan dari hati yang mati inilah yang akan menjadi santapan neraka. Ancaman Allah ini dapat dilihat pada surat al-A’raf (7); 179.
ولقدذرأنا لجهنم كثيرامن الجن والإنس, لهم قلوب لايفقهون بها ولهم أعين لايبصرون بها ولهمءاذان لايسمعون بها, أولئك كالأنعام بل هم اضل, أولئك هم الغفلوان
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”.

Kesucian hati menjadi jembatan dan penyebab hati menjadi peka dan mudah menerima kebanaran. Oleh karena itu pemeliharaan hati (kata hati) agar tetap menjadi suci dan bersih telah diatur dalam Islam, dengan menjauhkan diri dari dosa lahir maupun dosa batin.
Lain halnya dengan hidayah Allah berupa panca indra. Panca indra ini merupakan penyempurna kejadian manusia. Hidayah Allah yang berupa indra ini merupakan pasilitas dasar bagi manusia di dalam menyampaikan hasratnya terhadap sesuatu yang menjadi obyek penelitiannya. Mata misalnya, di dalam meneliti sesuatu masalah akan segera melaporkan kepada otak tentang segala apa yang dilihatnya. Telinga tentang apa yang didengarnya, alat pencium tentang apa yang telah diciumnya, indra perasa tentang apa yang telah dirabanya.
Kekayaan manusia yang sifatnya inmateri ini perlu dipelihara dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, ke arah yang diridhai Allah Swt., karena seluruh fasilitas yang kita nikmati di dalam kehidupan ini adalah merupakan karunia Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat nanti. Mensyukuri pemberian Allah Swt., berupa kelengkapan indra ini merupakan kewajiban, sebagaimana wajibnya kita mensyukuri nikmat Allah yang lain. Seperti yang telah ditegaskan oleh Allah Swt., dalam firman-Nya dalam surat Ibrahim (14); 7.
وإذتأذن ربكم لئن شكرتم لأزيد نكم ولئن كفرتم إن عذابى لشديد.
“Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan, “ sesungguuhnyajika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamum dan jika kamu mengingkarinya, nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.

Mensyukuri ikmat Allah berupa panca indra ini dilakukan dengan jalan memanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengabdi kepada Allah sebagai upaya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Akal, sebagai hidayah yang menjadi kebanggaan manusia, dan dibanggakan oleh Allah Swt., Hal ini pernah diutarakan oleh Allah di tengah-tengah unjuk rasa para malaikat yang menuntut penjelasan Allah atas kebijakan-Nya untuk menciptakan manusia di muka bumi. Ini dapat dibaca pada surat al-Baqrah (2); 33.
قال يأدم انبئهم باسمئهم فلما انبأهم باسمئهم قال الم اقل لكم انى اعلم غيب السموات والأرد واعلم ما تبدن وما كنتم تكتمون
“Allah berfirman, Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman ; Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamun lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”.

Akal yang merupakan barometer pembeda antara manusia dengan segala apa yang telah diciptakan oleh Allah di alam raya ini, karena manusia mampu mengembangkan manusia (dirinya) dan kemanusiaan. Manusia adalah makhluk berbudaya, yang mampu dan cakap sebagai pengemban amanah dari Allah Swt., sebagai penjaga, pemelihara dan pemakmur bumi ini.
Hidayah Allah berupa akal ini akan berjalan sesuai dengan kehendak penciptanya apabila dipupuk dan dibina di atas nilai-nilai iman yang mengkristal di dalam dada setiap insan. Keputusan untuk membina aqal melalui didikan agama merupakan kemutlakan dan keputusan yang bijak, agar akal tidak melanglang buana mengumpulkan ilmu-ilmu sekuler yang tidak hanya akan menghancurkan diri sendiri akan tetapi akan menghancurkan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan. Akal memang memang merupakan pasilitas yang paling istimewa yang ada pada setiap insan, akan tetapi akal bukan di atas segalanya.
2. Hidayah yang merupakan pengaruh dari luar diri manusia
Walaupun manusia terlahir dengan fitrah, namun manusia tidak kuasa menghindar dan menafikan kenyataan bahwa lingkungan banyak membawa warna bagi kehidupan manusia. Dari sini manusia dituntut untuk menjatuhkan pilihan apakah kita ingin bahagia di dunia dan di akhirat atau tidak. Kebahagiaan manusia tergantung pada pilihan yang diambilnya, apakah dia tetap berada dalam fitrah (beragama) atau justru menjadi hamba dunia dan pelanggeng kesesatan.
Agama sebagai hidayah yang diturunkan oleh Allah Swt., untuk mengatur tatanan hidup dan kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Khaliknya maupun yang berhubungan dengan manusia lain dalam kapasitasnya sebagai makhluk sosial. Manusia dengan petunjuk agama mampu menata dan menentukan masa depannya, oleh karena agama merupakan produk dari zat yang maha kuasa, Sang penentu segalanya.
Secara fitrawi, agama memang merupakan kebutuhan setiap manusia, akan tetapi banyak manusia yang menyalahi fitrah beragama yang melekat pada dirinya, yang membawanya jauh dari nikamatnya hidup beragama. Keengganan manusia untuk mengecap indah dan nikmatnya hidup beragama antara lain dipicu oleh warna wasyarakat dimana seseorang hidup berkelompok. Andai dalam sebuah masyarakat tumbuh iklim beragama secara subur, maka kenikmatan hidup beragama akan mempesona kepada seluruh masyarakat yang ada di dalamnya. Sebaliknya, apabila sebuah masyarakat gersang dan kering dari nilai-nilai agama, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang hampa dan jauh dari nur ilahi yang membahagiakan.
Hidayah taufiq inilah yang menjadi penentu dari sederetan usaha manusia dalam menjatuhkan dan menentukan pilihan, agama mana yang menjadi pilihan hatinya dan menjadi wujud keyakinannya. Hidayah taufiq ini kepunyaan Allah semata dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Betapa dalam referensi ke-Islam-an, kita jumpai kenyataan bahwa hidayah taufiq ini merupakan hak mutlak Allah, misalnya Ibrahin As., tiada kuasa menggait ayah kandungnya dalam menggapai hidayah, serta nabi Nuh As., tiada berdaya merubah keyakinan istri dan anaknya tercinta ke dalam naungan hidayah taufiq ini.
Dalam kenyataannya, manusia sendirilah yang cenderung mengabaikan dan tidak memelihara amanah yang telah dimilikinya serta tidak memelihara tubuh dan jiwanya, sesuai dengan petunjuk Allah. Jiwanya diisi dengan pikiran dan perasaan yang mendorong jasmaninya mengerjakan sesuatu yang melanggar perintah Allah. Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa semua anggota tubuh (hidayah), termasuk otak yang memiliki kemampuan berfikir dan hati nuraninya yang merasakan, diciptakannya sebagai nikmat dan amanah yang harus disyukuri keberadaannya. Karena itu, jika digunakan untuk berbuat dosa dan maksiat, bukan hanya tidak mampu mensyukurinya, tetapi malah membawa jiwa dan raganya ke dalam situasi yang membahayakan dirinya sendiri.
Manusia berkewajiban menjaga dan memelihara serta mengambil faedah yang sebesar-besarnya dari nikmat Allah berupa hidayah ini. Tubuh dengan kelengkapannya, harus diupayakan untuk menguasai berbagai keterampilan dan keahlian, agar dapat mengemban amanah kekhalifahan dalam rangka kemakmuran bumi ini.
Keterampilan dan keahlian sangat diperlukan di abad modern, tidak hanya supaya manusia itu produktif, tetapi juga supaya manusia mampu mempertahankan kehidupannya secara layak dan manusiawi (Nawawi; 193; 401). Sejalan dengan itu manusia dituntut dan berkewajiban mengisi perkembangan jiwanya dengan akhlak yang terpuji sesuai dengan nilai-nilai yang diridhai oleh Allah.
Demikian fungsi hidayah dalam Islam, dengan pemanfaatan segala potensi yang dimiliki manusia sebagai hidayah dari Allah Swt., maka manusia diharapkan mampu mencapai ridha dari Allah Swt., yang senang dan disenangi serta menjadi insan-insan syakur. Kemampuan mensyukuri kondisi penciptaan itu, dapat menghindarkan manusia dari penyimpangan berfikir, bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, dalam berhadapan dengan manusia lainnya, diri sendiri dan dengan penciptanya.
Huallahu a’lam bishshwab.

D. KESIMPULAN
1. Manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi, senantiasa dipantau dan dikontrol oleh Allah Swt.
2. Para ulama dan ahli agama membagi hidayah Allah ke dalam empat macam dengan tahapan yang bertingkat. Pertama adalah naluri, Kedua pancaindra, Ketiga akal dan yang Keempat adalah agama.
3. Hidayah dalam Islam berfungsi untuk menjadikan manusia mampu mencapai ridha dari Allah Swt., yang senang dan disenangi serta menjadi insan-insan syakur.
DAFTAR ACUAN
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang, Toha Putra, 1989.

H. Endang Saefuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Jakarta, CV. Rajawali, t. th.

H.M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Amanah, Jakarta : Pustaka Kartini, 1992.

Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta : UI Press, 1986.

Ibnu Abdillah Muhammad Bin Ahmad Anshori al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi, Kairo, Darus Sa’ab, Jus VI.

Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, Bandung Pustaka, Cet, I, 1988.

Muhaimain dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung, PT. Trigedi, 1993.

Nawai, Hadari, Pendidikan Dalam Islam, Surabaya : al-Ikhlash, 1993.

Sayyid Muhammad Husain at-Thaba-Thaba’iy, Mizan Fi Tafsiril Qur’ani, Juz I, Libanon, Bairut, (t. th).

Sayyid Muhammad Abduh, Risalah at-Tauhid, Juz. I, Darul Fikri, Mesir, (t. th).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: