ISLAM SEBAGAI OBJEK PENGKAJIAN


Oleh:
Nurfaidah M, S.Ag. M.Ag

Abstrak: Pengkajian Islam merupakan studi Islam yang dirumuskan dari ajaran Islam yang dipraktekkan dalam sejarah kehidupan manusia Sebagai objek kajian Islam senantiasa terbuka untuk terus diteliti dari berbagai sudut pandang pendekatan. Sesungguhnya Islam tidak hanya dikaji sebagai agama tetapi juga dapat dikaji sebagai pemikiran, peradaban dan sejarah bahkan ilmu-ilmu sosial lainnya
Dalam pengkajian Islam dikalangan umat Islam, orientasinya berbeda dengan pengkajian kalangan Barat orientalis. Kajian Islam dikalangan umat Islam berangkat dari aspek kepercayaan normatif yang bersumber dari wahyu sedangkan ilmu orientalis berangkat dari fenomena kehidupan sosial budaya umat Islam lalu diamati dan dianalisis melalui metode ilmiah.

Kata Kunci: Islam, objek kajian
Pendahuluan
Dari fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat, Islam memang menarik untuk dijadikan sebagai objek kajian dan dalam mengkaji Islam, tentu kita harus berpedoman pada dua sumber otentiknya yakni Alquran dan hadis.
Pada tulisan ini, saya hendak memetakan anasir di seputar Islam dengan berupaya mendeskripsikannya secara simplitik dengan memilih beberapa persoalan yakni: apa itu Islam, bagaimana pengkajian Islam dalam pengertian sebagai agama, pemikiran, peradaban dan sebagai sejarah.
Orang yang memeluk Agama Islam, yang disebut muslim adalah orang yang bergerak menuju ketingkat eksistensi yang lebih tinggi. Demikian yang tergambar dalam konotasi yang melekat dalam kata Islam apabila kita melakukan suatu kajian tentang arti Islam itu sendiri.
Islam sebagai agama mempunyai konsep yang sempurna, karena Islam dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan (Muin Salim, viii) bukan hanya pada aspek kehidupan duniawi, tetapi juga dalam aspek kehidupan ukhrawi. Islam bukanlah sekedar agama saja, dalam kajian Islam ada cara/metodologi atau serangkaian cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, baik itu masalah-masalah spiritual ataupun masalah-masalah praktis dan intelektual manusia sehingga ia merupakan suatu peradaban.
Untuk memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat, maka seorang muslim mengadakan suatu penafsiran terhadap Alquran dan hadis sehingga timbullah pemikiran Islam, baik yang bersifat tekstual maupun kontekstual.
Jadi, selain Islam sebagai agama, pemikiran atau penafsiran Alquran dan hadis, juga sebagai peradaban dan sejarah, sebuah sistem yang hidup dan dinamis. Sistem ini meliputi sebuah matriks mengenai nilai dan konsep yang abadi. Hidup dan realistis sehingga memberikan karakter yang unik bagi peradaban. Karena Islam merupakan suatu sistem total, maka nilai dan konsep ini menyerap setiap aspek kehidupan manusia.

Pengertian
Islam sebagai nama suatu agama sesungguhnya berarti ‘penyerahan diri kepada Tuhan’ bukan ketundukan, ia bukan pula kepasrahan (Mohammed Arkoun, 17) sebagaimana pengertian yang biasa diterjemahkan orang.
Mukti Ali berpendapat bahwa Islam masuk dalam pengertian perdamaian, karena muslim adalah orang yang memberikan perdamaian dengan Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, Islam pada dasarnya adalah agama perdamaian (Mukti Ali, 50) bukan sebagai paham yang mengajarkan terorisme. Apabila kita mengaitkan dengan pemahaman sejumlah kaum orientalis yang memahami bahwa pengertian Islam identik dengan “Muhammadanisme”, maka Islam hanya dipandang sebagai doktrin yang kaku.
Namun, yang diinginkan di sini adalah Islam yang universal, yang ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Rasul-Nya, Muhammad saw. yang pada hakikatnya membawa ajaran yang bukan hanya satu segi saja, tetapi berbagai macam segi.
Menyikapi berbagai pendapa di atas, maka saya membuat suatu statemen bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang mampu menampilkan dirinya di mana dan kapan saja, sehingga dapat mengarahkan dan mengantarkan manusia ke derajat Ilahiyyah.

Islam sebagai Agama
Sebagai agama yang universal, Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang berlaku untuk semua tempat dan zaman dari segala aspek kehidupan. Ajaran-ajarannya bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak boleh berubah (Harun Nasution, 33) selanjutnya kita pahami bahwa Islam adalah agama Tauhid yang menyembah hanya satu Tuhan yaitu Allah. Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia yang pada hakikatnya membawa ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi tapi berbagai segi (Harun Nasution, 24).
Islam sejak kehadirannya dalam wujud yang definitif, komprehensif, integral dan, otentik yang diindikasikan dan dicirikan dengan adanya wahyu dan Rasulullah sebagai penerima dan penyampai Alquran atau dapat pula disebut sebagai “personifikasi Alquran” menampilkan dirinya secara utuh untuk memasuki semua ruang kehidupan manusia yang multidimensional.
Pada hakikatnya manusia memiliki potensi baragama sebagaimana yang dikemukakan oleh carld Gustave Jung, bahwa agama termasuk hal yang memang sudah ada di alam bawah sadar secara fitri dan alami, sebagai suatu bukti bahwa banyak perbuatan manusia tidak bersesuaian dengan perhitungan-perhitungan material.
Pada setiap keadaan dan perbuatan keagamaan, kita selalu dapat melihat berbagai bentuk sifat seperti ketulusan, keikhlasan, kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan. Fenomena-fenomena seperti ini adalah bersifat keagamaan sehingga dengan demikian Islam sebagai agama mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri (Abuddin Nata, 21-22).
Dalam mengkaji Islam sebagai agama, harus kembali dipelajari secara komprehensif pada sumber ajaran Islam yakni Alquran dan hadis. Alquran adalah kitab suci yang senantiasa relevan dengan perkembangan zaman dan berfungsi sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim dan sebagai penyempurnaan terhadap kitab-kitab Allah sebelumnya.

Islam sebagai Pemikiran
Islam sebagai agama teologis juga merupakan agama pengetahuan yang melahirkan beragan pemikiran, lahirnya pemikiran ini memberi indiksi yang kuat bahwa pada dataran pemahaman dan aktualisasi nilai Islam merupakan suatu wujud keterlibatan manusia dalam Islam, dan bukan berarti mereduksi atau mentransformasikan doktrin esensialnya. Bukankah dalam Islam telah memotivasi pelibatan akal pikiran untuk dikenali, diketahui dan diimplementasikan ajarannya (QS. 96;1). Ajarannya yang berbentuk universal hanya bisa ditangkap dalam bentuk nilai, sehingga ketika ia turun dan jatuh ke tangan manusia, ia baru menjadi bentuk (Muhammad Wahyudi Nafis, 7).
Jadi, ketika pemikiran hendak masuk dalam wilayah Islam untuk dikaji dengan beragam intensi dan motif, sudut pandang atau perspektif, metodologi dan berbagai aspeknya, maka dalam proses dan bentuknya kemudian, Islam dapat dipandang sebagai pemikiran. Islam yang ditunjuk di sini tentu bukan saja apa yang terdapat dalam Alquran dan hadis (tekstuan dan skriptual) tetapi mencakup juga Islam yang berupa pemahaan dan pengejawantahan nilai-nilainya.
Islam batu berbentuk nilai-nilai, jika pemikiran (akal pikiran) dilibatkan dalam proses memahami dan mengaktualisasikannya dalan senarai sejarah Pemikiran Islam terpotret bagaimana pemikiran peminat studi Islam memberi andil kreatif dan signifikan terhadap bangunan pemahaman ajaran Islam dalam berbagai dimensinya yang melahirkan berbagai jenis pengetahuan Islam (ulumul Islam) seperti teologis, filsafat Islam, ulumul Quran dan hadis, ilmu-ilmu syariah dan sebagainya.
Jadi, mengkaji Islam sebagai pemikiran berarti mempelajari apa yang dipahami oleh pemikir-pemikir yang telah mengkaji ajaran-ajaran Islam yang melahirkan bentuk pemahaman atau kajian tertentu.
Islam sebagai Peradaban
Peradaban apapun, adalah hasil pemikiran yang mengkristal dan membentuk suatu masyarakat yang berada pada era pra-peradaban dengan suatu dorongan yang memasukkannya dalam sejarah (Malik bin Nabi, 172) masyarakat tersebut membangun sistem pemikirannya seirama dengan pola asli peradabannya. Sebagaimana pemikiran yang dibawa oleh agama lain, pemikiran yang dibawa oleh agama Islampun seperti di Madinah (Badri Yatim, 25-33) telah berhasil membentuk suatu peradaban.
Madinah yang awalnya dinamai Yastrib sukses dikeluarkan dari iklim jahiliyah ke suatu iklim peradaban yang cemerlang. Dalam konteks inilah, Naquib Al-Attas ketika membicarakan beberapa manifestasi din, beliau mengatakan bahwa salah satu makna din adalah Medinah, negara-kota yang menandai munculnya peradaban Islam. (Ziauddin Sadar, 4) Dari Medinah, Islam tidak hanya muncul sebagai sebuah agama, suatu sistem etika atau bahkan suatu institusi politik, tapi ia menjadi peradaban dan tetap akan menjadi peradaban.
Pada dasarnya, peradaban bisa didefinisikan sebagai himpunan faktor-faktor tertentu, baik yang bersifat materi ataupun non materi yang memberi kemampuan kepada suatu masyarakat tertentu untuk memberikan jaminan sosial kepada seluruh anggota masyarakatnya sehingga bisa meningkatkan diri, peradaban dapat disebut pula sebagai suatu kemampuan menjalankan fungsi atau tugas tertentu.
Dalam wacana studi Islam, mempelajari atau mendekati Islam sebagai suatu peradaban menempati posisi signifikan dalam pemerolehan pemahaman ajaran yang sejati dan utuh, Ziauddin menilai pendekatan ini begitu signifikan karena hanya mendekati Islam sebagai suatu peradaban, kita bisa sungguh-sungguh berbuat adil kepada Din Islam (Ziauddin Sadar, 173).
Mengapa sedemikian signifikannya pendekatan ini? Menurrut hemat penulis dalam memandang Islam sebagai peradaban adalah cara pandang yang cenderung tidak menggiring pada cara pandang yang parsialis, aspektual dan pemaksaan gagasan intelektual belaka yang cenderung subyektif. Karena seumpama ketika Alquran memberi gagasan pemikiran dalam aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dan sebagainya dan peminat studi Islam hanya mengkaji gagasan itu secara aspektual saja, apalagi dengan pendekatan-pendekatan doktriner-teologis saja, maka akan tampak corak kajiannya begitu atomistik dan terpisah-pisah.
Peletakan Islam sebagai peradaban dalam kegiatan pengkajian Islam sangat memungkinkan menjadikan Islam seabagai wilayah yang dapat dimasuki oleh pendekatan interdisipliner sehingga dapat ditemukan bagaimana daya vitalitas Islam berdialog dengan sejarah di era lalu, kini dan esok.

Islam sebagai Sejarah
Hadirnya Islam dalam pentas sejarah manusia sebagai mikrokosmos untuk memperkenalkan Tuhan lewat penyikapan makrokosmos sebagai perlambangan adanya realitas atau adikodrati (Tuhan) (QS 3; 190-191, 13; 2-3) dengan maksud agar lewat perkenalan itu manusia dapat berkemampuan meranah sejarahnya secara ilahiyah guna meraih sukses dunia akhirat.
Lalu, setelah ajaran-ajaran-Nya ditangkap kreatif oleh manusia atau sekelompok manusia yang kemudian disebut muslim mendorongnya melahirkan kebudayaan dan peradaban Islam. Karena berbincang mengenai sejarah, berarti berbincang dengan yang empiris yang mendunia. Maka ketika Islam didudukkan sebagai sejarah berarti Islam yang dimaksud adalah Islam yang terdapat di dalam perilaku dan dinamika sosial dan budaya ummat dalam arti keseluruhannya.
Pengkajian Islam lewat cara pandang ini sebagaimana melihat Islam sebagai peradaban juga cukup menarik dan aktual untuk memperoleh pemahaman seantero tentang esensi Islam, karena cara pandang ini dapat diselidiki esensi Islam dengan mempertautkan secata kohesif nilai idealitas yang tunggal (universal) dan nilai empiris yang heterogen (temporalistik dan lokalistik). Islam kemudian terwujud sebagai gugusan pengalaman sejarah yang jangkauan radiasinya terhadap masa depan dunia Islam.
Beragam pendekatan, terutama antropologis, sosiologis, fenomenologis dan sebagainya dapat bekerja sama satu sama lain secara sintesis untuk memahami Islam lewat cara pandang ini, misalnya seorang sosiolog hendak mengkaji prinsip-prinsip sosoial Islam tentu untuk menelusurinya selain harus mempelajari teks sumber otentik Islam, juga harus berbincang dengan Islam sebagaimana yang diaktualisasikan oleh masyarakat Islam dalam pentas sejarah lalu menarik benang merah keduanya.

Kesimpulan
1. Islam adalah agama yang ada sejak adanya manusia yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Rasul-Nya Muhammad saw yang pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran multidimensional (Kaffah).
2. Islam sebagai din secara konsepsional dapat diletakkan sebagai pemikiran, peradaban dan sejarah. Kesemuanya tidak merupakan sistem yang terpisah, tapi ia merupakan bentuk cara pandang untuk melihat wajah Islam dalam beragam dimensi.
3. Islam sebagaimana dalam penegertian di atas sangat memungkinkan dapatnya masuk beragam pendekatan dan metodologi ilmiah untuk studi Islam kontemporer. 

Daftar Pustaka
Alquran Karim
Abdullah, Taufiq dan M. Rusli Karim. Metodologi Penelitian Agama (sebuah pengantar). Cet.1; Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1989.
Ali, Mukti. Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam. Cet. II; Bandung: Mizan, 1993
Al-Attas, Muhammad Naquib. Islam and the Philosophy of Science diterjemahkan oleh Saiful Muzani dengan judul Islam dan filsafat sains. Cet. I; Bandung: Mizan, 1995
Arkoun, Mohammad. Rethinking Islam: Common Questions Uncommon Answer Diterjemahkan oleh Yudian W. Asmin dan Lathiful khuluk dengan judul Retinking Islam, Cet. I; Yogyakarta: LPMI, Pustaka Pelajar, 1996.
Bakar, Osman. Tauhid and Science: Essay on the history and philosophy of Islamic Science. Deterjemahkan oleh Yuliani Lipoto dengan judul Tauhid dan sains: esai-esai tentang sejarah dan filsafat sains Islam. Cet. I; bandung: Pustaka Hidayah, 1994.
Bin Nabi, Malik. Syuruth Al-Nahdah. Diterjemahkan oleh Abdul Adhien dengan judul Menbangun Dunia Baru Islam, Cet. II; Bandung: Mizan, 1995.
Madjid, Nurcholis. Islam Agama Kemanusiaan. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1995.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jilid I. Cet. V; Jakarta: UI Press, 1985.
___. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Cet. III; Jakarta, Mizan, 1995.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.
Salim, Abdul Muin. Konsepsi Kekuasaan Politik dakam Alquran. Cet. I; Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 1994.
Sadar, Ziauddin. Jihad Intelektual: Merumuskan peremeter-peremeter sains Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1998.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Cet. IV; Jakarta: Rajawali Grafindo, 1996.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: