KEHANCURAN PERADABAN ISLAM


Oleh:

Hasan Basri, M.Pd.I

Abstrak: Peradaban Islam terbangun dari penerapan syariat Islam dalam kehidupan yang menjadi ideologi yang mengharuskan adanya penjagaan dari Negara. Peradaban Islam muncul dari adanya aqidah akliyah yang muncul dari pemikiran mendalam terhadap esensi kehidupan. Kehancuran peradaban Islam bermula dari lemahnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya. Kelemahan pemahaman Islam berawal dari pengaburan makna nas-nas, baik Alquran maupun hadis yang dilakukan secara bersamaan dengan menjauhkan umat Islam dari bahasa Arab (bahasa yang digunakan oleh nas). Dari sinilah upaya sistematis penghancuran peradaban dirintis yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisasi). Ketika umat Islam telah memisahkan agamanya dengan kehidupan, saat itulah mulai masuknya peradaban barat ke jantung umat Islam dengan diterapkannya sistem pemerintahan demokrasi di tengah-tengah umat Islam. Pada saat itulah benar-benar terjadi kehancuran peradaban Islam.
Agar umat Islam bisa bangkit kembali dari kehancuran, harus kembali mengambil semua ajaran Islam untuk diterapkan dalam kehidupan. Jalan ke arah itu adalah dengan membangkitkan umat Islam melalui pemikiran.

Kata Kunci: peradaban Islam, kehancuran

Pendahuluan
Pada masa-masa awal kebangkitan umat Islam, musuh-musuh Islam baik dari kalangan Arab maupun nonArab berusaha untuk menghancurkan umat Islam. Oleh karena itu, mereka senantiasa melakukan perlawanan dengan berbagai bentuknya. Mereka melawan umat Islam dengan melakukan serangan pisik secara terbuka seperti yang mereka lakukan dalam rentetan perang di zaman Nabi saw. Di Madinah. Selanjutnya mereka juga melakukan perlawanan di masa kepemimpinan para khalifah dan yang sangat terkenal adalah perlawanan salib.
Kini upaya-upaya tersebut tidak lagi dilakukan. Hal itu karena mereka telah mendapat cukup pengalaman bahwa Islam dan umat Islam tidak dapat dilemahkan begitu saja dengan serangan pisik. Hal itu disebabkan adanya fanatisme agama yang telah mendarah daging dalam diri umat Islam yang sangat mudah disulut untuk melakukan perlawanan. Hal itu muncul dari adanya pemahaman Islam yang tersimpan dalam diri kaum muslimin. Oleh karena itu, cara yang mereka lakukan adalah dengan melemahkan pemahaman Islam terlebih dahulu.

Upaya Menghancurkan Peradaban Islam
Upaya untuk melemahkan pemahaman kaum muslimin terhadap Islam itu dilakukan dengan berbagai cara, yakni: serangan terhadap nas-nas Islam, menjauhkan umat Islam dari bahasa Arab, pengaburan pemahaman Islam, dan serangan peradaban dan pemikiran (Taqiyuddin al-Nabhani, 2009: 203-209).

1. Serangan terhadap Nas-nas Islam
Karena serangan pisik terhadap umat Islam justru berpotensi mengakibatkan kekalahan pihak musuh Islam, maka yang dilakukan adalah dengan menyerang nas-nas, baik Alquran maupun hadis Rasulullah saw. Serangan terhadap Alquran tidak begitu mendapat perhatian karena Alquran bersifat pasti karena penyampaiannya kepada kaum muslimin berlangsung secara mutawatir dari Nabi saw. ke sahabat, ke tabi’in, ke tabi’it tabi’in, terus sampai sekarang. Sehingga yang mungkin dilakukan adalah dengan memalingkan pemahaman umat Islam terhadap ayat-ayat Alquran. Cara yang ditempuh adalah menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan pendekatan filsafat serta dengan berpijak pada asas maslahat. Hal ini dilakukan untuk memaknai bahwa Islam adalah rahmat bagi alam, sehingga ia harus sesuai dengan zaman. Bukan zaman yang disesuaikan dengan Islam, melainkan Islam yang disesuaikan dengan zaman.
Sasaran yang paling empuk untuk menyerang kekuatan nas-nas Islam adalah dengan menyerang hadis Nabi saw. Cara yang dilakukan adalah dengan memalsukan hadis-hadis Nabi saw. Upaya pemalsuan itu telah mulai dilakukan pada masa pemerintahan Kkhalifah Ali bin Abi Thalib ra. (memerintah 35-40 H/656-661 M). Kegiatan pemalsuan itu pun terus berlanjut setelah Ali wafat, apalagi terjadinya ketegangan yang berkepanjangan antara pihak pendukung Ali (Syi’ah) dengan pihak pemerintah (Bani Umayyah). Cara itulah yang paling tepat untuk menyusupkan pemahaman salah di kalangan umat Islam. Kaum Zindiq dengan berbagai cara menyusupkan hadis-hadis palsu dan menyebarkannya ke dunia Islam. Jika terjadi perselisihan di kalangan umat Islam mengenai suatu masalah, maka momen itulah yang paling penting digunakan untuk memunculkan hadis-hadis palsu.
Akan tetapi, upaya ini cepat disadari oleh kaum muslimin. Para ualam kemudian segera melakukan pengumpulan dan penulisan hadis-hadis Rasulullah saw. Upaya ini dimulai oleh generasi tabi’in. Gubernur Mesir Abdul Aziz bin Marwan mulai merintis upaya penulisan hadis-hadis Nabi saw. Upaya tersebut dilanjutkan oleh putranya Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) ketika menjadi khalifah. Khalifah memerintahkan secara resmi kepada ulama hadis untuk menulis hadis, meskipun sebenarnya telah dilakukan oleh para ulama, tetapi secara sendiri-sendiri. Khalifah memerintahkan kepada seluruh pejabat dan ulama di seluruh wilayah untuk melakukan penulisan hadis pada akhir tahun 100 H. Salah seorang ulama yang berhasil mengumpulkan hadis sebelum khalifah wafat adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (124-742), yang lain adalah Imam Malik bin Anas di Madinah dengan kitabnya al-Muwatha’. (Arifuddin Ahmad, 2005: 36). Selanjutnya penulisan hadis dengan maksud memisahkannya dari hadis-hadis paslu terus bergulir sehingga muncul ulama hadis ternama, seperti Imam Bukhri, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam al-Nasa’i, Imam al-Tirmizi, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, dan lain-lain.
Dengan adanya upaya tersebut, maka serangan terhadap hadis-hadis Rasulullah saw. dapat dipatahkan. Meskipun upaya pengaburan hadis-hadis tersebut masih terus berlanjut, tetapi setidaknya tidak terlalu berbahaya, karena para ulama telah menumpahkan perhatian untuk menyusun kaedah-kaedah kesahihan hadis yang menjadi pedoman penelitian hadis pada masa selanjutnya yang terus digunakan oleh para ulama sampai sekarang.

2. Menjauhkan Bahasa Arab dari Islam
Umat Islam ketika menaklukkan bangsa-bangsa selalu berpegang pada Alquran dan sunnah Rasul serta bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan satu kesatuan dengan peradaban umat Islam sehingga sulit dipisahkan. Bahasa Arab juga dijadikan sebagai bahasa persatuan umat Islam.
Pada abad ke-6 H., umat Islam dipimpin oleh orang-orang yang tidak mengerti arti penting bahasa Arab. Mereka mengabaikan penjagaan terhadap bahasa Arab, sehingga sedikit demi sedikit Islam mulai terjauhkan dari bahasa Arab. Dengan berkurangnya perhatian terhadap bahasa Arab, maka ijtihad terhenti, karena tidak mungkin ulama berijtihad menggali atau meng-istimbath hukum tanpa menguasai bahasa Arab. Akibatnya, banyak masalah-masalah kehidupan yang dihadapi Negara tidak mendapatkan pemecahan sesuai ajaran Islam. Atau kalaupun terpecahkan, tidak dengan cara yan benar. Menumpuklah banyak problem yang tidak terpecahkan yang dihadapi olehl Negara Islam yang mengakibatkan melemahnya kekuatan Negara.
Di tengah kondisi umat seperti itulah muncul upaya gencar untuk menyesatkan umat Islam dari ajaran agamanya. Hal itu sangat gampang dilakukan karena umat Islam tidak lagi mampu memahami Alquran tanpa bantuan orang lain untuk menerjemahkan dan menafsirkannya. Hal yang sama juga terjadi pada hadis-hadis Rasulullah saw.
Sampai hari ini, dampak menjauhnya umat Islam dari bahasa Arab menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap produk terjemahan dan tafsir, dimana non muslim (orientaslis) juga banyak ambil andil dalam kegiatan penafsiran Alquran dan hadis. Bahkan tidak sedikit di antara orientalis sekarang yang mampu menguasai bahasa Arab bahkan menghafal Alquran dan sejumlah banyak hadis melebihi umat Islam kebanyakan.

3. Mengaburkan Pemahaman Islam
Setelah umat Islam dijauhkan dari bahasa Arab, maka upaya selanjutnya yang ditempuh musuh-musuh Islam adalah menyisipkan pemahaman keliru ke dalam penafsiran makna ayat dan hadis. Penyisipan itu dilakukan secara hati-hati dengan pemaknaan yang sangat halus agar umat Islam tidak merasakan kehadirannya.
Makna-makna ayat maupun hadis ditafsirkan berdasarkan pemahaman filsafat barat yang hanya bersandar pada logika materi. Ayat-ayat mutasyabihat pun ditafsirkan secara logika manusia, yang menyebabkan terjadinya pemahaman yang rancu dan membingungkan (Taqiyyuddin al-Nabhani, 2008: 70-71). Untuk mengatasinya digunakanlah pemalingan makna, yang justru menjauhkan nas dari makna semula. Orang yang tidak suka dengan pemalingan itu kemudian memahami nas secara tekstual, sempit yang mengakibatkan pensifatan yang sama antara Tuhan dengan manusia. Hal itu wajar terjadi karena akal manusia dipaksakan untuk memahami eksistensi Tuhan, padahal akal tidak akan pernah mampu memikirkan hal di luar jangkauannya.
Begitu juga pemikiran filsafat yang ”humanis” dan ”egaliter” digunakan sebagai pendekatan untuk memahami Islam, seolah-olah hal itu sesuai dengan Islam, tetapi sesungguhnya merusak Islam dari dalam. Sebagai contoh, masuknya paham demokrasi yang diasimilasi dengan Islam dan dianggap sesuai karena adanya ayat yang memerintahkan musyawara (QS. al-Syura [42]: 38). Padahal musyawarah dalam Islam tidak sama dengan musyawarah dalam demokrasi. Bahkan asas demokrasi –yang menjadikan hak membuat hukum di tangan manusia– itulah yang bertentangan dengan Islam (Abdul Qadim Zallum, 2009: 9). Contoh lain, ayat tentang tidak ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah [2]: 255) ditafsirkan dengan hak kebebasan setiap orang untuk menjalankan agamanya atau tidak. Padahal yang dimaksudkan ayat itu adalah tidak boleh memaksa orang untuk memeluk agama Islam, tetapi setelah Islam sudah wajib menjalankan semua ajarana agamanya. Masih banyak lagi makna ayat-ayat dan hadis yang dikaburkan oleh musuh Islam untuk menjauhkan mereka dari agamanya. Misalnya, gender, HAM, pluralisme, dan sebagainya. Muncullah pemahaman yang keliru, misalnya paham sufistik yang menjauhi dunia dan meninggalkan hal-hal yang bersifat materi serta menyiksa badan. Akibatnya umat Islam meninggalkan kemewahan dan tidak lagi memperhatikan illmu dan teknologi karena dianggap memperturutkan nafsu (Muhammad Sayyid al-Wakil, 1998: 124).
Antara materi, baik berupa benda maupun perbuatan dipisahkan dengan ruh. Sehingga begitu berbicara mengenai dunia dengan segala fasilitasnya diidentikkan dengan materialistik yang kering dari nilai ruh. Sebaliknya, ketika berbicara mengenai ruh, maka berarti meninggalkan materi.
Wujud nyata dari pengaburan ini adalah munculnya pemahaman bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Unsur jasmani memerlukan makanan pemuas dari hal-hal yang bersifat materi. Sedangkan unsur rohani memerlukan makanan dari hal-hal yang bersifat ruhani pula. Paham ini berimplikasi pada sikap hidup yang menjadikan rohani selalu berlawanan dengan jasmani. Muncullah anggapan bahwa rohani tidak akan bisa berjalan seiring dengan jasmani. Mengasah jasmani berarti menumpulkan rohan. Sebaliknya pun demikian, mengasah rohani berarti menyengsarakan jasmani. Jika seseorang ingin meninggikan rohaninya, maka ia harus menjauhkan diri dari materi sejauh-jauhnya, hidup dalam kefakiran, menyiksa badan dan membiarkannya sampai tunduk kepada rohani. Begitu juga jika seseorang menuruti kebutuhan jasmaninya, maka pasti rohaninya akan kering.
Pemahaman rusak seperti ini masih terasa bercokol di benak umat Islam sampai hari ini. Mempengaruhi pemikiran dan sikap umat Islam sehingga umat Islam harus memilih satu di antara dua aspek tersebut. Sebagai kelanjutan respon terhadap pemahaman dikotomis tersebut, muncullah paham sufi yang hanya mementingkan aspek-aspek spiritual dan menjauhkan diri dari urusan-urusan yang berkaitan dengan materi dan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenaan langsung dengan aspek spiritual, seperti urusan ekonomi, politik, pemerintahan, dan sebagainya.
Akibatnya, umat Islam di semua belahan dunia mengalami kemunduran di segala bidang karena membiarkan bidang-bidang tersebut dikuasai oleh mereka yang dianggap jauh dari agama. Keadaan pun semakin diperparah oleh mereka yang selama ini menguasai aspek-aspek kehidupan material dengan merusak aspek-aspek tersebut. Akibatnya umat Islam semakin membenci aspek-aspek itu. Misalnya, politik yang ditinggalkan oleh umat Islam lalu dipegang oleh mereka yang tidak peduli agama sampai mereka menggunakan segala cara, biar melanggar agama asal tujuan tercapai. Akibatnya, umat Islam menganggap politik itu kotor dan semakin menjauhkan diri darinya.
Upaya pengaburan pemahaman umat Islam ini semakin diperparah dengan hadirnya sebagian kaum muslimin sebagai agen barat dalam melakukan pengaburan pemahaman. Mereka ini adalah orang-orang yang haus akan pengetahuan dan pemimkiran yang dimanfaatkan oleh barat. Mereka disekolahkan di barat, dicuci otaknya dengan pemahaman Islam versi barat (Syed Sajjad Husain & Syed Ali Asyraf, 1994: 3). Setelah kembali dari belajar Islam di barat, mereka mengajari umatnya dengan pemahaman yang kabur tersebut.
Jika dicermati, jalur-jalur yang ditempuh barat dalam rangka menjauhkan umat Islam dari agamanya dapat dilihat sebagai berikut:
a. infiltrasi pemikiran ke dalam tubuh organisasi massa Islam, dengan mengkader tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam tubuh Ormas Islam.
b. infiltrasi melalui lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi Islam dengan memberikan bantuan studi kepada dosen-dosen ke barat seperti Ford Foundation, Fullbright, dan sebagainya.
c. melalui proyek-proyek bantuan asing dengan mengatasnamakan penelitian, seminar, lokakarya, dan penerbitan media dan buku yang mengusung ide-ide SIPILIS (sekularisme, pluralisme, liberalisme).
d. Ekspose tokoh-tokoh liberal-sekular melalui media massa agar gaung pemikiran mereka lebih menggema ke atas seluruh umat Islam, mengalahkan tokoh-tokoh Islam yang murni
e. Kerja sama pemuda dan pelajar serta kunjungan ke luar negeri, dalam bentuk pertukaran pemuda dan pelajar (Fathiy Syamsuddin Ramadhan al-Nawiy, 2010: 14-16).

4. Serangan Peradaban
Barat membawa peradaban yang bertentangan dengan peradaban Islam. Barat menawarkan peradaban itu dengan memberikan hayalan yang menyesatkan bahwa apa yang mereka tawarkan adalah bersumber atau sesuai dengan peradaban Islam. Mereka menawarkan system-sistem dan undang-undang yang mereka katakan sesuai dengan Islam. Mereka juga berdalih bahwa syraiat Islam ditujukan untuk mencapai kemaslahatan dan manfaat sebesar-besarnya. Mulailah umat Islam memandang segala sesuai berdasarkan asas manfaat. Hukum-hukum Islam dilihat berdasarkan aspek manfaat, bukan berdasarkan kesadaran ketaatan terhadap huku-hukum Allah itu. Dengan mengubah pemikiran inilah maka dengan mudahnya mereka menjadikan umat Islam mengekor kepada mereka dengan alasan perkembangan zaman.
Islam kemudian dimaknai sebagai rahmat bagi seluruh alam yang berati Islam selalu sesuai untuk segala tempat dan zaman. Akibat buruk dari semua itu adalah ketika ada masalah muncul yang hal itu tidak sesuai dengan nas-nas yang tercantum dalam Alquran dan sunnah, umat Islam menganggap nas-nash itu yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Contoh paling dekat adalah dengan mengadopsi hukum peradilan barat yang nyata-nyata bertentangan dengan hukum Islam.
Virus sangat berbahaya dari semua serangan pemikiran barat adalah sekularisasi. Sekularisasi adalah upaya memisahkan antara agama dengan kehidupan (faşl al-dīn ’an al-hayah). Sekularisasi mengajarkan bahwa urusan agama harus dipisahkan dari urusan dunia. Doktrin resmi sekularisme adalah urusan dunia diatur oleh negara, sementara urusan agama diatur oleh kitab suci atau Tuhan. Dengan doktrin sekularisme yang telah menjalar ke seluruh dunia, menyebabkan pemisahan dua pemimpin dalam kehidupan, dalam hal agama harus ikut ulama, dalam hal urusan dunia harus ikut pemerintah. Hal inilah yang mengikis sedikit demi sedikit dan mengkerdilkan ajaran Islam, sehingga ajaran Islam tidak lagi bisa diterapkan dalam mengatur masyarakat.

5. Pembunuhan Karakter
Setelah berhasil meracuni pemikiran umat Islam dengan paham sekularisme, musuh-musuh Islam kemudian berpindah ke tahap berikutnya, yakni melakukan pembunuhan karakter. Para penguasan negeri yang memusuhi Islam senagaja menimbulkan pemiskinan di negeri-negeri kaum muslimin dengan mendikte pemerintahnya untuk menerapkan sistem ekonomi kapitalisme-liberal. Kepala-kepala negaranya ditekan agar segera mengurangi keterlibatan negara dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat dengan melakukan privatisasi/swastanisasi, kebebasan investasi, serta pasar bebas (global market/free trade). Masuklah perusahaan-perusahaan asing untuk menguras sumber daya alam, memonopoli perdagangan, dan sebagainya. Akibatnya adalah rakyat semakin merasakan kesulitan hidup yang berarti kemiskinan semakin bertambah. Karena miskinan meraja lela, maka gejolak sosial pun meningkat, kekecewaan rakyat terhadap pemimpin meningkat, gelombang demonstrasi menuntut hak terus bergulir yang mengakibatkan terjadi bentrok dengan aparat pemerintah. Gerakan ini muncul sebagai akibat langsung dari kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemimpinnya. Mereka membutuhkan adanya perubahan yang dilakukan oleh pemerintah, tetapi justru pemerintah tidak memperdulikannya. Mereka menginginkan perubahan, tetapi arah dan cara melakukan perubahan itu tidak jelas, sehingga muncul gelombang anarkis, pengrusakan massal, dan sebagainya.
Dampak jangka panjang dari kekecewaan terhadap pemimpin tersebut adalah munculnya gerakan separatis dan aksi teroris. Kedua gerakan inilah yang dijadikan alasan untuk menyebut bahwa umat Islam adalah teroris. Padahal sangat mungkin gerakan-gerakan teroris tersebut diorganisir sendiri oleh musuh terbukti dengan sulitnya ditemukan akar intelektualnya.

Penutup
Kehancuran peradaban Islam bermula dari lemahnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya. Kelemahan pemahaman tersebut itulah yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam.
Kelemahan pemahaman Islam berawal dari pengaburan makna nas-nas, baik Alquran maupun hadis yang dilakukan secara bersamaan dengan menjauhkan umat Islam dari bahasa Arab (bahasa yang digunakan oleh nas). Dari sinilah upaya sistematis penghancuran peradaban dirintis yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisasi). Ketika umat Islam telah memisahkan agamanya dengan kehidupan, saat itulah mulai masuknya peradaban barat ke jantung umat Islam dengan diterapkannya sistem pemerintahan demokrasi di tengah-tengah umat Islam.
Pada saat umat Islam mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi, maka pada saat itulah awal dari kehancuran Islam dengan runtuhnya kekhalifahan pada tanggal 3 Maret 1924 M. Sejak saat itu, umat Islam tidak lagi memiliki pemimpin yang menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan yang menjaga akidah umat Islam serta mengemban dakwah ke seluruh dunia.
Agar umat Islam bisa bangkit kembali dari kehancuran itu, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali mengambil semua ajaran Islam untuk diterakan dalam kehidupan. Jalan terang ke arah itu adalah dengan membangkitkan umat Islam melalui pemikiran, bukan dengan kekerasan karena hal itu akan semakin menjauhkan umat Islam dari kebangkitan. Dakwah harus diarahkan untuk mengubah pemikiran umat Islam agar mereka dengan rela mengikatkan diri pada ajaran agamanya secara murni dan kaafah.

Daftar Pustaka
Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi, Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Muhammad Syuhudi Ismail. Cet. 1; Jakarta: Rennaisan, 2005.
Husain, Syed Sajjad & Syed Ali Asyraf. Crisis Muslim Education. Rahmawati Astuti, Menyongsong Keruntuhan Pendidikan Islam. Bandung: Gema Risalah Press, 1994
al-Nabhani, Taqiyuddin. Dawlat al- Islāmiyyah, diterjemahkan oleh Umar Faruq, Daulah Islam. Cet. 4; Jakarta: HTI-Press, 2009.
al-Nabhani, Taqiyuddin. Al-Syakhşiyyah al-Islāmiyyah, diterjemahkan oleh Zakia Ahmad, Kepribadian Islam. Cet. 1; Jakarta: HTI-Press, 2008.
al-Nawiy, Fathiy Syamsuddin Ramadhan. “Strategi Membendung Liberalisasi Ormas Islam”, al-Wa’ie. No. 117 Tahun X, 1-31 Mei 2010.
Al-Wakil, Muhammad Sayyid. Wajah Dunia Islam, Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern. (terjemahan Fadhli Bahri). Cet. 5; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.
Zallum, Abdul Qadim. Demokrasi Sistem Kufur, Haram Mengambil, Menerapkan dan Menyebarluaskannya (terjemahan M. Shiddiq al-Jawi). Cet. 4; Bogor: PTI, 2009.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: