ANALISIS SEMANTIK PENAFSIRAN AL-THABARI TERHADAP FITNAH DALAM ALQURAN


Oleh

Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si

Abstrak: Dalam penafsiran Alquran yang dilakukan oleh para mufassirin terdahulu tidak terlepas dari linguistik yang ada dalam Alquran sehingga mempermudah menafsirkan ayat-ayat tertentu. Semantik adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang memegang peranan penting dalam menafsirkan sutu kalimat atau lebih dari ayat-ayat Alquran. Semantik ini khusus membahas tentang makna kata atau arti kata dalam ayat-ayat Alquran, sehingga memudahkan bagi mufassirin secara khusus dan secara umum bagi semua orang Islam yang ingin mendalami isi Alquran. Imam Thabari mencoba menganlisis semantik tentang makna fitnah dalam al Quran yaitu pertama fitnah adalah sebagai al ibtila’ (ujian), kedua fitnah adalah al dhalal wal dzanbu wal kharaj ( kesesatan dan dosa), ketiga fitnah adalah maknanya al syirk dan al kufr (penyekutuan terhadap dan pengingkaran kepada Allah) dan fitnah adalah sebagai al adzab ( siksaan).

Kata Kunci : semantik, fitnah
Pendahuluan
Secara populer orang saling menyatakan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa, atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai obyek kajiannya, atau lebih tepat lagi seperti dikatakan Martinet “Telaah ilmiah mengenai bahasa manusia (Andre Martinent, 1987: 19).
Kata linguistik (berpadanan dengan linguistic dalam bahasa Belanda) diturunkan dari kata Latin lingua yang berarti lidah, suara, kata-kata, tutur, logat, lafal dan bahasa (Sudaryanto, 1985: 3-4). Oleh karena bahasa merupakan pokok bahasan dalam bidang studi linguistik, maka seorang linguis mempelajari bahasa sebagai kemampuan manusia untuk berkomunikasi, sebagai ekspresi individual, sebagai warisan bersama satu masyarakat ujaran, sebagai bunyi-bunyi yang diucapkan, sebagai teks tertulis dan sebagainya (R.R.K. Hartman and F.C. Stork, 1972: 132).
Ilmu linguistik sering juga disebut dengan linguistik umum atau general linguistics (J.W.M. Verhaar, 1996: 4), artinya ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa atau bahasa Arab, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa umumnya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa linguistik baru lahir pada abad ke-19 M. Sejarah Linguistik diawali dengan munculnya rhetorik yang berkembang di Yunani dengan Georgius sebagai tokohnya. Di dalamnya sudah terdapat pandangan bahwa bahasa berbeda satu sama lain namun rasa kebahasaan tetap ada pada setiap manusia, atau sekarang lebih dikenal dengan kesemestaan bahasa. Linguistik kemudian berkembang dalam pengertian grammar (tata bahasa), komparatif dan filologi (A. Chaedar Alwasilah, 1993: 22).
Plato (429-347 SM) selain sebagai filosof juga dikenal sebagai seorang ahli bahasa pertama. Ia menganalisis bahasa sebagai terurai atas si pelaku dan tindakan. Kemudian dilanjutkan oleh muridnya Aristoteles (384-322 SM). Secara terperinci ia membagi ujaran menjadi beberapa unsur dan digolongkan pada jenis-jenis kata, dia pula yang memperkenalkan istilah-istilah subjek, predikat, gender, number dan sebagainya yang terus dipakai dalam teori-teori linguistik modern. Sebuah karya bidang kebahasaan Grammar ditulis oleh Dionysios Thrax (100 SM) juga turut memberikan sumbangan besar bagi tatanan linguistik modern.
Sebagai kajian filologis, linguistik berkembang terutama oleh Friedrich August Wolf sejak 1777. Pada awal abad ke-19 mulai digunakan metode-metode ilmiah dalam mencari hubungan antar berbagai bahasa, dengan menggunakan pendekatan kesejarahan (diakronik komparatif), terutama yang dikembangkan oleh Franzz Bapp (1858-1942) dengan karyanya Systeme de la Conjugaisen du Sanscrit yang meneliti hubungan-hubungan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa Germania, Yunani, Latin (Ferdinand de Saussure, 1988: 63-67). Sedangkan pendekatan sinkronik yang menelaah bahasa sebagai suatu struktur pertama kali dikenalkan oleh Ferdinand de Saussure.
Dengan demikian secara umum cakupan linguistik dapat dibedakan antara linguistik praktis (applied linguistic) dan linguistik teoritis (theorytical linguistick) dengan pembagian yang meliputi: linguistik historis, linguistik perbandingan, psikolinguistik, sosiolinguistik, fonetik, grammar (tata bahasa), semantik dan semiotic (M.H. Bakaila, tt: xii).

Pengertian dan Sejarah Perkembangan Semantik
Ada beberapa pengertian menurut para ahli bahasa mengartikan semantik adalah ilmu makna atau studi tentang makna kata (Stephen Ullmann, diadaptasi oleh Sumarsono, 2007: 1) atau semantik juga disebut teori makna atau teori arti (J.W. Verhaar, 124). Jadi, semantik adalah ilmu yang membahas khusus makna kata-kata yang tersusun dalam suatu kalimat termasuk ayat-ayat al Quran.

1. Sejarah Perkembangan
Semantik merupakan bagian dari ilmu linguistik yang mengandung arti to signifi atau memaknai. Istilah makna untuk pertama kali dikenalkan oleh Aristoteles, pemikir Yunani yang hidup pada masa 384-322 SM, melalui batasan pengertian kata yang menurutnya adalah “satuan terkecil yang mengandung makna” (Aminuddin, 2001: 16). Makna kata itu dapat dibedakan antara makna yang hadir dari kata itu sendiri secara otonom serta makna yang hadir akibat terjadinya hubungan gramatical. Pada masa pertumbuhan awal ini batas antara etimologi dan studi makna memang belum jelas.
Masa kedua pertumbuhan semantik, semantik ditandai oleh kehadiran karya Michel Breal (1883) seorang berkebangsaan Perancis melalui artikelnya, Les Lois Intellectualles du Langage. Pada masa itu, meskipun Breal dengan jelas telah menyebutkan semantik sebagai ilmu yang murni histories (Aminuddin, 2001: 16).
Masa pertumbuhan ketiga ditandai dengan karya filologi asal Swedia yakni Gustav Stern yang berjudul Meaning and Change of Meaning; With Special Reference to The English Language. Dalam kajian itu, Stern telah melakukan studi makna secara empiris. Beberapa puluh tahun sebelum kehadiran karya Stern itu, di Jenewa telah diterbitkan kumpulan bahan kuliah seorang guru bahasa yang sangat menentukan arah perkembangan linguistik yaitu Course de Linguistique Generalle, karya Ferdinand de Saussure. Teori Saussure –terutama dalam linguistik structurak- secara sungguh-subgguh banyak diadaptasi oleh tokoh lain dalam bidang semantik, sehingga semantik struktural menjadi kajian yang banyak mendapat perhatian.

2. Pengertian Makna
Kata “makna” sebagai istilah mengacu pada pengertian yang sangat luas, sebab itu tidak mengherankan bila Odgen & Richards dalam bukunya The Meaning of Meaning mendaftar enam belas rumusan pengertian makna yang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Maka tidak mengherankan bila seseorang di luar (disiplin linguistik) merasa kesulitan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai semantik itu. Oleh karena itu, diperlukan batasan pengertian makna melalui unsur-unsur pokok yang tercakup di dalamnya, seperti (1) makna adalah hasil hubungan antara bahasa dengan dunia luar (2) penentuan hubungan terjadi karena kesepakatan para pemakai (3) perwujudan makna itu dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling dimengerti.
Pengertian “makna” dewasa ini telah banyak diformulasikan oleh para sarjana dan pemikir sesuai dengan bidang kajian khusus mereka masing-masing, seperti linguistik itu sendiri, psikologi, sosiologi, antropologi, fisiologi, biologi, filsafat analitis dan masih banyak lagi. Tidak terkecuali dengan semantik, sebagai studi makna, juga menjadi type filsafat baru yang didasarkan pada konsepsi baru dan berkembang dengan berbagai perbedaan dan cabang yang berbeda-beda.

Analisis Semantik Penafsiran Alquran
Alquran menyifati dirinya sebagai risalah, dan risalah mempresentasikan hubungan antara pengirim dan penerima melalui medium sistem bahasa. Oleh karena pengirim, yakni Allah, dalam konteks Alquran tidak mungkin dijadikan sebagai objek kajian ilmiyah, maka wajar apabila pengantar ilmiyah bagi kajian teks Alquran adalah realitas dan budaya, yaitu realitas yang mengatur gerak manusia yang menjadi sasaran teks dengan penerima teks yang pertama, yaitu rasul dan budaya yang menjelma dalam wujud bahasa (Aan Radina dan Abdul Munir dalam Belajar Mudah Ulum Alquran: Studi Khazanah Ilmu Alquran, ed. Sukardi KD, 2002: 288-293).
Menafsirkan Alquran dengan menggunakan analisis linguistik mesrupakan model penafsiran yang telah mentradisi di kalangan ulama-ulama mufassir dalam karya besar mereka, sebut saja misalnya Mufradat li Garib Alquran karya Abu Muslim al-Asfihani yang dijadikan standar rujukan analisis leksikal Alquran.
Jika ditelusuri sejarahnya, metode penafsiran semacam itu sudah ada sejak Rasulullah. Beliau telah meletakkan dasar-dasar analisis linguistik dalam menafsirkan Alquran. Pengembangan secara metodologis lebih lanjut dilakukan oleh Ibn Abbas (687 M) dan pasca abad pertama Hijriyyah muncul sejumlah hasil karya yang dipublikasikan dengan memakai analisis linguistik filologis, misalnya karya Abu Ubaidah (w. 825 M), al-Sijistani (w. 942 M) dan berpuncak pada karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M), yang lebih populer dengan sebutan al-Tafsir al-Kasysyaf.
Menyadari hal tersebut, maka warisan tradisi filologis ini kemudian direview oleh Amin al-Khulli (Aisyah bint al-Syati’ dalam al-Tafsir al-Bayani, h. 65) untuk dikembangkan dengan cara menambahkan wawasan kontekstual dalam penafsiran. Penafsiran Alquran, menurut al-Khulli idealnya terbagi menjadi dua bagian: (1) Penafsiran yang berusaha mengungkap latar belakang Alquran, genesis kata, kondisi dan bahasa masyarakat yang dmaksud oleh Alquran, (2) Kajian tersebut di atas dimaksudkan untuk mengungkapkan fungsi hidayah Alquran.
Analisis sastra kontekstual (al-tafsir al-Adabi al-Ijtima’i) al-Khulli sebagai upaya melampaui kajian filologis yang telah mentradisi, sebenarnya mendekati apa yang disebut analisis semantis terhadap Alquran, yakni suatu studi, kajian atau analisis makna berbagai perspektif yang mengkristal dalam kata-kata atau mencoba menguraikan kategori semantik menurut kondisi pemakaian kata itu.
Secara teknik, metode analisis semantik yang dibutuhkan dalam penafsiran Alquran sangatlah beragam sebagaimana konsep-konsep analisis yang terdapat dalam studi semantik secara umum. Hal ini disebabkan oleh luasnya pengertian makna yang menjadi dasar dari studi semantik di satu sisi dan eksistensi Alquran yang sarat akan topik kajian yang dapat didekati dengan berbagai macam cara pandang. Namun demikian, metode analisis semantik Alquran tersebut secara global dapat diuraikan menjadi: (1) Analisis medan semantik, (2) Analisis komponen semantik, dan (3) Analisis kombinasi semantik.

1. Analisis Medan Semantik
Yang dimaksud dengan medan makna (semantik domai, semantik field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena maknanya menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu (Abdul Chaer, 1994: 315-16). Analisis medan semantik berarti menguraikan makna-makna dari seperangkat kosa kata yang membentuk pola jaringan tertentu sehingga bisa ditentukan mana yang menempati posisi sentral (keyword), posisi periferal (pinggiran) dan posisi medium (berada diantara keduanya).
Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik yang terdapat antara kata-kata atau unsur leksikal itu karena sifatnya yang linier. Medan semantik Alquran adalah seperangkat kata dalam Alquran yang maknanya saling berhubungan (membentuk pola jaringan tertentu membentuk bagian pandang dunianya) sehingga dapat ditentukan posisi masing-masing kosa kata (sentral, periferal dan medium). Dan dalam analisis medan semantik terhadap Alquran, kosa kata yang dianalisis berada pada posisi sentral.

2. Analisis Komponen Semantik
Setiap kata atau leksem tentu memiliki makna dan makna kata tersebut terdiri dari sejumlah komponen (komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu (Abdul Chaer, 1883: 315-16). Maka analisis komponen makna berarti penguraian unsur-unsur yang bersama-sama membentuk kosa kata tertentu.
Aplikasi analisis komponen semantik terhadap Alquran adalah penguraian unsur-unsur yang bersama-sama membentuk kosa kata Alquran. Sedangkan tendensi makna Alquran berarti unit kosa kata Alquran yang terdapat dalam konstruksi gramatik ayat tertentu dengan konteks yang menyertainya. Dengan kata lain, tendensi makna perlu dikaji terlebih dahulu untuk menyimpulkan komponen-komponen makna secara mantap.

3. Analisis Kombinasi Semantik
Analisis kombinasi semantik sebenarnya merupakan kombinasi antara analisis medan makna yang berusaha mendistribusikan kosa kata dalam medan tertentu dan analisis komponen semantik yang berusaha menggali unsur-unsur kata sampai pada unit yang palinh elementer. Maka analisis kombinasi semantik adalah pengkajian terhadap kombinasi unit-unit makna untuk menampilkan jaringan makna dan konseptual yang dibangunnya.
Dari uraian di atas, tampak bahwa metode analisis semantik pada dasarnya adalah usaha penggalian unit-unit makna kosa kata sampai pada unit yang paling elementer sesuai dengan (1) Refrensi, (2) Yang dimaksud demikian, analisis semantik terhadap Alquran berarti telah menerapkan tiga teori pendekatan makna (Aminuddin, 2001: 55-63), yakni referensial, ideasional/konsepsional dan behavioral/ kontekstual.
Metode analisis semantik tersebut di atas secara simultan telah teraplikasi dalam sejumlah karya Toshihiko Izutsu. Analisis semantik Alquran dalam karyanya itu ia maksudkan untuk sampai pada weltanschauung Alquran atau pandangan dunia qur’ani. Upaya yang ia lakukan mendapat reaksi pro kontra dari kaum muslim terutama ketika ia menyatakan bahwa karya tersebut ditujukan bagi mereka yang sudah mendalam dalam memahami Alquran dan Islam itu sendiri.

Konsep Makna Fitnah dalam Tafsir al-Tabari
Dalam rentang sejarah penafsiran, al-Tabari dipandang sebagai sosok mufassir pasca tabi’ tabi’in yang berhasil menulis karya tafsir monumental dan terpercaya, sebagai dokumen yang sangat berharga di kalangan para mufassir dan sejarawan sesudahnya.
Kitab ini memberikan wacana baru bagi dunia tafsir yang pada umumnya bersifat monolitik sejak periode sahabat hingga abad III H. Nuansa heterogen dan inovatif pada tafsir al-Tabari menjadi ciri tersendiri dibanding dengan karya tafsir lainnya, karakteristik itu tampak terutama saat melakukan analisis bahasa dan upaya mengekplorasi makna-makna ayat dalam Alquran.
Dalam aplikasinya, al-Tabari menafsirkan kata fitnah tidak hanya terbatas pada pembahasan etimologi kata, lebih jauh lagi ia menelusuri struktur makna yang terkandung dalam kata tersebut yang menurutnya memuat sejumlah variable makna.
Alquran menyebut kata fitnah sebanyak 60 (enam puluh) kali dengan berbagai bentuk derivasinya, yakni الفتنة , فتنا (QS. Al-An’am [6]: 53, Taha [20]: 85, al-Ankabut [29]:3, Sad [38]: 34, dan al-Dukhan [44]: 17), فتناك (QS. Thaha [20]: 40) فتناه (QS. Sad [38]: 24), فتنتم (QS. Al-Hadid [57]: 14), فتنوا (QS. al-Buruj [85]: 10), تفتنى (QS.al-Taubah [9]: 49), لنفتنهم (QS. Taha [20]: 131, al-Jinn [72]: 17), يفتنكم (QS. al-Nisa [4]: 101), يفنتتكم (QS. al-A’raf [7]: 27), يفتنهم (QS. Yunus [10]:83), يفنتوك (QS. al-Maidah [5]: 49), ليفتنونك (QS. al-Isra [17]: 73), فتنتم (QS. Taha [20]: 90), فتنوا (QS. al-Nahl [16]: 110), تفتنون (QS. al-Naml [27]: 47), يفتنون (QS. al-Taubah [9]: 126, al-Ankabut [29]: 2, al-Zariyat [51]: 13), فتونا (QS. Taha [20]: 40), بفاتنين (QS. al-Saffat [37]: 162), المفتون (QS. al-Qalam [68]: 6), فتنتك (QS. al-A’raf [7]: 155), فتنتكم (QS. al-Zariyat [51]: 14), فتنته (QS. al-Maidah [5]: 41), فتنتهم (al-An’am [6]: 23).
Keseluruhan kata bentukan fitnah yang berakar dari inti kata فتن dalam Alquran, oleh al-Tabari tidak dimaknai dan dipahami dengan satu artian yang sama, namun berbeda dan beragam sesuai relasi antara satu ayat dengan ayat lainnya.
Berikut ini pemakaian dan penafsiran al-Tabari terhadap kata fitnah dalam Alquran:

1. Unsur al-ibtila’ (ujian) dalam konsep fitnah
Dalam bahasa kitab suci Alquran, fitnah merupakan salah satu konsep yang memiliki peranan cukup dominan di belakang tatanan konsep kepercayaan atau keimanan, yang merupakan inti dari sifat-sifat moral positif. Iman menjadi sumber dan pencipta nilai-nilai keislaman dan tidak ada sesuatu yang bernilai dalam Islam kecuali berdasarkan kepada kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.
Keimanan termasuk sisi primordial manusia yang bersifat individual, artinya kualitas keimanan seseorang akan berbeda antara satu dengan lainnya. Untuk mengetahui derajat keimanan seseorang hamba, Allah swt. Mendatangkan ujian dan cobaan yang bermacam ragamnya sehingga akan tampak siapa orang yang benar-benar beriman dan sebaliknya mendustakan ajaran-Nya. Demikian penafsiran al-Tabari terhadap ayat 2 surah al-Ankabut:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji. (QS. al-Ankabut : 2).

Di ayat lain, tatkala Allah menguji seseorang dengan kebaikan/kesenangan dan keburukan/kesusahan sesungguhnya Allah ingin mengetahui bagaimana orang tersebut memanifestasikan rasa terima kasih atas kenikmatan yang diberikan kepadanya, dan adakah ia sabar tatkala ditimpa keadaan yang tidak diharapkan seperti kemiskinan, kesulitas, sakit dan kesesatan (Al-Tabari, Jami’ al-Bayan…, jld. IX, h. 26).
Fitnah dalam arti ujian pada beberapa ayat tersebut di atas dihubungkan dengan syukur (berterima kasih) dan sabar. Sedangkan sikap “tidak bersyukur” merupakan makna fiologi dari kufr. Dalam metode analisis struktur makna, kufur merupakan antitesa dari iman dan konsep yang tersebut terakhir ini berhubungan erat dengan fitnah, yakni segala bentuk ujian bagi manusia akan berpengaruh terhadap tingkat keimanannya. Sedangkan “kesabaran” merupakan aspek keimanan yang khas diperlihatkan seseorang tatkala ia berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Dengan demikian sabr menunjukkan sebuah aspek yang esensial dari keyakinan sejati, yakni iman kepada Allah. Tanpa kesabaran (yang dilandasi oleh iman) dalam menghadapi cobaan kesusahan atau kesempitan, maka akan memungkinkan manusia menjadi ingkar kepada Allah.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tataplah ia dalam keadaan itu, dam jika ditimpa cobaan, berbaliklah ia ke belakang (QS. Al-Hajj:11).

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal: 28).

Ayat di atas tampak lebih spesifik dalam mengidentifikasi nikmat Allah yang disinyalir sebagai ujian. Al-Tabari menangkap pesan moral ayat tersebut sebagai pringatan bagi kaum mukmin agar senantiasa menyadari bahwa harta kekayaan dan anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada mereka tidak lain hanyalah ujian. Seberapa tinggi tingkat keimanan seseorang dalam menunaikan hak-haknya terhadap Allah.
Harta kekayaan itu titipan yang harus didistribusikan sesuai dengan aturan agama, dan anak-anak adalah amanat dari Allah untuk dirawat dan dididik dengan cara ma’ruf sesuai dengan garis-garis ketentuan agama. Sebuah riwayat dari Qatadah menyatakan bahwa Allah akan memberikan pahala yang besar apabila manusia mampu menempatkan harta dan anak-anak mereka pada tempatnya sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan (berarti) mereka melaksanakan hak-hak terhadap-Nya.

2. Fitnah dalam Pengertian al-Dalal, al-Zanbu, al-Haraj (Kesesatan dan Dosa)
Menempatkan iman sebagai standar pokok amal perbuatan manusia pada dasarnya akan berimplikasi pada pengklasifikasian perbuatan baik dna buruk. Perbuatan-perbuatan buruk menurut pandangan Islam atau bentuk pelanggaran moral dan hukum Tuhan disebut dengan dosa.
Fitnah yang bermakna dasar ujian, secara implisit mengandung makna dosa. Perbuatan dosa, sebagaimana tersebut dalam Alquran, biasanya dihubungkan dengan pelaku-pelaku dosa.

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal [8] : 25).

Dalam riwayat yang bersumber dari Hasan disebutkan “Bahwa ayat ini diturunkan kepadaAli, Usman, Talhah dan Zubair.” Bahkan riwayat lain menyatakan bahwa turunnya ayat ini mengenai ashab al-Jamal (pasukan perang unta). Adalah peringatan bagi kaum beriman agar senantiasa berhati-hati, selektif dan menjaga diri dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa yang bukan hanya dilakukan orang-orang zalin saja, sebab Allah swt akan memberikan balasan atas segala perbuatannya itu (Al-Tabari, Jld VI, h. 216-217). Perbuatan dosa (al-Zanb) pada bunyi ayat di atas dihubungkan dengan pelaku dosa, yaitu orang yang melakukan al-Zulm (berbuat aniaya). Sama halnya dengan ayat berikutnya yang mengaitkan dosa dengan orang-orang fasiq.
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah [5]: 49).

Hubungan dengan kufr sebagai makna fitnah diisyaratkan dalam Alquran surah al-Taubah ayat 48 yang terjemahnya:

Sesungguhnya dari dahulupun mereka Telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (QS. Al-Taubah [9] : 48)

Pada hakikatnya berbagai bentuk sesembahan kaum musyrik tidka akan memberi pengaruh apapun bagi orang-orang yang menyembahnya.

2. Fitnah dalam pengertian al-Syirk (Penyekutuan Tuhan) dan al-Kufr (keingkaran terhadap Allah)
Bentuk ujian (fitnah) paling radikal dalam dinamika keimanan seseorang ialah pengingkaran terhadap keesaan Tuhan yang mutlak dengan cara menciptakan tuhan-tuhan selain daripada-Nya, atau disebut dengan Syirk (menyekutukan).
Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-baqarah [2]: 191).

Fitnah berarti ujian kekufuran dijelaskan dalam kisah kaum Nabi Musa yang berdoa kepada Alla agar dijauhkan dari ujian kaum Fir’aun karena mereka dengan jelas menentang ajakan Nabi Musa dan kufr kepada Allah.
Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan Kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang ‘zalim (QS. Yunus [10]: 85).

Hubungan kufr dengan nifaq sangat dekat sekalipun tidak bisa dikatakan semakna. Bagi orang-orang munafik, apabila ada kesempatan untuk diajak kembali kepada kekufuran, dengan serta merta merekapun murtad dari keimanannya.
Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, Kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat (QS. Al-Ahzab [33] : 14).

3. Fitnah dalam artian ‘Azab (siksaan)
Dalam kajian etimologi, kata fitnah mengandung arti ihraq (pembakaran) yang juga bisa berarti ‘azab (siksaan). Pengertian ini bersumber dari kebiasaan orang Arab ketika menyatakan فتنت الذهب او الفضة yang berarti “aku membakar emas dengan api” untuk mengetahui kadar kemurniannya. Beberapa ayat dalam Alquran secara spesifik juga memaknai fitnah dengan ‘azab. Firman Allah:
(hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka (Qs. Al-Zariyat [51]: 13).

Orang-orang yang lalai lagi berbuat dosa akan menerima siksaan dari Allah dengan dibakar di atas api neraka pada hari pembalasan ananti karena perbuatan mereka sendiri, dan dikatakan kepada mereka:
(Dikatakan kepada mereka): Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan (QS. al-Zariyat [51]: 14).

Maka fitnah pada ayat tersebut adalah siksaan di atas api neraka yang menyala-nyala.
Sejumlah risayat dari Ibn Abbas, Mujahid, Qatadah dan Ubaid, memaknai fitnah dalam ayat ini dengan “siksaan”.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 5).

Ayat di atas menjelaskan do’a Nabi Ibrahim a.s., “ya Tuhanku, Janganlah Engkau jadikan (sasaran) fitnah bagi ornag-orang kafir, mereka mengingkari-Mu dan menyembah selain daripada-Mu, bahkan mereka beranggapan telah berada pada jalan yang benar dan menuduhku berbuat kebatilan”. Imam Mujahid, sebagaimana dikutip oleh al-Tabari dalam tafsir, menyatakan:
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau siksa kami karena perbuatan mereka, karena jika mereka golongan orang-orang yang berada di jalan yang haq (kebenaran), niscaya Engkau tidak akan menyiksa mereka.

Beberapa penafsiran fitnah menurut al-Tabari, dalam kapasitas sebagai seorang ahli bahasa, sangat representatif dan mengindikadikan jenis pemahaman konseptual terhadap komponen makna sekalipun terkesan sangat implisit dalam memetakan konstruksi pemaknaannya itu.

Analisis Semantik Penafsiran Fitnah
Sepintas lalu proses penafsiran yang dilakukan al-tabari terlihat biasa-biasa saja, padahal ketika diteliti dan dicermati secara mendalam kita apat padahal ketika diteliti dan dicermati secara mendalam kita akan peroleh sebuah ‘loncatan’ penfsiran yang dapat dilahirkan olehnya dan juga bagi sejumlah komunitas yang sesudahnya. Sayangnya, mereka secara taken for granted dan membiarkan lieratur tafsir itu mengalami ‘kebisuan’ dalam kapsaitasnya sebagai sebagai karya monumental di bidang tafsir.
Memahami makna fitnah terpaku pada satu pemknaan saja, namun harus melihat konteks ayat dan relasi yang meneyrtainya. Sehingga makna fitnah dalam sebuah ayat Alquran bisa beragam sesuai dengan konteks dimana ia terdapat dalam relasi sebuah ayat, sebagaimana yang telah penulis uraikan sebelumnya.
Penafsiran al-Tabari tentang fitnah dengan pisau analisis semantik, merupakan langkah konkrit dalam merealisasikan upaya-upaya tersebut, proyek ini berarti mengurai unsur-unsur makna yang membentuk jaringan konseptual makna dengan menggunakan seperangkat analisis semantis berdasarkan pada riwayat-riwayat penafsiran yang dapat dipercaya, untuk sampai pada pandangan Alquran secara utuh.

1. Makna Dasar dan Makna Relasional
Penafsiran fitnah dalam penfsiran al-Tabari sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya memuat beberapa butir yang dapat difahami, yakni:
a. Dari pengetahuan filologi kata فتن, yang paling memungkinkan adalah bermakna الايتلاء (ujian/cobaan). Artinya, Allah swt. Akan memberikan ujian dan cobaan yang bermacam-macam kepada manusia dalam menjalani kehidupannya.
b. Konsep kepercayaan atau keimanan, sebagai suatu nilai etikoreligius tertinggi dalam Alquran dan merupakan pilar utama yang akan menentukan eksistensi manusia di sisi Tuhannya, tidak akan dibiarkan begitu saja adanya berbagai ujian sebagai parameter keimanan seseorang.
c. Perbuatan dosa dan sesat pada dasarnya bukan hanya menimpa orang-orang yang fasiq, orang berimanpun juga berpotensi terjerat dalam perbuatan salah dan dosa, oleh karena itu keteguhan dalam mempertahankan keimanan merupakan kiat pokok untuk membentengi diri dari perilaku-perilaku dosa.
d. Salah satu bentuk ujian yang paling radikal dalam konstalasi keimanan seseorang adalah penolakan terhadap keesaan Tuhan yang absolut atau lazim disebut Syirk. Menjadikan sekutu-sekutu selain Allah setelah menyatakan kepercayaan kepada-Nya adalah satu bentuk ujian terbesar bagi seseorang, dan termasuk bentuk pengingkaran (kufur) kepada Allah.
e. Orang-orang yang mendustkan (tidak beriman) terhadap Alquran dan akan adanya hari kebangkitan serta berbuat kemusyrikan mereka akan tertimpa azab di neraka.

Uraian yang ringkas ini tentunya memiliki signifikansi bagi terbentuknya sebuah kerangka konseptual yang menyeluruh dan menjelaskan bahwa konsep-konsep individual tersebut tidak berdiri sendiri namun berada dalam sebuah sistem yang utuh.
Tahapan pertama yang perlu dilakukan mengetahui jenis perbedaan teknis antara ‘makna dasar dan makna relasional’ kata, sebagai sebuah konsep metodologi semantik utama yang akan mempermudah kerja menunjuk pada acuan dasarnya sesuai dengan makna konvensi yang telah disepakati bersama dan disebut juga dengan makna denotatif (Aminuddin, 2001: 88). Dalam pengertian ini, meminjam istilah Toshihiko, makna tersebut akan selalu melekat dan terbawa kemanapun kata itu diiletakkan. Adapun makna relasional adalah sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada, dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam biadng khusus, berada pada realsi yang berbeda dengan semua katakata lainnya dalam sistem terebut (Toshihiko Izutsu, 1997: 12-13.).
Untuk sampai pada kedua makna tersebut maka perlu mendapatkan makna akar kata terlebih dahulu. Kata “فتن” akar kata dari kata fitnah itu berasal dari budaya bangsa Arab yang biasa mengatakan فتنت الفضة او الذهب (saya memanaskan perak atau emas). Di mana maksud pernyataan ini ialah kadar kemurniannya atau juga untuk membedakan bagian keduanya (emas dan perak) mana yang murni dan yang kotor (Ibn Manzur, 1990: 317). Dengan demikian ide mendasari kata tersebut ialah الاخراق (pembakaran) kemudian secara implisit melahirkan unsur makna ابتلاء (ujian) terkait dengan tujuan dilakukannya pembakaran tersebut. Satu aspek yang harus diingat bahwa ‘makna dasar’ sebuah kata selalu akan terbawa kemanapun kata itu berada dan meruakan inti konseptual kata tersebut, oleh karenanya tidak megalami perubahan dalam sistem kata itu digunakan.
Untuk itu, fitnah sepanjang digunakna dalam konteks karakteristikk Alquran tentunya harus difahami dari segi semua istilah yang terkait dengan terma ini, sehingga terma ini memiliki warna khusus, kompleks, dan struktur makna tersendiri yang jauh lebih penting dair makna dasarnya. Munculnya sejumlah unsur semantik baru dari situasi khusus ini, dan juga terjadinya bermacam hubungan dalam rangka menunjang konsep-konsep pokok yang lain, cenderung mempengaruhi dan secara esensial memodifikasi struktur makna asli kata itu. Kata fitnah begitu berhubungan dengan sistem konseptual dalam Alquran dan berada lebih dekat dengan konsep penting Alquran seperti Allah, Iman, din, Ibadah, Syaitan, Zalim dalam dengan serta merta memunculkan makna baru sebagaimana dalam penafsiran al-Tabari tersebut di atas. Dalam bentuk diagram dapat digambarkan sebagai berikut:

Sejumlah makna relasional yang muncul sebagai akibat jaringan asosiasi semantik akan terdeteksi dengan lebih terperinci melalui beberapa ayat yang terkait dengannya.

2. Aplikasi kerja semantis
Setelah memahami konsep makna dasar dan makna relasional sebagai konsep dasar analisis semantik, maka selanjutnya dapat diperhatikan cara kerja semantik dalam menguak relasi-relasi makna kata yang ikut mempengaruhi pemahaman makna fitnah dalam Alquran, sebagaimana yang dipahami oleh al-Tabari.
Beberapa contoh cara kerja semantis dalam menafsirkan term fitnah antara lain terdapat pada surah al-An’am ayat 53.
Fitnah dalam ayat tersebut dikatikan dengan kata syukr yang merupakan satuan dari nilai-nilai positif dalam Islam. Salah satu kondisi esensial untuk mencapai keimanan sejati adalah dengan berupaya sekedar faktual alam jagad semata akan tetapi lebih merupakan manifestasi dari kebaikan Sang pencipta atau lazim disebut ‘ayat Tuhan’, dan hendaklah manusia berterima kasih atas semuanya.
Kata syakirin pada bagian ayat tersebut mencerminkan salah satu sifat dari keimanan, di mana manusia dalam kehidupannya telah diuji dengan berbagai hal termasuk kelapangan dan kekayaan maka seberapa besar rasa syukur mereka kepada Zat Yang Maha Agung. Karena sebaliknya, barangsiapa yang enggan berterima ksih termasuk kategori golongan orang-orang yang ingkar kepada-Nya, sebab prilaku “tidak bersyukur” merupakan inti semantik dari kufr (Mansuruddin Djoely, 1995: 187).
Penyebutan kata fitnah pada ayat ini cenderung mengindikasikan pada pemakaian bentuk dasar kata, hal ini terkait dan merujuk pada realitas Alquran yang membahasakan ujian dan cobaan yang dihadapi manusia dengan lafadz fitnah dalam berbagai bentuk kata turunannya. Konsep demikian dipertegas oleh salah satu firman Allah surah al-Anbiya: 35:
ونبلوكم بالشر والخير فتنة
Bahwa fitnah mencakup segala bentuk ujian kejelekan maupun kebaikan yang terjadi dalam ranah kehidupan manusia.
Secara metodologis, pemaknaan ayat akan lebih jelas difahami dengan menelusri dan menginventarisir seperangkat kosa kata dalam sebuah pola jaringan yang maknanya saling berhubungan atau bisa disebut analisis medan semantik. Pada ayat ini ditemukan kata ibtila’ bi al-syar (ujian kejelekan) dan ibtila’ bi al khair (ujian kebaikan) yang tergabung dalam term fitnah dan menjadi satu kesatuan bentuk inti, sehingga fitnah dapat didefinisikan dengan dua bentuk ujian tersebut.
Makna relasional fitnah dalam bentuk yang berbeda dapat dilihat misalnya dalam firman Allah QS. al-Baqarah: 193 dan al-Anfal: 39. sebagai berikut:
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 193).

Dan perangilah mereka tu sehinga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan (QS. Al-Anfal: 93).

Kata fitnah pada kedua ayat tersebut diikuti dengan kata al-din, dalam kasus ini mengindikasikan adanya kontradiksi makna antara keduanya. Al-Din yang dipahami sebagai al-Ibadah wa al-ta’ah merupakan terminologi dari agama Allah, dan akan berimplikasi secara praktis dapat dipahami sebagai salah satu bentuk paling radikal bagi keberagamaan seseorang yakni penolakan mereka terhadpa keesaan Tuhan yang absolut atau disebut syirk. Pemahaman yang sama dapat dilihat juga pada QS. Al-baqarah: 191, fitnah pada ayat ini bermakna al-syirk atau al-kufr berdasar pada relasi kata dalam konteksnya.
Dengan demikian konsep fitnahi yang masih tetap bertahan pada makna dasarnya ‘ujian’ setelah menempati sistem yang baru ini mengalami perubahan yang tidak kentara namun sesungguhnya telah terjadi proses transformasi semtik yang sangat kompleks dan mengakibatkan terbentuknya struktur makna khusus yang tidak diperoleh kata fitnah tatkala berada di luar sistem ini. Makna relasional ini pada dasarnya menjadi bagian yang jauh lebih penting dan esensial dibandingkan dengan makna dasarnya.
Fitnah bermakna azab (siksaan) dapat dipahami secara eksplisit berdasarkan pada penelusuran makna dasar kata sebagaimana dijelaskan pada uraian sebelumnya yang menegaskan tentang akar kata fitnah yang berarti memanaskan atau membakar, sehingga fitnah dalam Alquran sangat memungkinkan dipahami demikian, tentunya setelah memperhatikan kerangka struktural ayat dalam konteksnya sebagaimana dalam QS.al-Zariyat (51): 13.

2. Kata Fokus Semantis
Satu hal lagi yang dapat dilacak untuk menganalisis makna Fitnah dalam bingkai semantik pada pembahasan ini ialah munculnya “kata fokus”. Kata fokus adalah kata kunci penting yang secara khusus menunjukkan dan membatasi bidang konseptual yang relatif independen dan berbeda. Kata teknis ini sangat berhubungan dengan istilah medan semantik dalam metodologi ilmu semantik, dan dalam kasus ini kata fokus yang dimaksud ialah iman.
Unsur dasar kata fitnah yang berarti ujian atau cobaan memiliki hubungan koleksi yang teramat dekat dengan konsep iman (percaya), di mana semua unsur-unsurnya memiliki relasi pokok yang sngat memungkinkan semua kata-kata berkembang ke arah itu. Sebagai poros tertinggi dalam agama, iman merupakan antitesa dari segala sesuatu yang cenderung menurunkan dan atau menghapus keimanan itu sendiri, oleh sebab itu manusia diuji dengan berbagai hal yang akan berpengaruh terhadap eksistensi keimanannya. Iman tetap menjadi kata kunci fokus semantis pada hampir seluruh konteks ayat yang berbicara mengenai ujian bagi manusia, secara tekstual bentuk ujian itu telah teridentifikasi dalam Alquran, bawa Allah akan memberikan ujian kesusahan begitu juga ujian kesenangan dengan berbagai macam ragamnya. Lafaz “أمنا” sebagai konsep yang paling dekat dengan “يفتنون” dalam QS. Al-Ankabut: 2, mengindikasikan suatu cobaan yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman dalam rangka untuk mengetahui keimanan.

Signifikansi Analisis Semantik Kata Fitnah
Melakukan kajian semantik terhadap suatu makna kata – dalam Alquran dalam hal ini adalah kata fitnah – berarti mendekatkan kajian analisis bahasa (linguistik) terhadap Alquran. Memahami makna Alquran dengan bertumpu pada pendekatan linguistik pada dasarnya juga merupakan bagian dari upaya untuk tetap mewarisi tradisi kerja penafsiran para ulama-ulama mufassir (Muhammad bin Lutfi al-Sabag, 1996: 200-220).
Dimaklumi bahwa Alquran secara empiris adalah bagian dari suatu naskah teks yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi, khususnya bahasa Arab. Namun demikian, perlu disadari pula bahwa Alquran yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw itu berbeda dengan teks sastra ataupun teks-teks biasa lainnya. Hal ini terletak pada sifat hakikat bahasa Alquran yang memiliki fungsi yang berbeda dan spesifik dengan fungsi bahasa lainnya dalam komunikasi antar manusia.
Perbedaan ini terletak pada hakikat makna, fungsi bahasa Alquran yang khas, universal serta mampu mengatasi dimensi ruang dan waktu.pada sisi lain, hakikat bahasa sebagaimana yang dikembangkan oleh para pemikir bahasa sebagaimana yang dikembangkan oleh para pemikir bahasa dan ahli filsafat, bahwa bahasa itu sangat berkaitan dengan suatu struktur dan makna. Struktur berkaitan dengan bentuk kata, kaidah kata, susunan frase, struktur kalimat, makna kalimat, struktur fonologi dan pengucapannya. Sedangkan unsur semantik atau makna bahasa meliputi makna linguistik, makna gramatikal dan makna informasi.
Kajian semantik Alquran yang pada dataran pragmatisnya mengacu pada kaidah-kaidah linguistik akan mengalami kesulitan atau juga stagnasi tatkala harus dibenturkan pada dimensi khusus tersebut. Oleh karenanya cara kerja semantis masih dapat diterapkan dalam menggali makna Alquran sebatas pada memperlebar dan memperluas medan makna kata-kata tertentu yang ada dalam Alquran dengan sejumlah kaidahih-kaidah linguistik.
Kata fitnah secara etimologi memiliki makna dasar “ujian atau cobaan” dari akar kata fa-ta-na yang berarti memanaskan emas atau perak untuk mengetahui kadar kemurniannya. Pengertian seperti ini telah ada dan dipahami pada masa jahiliyah, dan begitu Islam datang kata tersebut ditransformasikan ke dalam bahasa kitab suci Alquran yang nyatanya mengalami sejumlah pergeseran makna dari bentuk semula.
Setelah menganalisa model penafsiran al-Tabari dengan pendekatan analisis semantik, tampak bahwa kata fitnah tidak hanya memiliki makna yang parsial sebagaimana makna dasar yang melekat, tetapi lebih jauh menyimpan muatan-muatan makna yang kompleks dan reliable tatkala berhubungan dengan konteks dan tema pada ayat-ayat tertentu.
Akhirnya, memadupadankan model penafsiran al-Tabari dengan metodologi semantik sehingga menjadikan Alquran yang unthinkable menjadi thinkable sama sekali tidak bermaksud untuk menyejajarkan teks sastra Alquran yang sakral dengan tekas sastra budaya kemanusiaan yang profan, tetapi lebih merupakan uapaya untuk menemukan pesan moral firman Tuhan dan menggali hidayah yang terkandung di dalamnya berkaitan dengan komposisinya sebagai risalah Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Penutup
Studi semantik terhadap Alquran pada dasarnya adalah studi yang berkesinambungan dari analisis sastra kontekstua; yang dipelopori oleh Amin al-Khulli sebagai salah satu upaya untuk melampaui kajian filologi yang telah mentradisi. Namun, secara definitif studi semantik berarti kajian atau analisis makna dari berbagai perspektif yang mengkristal dalam kata-kata atau mencoba menguraikan kategori semantik menurut kondisi pemakaian kata itu secara global metode analisis semantik Alquran dapat diuraikan menjadi analisis medan semantik, komponen semantik dan kombinasi semantik, yang keseluruhannya berarti telah menerapkan tiga teori pendekatan makna, yakni refensial, ideasional/konseptual dan behavioral/kontekstual. Dengan melakukan analisis semantik melalui pendekatan-pendekatan makna ini akan diperoleh sebuah pemaknaan yang tepat dan integratif atas ayat-ayat Alquran, di mana konsep-konsep makna Alquran adalah sebuah relasi yang saling berhubungan untuk membentuk sebuha jaringan religius qur’ani.
Dalam aplikasinya, al-Tabari menyebutkan makna dasar kata fitnah yang berasal dari akar kata fa-ta-na yang berarti memanaskan emas atau perak untuk menguji kemurniaannya’. Bermula dari filologi kata inilah kemudian muncul makna denotatif ujian atau cobaan yang senantiasa akan melekat dan terbawa kemanapun kata itu ditempatkan. Makna yang selalu melekat dan terbawa kemanapun inilah yang dalam studi semantik dikenal denga makna dasar. Sedangkan makna konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang telah ada yakni, makna dasar, disebabkan oleh relasi khusus dengan semua kata yang berbeda, disebut sebagai makna relasional atau makna referensial.
Makna fitnah yang dipahami oleh al-Tabari, tidak hanya terpaku pada makna al-ibtila’ wa al-imtihan (cobaan dan ujian) tetapi bisa berkembang meluas maknanya menjadi al-dalal, al-zanbu, al-haraj (kesesatan dan dosa) al-syirk, al-kufr (kemusyrikan dan kekufuran) bahkan bisa bermakna pula azab (siksaan) seteah berhubungan dengan konteks-konteks ayat dalam Alquran.
Memahami makna fitnah berarti pula harus memaknai pilar-pilar dasar dalam beragama, sebab ia amat erat hubungannya engan konsep-konsep keimanan kepada Allah (al-iman), kesabaran (al-sabr), wujud syukur (al-Syukr), kemusyrikan (al-syirk), dosa (al-zand), kezaliman (al-Zulun) dan lain sebagianya yang merupakan kesatuan bentuk jaringan konseptual beragama sebagaimana disebutkan dalam Alquran.
Menelusuri makna-makna fitnah dalam al-Qu’an dengan analisis semantik terbukti telah emnghasilkan suatu pandangan bahwa fitnah tidak haya dipahami sebagai dinamika perseteruan dalam interaksi sosial kemanusiaan yang berpotensi menimbulkan permusuhan sebagaimana yang timbul dari zaman ke zaman, akan tetapi justru menunjukkan sebuah pandangan baru bahwa fitnah adalah suatu yang signifikan yang harus memperoleh apersepsi, penyikapan, pemahaman dan kesiapan mental tersendiri bagi manusia untuk menghadapinya dala kaitannya dengan konsep-konsep religius Alquran. Inilah manfaat yang signifikan dalam memahami makna fitnah sebagaimana ditunjukkkan oleh Al-Tabari melalui penafsirannya. 

Daftar Pustaka
Alwasilah, A. Chaedar. Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa, 1993.
Aminuddin. Semantik; Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2001.
Aminuddin. Semantik; Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2001.
Al-Baqi, Muhammad Fu’ad Abd. Mu’jam al-Mufahas li Alfaz Alquran al-Karim. Beirut :Dar al-Fikr. Tt.
Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994.
Ferdinand de Saussure. Pengantar Linguistik Umum, terj. Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988.
Ibnu Mandur, Lisan al-‘Arab, (Beirut: Dar al-Sadr, 1990), Jld XIII,
Izutsu, Toshihiko. Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik Trehadap Alquran, terj. Agus Fahri dkk. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Togya, 1997.
J.W. Verhaar. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985.
J.W.M. Verhaar. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996.
M.H. Bakaila. Arabic Linguistik; An Introduction and Bibliography. London: Marshell Publisher Limited, tt.
Manzur, Ibn. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Sadir, 1990.
Martinent, Andre. Ilmu Bahasa: Pengantar, terj. Rahayu Hidayat. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. Mabahis fi ‘Ulum Alquran. Kuwait: Dar al-Kutub al-Arabi.
R.R.K. Hartman and F.C. Stork. Dictionary of Language and Linguistick. Londod: Applied Science Publishers Ltd, 1972.
Radina, Aan dan Abdul Munir “Analisis bahasa dan Penafsiran Alquran” dalam Belajar Mudah Ulum Alquran: Studi Khazanah Ilmu Alquran, ed. Sukardi KD. Jakarta: Lentera, 2002.
Al-Sabag, Muhammad bin Lutfi. Perhatikan Lamhat fi ‘Ulum Alquran wa al-Tijahat al-tafsir. Beirut: Maktabah al-Islami, 1996.
Sudaryanto. Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985.
Tohihiko dalam “Struktur Inti Konsep Kufr” dalam Etika Beragama dalam Alquran , terj. Mansuruddin Djoely. Jakarta: Pustaka Fidaus, 1995.
Ullmann, Stephen diadaptasi oleh Sumarsono. Pengantar Semantik. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007.
Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: