ASPEK PENDIDIKAN TASAWUF KITAB TA’LĪM AL-MUTA’ALLIM KARYA AL-ZARNUJI


Oleh:

Rahmawati, M.Pd

Abstrak: Kitab Ta’līm aI-Muta’allim mengandung nilai-nilai tasawuf yang merupakan literatur klasik yang membahas strategi belajar dan konsep pendidikan yang dipadukan secara harmonis dengan konsep ajaran-ajaran tasawuf.
Sekalipun hal ini tidak disampaikan secara eksplisit oleh pengarang, tetapi konsep dan strategi pendidikan yang dikemukakannya sangat sufistik dengan bahasa yang selalu mengacu pada landasan etik-religi.

Kata Kunci: pendidikan tasawuf, kitab Ta’līm aI-Muta’allim.

Pendahuluan
Al-Zarnuji adalah salah seorang tokoh pendidikan abad pertengahan yang telah memberikan solusi tentang bagaimana menciptakan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada keduniawian saja, tetapi juga berorientasi keakhiratan. Salah satu hasil karya dalam merealisasikan idenya tersebut adalah kitab terkenal yang berjudul Ta’l īm aI-Muta’allim Ţuruq aI-Ta’allum yang merupakan salah satu karya klasik dalam bidang pendidikan yang telah banyak dipelajari dan dikaji oleh para penuntut ilmu, terutama di pondok pesantren, baik di lembaga yang masih bercorak tradisional maupun yang sudah modern.
Materi kitab tersebut sarat dengan muatan-muatan pendidikan moral spiritual-tasawuf yang jika direalisasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu tujuan ideal dari pendidikan Islam dapat tercapai.

Riwayat Hidup al-Zarnuji
Nama lengkap al-Zarnuji adalah Burhanuddin al-lslam al-Zarnuji, di kalangan ulama belum ada kepastian mengenai tanggal kelahirannya. Adapun mengenai wafatanya, setidaknya ada dua pendapat yang dapat dikernukakan di sini. Pendapat pertama adalah yang mengatakan bahwa Burhanuddin al-Zarnuji wafat pada tahun 591 H./1195 M. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa al-Zarnuji wafat pada tahun 840 H./1243 M. Sementara itu, ada pula yang mengatakan bahwa Burhanuddin al-Zarnuji hidup semasa dengan Rida al-Dīn al-Naysabūri yang hidup antara tahun 500-600 H. Grunebaum dan Abel mengatakan bahwa Burhanuddin al-Zarnuji adalah toward the end of 12th and beginning of 13th century AD.
Demikian pula mengenai daerah tempat kelahirannya tidak terdapat keterangan yang pasti, namun jika dilihat dari nisbahnya, yaitu al-Zarnuji, maka sebagian peneliti mengatakan bahwa ia berasal dari Zaradj. Dalam kaitan ini Mochtar Affiandi mengatakan “It is a city in Persia which was formally a capital and city of Sadijistan to the south of Herat (now Afghanistan)”. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Abd al-Qadir Ahmad yang mengatakan bahwa al-Zarnuji berasal dari suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afghanistan.
Mengenai riwayat pendidikannya dapat diketahui dari keterangan yang dikemukakan oleh para peneliti, seperti Djudi yang mengatakan bahwa al-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand, yaitu kota yang menjadi pusat kegiatan keilmuan, pengajaran dan lain-lainnya. Masjid-masjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis taklim yang diasuh oleh beberapa orang guru antara lain seperti Burhanuddin al-Marginani, Syamsuddin abd al-Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abd al-Sattar al-Amidi dan lain-lainnya.
Selain itu, Burhanuddin al-Zarnuji juga belajar kepada Ruknuddin al-Firqinani, yakni salah seorang ahli fiqh, sastrawan dan penyair yang wafat pada tahun 594 H./1170 M. serta Rukn al-lslam Muhammad bin Abi Bakar yang dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti di Bukhara dan ahli dalam bidang fiqh, sastra dan syair yang wafat tahun 573 H./1170 M.
Berdasarkan informasi tersebut, ada kemungkinan bahwa al-Zarnuji selain ahli dalam bidang pendidikan dan tasawuf, juga menguasai bidang-bidang ilmu lain, seperti sastra, fiqh, ilmu kalam dan lain sebagainya. Sekalipun belum diketahui dengan pasti bahwa untuk bidang tasawuf ia memiliki seorang guru tasawuf yang masyhur, tetapi dapat diperkirakan bahwa dengan memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang fiqh dan ilmu kalam disertai jiwa sastra yang halus dan mendalam, seseorang akan dapat memperoleh akses (peluang) yang tinggi untuk masuk ke dalam dunia tasawuf.
Selain karena faktor latar belakang pendidikan sebagaimana disebutkan di atas, faktor situasi sosial dan perkembangan masyarakat juga sangat mempengaruhi pola pikir seseorang, demikian pula dengan Burhanuddin al-Zarnuji. Oleh karena itu, pada bagian berikut ini akan dikernukakan pula situasi pendidikan pada zaman di mana Al-Zarnuji hidup.

Situasi Pendidikan pada Masa al-Zarnuji
Dalam ilmu sejarah pendidikan Islam, dikenal periodisasi pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam yang dibagi ke dalam lima periode, yaitu masa hidup Nabi Muhammad saw. (571-632 M.), masa khalifah yang empat (Khulafā al-Rāsyidīn (632-661 M.), masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M.), masa kekuasaan Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M.), dan masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (1250 M. sampai sekarang).
Grunebaum mengemukakan bahwa al-Zarnuji hidup sekitar akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13 M. (591-640 H./1195-1243 M.). Dari kurun waktu tersebut, jika ditarik garis lurus kepada periodisasi sejarah pendidikan Islam, maka berarti masa hidup al-Zarnuji adalah ketika periode keempat, yaitu antara tahun 750-1250 M. Dalam catatan sejarah, periode ini merupakan zaman puncak keemasan atau kemajuan peradaban Islam pada umumnya dan pendidikan Islam khususnya. Hasan Langgulung mengatakan bahwa zaman keemasan Islam ini mengenal dua pusat, yaitu kerajaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang berlangsung kurang lebih lima abad (750-1258 M) dan kerajaan Umayyah di Spanyol yang berlangsung kurang lebih delapan abad (711-1492 M.).
Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam yang berkembang dengan pesat yang ditandai dengan bermunculannya lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Di antara lembaga-lembaga tersebut adalah madrasah Nizamiyah, yang didirikan oleh perdana menteri Nizām al-Mulk, seorang pembesar dari pemerintahan Bani Saljuq. Pada tiap-tiap kota Nizām al-Mulk mendirikan satu madrasah yang besar, seperti di Baghdad dibangun pada tahun 457 H./1063 M.), demikian juga di Balkh, Naisabur, Herat, Asfahan, Bashrah, Marw dan lain-lain.
Di samping itu, ada juga madrasah al-Nuriyah al-Kubra yang didirikan oleh Nuruddin Mahmud Zanki pada tahun 563H./1167 M. di Damaskus yang memiliki cabang yang banyak di hampir seluruh pelosok kota kota Damaskus. Demikian juga dengan madrasah al-Muntasiriyyah yang didirikan oleh khalifah Abbasiyah, al-Muntasir Billah di Baghdad pada tahun 6S1H./1234 M.
Dengan memperhatikan informasi tersebut, nampak jelas bahwa al-Zarnuji hidup pada masa ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam tengah mencapai puncak keemasan dan kejayaannya, yaitu pada akhir masa khalifah Abbasiyah yang ditandai dengan munculnya pemikir-pemikir Islam ensiklopedik yang sukar ditandingi oleh pemikir-pemikir yang datang kemudian.
Kondisi pertumbuhan dan perkembangan tersebut sangat menguntungkan bagi pembentukan dan pertumbuhan pola pikir al-Zarnuji sebagai seorang ilmuan atau ulama yang luas pengetahuannya. Atas dasar ini, Hasan Langgulung menilai bahwa al-Zarnuji termasuk seorang filosof yang memiliki sistem pemikiran tersendiri dan dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh filosof lainnya seperti Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lainnya.

Abstraksi Kitab Ta’līm al-Muta’allim
Kitab Ta’līm aI-Muta’allim karya al-Zarnuji diakui sebagai suatu hasil karya yang jenial dan monumental serta keberadaannya sangat diperhitungkan. Kitab tersebut juga banyak dijadikan bahan penetitian dan rujukan dalam penulisan-penulisan karya ilmiah, terutama dalam bidang pendidikan. Keistimewaan dari kitab ini terletak pada materi yang dikandungnya. Sekalipun kecil dan dengan judul yang seakan-akan hanya membicarakan tentang metode belajar, narnun sebenarnya isi kitab ini sangat padat, meliputi tujuan belajar, prinsip-prinsip belajar, strategi pembelajaran dan lain sebagainya, yang kesemuanya bercorak dan berlandaskan pada satu titik; yaitu moral-religius.
Kitab ini dengan popularitasnya diduga sebagai satu-satunya karya al-Zarnuji yang telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, ia telah di cetak, diterjemahkan dan dikaji di berbagai negara, baik di Timur maupun di Barat. Khusus di Indonesia, kitab Ta’līm al-Muta’allim tersebut dikaji dan dipelajari hampir di setiap lembaga pendidikan Islam, terutama di lembaga pendidikan Islam klasik yang bercorak tradisional seperti pondok pesantren, dan bahkan pada pondok modem sekalipun, seperti Pondok Pesantren Moderen Gontor misalnya.
Dari kitab tersebut dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan oleh al-Zarnuji, yang secara umum mencakup tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu: 1) Pengertian ilmu dan berbagai keutamaannya, 2) niat atau tujuan di kala belajar, 3) memilih ilmu, guru dan teman serta ketabahan dalam belajar, 4) penghormatan terhadap ilmu dan ulama, 5) ketekunan, kontiunitas dan cita-cita yang luhur, 6) permulaan dan intensitas belajar serta tata tertibnya, 7) bersifat tawakkal kepada Allah, 8) masa belajar, 9) kasih sayang dan memberi nasehat, 10) mengambil pelajaran, 11) senantiasa bersifat warā’ (menjaga diri dari yang haram dan syubhat) pada masa belajar, 12) penyebab-penyebab hafal dan lupa terhadap suatu materi pelajaran, 13) masalah rezeki dan umur seseorang.

Aspek Pendidikan Tasawuf dalam Kitab Ta’līm al-Muta’allim
Pengertian pendidikan tasawuf yang di maksud dalam tulisan ini adalah suatu sistem pendidikan yang bercorak Islami dan berisi ajaran-ajaran atau paham-paham tasawuf. Aspek-aspek pendidikan tasawuf yang dikandung dalam kitab Ta’l īm al-Muta’allim adalah sebagai berikut:

1. Tawbah
Masalah tawbah dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim memang tidak secara khusus dan eksplisit karena kitab tersebut bukan kitab tasawuf, tetapi lebih merupakan kitab yang membahas etika dan keberhasilan suatu strategi dalam pembelajaran. Meskipun demikian, dari beberapa pernyataan pengarangnya, tampak sekali pokok-pokok pikirannya yang bersifat sufistik dan mengandung ajaran tasawuf.
Dalam salah satu bahasannya, penyusun kitab ini menulis dengan ungkapan:
فأما ما يرث النسيان فالمعاصى وكثرة الذنوب…
Salah satu penyebab lupa adalah perbuatan ma’siat dan banyak dosa…
Dari pernyataan tersebut, jelas bahwa konsep sukses belajar dalam perspektif al-Zarnuji adalah harus membersihkan diri dari segala perbuatan dosa dan maksiat. Upaya yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu agar dirinya senantiasa dapat bersih dari dosa dan maksiat, tak lain adalah dengan melakukan tawbah. Tawbah yang diharapkan tentunya dalam pengertian yang sesungguhnya (tawbat al-nasūhā).
Apabila dianalisa, daya hafal seorang penuntut ilmu dijadikan standar untuk mengukur tingkat keberhasilan belajarnya. Hal ini dapat dikembalikan kepada pola pendidikan yang berlaku pada saat itu, bahkan sampai kini (terutama di beberapa negara Timur Tengah), yaitu pola pendidikan yang lebih mengarah pada verbalistis. Artinya, pola pendidikan yang lebih mementingkan aspek ingatan atau hafalan dan tidak terlalu berorientasi pada peningkatan daya kritis, analisis dan sintesis. Sebagai upaya untuk memperoleh kemampuan menghafal dan mengingat yang baik, maka para penuntut ilmu diharuskan untuk meninggalkan hal-hal yang dapat menghalanginya, yaitu berupa perbuatan dosa dan maksiat.

2. Zuhd
Mengenai konsep pendidikan zuhd yang disampaikan oleh al-Zarnuji, dapat dikernukakan sebagai berikut:
1. Dalam bahasannya tentang niat belajar, ia menyatakan bahwa di antara hal yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu adalah jangan sampai ilmu yang diperolehnya dengan penuh kesungguhan dan susah payah itu di pergunakan sebagai sarana untuk mengejar kehidupan materi duniawi, yang sebenarnya hina, sedikit nilainya dan tidak abadi. Lebih jelas ia menulis:
وينبغى لطالب العلم ان يتفكر فى ذلك فانه يتعلم العلم بجهد كثير فلا يصرفه الى الدنيا الحفيرة القليلة الفانية
(Selayaknya para penuntut ilmu memperhatikan apa-apa yang telah dikemukakan di atas, Sebab bagaimanapun, dia telah melintasi garis kepayahan yang cukup panjang. Maka jangan sampai ilmu pengetahuan yang telah diperoleh itu digunakan sebagai sarana mengumpulkan materi keduniawian yang hina, sedikit nilainya serta bersifat sementara….)
2. Orang yang sedang dalam proses belajar diharuskan untuk berusaha semaksimal mungkin mengurangi aktivitas yang berhubungan dengan kesibukan duniawi. Sebab hal itu hanya akan menjadi beban pikiran yang pada akhirnya dapat mengganggu dan merusak konsentrasi belajar. Ia tidak boleh merasa sedih dan gelisah karena urusan dunia, sebab kesedihan dan kegelisahan seperti itu tidak membawa manfaat sama sekali, malah akan membahayakan hati, akal dan badan serta dapat merusak perbuatan-perbuatan baik. Sebaliknya ia harus lebib menaruh perhatian pada urusan-urusan yang berorientasi pada kehidupan akhirat. Secara tegas al-Zarnuji menulis:
ولا بد لطالب العلم من تقليل العلامة الدنيوية بقدر الوسع وليهتم العاقل لامر الدنيا لان الهم والحزن لا يرد مصيبة ولا ينفع بل يضر القلب والعقل واليدن ويخل بأعمال الخير ويهتم لامر الآخرة فلأنه ينفع
(Seorang pelajar tidak boleh tidak dengan sekuat tenaga yang ada menyedikitkan kesibukan duniawinya… Bagi yang menggunakan akal, hendaknya jangan tergelisahkan oleh urusan dunia, karena merasa gelisah dan sedih disini tidak akan bisa mengelakkan musibah, bergunapun tidak, malah akan membahayakan hati, akal dan badan serta dapat merusakkan perbuatan-perbuatan yang baik. Tapi yang harus diperhatikan adalah urusan-urusan akhirat, sebab hanya urusan inilah yang akan membawa manfaat).
3. Sabar
Sehubungan dengan sikap sabar, al-Zarnuji memberikan penegasan akan perlunya sikap sabar dalam segala hal, narnun dia juga menyadari bahwa sikap sabar dan tabah ini adalah berat: واعلم بان الصبر والثبات اصل كبير فى جميع الأمور ولكنه عزيز (ketahuilah, sabar dan tabah adalah pangkal keutamaan dalam segala hal, tetapi jarang sekali ada orang yang bisa melakukannya).
Oleh karena itu, para pelajar yang ingin sukses dalam belajarnya, hendaknya memiliki sifat dan sikap sabar. Untuk itu ia mengatakan:
فينبغى لطالب العلم ان يثبت ويصبر على أستاذ وعلى كتاب حتى لا يتركه ابتر وعلى فن حتى لا تشتغل بفن آخر قبل ان يتفن الاول وعلى بلد حتى لا ينتفل الى بلد آخر من غير ضرورة فان ذلك كله يفرق الأمور ويشغل القلب ويضيع الاوقات ويؤذى المعلم
(Maka sebaiknya pelajar memiliki hati yang tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari, dalam suatu bidang ilmu jangan sampai berpindah kepada bidang lain sebelum memahaminya benar-benar dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah ke tempat lain kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini dilanggar, dapat mernbuat urusan jadi kacau balau,hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang guru).

4. Tawakkal
Dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim, al-Zarnuji menulis suatu bab khusus tentang tawakkal. Ia mengatakan bahwa setiap penuntut ilmu harus memiliki sikap tawakkal (pasrah), terutama dalam masalah rezeki, sebab hal itu akan mempengaruhi belajarnya, perhatian dan konsentrasinya terhadap pelajaran akan terganggu, sehingga hasil belajarnyapun tidak maksimal. Al-Zarnuji menyatakan sebagai berikut:
Pelajar harus bertawakkal dalam menuntut ilmu, jangan goncang karena masalah rezki, dan hatinya pun jangan terbawa ke sana-sini. Abu Hanīfah meriwayatkan dari Abdullah Ibnu al-Hasan al-Zubaidy, sahabat Rasulullah saw.: “Barang siapa mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya dan memberinya rezki dari jalan yang tidak diduga sebelumnya”.

5. Tawadu’ dan Warā’
Berbicara masalah tawadu’, terutama dalam dunia pendidikan dan keilmuan, al-Zarnuji menyatakan bahwa sifat ini mutlak harus dimiliki dan diaplikasikan dalam kehidupan setiap pribadi muslim, khususnya kaum ilmuan dan para cendekiawannya. Tawadu’ dalam arti tidak menyombongkan dan membanggakan diri serta tidak pula menghinakan dan rnerendahkan diri secara berlebihan. Seorang ilmuan tidak sepatutnya bersifat takabur dengan ilmu yang dimilikinya, sebab ilmunya tidaklah seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan keluasan ilmu Allah. Dalam kitabnya, al-Zarnuji menulis:
Seorang yang berilmu hendaknya tawadu (yaitu sikap tengah-tengah antara sombong dan kecil hati), berbuat iffah, yang keterangannya lebih jauh bisa kita dapati dalam kitab akhlak.
Mengenai pentingnya sifat warā’ dalam bidang pendidikan, al-Zarnuji membahasnya secara spesifik dengan membuat bab khusus tentang warā’. Menurutnya, sifat warā’ di kala menuntut ilmu pengetahuan adalah mutlak harus dimiliki. la mengutip sebuah keterangan yang disebutkannya sebagai hadits, yaitu:
Barang siapa tidak wara’ sewaktu mendalami ilmu, Allah swt. akan memberinya cobaan dengan salah satu dari tiga perkara, yaitu : mati dalam usia muda, ditempatkan di perkampungan bersama orang-orang bodoh, atau dijadikan pengabdi sang sultan/penguasa.
Berkenaan dengan keterangan ini, H. A. Mukti Ali memberikan komentar sebagai benkut:
Melihat macam cobaan yang ketiga, inilah barangkali yang menyebabkan para ulama kita dulu mendirikan pondok pesantren di desa-desa yang jauh dari kekuasaan Belanda. Sikap non kooperatif ulama terhadap penjajahan mungkin disebabkan karena memahami hadits ini. Sudah barang tentu, penguasa di negeri kita setelah merdeka (1945) ini tidaklah sebagaimana yang dimaksud dengan sultan dalam hadits ini, karena para penguasa kita tidaklah berusaha untuk mematikan ajaran Islam.
Beberapa hal lain yang juga termasuk ke dalam upaya memelihara sifat warā’ menghindarkan diri dari manusia yang suka berbuat kerusakan, maksiat dan pengangguran. Sebab, perkumpulan itu pasti membawa pengaruh yang tidak baik, menghadap kiblat waktu belajar, bercerminkan diri dengan sunnah Nabi, mohon didoakan oteh ulama ahli kebajikan dan jangan sampai terkena doa tidak baiknya orang teraniaya.

Penutup
Kitab Ta’līm aI-Muta’allim mengandung nilai-nilai tasawuf yang merupakan literatur klasik yang membahas strategi belajar dan konsep pendidikan yang dipadukan secara harmonis dengar konsep ajaran-ajaran tasawuf. Sekalipun hal ini tidak disampaikan secara eksplisit oleh pengarang, tetapi konsep dan strategi pendidikan yang dikemukakannya sangat sufistik dengan bahasa yang selalu mengacu pada landasan etik-religi.
Aplikasi prinsip pendidikan seperti digambarkan di atas dalam sistem pendidikan Islam sekarang, tidak saja dirasa pertu tetapi harus dilakukan. Sejauh tujuan pendidikan Islam masih sejalan dengan tujuan akhir yang sebenarnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: