INVASI BANGSA MONGOL


Oleh:
Hasan Basri, S.Ag, M.Pd.I

Abstrak: Puncak keruntuhan dalam sejarah Islam adalah jatuhnya Bagdad oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Nampaknya upaya meruntuhkan Bagdad bukan hanya dari Hulagu sendiri. Dalam sejarah ternyata tercatat ada orang Islam sendiri yang turut ambil bagian, seperti Perdana Menteri Ibnu Alqani dan Khawaja Nasir al-Din al-Tusi.
Salah satu sebab kehancuran umat Islam di tangan bangsa Mongol banyak disebabkan oleh faktor intern, yakni umat Islam telah mulai menjauhi ajaran agamanya. Imperium yang telah dibangun oleh umat Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah telah menimbulkan kebosanan di kalangan sebagian umat Islam sendiri. Sebagian umat Islam sudah muak menyaksikan kemajuannya sendiri karena ternyata di balik kemajuan itu penuh dengan kebobrokan, baik dari segi moral maupun aqidah.

Kata Kunci: invasi Mongol, Jengis Khan, Hulagu Khan, Timur Lenk

Pendahuluan
Telah menjadi hukum sejarah di dunia ini bahwa suatu bangsa pasti akan mengalami tiga masa, yakni masa pertumbuhan, masa kejayaan, dan masa kemunduran (QS. Ali ‘Imrān [3]: 140). Umat Islam pun telah mengalami ketiga masa tersebut yang berjalan selama kurang lebih 14 abad. Pada masa Nabi Muhammad saw., Islam baru berada pada masa pertumbuhan dan pembinaan dan selanjutnya mengalami masa kejayaan yang mencapai puncaknya sampai pada tahun 1258 M (masa klasik).
Selanjutnya mengalami masa kemunduran sejak terjadinya serangan bangsa Mongol terhadap kota Bagdad pada abad ke-13 M. (Yusran Asmuni, 1998: 12). Sejak jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol, mulailah masa gelap dalam sejarah Islam (Badri Yatim, 2001: 111). Hampir semua hasil peradaban selama berabad-abad lamanya dihancurkan hanya dalam sekejap.
Serangan demi serangan yang dilancarkan silih berganti mulai dari Jengis Khan sampai Timur Lenk mengakibatkan umat Islam mengalami tekanan yang luar biasa. Pembunuhan secara sadis terjadi setiap mereka menaklukkan suatu daerah. Begitu juga pengrusakan rumah, sekolah, masjid, serta apa saja yang mereka dapati, merupakan kebiasaan buruk bangsa Mongol.
Pendeknya, masyarakat Islam sepanjang kurang lebih dua abad mengalami tempaan iman yang dahsyat. Mereka diserang oleh bangsa yang membenci Islam. Namun, anehnya pada perjalanan sejarah selanjutnya, turunan mereka juga yang kembali memperjuangkan Islam (Yoesoef Soe’yb, 1978: 321) pada daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh kakek mereka, Jengis Khan dan Hulagu Khan. Meskipun kebengisan masih ada tersisa seperti sebelum mereka memeluk Islam.

Asal-Usul Bangsa Mongol
Bangsa Mongol adalah suatu komunitas nomad (Ali Mufrodi, 1997: 127) yang mendiami pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Diceritakan oleh Ahamd Syalabi bahwa nenek moyang bangsa Mongol bernama Alanja Khan yang mempunyai dua anak kembar yang bernama Tatar (Tartar) dan Mongol. Kedu aputra inilah yang kemudian menurunkan dua bangsa besar yang disebut bangsa Tartar dan bangsa Mongol. Bangsa Tartar dan Mongol adalah dua bangsa yang berbeda karena berasal dari nenek yang berbeda, tetapi bangsa ini adalah bangsa yang bersaudara. Karena terkadang ada penulis sejarah yang menyamakan mereka atau menganggap yang satu merupakan bagian yang lain.
Ada yang menyatakan bangsa Mongol adalah bagian dari bangsa Tartar (Muhammad Sayyid al-Wakil, 1998: 229). Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan yang kemudian melahirkan para pemimpin Mongol, seperti Jengis Khan, Hulagu Khan, dan timur Lenk. Bangsa Mongol juga mempunyai hubungan geneologis dengan bangsa Turki.
Kehidupan bangsa nomad Mongol amat sederhana. Mereka hidup dari berburu dan berdagang secara tradisional, seperti tukar menukar kulit binatang dengan binatang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang bertetangga dengan wilayah mereka. Sebagai bangsa nomad, mereka memiliki watak yang keras dan kasar, suka berperang, dan pemberani, tetapi mereka sangat tata pada pimpinan. Mereka menganut agama syamaniyyah (biasa disebut agama kultur atau agama primitif), menyembah bintang-bintang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit (Thomas W. Arnold, 1985: 193).
Bangsa Mongol mulai dikenal dalam sejarah pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan (w. 1175 M) yang berhasil merangkul 13 kelompok suku Borjigin ke dalam kekuasaannya. Tidak disebutkan kapan masa itu terjadi, tetapi yang jelas bahwa usaha Yasugi merintis persatuan suku-suku di masanya merupakan modal besar bagi kemajuan bangsa Mongol. Selanjutnya setelah ia meninggal dan kekuasaanya diwarisi oleh anaknya yang bernama Jengis Khan. Yasugi meninggal pada saat Jengis Khan masih berusia 13 tahun dan langsung mengambil alih kepemimpinan atas bangsa Mongol.

Serangan Bangsa Mongol atas Dunia Islam
Pada bagian ini yang akan dibahas adalah serangan-serangan Mongol di bawah kepemimpinan Jengis Khan, Hulagu Khan, dan Timur Lenk.

1. Jengis Khan
Nama sebenarnya adalah Timujin atau Temujin, kaddang juga disebut Bitujin. Ayahnya adalah yasugi Bahadur Khan yang masyhur karena berhasil mempersatukan suku-suku bangsa Mongol. Jengis Khan adalah gelar yang berarti raja yang agung, atau penguasa mutlak. Gelar ini diberikan oleh Huraltai, yakni Majlis Besar suku-suku bangsa Mongol kepada Timujin pada tahun 1202 M. Sejak itulah ia lebih dikenal dengan gelarnya dari pada nama aslinya.
Setelah mendapat pengakuan sebagai pemimpin tertinggi di kalangan bangsanya pada tahun 1202 (599 H), Jengis Khan kemudian membenahi organisasi kemiliteran dan melatih angkatan perang. Pasukannya dibagi-bagi menjadi kelompok kecil sampai kelompok besar. Ada kelompok yang beranggotakan sepuluh orang, seartus orang, dan seribu orang. Tiap-tiap kelompok mempunyai seorang komandan. Setelah angkatan perangnya terorganisasi dan terlatih dengan baik, serangan dimulai untuk menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Serangan pertama diarahkan ke kerajaan Cina dan berhasil menguasai Peking tahun 1215 M. Serangan selanjutnya diarahkan ke negeri-negeri muslim.
Serangan diarahkan ke Asia Tengah, tetapi serangan ini dihadang oleh Sultan Alauddin Muhammad Syah, penguasa negara Khawarizm di Karakoun. Tentara Jengis Khan terpaksa memutar haluan, dan terjadilah pertempuran dahsyat dari tempat ke tempat yang dilalui. Namun, pada akhirnya tentara muslimin di bawah pimpinan Sultan Alauddin Muhammad Syah berhasil dikalahkan. Tentara mongol terus maju ke arah selatan mengepung dan menguasai Bukhara pada tahun 1220 M/617 H.
Sebenarnya ada peristiwa cukup penting yang melatarbelakangi serangan Jengis Khan terhadap negeri muslimin, Khawarizm. Pemimpin Mongol pernah mengirim delegasi dagang yang terdiri dari 150 saudagar dengan membawa harta yang banyak untuk digunakan membeli pakaian produk negeri Khawarizm. Ketika rombongan dagang tiba di Atrar, Emir setempat Emir Ghayur Khan tertarik dengan barang-barang dagangan yang dibawa oleh para saudagar itu. Emir itu pun memerintahkan untuk menangkap mereka, lalu dibunuh dan barang-barangnya diambil. Ada satu orang yang berhasil meloloskan diri dari pembunuhan dan melaporkan hal tersebut kepada Jengis Khan.
Jengis Khan mengepung kota Bukhara (ibukota Khawarizm) selama tiga hari. Penduduk kemudian meminta jaminan keselamatan kepadanya dan dikabulkan. Namun, ternyata jaminan keselamatan tersebut hanya tipuan belaka. Mereka pada akhirnya dibunuh, harta mereka dirampas, rumah-rumah dan barang-barang yang tidak bisa dibawa dihancurkan dan dibakar habis, dan bangunan-bangunan dirobohkan rata dengan tanah. Begitu juga makam Imam Bukhari tidak luput dari penghancuran. Begitulah Jengis Khan membiarkan tentaranya berbuat apa saja yang disenangi. Terhadap tawanan laki-laki dijadikan pekerja paksa dan perisai dalam peperangan, anak-anak dibunuh, dan wanita-wanita diperkosa lalu dibunuh. Apabila mereka menghadapi kkesulitan untuk menaklukkan suatu daerah karena dihadang sungai, mereka lemparkan mimbar-mimbar masjid, buku, mushaf, dan apa saja untuk mereka jadikan jembatan penyebarangan.
Setelah puas dengan kebrutalannya di Bukhara, Jengis Khan menuju Samarkand. Jatuhnya Bukhara secara mengerikan telah membuat lemah mental kaum muslimin di seluruh negeri. Meskipun kota Samarkand dijaga oleh 50 ribu pasukan ditambah 70 ribu pasukan sipil, tetapi tidak mampu menghalangi gerak bala tentara Jengis Khan. Seperti biasa, setiap memasuki negeri, tentara Mongol selalu merampas, menyiksa, membunuh dan merusak. Begitu pula yang dilakukan di Samarkand.
Jengsi Khan terus melakukan pengejaran terhadap Sultan Alauddin Muhammad Syah dan menaklukkan setiap daerah yang dilaluinya. Akhirnya, pengejaran sampai juga di dataran tinggi Mazindran. Di sinilah terjadi perempuran hebat sampai Sultan tewas pada tahun 1220 M./617 H. (Syed Mamudunnasir, 1994: 322). setelah memerintah selama 21 tahun. Ia digantikan oleh anaknya bernama Sultan Jalaluddin Khawarizm Syah. Sultan ini juga dikalahkan oleh Jengis Khan di sebuah pertempuran di pinggir sungai Hindus. Di sinilah Sultan Jalaluddin melakukan perlawanan terakhir sampai seluruh tentaranya habis terbunuh dan ia sendiri terjun ke sungai besar Hindus dan berhasil menyeberanginya bersama kudanya. Karena kagum terhadap keberanian Sultan, Jengis Khan membiarkan ia pergi dan pertempuran pun berakhir di situ pada tahun 1224 M.
Karena kondisi pisik Jengis Khan sudah lemah, ia pun mengambil suatu kebijakan membagi wilayah kekuasannya menjadi empat bagian kepada empat anaknya, yakni: Juchi, Chagatai, Ogotai, dan Tuli. Juchi mendapat wilayah Siberia bagian barat dan Stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia selatan, dan di dalamnya terdapat Khawarizm; Chagatai mendapat wilayah Transoxania hingga Turkistan Timur atau Turkistan Cina; Ogotai (Ogedey, yang menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung) mendapat wilayah Pamirs dan T’ein Syan; sedangkan Tuli (Toluy) mendapat wilayah Mongolia (Qarakoun). Jengis Khan meninggal dunia pada tahun 1227 M./624 H. Dalam usia 112 tahun dan telah menguasai Asia Utara dari timur dan barat.
Jengis Khan merupakan tokoh besar yang berhasil membuat bangsa Mongol sebagai kekuatan politik dan militer terbesar di Asia pada waktu itu. Penaklukan terhadap daerah-daerah muslim telah meninggalkan kengerian yang mendalam di hati kaum muslimin sekaligus telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Islam.
Di masa selanjutnya, salah seorang anak Jengis Khan, Tuli Khan berhasil menguasai Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah melemah karena terpecah-belah, maka dengan mudah bangsa Mongol menguasainya satu persatu. Ia pun kemudian meguasai Bagdad. Tuli meninggal dunia pada tahun 1256 M./654 H. Dan digantikan oleh anaknya, Hulagu Khan.

2. Hulagu Khan (614 H./1217 M.-664 H./1265 M.)
Hulagu Khan lahir semasa Jengis Khan masih hidup, yakni pada tahun 614 H./1217 M. Ia adalah cucu Jengis Khan dari anaknya Tuli bin Jengis Khan. Seperti kakeknya, Hulagu adalah raja yang dikatator, sadis, dan tidak bermoral. Ia sangat berambisi untuk menaklukkan pusat pemerintahan Islam di Bagdad. Sebelum ambisi itu terlaksana, terlebih dahulu ia menaklukkan Khurasan di Persia dan Hasyasyin di Alamut, dan pada permulaan tahun 1252 M ia sampai ke tepi Bagdad (Harun Nasution, 1985: 80). Perintah untuk menyerah ditolak oleh Khalifah al-Musta’sim dan kota Bagdad dikepung. Atas usul Perdana Menteri Ibnu Alqani, khalifah mengirim hadiah-hadiah, tetapi tidak mengubah tekad Hulagu Khan. Ibnu Alqani kemudian menipu khalifah dengan menyampaikan berita bohong bahwa Hulagu memanggilnya untuk mengadakan perjanjian damai. Setibanya di tengah-tengah tentara Mongol, ia bersama pengiringnya langsung dibunuh (Ahmad Amin, Yawm al-Islām, diterjemahkan oleh Abu Laila dan Mohammad Tohir, 1993: 140), selanjutnya tentara Hulagu memasuki kota Bagdad. Inilah awal penghancuran besar-besaran yang dilakukan oleh Bangsa Mongol. Untuk melihat kekejaman Mongol terhadap kota Bagdad, berikut penulis sajikan kutipan singkat:
Setelah Khalifah al-Musta’sim mereka bunuh, pasukan Tartar masuk ke jantung kota Bagdad dan membunuh siapa saja yang bisa mereka bunuh; laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua, anak kecil dan anak muda, seluruh penduduk Bagdad dicekam kepanikan. Hingga mereka masuk ke sumur-sumur atau ke kebun-kebun atau bersembunyi dalam lubang-lubang sampah selama berhari-hari. Ada sebagian penduduk mengunci rumahnya dari dalam rumah, namun pasukan Tartar mendobrakknya. Ada yang melarikan diri namun dikejar pasukan Tartar dan membunuhnya di atas atap rumah. Akibatnya air bercampur darah mengalir ke lorong-lorong kota. Pasukan Tartar menghancurkan masjid dan sekolah-sekolah (Sayyid Muhammad al-Wakil, 200: 258).

Hulagu Khan menduduki Bagdad selama 4 bulan dan membantai paling kurang 1.800.000 orang (Ensiklopedia Islam, 2001: 243). Setelah itu, ia kembali ke kerajaannya untuk mempersiapkan serangan selanjutnya ke Syam.
Rencana penyerbuan Mongol sampai juga ke tanah Syam, sehingga penguasa Syam mempersiapkan bala tentara untuk menghadapi serangan itu. Sebelum sampai ke Damascus, tentara Hulagu lebih dahulu mengepung kota Halb (Aleppo) selama 7 hari, kemudian menyerangnya dari segala penjuru. Ia menawarkan jaminan keamanan kepada penduduk sehingga mereka ramai meminta perlindungan, tetapi ternyata mereka semuanya dibantai. Setelah menghancurkan Halb, tentara bergerak menuju kota Hamah dan akhirnya sampai di tepi kota Damascus. Karena rakyat tidak mempunyai persenjataan yang lengkap, maka dengan mudahnya tentara Mongol menaklukkan kota Damascus di bawah pimpinan Amir Katbaghanuwin pada akhir bulan Safar 658 H./1259 M.
Dengan demikian wilayah kekuasaan Hulagu telah meluas di samping kota Bagdad, juga kota Halb, Hamah, dan Damascus. Daerah-daerah ini selanjutnya di bawah pemerintahan Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar Hulagu Khan.
Rencana selanjutnya adalah serrangan ke Mesir. Penguasa Mesir pada waktu itu adalah Nuruddin Ali yang bergelar al-Mansur. Menghadapi situasi genting karena Mesir terancam, maka penasihat al-Mansur, Saifuddin Qataz memecat al-Mansur dengan pertimbangan ia masih terlalu muda dan belum sanggup mengatasi keadaan. Pasukan disiapkan lalu dikirim ke Ain Jalut. Bertemulah pasukan muslimin dengan pasukan Mongol di daerah itu dan pecahlah perang yang sangat dahsyat pada hari Jumat, 25 Ramadhan 658 H/1260 M. Perang berakhir dengan kemengan pihak muslimin yang berarti Mesir selamat dari penghancuran Mongol.
Ketidakmampuan tentara Hulagu menundukkan Mesir di samping disebabkan karena letaknya yang jauh dan tentara yang telah kelelahan terus menerus berperang, juga karena Dinasti Mamluk yang pada waktu itu masih berada pada masa pertumbuhan (berdiri pada tahun 1250-1517 M.) dan masih kuat.
Setelah kekalahan di Ain Jalut, Hulagu Khan tidak sanggup lagi mengembalikan kedudukannya di tengah bangsanya, kemudian ia meninggal pada tahun 664 H./1265 M.

3. Timur Lenk (1336-1405 M.)
Selama satu abad umat Islam hidup di bawah penjajahan Jengis Khan dan Hulagu Khan, kehancuran terjadi di semua aspek kehidupan umat Islam. Bencana itu tidak kunjung mereda karena keturunan Mongol yang lain datang menambah bencana tersebut. Serangan tidak kalah hebatnya datang dari pasukan yang dipimpin oleh Timur Lenk.
Timur Lenk lahir di dekat Kesh (sekarang Khakhrisyabz, Urbekistan) sebelah selatan Samarkand di Transoxiana pada tahun 1336 M dan meninggal pada tahun 1405 M. di Otrar. Namanya Tamerlane (Philip K. Hitti, 1974: 699), tetapi lazim ditulis Timur Lenk. Sejak kecil ia dikenal memiliki keberanian dan selalu terlibat dalam berbagai pertempuran. Timur Lenk resmi menjadi penguasa setelah memproklamirkan diri sebagai penguasa tunggal di Transoxiana pada tanggal 10 April 1370 M. setelah lebih dahulu menguasai Samarkand tahun 1369 M. dan daerah-daerah yang terletak di sekitarnya.
Sepuluh tahun pertama pemerintahannya ia berhasil menundukkan Jata dan Khawarizm. Setelah itu, ia mulai lagi menyapkan angkatan perangnya untuk merebut kembali daerah-daerah yang dulunya dikuasai oleh Jengis Khan.
Pada tahun 1381 M., ia menaklukkan Khurasan dan dari situ ia menyerang Heart dan berhasil menundukkannya. Sasaran selanjutnya diarahkan untuk menguasai Afghanistan, Persia, Fars, dan Kurdistan. Watak sadis kakeknya ternyata menurun kepada Timur Lenk. Setiap daerah yang ditaklukkan, ia selalu mengadakan pembataian manusia besar-besaran, seperti di Sabzawar, Afghanistan, ia menyembelih 2000 manusia dan kepalanya dibangun menjadi menara. Di Isfahan, Iran, ia membantai kurang lebih 70.000 penduduk. Pada tahun 1393 M., ia menghancurkan dinasti Muzhaffar di Fars dan pada tahun yang sama ia menguasai Bagdad dan satu tahun kemudian ia menduduki Mesopotamia. Di Aleppo membantai lebih dari 20.000 orang, di Delhi sebanyak 80.000 penduduk.
Pada tahun 1401, Timur Lenk menyerang Damascus dan berhasil menguasainya. Akibat pertempuran di Damascus, masjid Umayyah yang terkenal itu mengalami kerusakan berat.
Pada tahun 1402 M., ia memerangi tentara Usmani di Ankara dan berhasil mengalahkannya. Sultan Bayazid tertawan dan meninggal dalam tawanan. Timur Lenk melanjutkan serangan ke Broessa (ibukota lama Turki) dan Smyrna. Setelah itu, ia kembali ke Samarkand untuk mempersiapkan serangan ke Ciina. Namun, di tengah perjalanan ia jatuh sakit dan meninggal 1405 M.
Dinasti Timur Lenk berkuasa sampai abad XV. Daerah-daerah yang berhsil dikuasainya meliputi Persia (781 H./1379 M.), Caucasia (787 H./1385 M.-789 H./1387 M.), bagian timur daerah-daerah bulan sabit subur (781 H./1379 M.), Khawarizm (781 H./1379 M.), dan daerah-daerah Golden Horde (793 H./1391 M.), termasuk pernah menaklukkan India (801 H./1398 M.), Syria (803 H./1400 M.), dan Anatolia (804 H./1402 M.). (Tim Penyusun Texbook SKI Dirjen Bimbaga Islam Depag, Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid 2 (Ujungpandang: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama-IAIN, 1982/1983: 86-87).
Seperti halnya Jengis Khan dan Hulagu Khan, Timur Lenk pun tidak berhasil menguasai Mesir. Namun, setiap daerah yang ditaklukkannnya selalu membunuh, merusak, merampas. Mereka telah menorehkan suatu titik hitam dalam sejarah umat Islam. Memang pendahulunya juga melakukanhal serupa, tetapi Timur Lenk pada waktu melakukan penaklukkan sudah menjadi muslim.
Dampak Serangan Mongol
Apapun sudut pandang yang digunakan oleh para ahli sejarah dalam menjelaskan mengenai invasi bangsa Mongol terhadap dunia Islam, tampaknya mereka mempunyai peniaian yang sama, bahwa serangan-serangan Mongol terhadap dunia Islam merupakan suatu kebiadaban. Seperti Thoman W. Arnold dengan jujur mengakui bahwa tidak ada teror dan kekejaman yang lebih tragis dalam sejarah umat Islam dibandingkan apa yang diperbuat oleh bangsa Mongol.
Akibat kekejaman Mongol terutama di bawah Jengis Khan, Hulagu Khan, dan Timur Lenk telah meruntuhkan peradaban Islam yang telah mengalami kemajuan selama berabad-abad. Dampak dari serangan itu meliputi terjadinya perubahan sosia ekonomi, moralitas, dan politik bagi negeri-negeri muslim.

1. Sosial Ekonomi
Kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Mongol telah berdampak pada kemiskinan yang meluas. Bangsa penyerbu telah menawan dan menjadikan umat Islam sebagai budak dan membebani mereka dengan pajak sehingga menyita kekayaan mereka. Akibat lanjut dari itu, bencana lebih besar melanda ekonomi hancur, kerajinan tembikar dan pengolahan logam yang telah dibina selama berabad-abad berhenti berproduksi. Adalah suatu hal yang pasti, kemiskinan parah akan menimbullkan dampak sosial berupa melorotnya derajat kesehatan masyarakat.

2. Politik
Wilayah-wilayah yang diserang bangsa Mongol dengan sendirinya akan terpecahbelah yang dalam perkembangan selanjutnya timbul aksi saling serang satu sama lain sehingga tidak ada sebuah kekuasaan besar yang menjadi tumpuan umat Islam. Karena tidak ada kekuasaan yang dapat mempersatukan, maka umat Islam tentu tidak mampu mewujudkan pembangunan yang berarti.
Pertentangan bukan hanya terjadi dalam lapangan sosial politik, tetapi sampai pada pertentangan sengit antara firqah-firqah agama. Hal ini mudah dipahami karena dengan dimusnahkannya khasanah keilmuan, umat Islam kehilangan sumber ilmu yang akibatnya membawa kepada taklid dan kepanatikan kepada kelompok, imam, atau golongan tertentu.

3. Moralitas
Kaum penyerang tidak hanya menghancurkan peradaban umat Islam, tetapi mereka juga melakukan penghinaan terhadap umat Islam. Mereka menumpahkan minuman keras ke atas kepala umat Islam dan di masjid. Penghinaan seperti itu telah membuat umat kehilangan harga diri da kehormatan. Semangat hidup dan semangat memperjuangkan agama menjadi kendor yang tersisa adalah pelarian pad penyelewenagna ilmu dengan mengkhususkan diri pada mempelajari agama saja yang lama kelamaan jatuh ke lembah mistik dan khurafat.

4. Stagnasi Ilmu Pengetahuan
Hancurnya Bagdad sebagai kota ilmu adalah bentuk nyata dari stagnasi ilmu pengetahuan. Perpustakaan dengan segala koleksinya habis dibakar dan di buang ke laut. Para ualam dibunu. Akibatnya umat Islam tenggelam dalam kemunduran. Hanya sedikit sisa peradaban dan sisa illmu pengetahuan kemudian beralih ke Mesir.

Komentar Penutup
Puncak keruntuhan dalam sejarah Islam adalah jatuhnya Bagdad oleh Hulagu Khan, meskipun upaya meruntuhkan Bagdad bukan hanya dari Hulagu sendiri. Dalam sejarah ternyata tercatat ada orang Islam sendiri yang turut ambil bagian, seperti Perdana Menteri Ibnu Alqani dan Khawaja Nasir al-Din al-Tusi (12-1-1274 M. Akbar S. Ahmad, Discovery Islam, Making Sence of Muslim History an Society, diterjemahkan Nunding Ram dan Ramli Yakub, 1992: 60). Hal ini menunjukkan bahwa imperium yang telah dibangun oleh umat Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah memang telah menimbulkan kebosanan di kalangan sebagian umat Islam sendiri. Sebagian umat Islam sudah muak menyaksikan kemajuannya sendiri karena ternyata di balik kemajuan itu penuh dengan kebobrokan, baik dari segi moral maupun aqidah.
Mengamati tulisan-tulisan ahli sejarah tentang peristiwa serangan Mongol terhadap umat Islam, penulis dapat memastikan bahwa kehancuran umat Islam di tangan bangsa Mongol banyak disebabkan oleh faktor intern, yakni umat Islam telah mulai menjauhi ajaran agamanya. Hal ini dapat terlihat ketika Hulagu Khan hendak menyerang, ia sempat berkirim surat kepada penguasa muslim, berikut isinya:
Semua doa yang menentang kami tidak akan didengar, karena kalian telah memakan makanan terlarang dan tutur kata kalian sangat kotor. Kalian telah menghianati sumpah dan janji. Pelanggaran dan kecengengan merajalela di antara kalian. Ketahuilah bahwa kalian akan menaggung malu dan dihinakan.
Hulagu Khan seumur hidupnya tidak pernah menjadi muslim. Jika saja seorang musuh Islam mengetahui bahwa orang-orang Islam telah melanggar agamanya, maka ini suatu hal yang tidak masuk akal jika para penguasa muslim sendiri tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar ajaran Islam.
Maka wajarlah jika serangan Mongol merupakan balasan yang setimpal buat umat Islam kala itu. Bagi umat Islam serangan Mongol merupakan manifestasi dari kekejaman kemanusiaan, tetapi di sisi lain serangan itu telah membangunkan seluruh umat Islam di dunia dari tidurnya. Bangsa Mongol telah membuat mereka tersentak, lalu mereka mencoba merangkak, membersihkan diri lalu mereka bangkit kembali meskipun dalam kondisi yang sangat lemah.
Dalam konteks kekinian, serangan Mongol dalam bentuk pisik tidak lagi ada, tetapi dalam bentuk lain masih terus berlangsung. Jika umat Islam mau sadar dan kembali menggali ulang semangat ajaran Islam seperti yang diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabat, sesungguhnya kita pun sekarang sedang diserang oleh mongol-mongol modern dalam bentuk serangan globalisasi peradaban barat yang sarat dengan muatan sekularisme, liberalisme, pluralisme, dan sejumlah serangan moral lainnya yang karena ketidaksiapan umat Islam menghadapinya, membuat mereka menjadi korban-korban dari serangan itu, bahkan turut serta dalam melakukan serangan itu sendiri. 

Daftar Pustaka
Asmuni, Yusran. Dirasah islamiyah II: Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. Ed. 1, cet. 3; Jakarta: PT. RajaGrafiindo Persada, 1998.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Ed. 1, cet. 12; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001.
Soe’yb, Yoesoef. Sejarah Daulat Abbasiyah. Jilid III. Cet. 1; Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Cet. 1; Jakarta: Logos 1997.
al-Wakil, Muhammad Sayyid. Min Tārikh al-Da’wah: Asbāb al-Da’fu al-Ummat al-Islāmiyyah. Diterjemahkan oleh Fadhil Bahri dengan judul Wajah Dunia Islam: Dari Dinasti Umayyah hingga Imperalisme Modern. Cet. 1; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. Diterjemahkan oleh Nawawi Rambe dengan judul Sejarah Dakwah Islam. Cet. 3; Jakarta: Widjaja, 1985.
Mamudunnasir, Syed. Islam: Its Concept and History, diterjemahkan oleh Adang Affandi, Islam: Konsepsi dan Sejarahnya. Cet. 4; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jilid I. Cet. 5; Jakarta: UI-Press, 1985.
Amin, Ahmad. Yawm al-Islām. Diterjemahkan oleh Abu Laila dan Mohammad Tohir dengan judul Islam dari Masa ke Masa. Cet. 3; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. Ensiklopedia Islam. Vol. 3. Cet. 9; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.
Cummings, Mark (Ed.). Ensiclopedia Americana. Vol. 26. USA: Glorier, 2001.
Hitti, Philip K. History of The Arabs. 10th Ed.; Britain: The Macmillan Press, Ltd., 1974.
Tim Penyusun Texbook SKI Dirjen Bimbaga Islam Depag. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jilid 2. Ujungpandang: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama-IAIN, 1982/1983.
Lapidus, Ira M. A History of Islamic Society. Diterjemahkan Ghufran A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Umat Islam, Bagian 1 dan 2. Ed. 1, cet. 1; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999.
Ahmad, Akbar S. Discovery Islam, Making Sence of Muslim History an Society. Diterjemahkan Nunding Ram dan Ramli Yakub dengan judul Citra Muslim, Tinjauan Sejarah dan Sosioogi. Cet. 1; Jakarta: Erlangga, 1992.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: