GOLONGAN YANG MENGINGKARI SUNNAH RASULULLAH SAW


Oleh:

Drs. Sulaemang L.M.Th.I

Abstrak: Jurnal ini berjudul Golongan yang Mengingkari Sunnah Rasulullah SAW. Masalah dalam jurnal ini adalah bagaimana mengetahui golongan ummat Islam yang mengingkari Sunnah Rasulullah SAW.
Sunnah yang diingkari adalah sunnah yang shahih baik secara substansial yakni sunnah praktis pengamalan Alquran (sunnah amaliyah) atau sunnah formal yang dikodifikasikan para ulama meliputi perbuatan, perkataan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW. Bisa jadi mereka menerima sunnah secara substansial tetapi menolak sunnah formal atau menolak seluruhnya.
Jurnal ini bermaksud mengetahui kelompok pengingkar sunnah yang terjadi pada masa klasik, yakni pada masa imam Asy-Syafi’i, maupun ingkar sunnah pada masa modern ini akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat.
Akhirnya dalam tulisan jurnal ini dapat kami kemukakan yakni pengertian ingkar sunnah, sejarah ingkar sunnah, pokok-pokok ajaran ingkar sunnah, dan alasan pengingkar sunnah, yang akan kami bahas selanjutnya.

Kata kunci : Ingkar Sunnah
Pendahuluan
Kedudukan sunnah dalam Islam sebagai sumber hukum. Para ulama juga telah berkonsensus dasar hukum Islam adalah Alquran dan sunnah. Dari segi urutan tingkatan dasar Islam ini sunnah menjadi dasar hukum Islam (tasyri’iyyah) kedua setelah Alquran. Hal ini dapat dimaklumi karena beberapa alasan sebagai berikut:
Pertama, fungsi sunnah sebagai penjelas terhadap Alquran. Sunnah berfungsi sebagai penjelas atau tambahan terhadap Alquran. Tentunya pihak penjelas diberikan peringkat kedua setelah pihak yang dijelaskan. Teks Alquran sebagai pokok asal, sedang sunnah sebagai penjelas (tafsir) yang dibangun karenanya. Dengan demikian segala uraian dalam sunnah berasal dari Alquran. Alquran mengandung segala permasalahan secara paripurna dan lengkap, baik menyangkut masalah duniawi maupun ukhrawi, tidak ada suatu masalah yang tertinggal. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-An’am (6); 38.
ﻤﺎﻓﺭﻁﻧﺎﻓﻰﺍﻟﻟﻜﺗﺐﻤﻦﺸﻰﺀ
Tidak ada sesuatu yang Kami tinggalkan dalam Al-Kitab (QS. al-An’am [6]: 38).

Keterangan Alquran sangat sempurna tidak meninggalkan sesuatu, tetapi penjelasannya secara global maka perlu diterangkan secara rinci dari sunnah.
Kedua, mayoritas sunnah relatif kebenarannya (zhanniy ats-tsubut). Seluruh ummat Islam juga telah berkonsensus bahwa Alquran seluruhnya diriwayatkan secara mutawatir (para periwayat secara kolektif dalam segala tingkatan). Maka ia memberi faedah absolute kebenarannya (qath’i ats-tsubut) dari Nabi, kemudian diantaranya ada yang memberi petunjuk makna secara tegas dan pasti (qath’i ad-dilalah) dan secara relatif petunjuknya (dzanni ad-dilalah). Sedangkan sunnah, diantaranya ada yang mutawatir yang memberikan faedah qath’i ats-tsubut dan diantaranya bahkan yang mayoritas ahad (periwayatnya secara individual) memberikan faedah relatif kebenarannya (zhanni ats-tsubut) bahwa ia dari Nabi saw. meskipun secara umum dapat dikatakan qath’i ats-tsubut. Keduanya memberikan dua faedah qath’i dan zhanni ad-dilalah (Musthafa As-Siba’i, 1998:343-344). Tentunya tingkat sunnah yang sebagian besar memberikan faedah zhanni ats-tsubut dengan dua petunjuk tersebut, jatuh nomor dua setelah Alquran yang berfaedah qath’i ats-tsubut dengan dua petunjuk pula.
Sunnah sebagai sumber hukum kedua, yakni setelah Alquran selalu berintegrasi dengan Alquran. Beragama tidak mungkin bisa sempurna tanpa sunnah, sebagaimana syari’ah tidak mungkin sempurna tanpa didasarkan kepada sunnah. Para sahabat menerima langsung penjelasan Nabi tentang syari’ah yang terkandung didalam Alquran baik dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau yang disebut dengan sunnah itu. Demikian juga ummat Islam setelahnya, tidak mungkin dapat memahami hakikat Alquran, kecuali harus kembali kepada sunnah. Oleh karena itu, umat Islam dahulu dan sekarang sepakat (kecuali kelompok minoritas) bahwa sunnah Rasul baik berupa perkataan, perbuatan dan pengakuannya sebagai salah satu sumber hukum Islam dan seseorang tidak bisa melepaskan sunnah untuk mengetahui halal dan haram.

Ingkar Sunnah
Kata “Ingkar Sunnah” terdiri dari dua kata yaitu “Ingkar” dan “Sunnah”. Kata “Ingkar” berasal dari akar kata bahasa Arab: ﺃﻧﻜﺭ ﻳﻨﻜﺭ ﺇﻧﻜﺎﺭﺍ
yang mempunyai beberapa arti di antaranya : “Tidak mengakui dan tidak menerima baik di lisan dan di hati, bodoh atau tidak mengetahui sesuatu (antonym kata al-irfan, dan menolak apa yang tidak tergambatkan dalam hati (Ibrahim Anis, 1972:526-527), misalnya firman Allah SWT:
ﻓﺪ ﺨﻠﻮﺍﻋﻠﻳﻪ ﻓﻌﺭﻓﻬﻢ ﻮﻫﻢ ﻠﻪ ﻤﻧﻛﺭﻮ ﻦ
Lalu mereka (saudara-saudara Yusuf) masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. (QS.Yusuf [12]: 58).

ﻳﻌﺭ ﻓﻮ ﻦ ﻧﻌﻤﺖ ﺁﷲ ﺜﻢ ﻳﻧﻛﺭﻮﻧﻬﺎﻮﺃﻛﺜﺭﻫﻡ ﺁﻠﻛﻔﺭﻮﻦ
Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS.An-Nahl [16]: 83).

Al-Askari membedakan antara makna Al-Inkar dan Al-Juhdu. Kata al-Inkar terhadap sesuatu yang tersembunyi dan tidak disertai pengetahuan, sedang al-Juhdu terhadap sesuatu yang nampak dan disertai dengan pengetahuan (Abi Hilal Al-Askari : 2). Dengan demikian bisa jadi orang yang mengingkari sunnah sebagai hujjah di kalangan orang yang tidak banyak pengetahuannya tentang ulum hadis.
Dari beberapa arti kata ingkar di atas dapat disimpulkan bahwa Ingkar secara etimologis diartikan menolak, dan tidak menerima sesuatu, baik lahir dan bathin atau lisan dan hati yang dilatar belakangi oleh faktor ketidaktahuannya atau faktor lain, misalnya karena gengsi, kesombongan, keyakinan dan lain-lain. Sedang kata Sunnah secara mendetail telah dijelaskan pada uraian sebelumnya.
Orang yang menolak sunnah sebagai hujjah dalam beragama oleh umumnya ahli hadis disebut ahli bid’ah dan menuruti hawa nafsunya. Mereka ahli bid’ah yang menuruti kemauan hawa nafsu bukan kemauan hati dan akal fikirannya. Mereka itu kaum khawarij, mu’tazilah dan lain-lain, karena mereka itu umumnya menolak sunnah (Asy-Syathibi, 1970: 132). Gelar ini diberikan kepada mereka yang menempati sekte-sekte tersebut, karena mereka ber-istinbath, membela dan mempertahankan untuk hawa nafsu. Sebagaimana ahlu sunnah sebagai penolong sunnah dan pembelanya, ber-istinbath sesuai dengan sunnah.
Ada beberapa definisi Ingkar Sunnah yang sifatnya masih sangat sederhana pembatasannya diantaranya sebagai berikut:
1) Paham yang timbul dalam masyarakat Islam menolak hadis atau sunnah sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah Alquran (Tim IAIN Syarif Hidayatullah, 1992:428-429).
2) Suatu paham yang timbul pada sebagian minoritas umat Islam yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih baik sunnah praktis atau yang secara formal dikodifikasikan para ulama, baik secara totalitas mutawatir maupun ahad atau sebagian saja, tanpa ada alasan yang dapat diterima (Abdul Majid Khon, 2004:58).

Definisi kedua lebih rasional yang mengakumulasi berbagai macam ingkar sunnah yang terjadi di sebagian masyarakat belakangan ini terutama, sedang definisi sebelumnya tidak mungkin terjadi karena karena tidak ada atau tidak mungkin seorang muslim mengingkari sunnah sebagai dasar hukum Islam.
Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa Ingkar Sunnah adalah paham atau pendapat perorangan atau paham kelompok, bukan gerakan atau aliran, ada kemungkinan paham ini dapat menerima sunnah selain sebagai sumber hukum Islam, misalnya sebagai fakta sejarah, budaya, tradisi, dan lain-lain. Sunnah yang diingkari adalah yang shahih baik secara substansial yakni sunnah praktis pengamalan Alquran (sunnah amaliyah) atau sunnah formal yang dikodifikasikan oleh para ulama meliputi perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi saw. Bisa jadi mereka menerima sunnah secara substansial tetapi menolak sunnah formal atau menolak seluruhnya.
Paham ingkar sunnah bisa jadi menolak keseluruhan sunnah baik sunnah mutawatir dan ahad atau menolak yang ahad saja dan atau sebagian saja. Demikian juga penolakan sunnah tidak didasari alasan yang kuat, jika dengan alasan yang dapat diterima oleh akal yang sehat, seperti seorang mujtahid yang menemukan dalil yang lebih kuat dari pada hadis yang ia dapatkan, atau hadis itu tidak sampai kepadanya, atau karena kedhaifannya, atau karena ada tujuan syar’i yang lain (Abdul Muhdi, 1998:323-328), maka tidak digolongkan Ingkar Sunnah.

Sejarah Ingkar Sunnah
Sejarah perkembangan Ingkar Sunnah hanya terjadi dua masa, yaitu masa klasik dan masa modern. Menurut Prof.Dr.M.Mushthafa Al-Azhami sejarah Ingkar Sunnah klasik terjadi pada masa Asy-Syafi’i. kemudian hilang dari peredarannya selama kurang lebih 11 abad (Al-A’zhami,1992:26). Kemudian pada abad modern ingkar sunnah timbul kembali ke India dan Mesir dari abad 19 M/13 H sampai pada masa sekarang. Sedang pada masa pertengahan ingkar sunnah tidak muncul kembali, kecuali Barat mulai meluaskan kolonialismenya ke Negara-negara Islam dengan menaburkan fitnah dan mencorang-coreng citra agama Islam.

Ingkar Sunnah Klasik
Ingkar sunnah klasik terjadi pada masa Imam Asy-Syafi’i yang menolak kehujahan sunnah dan menolak sunnah sebagai sumber hukum Islam baik mutawatir atau ahad. Imam Asy-Syafi’i yang dikenal sebagai Nashir As-Sunnah (pembela sunnah) pernah didatangi oleh seseorang yang disebut sebagai ahli tentang mazhab teman-temannya yang menolak seluruh sunnah, baik mutawatir maupun ahad. Ia datang untuk berdiskusi dan berdebat dengan Asy-Syafi’i secara panjang lebar dengan berbagai argumentasi yang ia ajukan (Asy-Syafi’i, 1983:250-255). Namun, semua argumentasi yang dikemukakan orang tersebut dapat ditangkis oleh Asy-Syafi’i dengan jawaban yang argumentatif, ilmiah dan rasional sehingga akhirnya ia mengakui dan menerima sunnah Nabi.
Menurut penelitian Muhammad Al-Khudhari Beik bahwa seseorang yang mengajak berdebat dengan Asy-Syafi’i tersebut dari kelompok Mu’tazilah, karena dinyatakan oleh Asy-Syafi’i bahwa ia datang dari bashrah. Sementara bashrah pada saat itu menjadi basis pusat teologi Mu’tazilah dan munculnya para tokoh Mu’tazilah yang dikenal sebagai oposisi Ahlu Hadis (Al-Khudhari Beik, 1981:186). Sedang menurut keterangan Muhammad Abu Zahrah, Abdurrahman bin Mahdi (salah seorang pembela Asy-Syafi’i dan hidup semasanya) orang tersebut dari kalangan ekstrimis kaum Khawarij dan Zindiq dengan alasan sebagian golongan Khawarij tidak mengakui hukum rajam bagi pezina muhshan (telah nikah) karena tidak disebutkan dalam Alquran (Muhammad Abu Zahra : 121).
Komentar As-Siba’i pendapat Al-Khudhari Beik yang lebih kuat, karena dilihat dari segi argumentasinya sama dengan yang diajukan oleh An-Nazhzham yang mengingkari kepastian sunnah mutawatirah seperti bilangan rakaat shalat yang disepakati oleh para ulama. Pendapat ini menurutnya juga didukung oleh Ibn Qutaibah dalam bukunya Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits yang menyebut kedudukan tokoh-tokoh Mu’tazilah terhadap sunnah (As-Siba’i, 1998:142-145). Muhammad Abu Zahrah juga membenarkan bahwa pengingkar sunnah tersebut dari kelompok Mu’tazilah (Abu Zahrah:440). Namun, bisa jadi esensi mereka adalah dari kelompok Zindiq dan ekstrimis Khawarij (sebagaimana kata Abdurrahman bin Mahdi) yang berkedok Mu’tazilah untuk mencapai tujuan tertentu (Abu Zahrah: 198).
Analisis oposisi Asy-Syafi’i di atas yang dinilai dari sekte Mu’tazilah, tidak pasti kebenarannya karena penolakan sunnah secara keseluruhan bukan pendapat Mu’tazilah bahkan bukan pendapat umat Islam, bisa jadi sama dengan pendapat An-Nazhzham secara perorangan dari sekte Mu’tazilah. Akan tetapi baju Mu’tazilah dari kelompok kaum Zindiq atau ekstrimis Khawarij Al-Azariqah, karena merekalah yang menolak sunnah secara keseluruhan.
Demikian oposisi Asy-Syafi’i yang secara rinci dan argumentatif berdebat dengan Asy-Syafi’i. Namun, segala argumentasinya dapat dipatahkan oleh Asy-Syafi’i. akhirnya ia bertekuk lutut dan mengakui kehujjahan sunnah. Penolakan sunnah bagi oposisi ini juga merupakan pendapat perorangan bukan pendapat kolektif, sekalipun ia mengaku dari sekte tertentu.
Secara garis besar, Muhammad Abu Zahrah berkesimpulan bahwa ada tiga kelompok pengingkar sunnah yang berhadapan dengan Asy-Syafi’i, yaitu sebagai berikut:
1) Menolak sunnah secara keseluruhan, golongan ini hanya mengakui Alquran saja yang dapat dijadikan hujah.
2) Tidak menerima sunnah kecuali yang semakna dengan Alquran.
3) Hanya menerima sunnah mutawatir saja dan menolak selain mutawatir yakni sunnah ahad (Abu Zahrah:198).

Kelompok pertama dan kedua sangat berbahaya, karena merobohkan paradigma sunnah secara keseluruhan. Karena mereka tidak mungkin mampu memahami perintah shalat, zakat, haji dan lain-lain sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran secara global melainkan harus memahami penjelasannya secara terperinci sebagaimana yang dijelaskan sunnah. Jika demikian yang terjadi adalah pemaknaan Alquran secara lughawi dan terjadi minimalisasi makna shalat, zakat, haji dan lain-lain. Seandainya mereka melaksanakan shalat dua rakaat dalam sehari semalam dengan alasan tidak ada kewajiban yang lebih dari itu dalam Alquran boleh-boleh saja dan gugurlah semua pelaksana shalat, zakat, haji sebagaimana yang diajarkan Nabi dalam sunnahnya (Abu Zahrah: 450).
Demikian juga kelompok ketiga yang hanya menerima hadis mutawatir saja. Semua kelompok diatas, ingin merobohkan Islam dengan menolak penjelas Alquran yakni sunnah dan memisahkan antara penjelas dan yang dijelaskan. Dengan demikian mereka akan sangat mudah mendistorsi dan mempermainkan makna Alquran (Abu Zahrah: 451).
Kesimpulannya ingkar sunnah klasik diawali akibat konflik internal umat Islam yang dikobarkan oleh sebagian kaum Zindiq yang berkedok pada sekte-sekte dalam Islam, kemudian diikuti oleh para pendukungnya, dengan cara saling mencaci para sahabat dan melemparkan hadis palsu. Penolakan sunnah secara keseluruhan bukan karakteristik umat Islam. Semua umat Islam menerima kehujahan sunnah. Namun, mereka berbeda dalam memberikan criteria persyaratan kualitas sunnah. Ingkar sunnah klasik hanya terdapat di Bashrah Irak karena ketidaktahuan tentang kedudukan sunnah dalam syari’ah Islam, tetapi setelah diberikan penjelasan akhirnya menerima kehujjahannya.

Ingkar Sunnah Modern
Sebagaimana pembahasan di atas, bahwa ingkar sunnah klasik lahir di Irak kemudian menetas kembali pada abad modern, di India, setelah hilang dari peredarannya kurang lebih 11 abad. Baru muncul ingkar sunnah di Mesir (Abdul Mawjud, 1990:77-78).
Al-Mawdudi yang dikutip oleh Khadim Husein Ilahi Najasy seorang guru besar, demikian juga dikutip beberapa ahli hadis juga mengatakan, bahwa ingkar sunnah lahir kembali di India, setelah kelahirannya pertama di Irak masa klasik (Najasy, 1989:77). Tokoh-tokohnya ialah Sayyid Ahmad Khan, Ciragh Ali, Maulevi Abdullah Jakralevi, Ahmad Ad-Din Amratserri, Aslam Cirachburri, Ghulam Ahmad Parwez dan Abduk Khaliq Malwadah (Najasy, 1989:57,63). Sayyid Ahmad Khan sebagai penggegas sedang Ciragh Ali dan lain-lainnya sebagai pelanjut ide-ide Abu Al-Hudzail pemikir ingkar sunnah tersebut. Maka timbullah kelompok-kelompok sempalan Alquraniyyun seperti Ahl Ad-Dzikr wa Alquran didirikan oleh Abdullah, ummat muslimah didirikan oleh Parwez dan Gerakan Ta’mir Insaniyat yang didirikan oleh Abdul Khaliq Malwadah (Najasy, 1989:57,64).
Sebab utama pada awal timbulnya ingkar sunnah modern ini ialah akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat sejak awal abad 19 M di dunia Islam, terutama di India setelah terjadinya pemberontakan melawan kolonial Inggris1857 M, berbagai usaha-usaha yang dilakukan kolonial untuk pendangkalan ilmu agama dan umum, penyimpangan aqidah melalui pimpinan-pimpinan umat Islam dan tergiurnya mereka terhadap teori-teori Barat untuk memberikan interpretasi hakekat Islam (Najasy, 1989:21-24). Seperti yang dilakukan oleh Ciragh Ali, Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadliyani dan tokoh-tokoh lain yang mengingkari hadis-hadis jihad dengan pedang, dengan cara mencela-cela hadis tersebut (Al-A’zhami, 1992:28-29 dan Najasy, 1989:108). Disamping ada usaha dari pihak umat Islam menyatukan berbagai Mazhab hukum Islam, Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Maliki ke dalam satu bendera yaitu Islam, akan tetapi pengetahuan keislaman mereka kurang mendalam (Najasy, 1989:21-24).
Di Mesir diawali dari tulisan Dr. Taufiq Shidqi dengan beberapa artikelnya di Majalah Al-Mannar diantaranya berjudul Al-Islam huw Alquran Wahdah (Islam hanyalah Alquran saja), kemudian diikuti oleh para sarjana lain diantaranya Ahmad Amin dengan bukunya Fajr Al-Islam, Mahmud Abu Rayyah dengan bukunya Adhwa’ ala As-Sunnah Al-Muhammadiyyah, dan lain-lain. Mesir nampak lebih subur dinamika kontroversi sunnah, karena di samping kondisi kebebasan berfikir sejak masa pembaharuan Muhammad Abduh, buku-buku orientalis sangat berpengaruh dalam perkembangan bacaan para pelajar dan sarjana.
Sedang di Malaysia, Kasim Ahmad dengan tulisannya Hadis Satu Penilaian Semula dan di Indonesia di antaranya Abdul Rahman dan Achmad Sutarto dengan diktatnya serta pengikut-pengikutnya antara lain Nazwar Syamsu, Dalimi Lubis, dan H.Sanwani Pasar Rumput Jakarta Selatan. Menurut hasil penelitian MUI buku-buku tersebut menyesatkan umat Islam dan akan mengganggu stabilitas nasional, maka Jaksa Agung RI dengan Surat Keputusannya No.Kep-169/J.A/1983 melarang beredarnya buku-buku yang ditulis mereka tanggal 30 September 1983.
Harian ibu kota yang terbit tanggal 3 Oktober 1985 yang dikutip Drs. Zufron Rahman memaparkan buku-buku yang terlarang beredar oleh Jaksa Agung karena menyesatkan umat Islam dan mengingkari sunnah sebagai dasar hukum Islam. Di antaranya buku karangan Dalimi Lubis berjudul Alam Barzakh dan buku-buku karangan Nazwar Syamsu, yaitu sebagai berikut:
1) Tauhid dan Logika Alquran Dasar Tanya Jawab Ilmiah.
2) Pelengkap Alquran Dasar Tanya Jawab Ilmiah.
3) Kamus Alquran (Alquran-Indonesia-Inggris).
4) Koreksi Alquranul Karim Bacaan Mulia.
5) Perbandingan Agama (Alquran dan Bibel)
6) Alquran Tentang Mekah dan Ibadah Haji.
7) Alquran Tentang Manusia dan Masyarakat.
8) Alquran Tentang Al-Insan
9) Alquran Tentang Shalat, Puasa dan Waktu.
10) Alquran Dasar Tanya Jawab Hukum.
11) Alquran Tentang Manusia dan Ekonomi.
12) Alquran Tentang Isa dan Venus.
13) Alquran Tentang Benda-Benda Angkasa I.
14) Alquran Tentang Benda-Benda Angkasa II (Zufran Rahman, 1995:160-161).

Pokok-pokok Ajaran Ingkar Sunnah
Diantara ajaran-ajaran pokoknya adalah sebagai berikut:
a. Tidak percaya kepada semua hadis Rasulullah. Menurut mereka hadis itu karangan Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam.
b. Dasar hukum Islam hanya Alquran saja.
c. Syahadat mereka; Asyhadu bi anna muslimun.
d. Shalat mereka bermacam-macam, ada yang shalatnya dua rakaat-dua rakaat dan ada yang hanya eling saja (ingat).
e. Puasa wajib hanya bagi yang melihat bulan saja, kalau seorang saja yang melihat bulan maka hanya dialah yang wajib berpuasa. Mereka berpendapat demikian merujuk pada ayat:
ﻓﻣﻦ ﺸﻬﺩ ﻣﻨﻜﻡ ﺁﻠﺸﻬﺭ ﻓﻠﻴﺼﻣﻪ
f. Haji boleh dilakukan selama 4 bulan haram yaitu Muharram, Rajab, Zulqaidah dan Zulhijjah.
g. Pakaian ihram adalah pakaian Arab dan membuat repot. Oleh karena itu, waktu mengerjakan haji boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas/dasi.
h. Rasul tetap diutus sampai hari kiamat.
i. Nabi Muhammad tidak berhak menjelaskan tentang ajaran Alquran (kandungan isi Alquran).
j. Orang yang meninggal dunia tidak dishalati karena tidak ada perintah Alquran (Hartono Ahmad Jaiz: 32).

Alasan Ingkar Sunnah
Di antara argumentasi yang dijadikan pedoman ingkar sunnah adalah sebagai berikut:
Bahwa Alquran turun sebagai penerang atas segala sesuatu secara sempurna, bukan yang diterangkan. Jadi, Alquran tidak perlu keterangan dari sunnah. Jika Alquran perlu keterangan berarti tidak sempurna. Kesempurnaan Alquran itu telah diterangkan Allah SWT dalam Alquran:
ﻣﺎ ﻓﺭ ﻂﻨﺎ ﻓﻰ ﺁﻠﻛﺘﺏ ﻣﻦ ﺸﻰﺀ
Tidak ada sesuatu yang Kami tinggalkan dalam Al-Kitab. (Q.S. Al-An’am [6]: 38).
ﻮﺘﺭﻠﻨﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻠﻛﺘﺐ ﺘﺑﻴﻨﺎ ﻠﻜﻞ ﺸﻰﺀ
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu (QS.An-Nahl [16]: 89).

Argumentasi ini mendapat tanggapan dari beberapa ulama sunnah Al-Azhar, di antaranya Prof.Dr. Abdul Ghani Abdul Khaliq yang menandaskan bahwa ayat yang dijadikan pedoman para ingkar sunnah sebagai hujjah tidak benar karena maksud Al-Kitab dalam surat Al-An’am (6):38 adalah Lawh al Mahfudz yang mengandung segala sesuatu. Atau kalau dikatakan bahwa Alquran menjelaskan segala sesuatu sebagaimana (QS.An-Nahl (16):89) perlu ditakwilkan bahwa Alquran menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan pokok-pokok agama dan hukum-hukumnya. Penjelasan Alquran secara mujmal (globalitas) dan yang pokok-pokok saja (Abdul Khan Abdul Khaliq, 1986:384-389). Masalah-masalah cabang (furuiyah) dijelaskan oleh sunnah.
Sementara Muhammad Abu Zahw memberikan interpretasi moderat, bahwa ada dua pendapat dalam mengartikan kata Al-Kitab dalam surah Al-An’am (6) ayat 37 di atas. Pertama, maksud Al-Kitab adalah Lawh al-Mahfuzh berdasarkan konteks dalam ayat itu sendiri. Maksudnya, nasib semua makhluk itu telah ditulis dan ditetapkan dalam Lawh al-Mahfuzh. Kedua, Al-Kitab diartikan Alquran sebagaiman interpretasi Al-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyafh, akan tetapi sekalipun demikian ditakwilkan bahwa yang tidak dialpakan dalam Al-Kitab (Alquran) adalah segala urusan agama baik secara tekstual atau melalui penjelasan sunnah (Muhammad Muhammad Abu Zahw:22-23). Demikian juga kata Al-Kitab dalam QS.An-Nahl (16) ayat 44 yang menjelaskan diantara tugas Nabi, yaitu menjelaskan Alquran kepada manusia (Muhammad Muhammad Abu Zahw: 22-23). Dengan demikian makna kesempurnaan kandungan Alquran bukan berarti memisahkannya dari sunnah, akan tetapi justru dengan mengkompromikan penjelasan sunnah sehingga manusia mampu memahaminya dengan benar dan tidak ditafsirkan sekehendak seseorang.
Penulisan sunnah dilarang, seandainya sunnah dijadikan dasar hukum Islam pasti Nabi tidak melarang.
Memang penulisan sunnah pada masa Nabi dilarang untuk umum, tetapi bagi orang-orang khusus ada yang diperbolehkan. Atau dalam istilah lain catatan hadis untuk umum dilarang, tetapi untuk catatan pribadi banyak sekali yang diizinkan Nabi, seperti catatan Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang diberi nama Ash-Shahifah Ash-Shadiqah, Abu Syah seorang sahabat dari Yaman di mana sahabat lain diizinkan Nabi untuk menuliskannya, dan lain-lain. Larangan penulisan pada masa Nabi cukup beralasan sebagai alasan religius dan sosial, antara lain sebagai berikut:
1) Penulisan hadis dikhawatirkan campur dengan penulisan Alquran, karena kondisi yang belum memungkinkan dan kepandaian tulis menulis serta sarana prasarana yang belum memadai.
2) Umat Islam pada awal perkembangan Islam bersifat ummi (tidak bisa membaca dan menulis) kecuali hanya beberapa orang sahabat saja yang dapat dihitung dengan jari, itupun diperuntukkan penulisan Alquran.
3) Kondisi perkembangan teknologi yang sangat masih primitif, Alquran saja masih ditulis diatas pelepah kurma, kulit, tulang binatang, batu-batuan dan lain sebagainya. Pada waktu itu belum ada kertas, pulpen, tinta, spidol dan apalagi foto copy, jadi tidak bisa dianalogikan dengan zaman modern sekarang.
4) Sekalipun orang-orang Arab mayoritas ummi, namun hafalan mereka kuat-kuat, sehingga Nabi cukup mengandalkan dengan hafalan mereka dalam mengingat hadis.
5) Alquran bersifat qath’i (pasti absolute kebenarannya) sedang sunnah bersifat zhanni (bersifat relative kebenarannya), maka jika terjadi kontradiksi antar keduanya, sunnah tidak dapat berdiri sendiri sebagai produk hukum baru. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat dalam Alquran yang perintah menjauhi zhanni (Mahmud Abu Rayyah: 250), seperti:
ﻭﻤﺎﻴﺘﺑﻊ ﺃﻜﺛﺮﻫﻡ ﺇﻻﻈﻨﺎﺇﻦ ﺍﻠﻈﻦﻻﻴﻐﻨﻰﻤﻦ ﺍﻠﺤﻖ ﺸﻴﺎ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. (QS.Yunus [10]: 36).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh sunnah zhann dan zhann tidak dapat dijadikan hujjah dalam beragama. Untuk lebih jelasnya bagaimana kedudukan zhann dalam hadis akan penulis paparkan berikut ini:
Kata zhann di beberapa tempat dalam Alquran tidak hanya mempunyai satu arti saja sebagaimana yang dituduhkan oleh ingkar sunnah di atas, ia mempunyai makna banyak, diantaranya; Bermakna Yakin (al-yaqin), misalnya firman Allah:
ﺍﻠﺬﻴﻦ ﻴﻈﻨﻮﻦ ﺍﻨﻬﻡ ﻤﻠﻘﻮﺍﺮﺒﻬﻡﻮﺃﻨﻬﻡ ﺇﻠﻴﻪ ﺮﺠﻌﻮﻦ
(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS.Al-Baqarah [2]: 46).

Arti zhann memang ada yang tercela, tetapi ada pula yang terpuji dalam syara’, sebagaimana yang disebutkan pada ayat-ayat Alquran di atas. Zhann hadis ahad mempunyai makan “dugaan kuat dan unggul” di antara dua sisi yang berlawanan yaitu anatara dugaan lemah dan dugaan yang kuat. Dugaan kuat inilah yang disebut zhann, oposisinya dugaan lemah disebut waham, sedang dua dugaan yang seimbang tidak ada yang kuat dan tidak ada yang lemah disebut syakk (keraguan) (Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds:22).
Zhann seperti ini diterima oleh ulama hadis yang mengantarkan validitas suatu berita, bahwa ia diduga kuat adalah benar dari Nabi, bahkan jika didapatkan qarinah atau bukti yang kuat dapat naik menjadi ilmu dan pasti. Dikalangan ulama Islam terjadi kontra pada eksistensi kualitas hadis ahad, apakah ia dapat memberikan faedah zhann (dugaan kuat), atau ilmu. An-Nawawi berpendapat hadis ahad berfaedah zhann, sedangkan menurut mayoritas ahli hadis berfaedah ilmu dan menurut Ibnu Hazm ilmu dan amal (Ash-Shalih, 1969:151). Zhann di sini diartikan (dugaan kuat) posisinya dibawah sedikit ilmu, bahkan jika diperkuat (Abdul Muhdi, 1998:318-320) dengan qarinah atau bukti-bukti lain yang dapat dipertanggungjawabkan dapat naik menjadi ilmu, tidak seperti zhann yang diduga oleh ingkar sunnah di atas yang hanya diartikan syakk (ragu). Jika datang kepada kita seorang periwayat yang terpercaya dengan sanad yang lengkap, bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Malik dalam kitabnya Al-Muwaththa dari Al-Zanad dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah dari Rasul berkata demikian.
Kita mengetahui bahwa setiap periwayat tersebut ahlu dirayah dan riwayah serta tsiqah (dapat dipercaya kejujuran dan daya ingatannya) tentu kita yakin pada berita yang dibawanya.
Demikian di antara ergumentasi ingkar sunnah yang dikemukakan yang pada prinsipnya mereka menolak sunnah karena ketidaktahuannyabaik dari segi keilmuan hadis atau sejarah terkodifikasiannya. Di samping adanya pengaruh dari latar belakang pendidikan agama yang tidak memadai dan buku-buku bacaan tulisan kaum orientalis atau yang sepemikiran dengan mereka. Jadi, jelaslah kiranya alasan-alasan ingkar sunnah sangat lemah dan hanya mempermainkan agama semata. 

Daftar Pustaka
Alquran Al-Karim
Al-A’zhami, M. Musthafa. 1992. Studies In Hadits Methodology and Literature. Terj.A.Yamin. Jakarta:Pustaka Hidayah.
___.1992.Dirasat fi Al-Hadits An-Nabawi wa Tarikh Tadwinih. Juz 1. Beirut: Al-Maktab Al-Islami.
Al-Khudhri Beik, Muhammad. 1981. Ushul Al-Fiqh. Cet. Ke-7. Beirut: Dar Al-Fikr.
Abdul Khaliq, Abdul Ghani. 1986. Hujjiyat As-Sunnah. Cet.Ke-1. Beirut: Dar Alquran.
Abdul Qadir, Abdul Muhdi bin.1998. Al-Madkhal ila As-Sunnah An-Nabawiyyah. Cairo: Dar al-I’tisham.
___.1987 Thuruq Takhrij Hadits Rasulullah. Cairo: Dar al-I’tisham.
Abu Zahrah, Muhammad. tth. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah fi As-Siyasah wa Al-Aqaid wa Tarikh Al-Madzahib Al-Fiqhiyyah. Cairo: Dar Al-Fikr.
___. 1996. Asy-Syafi’i Hayatuh wa ‘Ashruh: Ara’uh wa Fiqhuh. Cairo: Mathba’ah Al-Madani.
Abu Rayyah, Mahmud. tth. Adhwa ala As-Sunnah Al-Muhammadiyah. Cet. Ke-6. Cairo: Dar Al-Ma’arif.
Abu Zahw, Muhammad. tth. Al-Hadits wa Al-Muhadditsun. Cairo: Al-Maktabah At-Taufiqiyah.
Ali Quds, Abdul Hamid bin Muhammad. tth. Latha’if Al-Isyarat ‘ala Tashil Ath-Thuruqat li Nazhm Al-Waraqat fi Ushul Al-Fiqhuyyat. Bandung: Al-Ma’arif.
Anis, Ibrahim. 1972. Al-Mu’jam A-Wasith. Juz 3. Mesir: Dar Al-Ma’arif.
Al-Askari, Abi Hilal. tth. Al-Lum’ah min Al-Furuq. Surabaya: As-Saqafiyah.
As-Siba’i, Mushthafa. 1998. As-Sunnah wa Makanatuha fi Al-Tasyri Al-Islami. Cet.Ke-1. Cairo: Dar As-Salam.
Ash-Shalih, Shubhi, 1969. Ulum Al-Hadits wa Mushthalahuh. Cet. Ke-5. Beirut: Dar Al-Ilm li Al-Malayin.
Asy-Syathibi, Al-Gharnathi, Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Al-Lakhmi. 1970. Al-I’tisham, Ed. Mahmud Tha’muh Halabi. Cet. Ke-1. Juz 1. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris. 1983. Al-Umm. Cet. Ke-2. Beirut: Al-Ma’rifah.
Khon, Abdul Madjid. 2004. Sunnah dan Pengingkarnya di Mesir Modern. Disertasi 2004.
Muhammad Abdul Latif, Abdul Mawjud. 1990. As-Sunnah An-Nabawiyyah bain Du’at Al-Fitnah wa Ad’iya Al-Ilm. Cet.Ke-2. Cairo: Maktabah Tayyibah.
Rahman, Zufran. 1995. Kajian Sunnah Nabi sebagai Sumber Hukum Islam. Cet. 1. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Syarif Hidayatullah, Tim IAIN. 1992. Ensiklopedia Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: