IMAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN


Oleh:
Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si

Abstrak: Alquran datang dengan membuka lebar-lebar mata manusia agar mereka menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di atas bumi ini. Juga agar mereka tidak terlena dengan kehidupan ini yang sifatnya sementara, sehingga mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.
Bisikan hati yang melahirkan keyakinan semacam ini, menjadikan manusia berusaha memahami apa yang sebenarnya di kehendaki oleh Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi. Alquran diyakini sebagai firman Allah swt. merupakan petunjuk untuk memahami apa yang dikehendakinya jadi manusia ingin menyesuaikan sikap dan perbuatannya dengan apa yang dikehendakinya. Demi meraih kebahagiaan akhirat, maka harus dapat memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Upaya memahami maksud firman-firman-Nya dengan kemampuan manusia itu harus dimulai dengan iman, melalui tulisan ini penulis berupaya mengupas makna-makna iman dalam Alquran.

Kata Kunci: iman, Alquran, identitas mukmin

Pendahuluan
Alquran diyakini sebagai firman Allah swt. yang merupakan petunjuk untuk memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi, manusia yang ingin menyesuaikan sikap dan perbuatannya dengan apa yang dikehendaki-Nya itu, demi meraih kebahagiaan akhirat, harus dapat memahami maksud petunjuk-petunjuk tersebut.
Upaya memahami maksud firman-firman Allah swt. sesuai dengan kemampuan manusia itu harus dimulai dengan iman. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai makna iman dalam Alquran.

Pengertian Iman
Ulama ahl al-sunnah berbeda pandangan mengenai definisi iman. Pendapat pertama, iman adalah menetapkan di lidah, membenarkan di hati dan mengamalkan dengan anggota tubuh (perbuatan). Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama ahl al-sunnah. Imam Syafi’i berpendapat bahwa menurut para sahabat dan tabi’in, iman adalah ucapan dan perbuatan serta niat. Dikatakan iman, bila ketiganya saling melengkapi. Al-Hafidz bin Abd al-Bar menambahkan, bahwa ulama fikih dan ulama hadis sepakat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Suatu perbuatan memiliki nilai bila disertai niat. Menurutnya, iman bisa bertambah kualitasnya bila diiringi dengan ketaatan dan iman juga bisa menurun bila diiringi dengan perbuatan maksiat. Jadi, ketaatan sama dengan arti iman itu sendiri. Namun, pendapat ini disangkal oleh Abu Hanifah beserta pengikutnya, bahwa ketaatan bukanlah arti dari iman, tetapi iman adalah membenarkan dan menetapkan.
Pendapat kedua, iman adalah menetapkan di lisan dan membenarkan di hati. Pengamalan dengan perbuatan tidak dimasukkan sebagai pengertian iman, karena mereka berpendapat bahwa mengamalkan semua syariat dan penjelasan yang disampaikan Rasulullah saw. merupakan sesuatu yang wajib dan sesuatu yang tidak bisa dikatakan tidak. Oleh karena itu, makna mengamalkan dengan perbuatan sudah terakomodasi dalam kata “menetapkan di lidah dan membenarkan di hati.” Tetapi, sesungguhnya kedua perbedaan tersebut hanya terbatas pada tataran teoretis, tidak sampai pada tataran praktis. Nyatanya, dalam tataran pragmatis, keduanya tidak ada perbedaan.
Iman menurut Syekh Hasan Ayyub, iman adalah membenarkan secara mantap terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Misalnya iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul dan hari akhirat serta kepada qada dan qadar-Nya, baik yang buruk maupun yang baik. Selain itu iman (percaya) terhadap kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji. Iman terhadap haramnya membunuh secara zalim (aniaya) dan berbuat zina, riba, dan sebagainya. Iman menurutnya, ada di dalam hati.
Menurut al-Thabari, iman adalah suatu kata yang menggabungkan pengakuan terhadap wujud Allah, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan pembenaran pengakuan tersebut dengan perbuatan. Al-Naisaburi menyimpulkan pendapat para ulama tentang iman dalam empat golongan:
a. Mu’tazilah, Khawarij, Zaidiyah dan Ahli Hadits berpendapat, bahwa iman itu adalah nama bagi perbuatan hati, lidah, dan anggota badan. Barang siapa yang merusak akidahnya sekalipun dia mengucapkan dua katimat syahadat dan mengamalkan ajaran-ajaran lslam, maka orang tersebut adalah munafiq, dan barang siapa yang merusak syahadatnya, maka dia adalah kafir, dan barangsiapa yang merusak amalnya, maka dia adalah fasik.
b. Sebagian ulama berpendapat, iman itu dengan hati dan lisan. Akan tetapi, dalam perumusan mereka berbeda pendapat: 1) Menurut mazhab Abu Hanafi dan kebanyakan ahli fiqih, iman itu adalah pengakuan dengan lidah dan ma’rifat dengan hati; 2) Menurut mazhab Abu Hasan al-Asy’ari, iman itu adalah pembenaran dengan hati dan lisan; dan 3) Sebagian ulama tasawuf berpendapat, bahwa iman itu adalah pengakuan dengan lidah dan ikhlas dalam hati.
c. Jahm bin Safwan mengatakan bahwa iman itu adalah pengamalan hati atau makrifat terhadap Allah dengan hatinya. Jadi, barang siapa mengenal Allah dengan hatinya, kemudian mengingkari-Nya dengan lidahnya lalu meninggal dunia sebelum mengakui-Nya dengan lisan, maka dia adalah mukmin yang sempurna imannya.
d. Menurut mazhab Karamiyah, iman itu adalah pengakuan dengan lisan. Oleh karena itu orang munafik itu secara lahiriah dianggap mukmin sekalipun hatinya kafir, didunia dikategorikan mukmin dan di akhirat termasuk oranq kafir.
Dalam Alquran, kata iman diualang 877 kali. Dari segi morfologi, kata tersebut berkembang menjadi āmana, yu’minu, mu’min. Dilihat dari segi iman, imānan, al-imān terdapat 22 surat, yakni: Thur: 21, al-Mu’min: 10, al-Rūm: 52, Ali-lmran: 166, 173, 177, dan 193, al-Hujurat: 7, 11, 14, dan 17, al-Hasyr: 9, al-Anfal: 2, al-Baqarah: 108, al-Taubah, al-Ahzab: 22, al-Maidah: 6, al-Fath: 4, al-Nahl: 106, al-Muddattsir: 31, al-Hasyr: 10, al-Syura, al-Taubah: 24, dan al-Mujadalah: 22. Dari segi imānuhu, imānuha terdapat 4 surat: Nuh: 106, al-Mu’min: 28, al-An’am: 158, dan Yunus: 98. Dari segi imānukum, imānuhum, imānuhunna terdapat 12 surat: al-Baqarah: 93, 109, dan 143, al-Sajadah: 29, al-An’am: 82, Ali-Imran 86, 90, 100 dan 106, al-Mukmin: 85, al-Mumtahanah: 10 , al-Tawbah: 67, al-Nisa’: 24, al-Fath: 4, dan Yunus: 9.
Kata iman selain yang disebutkan di atas dengan berbagai bentuknya masih banyak ditemukan dalam Alquran yang tentu tidak dapat dicantumkan semuanya di sini.

Hakikat Iman
Esensi dari iman adalah mengetahui, memahami, dan meyakini. Iman yang produktif akan membentuk muslim bertakwa dan selalu mengikuti ajaran Allah swt. Oleh sebab itu, korelasi antara iman dengan Islam ibarat akar dengan pohon. Iman seharusnya bersemayam dalam hati seorang muslim, sehingga segala aktivitasnya diarahkan untuk semata-mata tertuju kepada Allah swt. Hakikat iman adalah ketaatan kepada Allah swt. dan penyerahan diri secara total baik terhadap hal yang kecil maupun hal yang besar.
Menurut Sayyid Qutub, hakikat iman adalah ketika seseorang mengakui Allah swt. dan Rasulallah saw. dalam hatinya, maka kemudian dia mencerminkan iman itu dalam tingkah laku dan perbuatannya. Ibnu Taimiyah pernah bercerita seperti dikutip Aidh al-Qarni dalam li al-Syabāb Khasanah, bahwa ada seorang yang bergelimang dosa besar mengadu kepada beberapa ulama, ”hatiku sudah sangat gelap” tandasnya. Orang tersebut ingin sekali mendapatkan petunjuk. Tetapi, Allah swt. sudah enggan terhadapnya, karena hatinya sudah seperti kabut hitam kelam. Saran beberapa ulama, “Banyaklah berzikir setelah shalat” Orang tersebut menjawab, “Aku tidak akan bisa dan aku sudah tidak bakal bisa”. Inilah contoh jika hati seseorang sudah dipalingkan oleh Allah swt., padahal dia tahu banyak sekali kebenaran dan ajaran yang sampai kepadanya, tetapi tidak diindahkan, sehingga sampai pada puncaknya ketika ingin beriman, Allah swt sudah berpaling darinya.

Manifestasi Iman dan Identitas Mukmin
Ibadah manusia terhadap Tuhannya merupakan manifestasi, pembuktian dari iman. Sebelum ibadah, imanlah yang harus lebih dulu mendasari. Ibadah yang tidak didasari iman menjadikan mahmulat al-‘ibādah (muatan-muatan ibadah) tidak akan bermakna. Muatan-muatan ibadah dianggap berkualitas jika di dalamnya tercakup aspek kekaguman, keikhlasan, kepatuhan, pengharapan, dan sekaligus kecintaan. Kekaguman kepada Tuhan karena kebesarannya, kenikmatan atau kekuasaannya; keikhlasan yang mendalam; rasa kepatuhan; ketakutan kepada Tuhan kalau sampai meninggalkan ibadah itu; pengharapan akan ridho-Nya; dan kecintaan kepada Tuhan. Ibadah yang mengandung muatan-muatan seperti disebutkan di atas merupakan ibadah yang benar-benar berkualitas. Orang yang imannya bagus, maka ibadahnya akan berkualitas karena ibadah yang dilakukan merupakan cerminan kualitas iman yang dimiliki.
Dalam Alquran, dari 6000-an ayat –seperti yang diungkapkan Muhammad Tholchah Hasan dalam– hanya ada 4 ayat yang menyebutkan hubungan antara kualitas iman dengan kualitas ibadah. Keempat ayat ini, menariknya, selalu dimulai dengan kata innamā sebelum menyebut orang mukmin. Kata innamā dalam retorika Arab atau ilmu balaghah disebut sebagai adat al-hasn, kata untuk membatasi suatu sifat tertentu. Kata ini berarti “hanya orang-orang mukmin yang memiliki sifat itu”. Dalam bahasa lain, dapat dikatakan sebagai “orang-orang mukmin yang berkualitas tinggi”. Keempat kata al-mu’min yang didahului dengan kata innamā terdapat dalam surat al-Anfal: 2, al-Nur 62. al-Hujarat: 10 dan 15.
Kualitas Iman
Manusia yang beriman berupaya meningkatkan ketakwaan dan amal salehnya serta berupaya mendapatkan ganjaran dan kedudukan di sisi Allah. Dalam hal ini al-Thahawi berpendapat seperti dikutip Naim Yasin, bahwa upaya untuk mencapai hal itu, manusia melakukannya dengan takut, bertakwa, dan menahan hawa nafsu nya.
Keimanan manusia dalam berbagai kondisi selalu mengalami peningkatan dan penurunan (QS. al-Anfal [8]: 2). Oleh karena itu, orang mukmin harus selalu mencari bagaimana caranya agar iman yang ada dalam sanubarinya terus bertambah. Nabi Ibrahim as. pernah berdoa kepada Allah swt. agar berkenan memperlihatkan bagaimana cara Dia menghidupkan kembali orang-orang yang beriman, padahal ia sendiri telah beriman. (QS. al-Baqarah [2]: 260).
Di antara faktor terpenting untuk menambah keimanan seseorang adalah :
a. Ilmu, yaitu mengenal Allah swt., nama, sifat, dan af’al-Nya. Mengetahui semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dalam hadits disebutkan seperti yang diriwayatkan oleh Jundub bin Abdullah dan Ibnu Umar, mereka berdua berkata, “Kami mempelajari iman, kami mempelajari Alquran sehingga iman kami bertambah”.
b. Amal, yakni memperbanyak amal saleh dan melakukan segala perintah atau pun menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang (maksiat) akan menambah keimanan seseorang. Hal ini merupakan aplikasi iman itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
c. Zikir dan pikir. Zikir dalam arti selalu mengingat Allah swt. dalam sanubari dan membaca Alquran agar lebih memahami keagungan dan kebesaran-Nya. Sedangkan pikir berarti merenungkan segala ciptaan Allah swt., karena, ia termasuk salah satu percaya terhadap kebesaran dan kekuasaan-Nya. Kebesaran-Nya tercermin dalam semua yang ada di jagad raya ini.
Iman mendasari pelaksanaan ibadah. Sebaliknya ibadah tidak bernilai jika tanpa landasan iman. Mengapa kebanyakan manusia berat melakukan ibadah? Karena cintanya kepada Allah lebih kecil dari pada cintanya pada Tuhan, apakah berupa keluarga, kekayaan, bisnis, wanita atau pria, dan sebagainya.
Demikian juga pada skala yang lebih makro, kalau cinta pada Tuhan betul-betul lebih besar dari pada cinta kepada selain-Nya, maka apapun yang dimiliki akan diserahkan dan merasa bangga kalau miliknya bisa diberikan kepada Tuhan. Apalagi Allah swt. telah menganugerahkan manusia empat daya:
1. Daya tubuh, yang mengantar manusia memiliki pisik. Berfungsinya organ tubuh dan pancaindera berasal dari daya ini.
2. Daya hidup, yang menjadikannya memiliki kemampuan mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mempertahankan hidupnya dalam menghadapi tantangan.
3. Daya akal, yang memungkinkannya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Daya qalbu, yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman dan kehadiran Allah. Dari daya inilah lahir intuisi dan indra keenam.
Apabila keempat daya itu digunakan dan dikembangkan secara baik, maka kualitas orang yang beriman akan mencapai puncaknya, yaitu sosok pribadi yang beriman, berbudi pekerti luhur, memiliki kecerdasan, ilmu pengetahuan, keterampilan, keuletan serta wawasan masa depan dan dengan fisik yang sehat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: