KONSEP PENDIDIKAN IBNU TAYMIYAH Tujuan Pendidikan dan Metode Pembelajaran


Oleh:
Hasan Basri, M.Pd.I

Abstrak: Ibnu Taymiyah meletakkan ilmu sebagai hal yang tidak bebas nilai. Ilmu harus bernilai tauhid sekaligus bernilai kemanusiaan atau yang disebutnya sebagai tabiat insaniyah. Oleh karena itu, inti dari konsep pendidikannya adalah berupaya mengembalikan umat Islam agar mengamalkan Islam dengan cara menggali dari sumber pokoknya, yakni Alquran dan sunnah.
Metode pembelajaran menurut Ibnu Taymiyah dapat dibagi dua, yakni metode menutut ilmu (metode belajar) dan metode mengajarkan ilmu (metode megajar). Kedua metode ini menurutnya hendaknya dilandasi oleh kesucian sebagaimana kesucian ilmu itu sendiri. Oleh karena itu bagi pelajar hendaknya dalam menutut ilmu dilandasi oleh semangat mencari rida Allah. Sementara para guru, di samping dilandasi oleh keihlasan niat, hendakya juga melandasi niatnya dalam rangka mewarisi tugas kenabian dalam mendidik umat.

Kata Kunci: pendidikan, Ibnu Taymiyah.

Pendahuluan
Di dunia Islam dewasa ini ada dua sistem pendidikan yang telah dikenal. Pertama, sistem pendidikan tradisional yang tampak membatasi dirinya pada pengetahuan klasik, belum menunjukkan adanya minat yang kuat terhadap cabang-cabang pengetahuan baru yang telah berkembang di barat beserta metode-metodenya yang berhasil menemukan teknologi mutakhir. Kedua, sistem pendidikan yang didatangkan ke negeri-negeri muslim yang disokong sepenuhnya oleh hampir semua pemerintahan di negara-negara muslim. Sistem yang dibawa dari barat ini pada puncaknya melahirkan sistem pendidikan universitas modern yang tidak mengindahkan agama dalam pendekatannya terhadap ilmu pengetahuan.
Semangat kebangkitan Islam di abad ke-15 H. ini ternyata telah memberikan kesadaran bagi kalangan umat Islam untuk menciptakan sistem pendidikan ketiga yang memadukan antara dua sistem di atas. Namun perlu diwaspadai, bahwa kemunculan sistem ketiga itu dapat menuntun sistem tradisional ke arah keruntuhannya atau penurunan kedudukannya sehingga orang memandang rendah kepadanya. Barangkali umat Islam selalu penting untuk menggali khazanah pendidikan yang telah jaya di masa lampau, juga menggali penyebab-penyebab sehingga bisa mundur setalah kejayaannya.
Di masa kemunduran Islam secara global pada abad ke-13 M, sebenarnya masih ada di kalangan ulama yang memiliki gagasan yang jernih untuk memajukan pendidikan Islam, namun gemuruh kemunduran yang telah membising di mana-mana menyebabkan suara mereka terkadang tidak terdengar. Salah seorang tokoh di zaman kemunduran itu yang penting artinya di zaman modern ini adalah Ibnu Taymiyah. Ia ini amat dikenal dengan gagasan-gagasannya di lapangan pemikiran Islam, namun mungkin agak kurang diungkap gagasan dan pemikirannya dalam lapangan pendidikan.
Tulisan ini membahas konsep-konsep Ibnu Taymiyah dalam bidang pendidikan, khususnya mengenai tujuan pendidikan dan metode pembelajaran.

Riwayat Singkat Ibnu Taymiyah
Nama sebenarnya adalah Taqiy al-Dîn Abu al-Abbas Ahmad bin ‘Abd al-Salâm bin Taymiyah. Nama lengkapnya adalah Taqiy al-Dîn Abu al-Abbas Ahmad bin ‘Abd al-Halîm bin ‘Abd al-Salâm bin Abi al-Qasim bin Muhammad bin al-Khidir bin ‘Alî bin ‘Abdullâh bin Taymiyah al-Harrani Hambali. Di lingkungan keluarga lebih dikenal dengan nama Abu al-Abbas. Ia lahir di Harran, Turki, 10 Rabiul Awwal 661 H/22 Januari 1263 M. wafat di Damaskus, 20 Zulkaedah 728 H/26 atau 27 September 1328 M. Ia lahir dari keluarga cendikiawan. Ayahnya Syihabuddin Abdul Halim bin Abdul Salam (627-682 H), adalah seorang ahli hadis dan ulama terkenal di Damaskus. Mereka ini adalah pemuka dalam mazhab Hambali dan kuat berpegang pada ajaran salaf.
Pada tahun 668 H/1269 M, ketika itu usianya baru tujuh tahun, ia beserta keluarganya terpaksa lari ke Damaskus karena khawatir menjadi korban kekejaman pasukan Mongol.
Pendidikan Ibnu Taymiyah dimulai dengan belajar Alquran (pada usia 7 tahun sudah hafal Alquran) dan hadis pada ayahnya sendiri. Kemudian memasuki Madrasah Dâr al-Hadîś al-Sukkariah di Damaskus dan mempelajari berbagai ilmu keislaman. Sejak usia 10 tahun, ia telah mempelajari kitab Musnad Ahmad (tulisan Ahmad bin Hambal, termasuk Kutub al-Sittah, Mu’jam al-Ţabarî. Ia juga belajar ilmu hitung, mendalami ilmu kalam dan filsafat. Di antara ulama terkemuka yang menjadi guru Ibnu Taymiyah adalah: Syams al-Dîn ‘Abd al-Rahmân bin Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi (597-682), seorang faqih dan hakim agung pertama dari kalangan mazhab Hambali di Suria. Gurunya yang lain Muhammad bin ‘Abd al-Qawi bin Badran al-Maqdisi al-Mardawî (603-699), seorang ahli hadis, fiqh, tata bahasa, dan mufti; Manja bin Uśmân bin As’âd al-Tanawwukhi (631-695), ahli fiqh, usul fiqh, tafsir dan nahwu; Muhammad bin Ismâ’îl bin abi Sa’âd al-Syaybâni (687-704), dan ratusan ulama lainnya.
Pada tahun 683 H, ketika menginjak usia 21 tahun, ia diangkat menjadi guru besar hukum mazhab Hambali menggantikan kedudukan ayahnya setelah wafat. Ibnu Taymiyah dikenal sebagai ahli hadis, ahli kalam, ahli fiqh, mufasir, filosof dan sufi. Keluasan ilmunya mebuat ia dikenal dengan Syaykh al-Islâm.
Selama hidupnya Ibnu Taymiyah menghadapi banyak tantangan, sebagaimana lazimnya ulama yang konsisten dengan pendirinnya. Pada tahun 691/1291, Ibnu Taymiyah pergi ke Mekah, dan tahun 698/1298 ketika berada di Kairo dan pernah ditunjuk sebagai penasehat perang suci melawan Mongol. Ia mempunyai peranan penting dalam kemenangan melawan Mongol di Śakab dekat Damaskus.
Pada tahun 705/1306, bersama dengan Qâdhî Syâfi’î, dimana setelah lima kali pertemuan di ruang sidang sultan, ia dituduh seorang anthropomorphisme dan dihukum dalam pengasingan di lembah yang dibentengi gunung selama satu setengah tahun.
Tahun 707/1308, Ibnu Taymiyah diperiksa sehubungan dengan tulisannya yang melawan Ittihadiyah, namun tidak terbukti bersalah. Ia kembali dipenjara di benteng Iskandariyah selama 8 bulan, kemudian kembali ke Kairo. Pada tahun 712 ia diberi tugas mendampingi tentara ke Syiria. Dan dengan melalui Yerusalem, ia masuk lagi ke Damaskus (setelah lebih 7 tahun tidak berada di sana). Dan ia pun mulai mengajar di sana. Namun pada tahun 718/1318 ia dilarang memberi fatwa oleh kerajaan, namun tetap melakukannya, sehingga pada tahun 720/1320 kembali dipenjara di benteng Damaskus selama lebih 5 bulan, namun dibebaskan kembali atas perintah Sultan. Ia tetap melancarkan serangan terhadap pemikiran dan praktek mengotori agama dengan tradisi-tradisi ke kuburan orang-orang suci. Sehingga tahun 726/1326, ia kembali diasingkan ke benteng Damaskus. Dalam tahanan inilah ia menulis tafsir Alquran, dan beberapa risalah untuk menyerang para penentangnya.
Setelah karya-karyanya diketahui, maka Ibnu Taymiyah tidak lagi diberikan kertas dan alat tulis. Di sinilah, ia merasakan pukulan terberat yang pernah dialaminya, ia pun jatuh sakit dan meninggal pada hari Minggu malam Senin 20 Zulqa’adah 728 H. bertepatan dengan tanggal 26/27 September 1328 M.
Meski Ibnu Taymiyah telah tiada, namun pengaruhnya sangat besar terhadap bangkitnya semangat pemurnian dan pembaruan di dunia Islam. Bahkan ialah sebenarnya yang dianggap sebagai perintis upaya pembaharuan di dunia Islam. Usaha-usahanya kemudian diteruskan oleh para ulama sesudahnya, seperti murid terdekatnya Ibnu Qayyim al-Jawziyah. Selanjutnya oleh ulama-ulama seperti Muhammad bin ‘Abd al-Wahab (1703-1787 M.) di Arab Saudi, Muhammad bin Sanûsi (1791-1859 M.) di Libya, Jamaluddin al-Afgani (1839-1897 M), Muhammad ‘Abduh (1849-1906 M.), dan Rasyid Rida (1865-1935 M) di Mesir, dan lain-lain.
Karya Ibnu Taymiyah tidak kurang dari 500 buah. Kitabnya yang terkenal: Kitâb al-Radd ‘alâ al-Mantiqiyyah (jawaban terhadap ahli mantiq), Manhaj al-Sunnah al-Nabawiyah (metode sunnah Nabi), Majmû’ul Fatawa (kumpulan fatwa), Bayân Muwâfaqât Şâlih al-Ma’qûl Şarih al-Manqûl (uraian tentang kesesuian pemikiran yang benar dan dalil naqli yang benar), al-Radd alâ al-Hulûliyah wa al-Ittihâdiyah (jawaban terhadap paham hulul dan ittihad), Muqadimmah fî Uşûl al-Tafsîr (pengantar dasar-dasar tafsir), al-Radd ‘alâ al-Falsafah Ibn Rusyd (jawaban terhadap filsafat Ibn Rusyd), al-Iklîl fî al-Mutasyâbah wa al-Ta’wîl (suatu pembicaraan mengenai ayat mutasyabih dan takwil), al-Jawâb al-Şahîh li man Baddala Îmâm al-Masîh (jawaban yang benar tehadap orang-orang yang menggantikan iman terhadap al-Masih), al-Radd ‘alâ al-Nuşayriyah (jawaban terhapa paham Nusairiyah), Risâlah al-Qubrusiyah (risalah tentang paham Qubrusiyah), Iśbât al-Ma’âd (menentukan tujuan), Şubût al-Nubûwât (eksistensi kenabian), dan Ikhlâş al-Râ’i wa al-Râiyat (keihlasan pemimpin dan yang dipimpin).
Buku-buku tulisan Ibnu Taymiyah hampir semuanya berisi kritikan terhadap paham keagamaan yang ekstrim yang berkembang di dunia Islam, bukan saja dari paham ekstrim, seperti dalam lapangan teologi, filsafat, tasawuf, dan kebatinan, tapi juga aliran-aliran moderat, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan para pemikir Islam, seperti al-Gazali, Ibn Arabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Sebuah kritikan tajam yang dilontarkan oleh Ibnu Taymiyah kepada umat Islam kala itu ialah penyeranganya terhadap cara memuja para ulama dan kebiasaan ziarah ke kuburan-kuburan. Bahkan ia berpendapat bahwa ziarah ke kuburan seorang muslim hukumnya haram, kecuali ziarah itu sangat diperlukan atau menggunakan waktu-waktu tertentu.
Meskipun Ibnu Taymiyah sangat bebas dalam pemikirannya, namun kelihatan masih ‘meringkuk’ dalam doktrin politik kuno yang lebih mengutamakan stabilitas dari pada kemajuan. Ia masih berpegang pada ungkapan, bahwa “enam puluh hari pemerintahan zalim masih lebih baik dari pada sehari dalam kekacauan’. Hal ini mungkin disebabkan kondisi umat Islam di saat ia hidup berada dalam situasi kehancuran akibat serangan bangsa Mongol.
Mencermati gagasan dan pemikiran Ibnu Taymiyah, Nurcholis Madjid berkesimpulan bahwa Ibnu Taymiyah sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pelopor faham kesufian baru (neo-sufisme) yang dipandangnya lebih cocok dengan semangat dasar ajaran Alquran. Hal itu dapat dilihat dari gencarnya ia mengkritik pemahaman-pemahaman dan otoritas tradisi umat Islam yang sudah mapan dengan seruannya membuka lebar-lebar pintu ijtihad. Namun di sisi lain terlihat ia sangat kuat berpegang pada pemahaman harfiah terhadap sumber-sumber ajaran agama.
Pengaruh kuat Ibnu Taymiyah, lanjut Nurcholis, bahwa pemikiran bebas ia untuk lepas dari otoritas tradisi dalam memahami teks-teks agama telah menjadi inspirasi bagi munculnya pandangan liberal di berbagai kalangan gerakan modernis Islam. sebaliknya dengan pandangannya yang menekankan pemahaman harfiah terhadap teks atau sumber ajaran agama telah menjadi inspirasi munculnya berbagai kecenderungan pemahaman literalis dan fundamentalis di kalangan gerakan Islam tertentu di zaman mutakhir ini.
Meski apa yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid itu tidak seluruhnya benar, namun apa yang telah diupayakan Ibnu Taymiyah dalam perjuangannya sesungguhnya adalah diarahkan agar umat Islam terbebas dari taklid serta berkeinginan untuk kembali menggali ajaran-ajaran Islam yang termuat dalam sumber aslinya, Alquran dan hadis, serta mendorong mereka untuk melakukan ijtihad dalam memahami ajaran-ajaran Islam.

Konsep Pendidikan Ibnu Taymiyah
Di zaman Ibnu Taymiyah hidup dunia Islam secara umum tengah mengalami masa kemunduran, baik dari sisi politik maupun peradaban yang diawali dengan runtuhnya Kota Bagdad dari serangan bangsa Mongol pada tahun 1258 M. Meskipun tidak bisa dikatakan sama sekali mandeg, namun kegiatan intelektual Islam pada saat itu mengalami masa yang suram. Di mana-mana umat Islam mengalami trauma sehingga muncul kemalasan untuk berkreasi. Pada saat itulah muncul keengganan untuk berpikir. Umat Islam hanya ingin mengikuti yang ada. Muncullah institusi mazhab yang tidak jarang melahirkan golongan yang fanatik mazhab. Muncul pula anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Itu semua semakin menambah mundurnya kegiatan intelektual kaum muslimin.
Kondisi tersebut tentu tidak terlepas dari aspek-aspek kehidupan yang lain. Di bidang pendidikan sebagai penyanggah utama kegiatan intelektual, juga mengalami kemerosotan. Sekolah-sekolah biasanya hanya mengajarkan paham-paham mazhab tertentu. Kegiatan pengkajian di lembaga pendidikan tidak lagi berusaha menemukan, tapi hanya mengomentari temuan orang lain, bahkan mengomentari komentar. Di saat begitulah Ibnu Taymiyah hadir dengan gagasannya yang tajam sehingga terkadang dianggap bertentangan dengan agama, bahkan ia dianggap pelaku bid’ah.
Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, gagasan-gagasan Ibnu Taymiyah kembali banyak digali karena banyak di antara butir-butirnya yang sangat berguna untuk dipelajari. Dalam lapangan pendidikan, gagasan-gagasan ia yang akan dibahas di sini menyangkut tujuan pendidikan dan metode pembelajaran.

1. Tujuan pendidikan
Ilmu Taymiyah berpendapat bahwa ilmu bermanfaat didasarkan atas asas kehidupan yang benar dan utama adalah ilmu yang mengajak kepada kehidupan yang baik yang diarahkan untuk berhubungan dengan Allah serta dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan makhluk untuk memperteguh rasa kemanusiaan. Dengan kata lain, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa manusia kepada perbaikan hubungan kepada Allah secara vertikal dan hubungan dengan sesama manusia secara horizontal. Dan hal ini hanya dapat dibangun dengan mendasarkan ilmu itu pada landasan yang kokoh, yakni tawhîd dan tabiât al-insâniyah.
Dari sinilah Ibnu Taymiyah membangun konsepnya pendidikannya dengan amat konsisten menuju tercapainya tujuan pendidikan. Menurut Ibnu Taymiyah, tujuan pendidikan dapat dibedakan antara tujuan individu, tujuan sosial, dan tujuan dakwah islamiyah.
Tujuan individu yakni diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik , yaitu seseorang yang berpikir, merasa, dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan sejalan dengan apa yang diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah.
Tujuan sosial diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Alquran dan Sunnah. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai pedoman dalam mengatur tatanan kehidupan dengan segala aspeknya.
Kedua tujuan di atas (individu dan sosial) dimaksudkan untuk mencapai tujuan dakwah islamiayah, yakni agar semua umat Islam mampu memikul tanggung jawab dakwah islamiyah ke seluruh dunia (QS. Ali ‘Imrân [3]: 110).
Konsep tujuan pendidikan Ibnu Taymiyah di atas terlihat adanya penekanan pada tujuan untuk pelaksanaan ajaran Alquran dan sunnah dalam aspek kehidupan individu dan masyarakat. Dan kesemuanya itu harus diarahkan untuk tegaknya dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat. Lahirnya konsep-konsep tentang tujuan pendidikan yang demikian tidak telepas dari kondisi zaman yang dialami oleh Ibnu Taymiyah pada saat itu, di mana kondisi umat Islam secara umum berada pada masa kemunduran. Kemunduran itu ditandai dengan kemalasan untuk berpikir dan kecenderungan untuk mengamalkan agama sesuai apa yang dijumpai dalam tradisi masyarakat saja.

2. Metode Pembelajaran
Metode sebenarnya mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis, dan merupkan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Membicarakan metode dalam pendidikan sebenarnya berusaha menjawab pertanyaan how (bagaimana, cara). Sedangkan membahas bagaimana cara mengajar tidak terlepas dari tiga hal pokok, yakni apa yang dipelajari, siapa yang mengajar dan siapa yang belajar, karena interaksi dari ketiga komponen inilah yang disebut sebagai learning process.
Dalam konsep Ibnu Taymiyah, metode pembelajaran dapat digolongkan menjadi metode ilmiah dan metode iradiah. Metode ini didasari atas asumsi bahwa al-qalb mempunyai dua daya, yakni berpikir (ilmiah) dan kecenderungan untuk mengamalkan apa yang dipikirkan (daya iradiah).

a. Meode Ilmiah (al-ţarîqah al-‘ilmiyah)
Metode ilmiah menggunakan kemampuan penalaran dan pemikiran sebagai alat utamanya. Dengan metode ini akan dijumpai pemikiran yang lurus dalam memahami dalil, argumen, dan sebab-sebab yang menyampaikan pada ilmu. Sementara perenungan (al-nazr) terdapat di dalamnya unsur hak dan batil, terpuji dan tecela. Metode ini didasarkan pada tiga hal, yakni: 1) benarnya alat untuk mencapai ilmu, 2) penguasaan secara menyeluruh terhadap seluruh proses belajar, dan 3) mensejajarkan antara amal dan pengetahuan.

b. Metode Iradiyah (al-ţarîqah al-irâdiyah)
Metode ini merupakan metode yang mengantarkan seseorang kepada pengamalan ilmu yang diajarkannya. Tujuan utama metode ini adalah mendidik kemauan peserta didik untuk melakukan suatu perbuatan yang hanya diperintahkan oleh Allah. Untuk terlaksananya metode ini diperlukan tiga syarat:
1) Mengetahui maksud dari iradah, yakni mengetahui daya kecintaan dan berusaha memiliki sesuatu yang menggerakkan manusia dan mengarahkannya ke arah tujuan tertentu, yaitu kemampuan untuk mempertimbangkan secara seimbang antara tiga daya, yakni: daya akliah, daya amarah, dan daya syahwat.
2) Mengetahui tujuan yang dikehendaki oleh iradah, yakni tujuan mulia sesuai kedudukan manusia (QS. al-Isrâ'[17]: 70).
3) Mengetahui tindakan yang sesuai untuk mendidik iradah itu. Yang dimaksud di sini adalah lingkungan baik yang dapat mendorong terjadinya kerja sama saling bantu antara seluruh kekuatan yang efektif di bidang pendidikan.
Untuk terlaksananya hal tersebut hendaknya didukung oleh etika guru dan murid. Guru hendaknya berupaya menciptakan musâhabah (keakraban) yang positif antara guru dan pelajar dan antara sesama pelajar. Untuk itu, guru hendaknya menyadari kedudukan dirinya sebagai pengemban tugas kenabian. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi lebih dari itu, sebagai pembimbing, bahkan sebagai sahabat. Guru tidak boleh sembrono dalam mengajarkan ilmu dan harus menjadi panutan, dan membiasakan diri untuk terus mengembangkan ilmunya.
Sedangkan murid hendaknya memulai dengan niat untuk menuntut rida Allah, memuliakan guru, menerima setiap ilmu dengan mengetahui sumbernya, dan tidak menyalahkan orang atau pihak lain yang tidak sepaham dengan dirinya.
Tampaknya pemikiran Ibnu Taymiyah dalam masalah metode pembelajaran lebih banyak penekanan pada aspek menuntut ilmu. Hal ini terlihat pada metode ilmiah yang dijelaskan di atas. Hal ini mungkin dapat dipahami karena di masa Ibnu Taymiyah usaha pendidikan Islam lebih banyak diwarnai oleh keaktifan pelajar dalam menuntut ilmu. Para penuntut ilmu lebih banyak aktif dalam mencari ilmu baik dengan cara mengunjungi guru atau lembaga pendidikan maupun melakukan rihlah ke berbagai daerah dalam mencari ilmu.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran, metode yang sering digunakan Ibnu Taymiyah dapat diperhatikan pada saat ia memberikan pengajian tafsir yang terbuka untuk umum setiap hari Jumat. Dia berdiskusi dan berdebat dengan para ulama dari mana saja. Ia juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat kepadanya lewat risalah yang ditulisnya , terutama pada waktu ia mendekam dalam penjara.
Secara umum, sebenarnya metode pendidikan yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan Islam pada zaman itu adalah dengan menggunakan metode dikte (imla’), mengahafal (verbal) secara lisan, dan tanya jawab. Metode-metode ini penting artinya sesuai kemajuan teknologi pada waktu itu di mana belum tersedianya alat penggandaan secanggih yang ditemukan dewasa ini.
Jika diamati pemikiran metode pembelajaran Ibnu Taymiyah, dapat dinyatakan bahwa keseluruhan konsep atau pemikiran yang diajukannya, mengarah kepada penggunaan metode Alquran.

Penutup
Setelah mencermati tujuan pendidikan dan metode pembelajaran dari Ibnu Taymiyah, kiranya dapat dikatakan bahwa inti dari konsep pendidikannya adalah berupaya mengembalikan umat Islam agar mengamalkan Islam dengan cara menggali dari sumber pokoknya, yakni Alquran dan sunnah, sehingga tujuan pendidikan lebih ditekankan dalam rangka menegakkan dakwah islamiyah. Adapun metode pendidikan hendaknya dilandasi oleh kesucian sebagaimana kesucian ilmu itu sendiri. Oleh karena itu bagi pelajar hendaknya dalam menutut ilmu dilandasi oleh semangat mencari rida Allah. Sementara para guru, di samping dilandasi oleh keihlasan niat, hendakya juga melandasi niatnya dalam rangka mewarisi tugas kenabian dalam mendidik umat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: