PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN DAN DAKWAH


OLeh:
H. Zulkifli M. M.Pd, M.Si

Abstrak: K.H.Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh pembaharu dan pendiri persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912 M/1330 H di Kauman Yogyakarta. Gerakannya adalah memperbaiki arah kiblat masjid, Melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memberantas bid’ah, takhayul dan khurafat. Mendirikan pesantren sebagai tempat mendidik para santri. Cita-cita yang digagas K.H.Ahmad Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama intelek atau intelek ulama, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan ruhani melalui dua tindakan sekaligus, yaitu memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri dimana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Sekolah-sekolah dan madrasah yang didirikan oleh K.H.Ahmad Dahlan dan persyarikatan Muhammadiyah sampai saat ini telah berjumlah 5701 buah mulai dari tingkat sekolah dasar/madrasah Ibtidiyah sampai perguruan tinggi. Dilihat dari segi kepribadiannya, K.H.Ahmad Dahlan termasuk seorang ulama dan da’i yang memiliki komitmen pada cita-cita kemajuan bangsa (khususnya umat Islam) dan Negara Republik Indonesia, dengan berdasarkan pada upaya mewujudkan cita-cita ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Kata Kunci: Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan dan dakwah.
Pendahuluan
Gerakan organisasi sosial keagamaan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Salah satu diantaranya adalah persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki tridimensi gerakan yakni keislaman, dakwah dan pembaharuan. Muhammadiyah terbukti mampu menyentuh semua bidang kehidupan, dan mendapat simpati banyak orang, sehingga tidak heran jika ormas ini untuk selanjutnya mendulang jumlah anggota yang selalu menunjukkan grafik naik pada tiap tahunnya.
Namun demikian, tidak lengkap kiranya jika membicarakan Muhammadiyah tanpa menyebutkan kontribusi yang telah dilakukan sosok pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan, dalam mengawal keberlangsungan dan keberhasilan Muhammadiyah di pentas sejarah keindonesiaan. Utang bangsa ini terhadap peran K.H. Ahmad Dahlan dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan dalam upayanya mengarahkan bangsa ini semakin terbuka, demokratis, sejahtera tanpa meninggalkan jati diri pluralitas bangsa Indonesia, adalah utang yang tak terbayarkan.
Berangkat dari praktek keagamaan masyarakat saat itu yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai Islam seperti praktek takhayul, bid’ah dan khurafat, maka K.H. Ahmad Dahlan berusaha mendobrak dan memerangi kemapanan tradisi yang sudah berurat akar dalam masyarakat tersebut dengan meniscayakan adanya tajdid (pembaruan) sebagai soko guru gerakannya.
Menurutnya, pembaruan dalam perspektif Muhammadiyah mempunyai makna kembali pada ajaran pokok yang asli dan esensialitas Islam. Pada ranah ini ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bersikap anti secara mutlak terhadap budaya dan tradisi, tetapi juga tidak dapat menerima budaya dan tradisi yang merusak kejernihan agama, terutama menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan.
Corak pemikiran Islam dari K.H. Ahmad Dahlan pada umumnya berkisar pada penekanan praktik Islam salaf sebagai kritik atas Islam tradisional (taqlid) yang bercorak sinkretis karena pengaruh adat istiadat lokal. Dengan kata lain, singularitas Islam direkonstruksi lagi menjadi Islam sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, pembaruan dalam Muhammadiyah berarti memperbarui pemahaman (Islam) dengan kembali kepada keaslian Islam.

Biografi K.H.Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta pada tahun 1868 M dan wafat tahun 1923 M. Kauman adalah sebuah kampung di jantung kota Yogyakarta yang berusia hampir sama tuanya dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kampung Kauman pada zaman kerajaan merupakan tempat bagi Sembilan khatib atau penghulu yang ditugaskan Keraton untuk membawahi urusan agama (Adi Nugraha, 2009: 11). Dia adalah putera dari K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman, seorang khatib tetap di masjid Agung. Ketika lahir, Abu Bakar memberi nama putranya itu Muhammad Darwis. Darwis merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang semua saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.
Dalam silsilah, Darwis termasuk keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali terkemuka di antara Wali Songo yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa. Nama aslinya adalah Muhammad Darwis bin K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaeman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadhullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.
Ibundanya Muhammad Darwis adalah Siti Aminah binti K.H. Ibrahim, penghulu besar di Yogyakarta (Dody S.Truna dan Ismatu Ropi, 2002: 253). Darwis mengawali pendidikan di pangkuan ayahnya di rumah sendiri. Darwis mempunyai sifat yang baik, berbudi pekerti halus, dan berhati lunak, berwatak cerdas. Sejak usia balita, kedua orang tua Darwis sudah memberikan pendidikan agama. Ketika berusia delapan tahun, Darwis sudah bisa membaca AlQur’an dengan lancar sampai khatam. Menjelang dewasa, Darwis mulai mengaji dan menuntut ilmu fiqih kepada K.H. Muhammad Saleh. Dia menuntut ilmu nahwu kepada K.H. Muhsin. Kedua guru tersebut merupakan kakak ipar sekaligus tetangganya di Kauman. Selain itu, Darwis juga berguru kepada penghulu hakim K.H. Muhammad Noor bin K.H. Fadhil dan K.H. Abdul Hamid di kampung Lempuyang Wangi.
Selain itu, ia juga mengaji di Pesantren menurut sistem lama. Setelah lama belajar agama di Indonesia, ia melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekah. Ia berangkat ke Mekah untuk pertama kali pada tahun 1890. Selama setahun ia belajar di sana. Salah seorang gurunya adalah Syaikh Ahmad Khatib, seorang pembaru dari Minangkabau Sumatera Barat (Ensiklopedi Islam Indonesia, 2002: 216). Setelah bermukim di Mekah menuntut ilmu, kemudian ia pulang ke tanah airnya. Mula-mula ia menjabat sebagai pegawai masjid Sultan. Kemudian ia menjadi saudagar, pernah berniaga di Jakarta dan Surabaya, bahkan sampai ke Medan. Namun demikian, ia tetap menambah ilmu dengan mendatangi ulama serta memperhatikan keadaan kaum muslimin di tempat-tempat yang disinggahinya (Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, 1998: 276).
Ketika berumur 18 tahun ia menikah dengan putri K.H. Muhammad Faddil yang bernama Siti Walidah. Pernikahannya berlangsung pada tahun 1889. Siti Walidah dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, sosok pendiri Aisyiyah dan pahlawan Nasional. Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak yakni Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah dan Siti Zaharah.
Ahmad Dahlan adalah pribadi yang bertanggung jawab pada keluarga. Dia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dalam bisnis batik. Sebagai orang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Ahmad Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah-tengah masyarakat. Hasilnya, dia cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Beberapa bulan setelah menikah, Ahmad Dahlan berangkat ke Mekah untuk berhaji karena desakan orang tuanya. Di Mekah Ahmad Dahlan menambah pengetahuan yang lebih luas dan mendalam, karena Mekah adalah tempat lahirnya agama Islam dan memiliki riwayat perjuangan agama sejak masa Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad saw. Ahmad Dahlan memperdalam Qira’at, Fiqih, Tasawuf, Ilmu Mantik, Ilmu Falaq, Aqidah, dan Tafsir. Kemudian mulai berinteraksi dengan pemikiran para pembaru Islam seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah (Dody S.Truna dan Ismatu Ropi, 2002: 254). Setelah melaksanakan ibadah haji, maka jamaah haji menemui para ulama untuk mengganti nama dari nama Indonesia menjadi nama Arab dan ditambah kata Haji. Muhammad Darwis pun menemui Imam Syafi’i Sayid Bakri Syatha. Darwis mendapat nama Haji Ahmad Dahlan.
Kemudian Haji Ahmad Dahlan bersiap pulang ke Indonesia. Setibanya di Indonesia, maka H.Ahmad Dahlan turut mengajar anak-anak yang menjadi murid ayahnya. Anak-anak ini belajar di waktu siang dan sore di Mushala. Untuk orang dewasa, pelajaran diberikan di sore hari dan diberikan oleh K.H. Abu Bakar sendiri. Dahlan selalu ikut dalam pengajian tersebut. Kemudian jika K.H. Abu Bakar berhalangan, maka Dahlan menggantikannya. Tak heran jika kemudian sebutan Kiai dilekatkan kepada H. Ahmad Dahlan. Dari situlah dia diberi nama K.H. Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1903 K.H. Ahmad Dahlan membawa putranya yaitu Muhammad Siradj yang berumur 6 tahun ke Mekah. Pada kunjungan yang kedua kalinya, K.H. Ahmad Dahlan memperdalam kembali ilmu agama yang sudah diperoleh sebelumnya selama beberapa tahun. Pada tahun 1906 K.H. Ahmad Dahlan kembali ke Yogyakarta dan menjadi guru agama di Kauman. Selain itu, dia juga mengajar di Kweekschool di Yogyakarta dan Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren sebuah sekolah untuk pegawai pribumi di Magelang. Pihak Keraton Yogyakarta juga mengangkat K.H. Ahmad Dahlan sebagai khatib tetap di Masjid Agung. Tugas-tugas beliau digunakan untuk mengamalkan ilmunya. Dia menggunakan serambi Masjid Agung untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang tidak dapat belajar di surau-surau tempat pengajian yang berjadwal tetap.
K.H. Ahmad Dahlan juga membangun asrama untuk menerima murid-murid dari luar kota dan luar daerah. Juga membangun surau untuk menambah kemakmuran kampung Kauman dalam bidang pengajian dan pendidikan pada masa itu. Di Surau inilah didirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912 M/8 Dzulhijjah 1330 H. Persyarikatan ini mempunyai maksud menyebarkan pengajaran kanjeng Nabi Muhammad saw kepada penduduk bumi putera dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya (Deliar Noer, 1985: 86).

Usaha dan Jasa-Jasa Besar K.H. Ahmad Dahlan
Di antara jasa-jasa besar KH. Ahmad Dahlan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut semestinya. Umumnya Masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap ke timur dan orang-orang shalat menghadap ke arah barat lurus. Pada hal kiblat yang sebenarnya menuju Ka’bah dari tanah Jawa miring ke utara kurang lebih 24 derajat dari sebelah barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falaq itu, orang tidak boleh menghadap kiblat menuju barat lurus, melainkan harus miring ke utara 24 derajat. Oleh sebab itu K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri, supaya menuju kearah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan (Abuddin Nata, 2004: 106-107).
2. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak muballigh Islam di Jawa Tengah, sebagaimana Syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak muballigh di Sumatera Tengah.
3. Memberantas bid’ah-bid’ah dan khurafat serta adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
4. Mendirikan perkumpulan/persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912 M yang tersebar di seluruh Indonesia sampai sekarang. Pada permulaan berdirinya, Muhammadiyah mendapat halangan dan rintangan yang sangat hebatnya, bahkan K.H.Ahmad Dahlan dikatakan telah keluar dari mazhab, meninggalkan ahli sunnah wal jama’ah. Bermacam-macam tuduhan dan fitnahan yang dilemparkan kepadanya, tetapi semuanya itu diterimanya dengan sabar dan tawakal, sehingga Muhammadiyah menjadi satu perkumpulan yang terbesar di Indonesia serta berjasa kepada rakyat dengan mendirikan sekolah-sekolah, sejak dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Faktor Pendorong Berdirinya Muhammadiyah.
Faktor-faktor yang mendorong berdirinya Muhammadiyah ada dua factor yakni:

1. Faktor Subjektif
Bersifat subjek ialah pelakunya sendiri, dan ini merupakan factor sentral. Artinya kalau mau mendirikan Muhammadiyah maka harus dimulai dari orangnya sendiri. Lahirnya Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dengan K.H. Ahmad Dahlan, tokoh controversial pada zamannya. Dengan pemahaman agama Islam yang mendalam, maka semua ilmu agama yang selama ini diperoleh baik di Indonesia maupun di Mekah, maka beliau menyebarkan ilmunya itu melalui persyarikatan Muhammadiyah yang didirikannyan itu. Paham dan keyakinan agama K.H. Ahmad Dahlan yang dilengkapi dengan penghayatan dan pengamalan agamanya, inilah yang membentuk K.H. Ahmad Dahlan sebagai subjek yang mendirikan amal jariah Muhammadiyah.

2. Faktor Objektif
Faktor objektif yang dimaksud adalah keadaan dan kenyataan yang berkembang saat itu. Apa yang ada dalam pikiran K.H. Ahmad Dahlan merupakan kesadarannya, dinyatakan, disulut dengan api yang ada di dalam masyarakat. Faktor objektif ini dibagi dalam dua bagian yakni intern umat Islam, dan ekstern umat Islam.
Faktor intern di kalangan ummat Islam adalah kenyataan bahwa ajaran agama Islam yang masuk ke Indonesia, kemudian menjadi agama umat Islam, ternyata sebagai akibat perkembangan agama Islam pada umumnya, sudah tidak utuh dan tidak murni lagi. Tidak murni artinya tidak diambil dari sumber yang sebenarnya. Hanya bagian-bagian tertentu yang difahami, dipelajari, kemudian diamalkan. Kalau ajara sudah tidak murni, tidak diambil dari sumbernya yang asli, sudah dicampur dengan ajaran-ajaran yang lain, maka ketika Islam dipahami dan dilaksanakan seperti itu, maka sudah tidak tidak bisa memberikan manfaat yang dijanjikan oleh Islam terhadap pemeluknya. Faktor objektif yang seperti itulah, K.H. Ahamad Dahlan segera mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Untuk dijadikan sarana memperbaiki agama dan umat Islam Indonesia.
a. Faktor objektif ekstern
Pemerintah Hindia Belanda merupakan keadaan objektif ekstern umat Islam pertama yang melatar belakangi berdirinya persyarikatan Muhammadiyah. Pemerintah Hindia Belanda memegang kekuasaan yang menentukan segala-galanya. Agama pemerintah Belanda menurut resminya adalah Protestan, dengan demikian sudah tidak menghendaki agama Islam. Demi kelangsungan kekuasaannya di Indonesia, pemerintah penjajah Hindia Belanda berpendirian bahwa ajaran agama Islam yang utuh dan murni tidak boleh hidup dan tidak boleh berkembang di tanah jajahan. Maka ajaran agama Islam yang tidak utuh dan tidak murni itulah yang dikehendaki pemerintah Hindia Belanda.
Belanda mempunyai keyakinan, kalau umat Islam di tanah jajahan bisa memahami Islam yang sebenarnya, meyakini agama Islam berdasarkan pahamnya yang benar, kemudian bisa melaksanakan ajaran Islam yang benar, maka pemerintah penjajah Belanda tidak akan bisa bertahan. Usaha mereka adalah menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an, menjauhkan dari As-Sunnah,, menjauhkan dari kesanggupan memahami Islam yang sebenarnya dan mampu menggunakan akal pikiran serta akal budinya untuk memahami Islam.

b. Faktor objektif di luar umat Islam lainnya
Dari angkatan muda (antek-antek Belanda) yang sudah mendapat pendidikan Barat, lalu mengadakan gerakan-gerakan untuk memusuhi apa yang menjadi maksud gerakan Muhammadiyah.

c. Faktor lainnya
Kaum nasrani itu sendiri (mereka mendapat bantuan dari pemerintah Belanda untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang menentang gerakan Muhammadiyah (Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang, 1990: 4-9).

Maksud dan Tujuan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah.
Maksud dan tujuannya adalah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Usaha untuk mencapai maksud dan tujuan ini adalah dengan:
1. Mengadakan dakwah Islam;
2. Memajukan pendidikan dan pengajaran;
3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong menolong;
4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf;
5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda, supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti;
6. Berusaha dengan segala kebijkasanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.
7. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pendidikan dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah mementingkan pendidikan dan pengajaran yang berdasarkan Islam, baik pendidikan di sekolah/madrasah ataupun pendidikan dalam masyarakat. Oleh sebab itu tidak heran, bila Muhammadiyah sejak mulai berdirinya membangun sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dan mengadakan tabligh-tabligh, bahkan menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah yang berdasarkan Islam.
Di antara sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tertua dan besar jasanya ialah:
1. Kweekschool Muhammadiyah Yogyakarta;
2. Muallimin Muhammadiyah, Solo, Jakarta;
3. Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta;
4. Zuama/Zaimat Yogyakarta;
5. Tabligschool Yogyakarta;
6. Kulliyah Muballighin/Muballighat Padang Panjang (Sumatera Tengah);
7. HIS Muhammadiyah Yogyakarta.
Selain itu, banyak lagi HIS Muhammadiyah, Mulo, AMS Muhammadiyah, Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah/Wustha Muhammadiyah, dan lain-lain. Semuanya itu didirikan pada masa penjajahan Belanda dan Pendudukan Jepang., dan tersebar pada tiap-tiap cabang Muhammadiyah seluruh kepulauan Indonesia.
Pada masa Indonesia merdeka, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah berlipat-lipat ganda banyaknya dari masa penjajahan Belanda dahulu.
Madrasah yang didirikan oleh Muhammadiyah pada masa kemerdekaan adalah sebagai berikut:

No Sekolah Jumlah
1. Madrasah Ibtidaiyah 412 buah
2. Madrasah Tsanawiyah 40 buah
3. Madrasah Diniyah (Awaliah) 82 buah
4. Madrasah Muallimin 73 buah
5. Madrasah Pendidikan Guru Agama 75 buah
Jumlah 682 buah

Selain itu, banyak juga sekolah-sekolah umum Muhammadiyah seperti:

No Sekolah Jumlah
1. Sekolah Rakyat 445 buah
2. SMP 230 buah
3. SMA 30 buah
4. Sekolah Taman Kanak-Kanak 66 buah
5. SGB 69 buah
6. SGA 16 buah
7. Sekolah Kepandaian Putri 9 buah
8. Sekolah Menengah Ekonomi Pertama 3 buah
9. Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak 2 buah
10. Sekolah Menengah Ekonomi Atas 1 buah
11. Sekolah Guru Kepandaian Putri 1 buah
12. Sekolah Guru Pendidikan Jasmani 1 buah
13. Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan 1 buah
14. Sekolah Puteri Aisyiyah 1 buah
15. Fakultas Hukum dan Falsafat 1 buah
16. Perguruan Tinggi Pendidikan Guru 1 buah
Jumlah 877 buah

Jumlah semua Madrasah dan sekolah Muhammadiyah adalah 1559 buah. Sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi umum yang didirikan oleh Muhammadiyah diberikan pelajaran agama Islam.

Perguruan tinggi Muhammadiyah.
Pada tahun 1936 dalam kongres seperempat abad Muhammadiyah di Jakarta, telah diputuskan untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah, tetapi kemudian mendapat tantangan karena pecahnya Perang Dunia II.
Pada tanggal 18 Nopember 1955 Muhammadiyah dapat mendirikan Fakultas Hukum dan Filsafat, bertempat di Padang Panjang (Sumatera Tengah).
Pada tanggal 18 Nopember 1957 Muhammadiyah mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) bertempat di gedung PTPG Kebayoran Baru Jakarta. Pada tahun 1958 nama PTPG diubah menjadi FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), dengan memiliki 3 jurusan yakni jurusan Pendidikan, Sastra/Bahasa Indonesia, dan Sastra/Bahasa Inggris.
Tahun 1958 Muhammadiyah mendirikan FKIP di Surakarta dengan dua jurusan yakni jurusan Pendidikan dan Jurusan Agama.
Tahun 1958 Muhammadiyah mendirikan Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta. Akademi ini khusus mendidik tenaga Da’I untuk penyiaran Islam di Indonesia.(Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, 1998: 277-284).
Adapun alumni pertama Muhammadiyah yang menjadi Guru Besar di Universitas Gajah Mada Yogyakarta adalah Prof.D.Baroroh Baried (BP3K, 1976: 112).
Sampai dengan masa reformasi saat ini Muhammadiyah telah mendirikan sekolah/madrasah dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Tim Penyusun Majelis DIKTI PP Muhammadiyah & LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2002: x), sebagai berikut:

No Sekolah Jumlah
1. Sekolah Dasar (SD) 1128 buah
2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1768 buah
3. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 1179 buah
4. Madrasah Tsanawiyah (M.Ts) 534 buah
5. Sekolah Menegah Atas (SMA) 509 buah
6. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 249 buah
7. Madrasah Aliyah (MA) 171 buah
8. Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) 163 buah
Jumlah 5701 buah

Data di atas belum termasuk taman kanak-kanak/raudhatul athfal yang ribuan banyaknya. Hal ini menggambarkan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan di Indonesia memiliki akses yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia. Angka partisipasi dibidang pendidikan dapat menjadi modal yang signifikan bagi kemampuaan Muhammadiyah untuk mengambil inisiatif bagi pelibatan berbagai organisasi kemasyarakatan (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), penyelenggara pendidikan, serta menjadi modal bargaining position terhadap pemerintah. Keluasan jaringan, jenjang pendidikan yang dikelola, serta integrasinya beberapa jenjang pendidikan akan berpengaruh besar untuk meningkatkan partisipasi pengembangan masyarakat menuju masyarakat madani.

Filosofi Pendidikan dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
Sebagai sebuah organisasi pembaruan keagamaan, Muhammadiyah memang berpandangan bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran kaum muslim adalah perbaikan pendidikan. Oleh karena itulah, sesungguhnya sejak dahulu nama organisasi ini diambil dari nama sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan satu tahun sebelum didirikannya Muhammadiyah.
Filsafat yang dianut dan diyakini oleh Muhammadiyah adalah berdasarkan agama Islam, maka sebagai konsekuensi logisnya, Muhammadiyah berusaha dan selanjutnya melandaskan filsafat pendidikan Muhammadiyah atas prinsip-prinsip filsafat yang diyakini dan dianutnya. Filsafat pendidikan memanifestasikan pandangan ke depan tentang generasi yang akan dimunculkan. Dalam kaitan ini filsafat pendidikan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari filsafat pendidikan Islam, karena yang dikerjakan oleh Muhammadiyah pada hakikatnya adalah prinsip-prinsip Islam yang menurut Muhammadiyah menjadi dasar pijakan bagi pembentukan manusia muslim.
Kendati tema pembaruan pendidikan Muhammadiyah memperoleh perhatian yang cukup serius dari para pengkaji sejarah pendidikan Indonesia, maka untuk melangkah ke arah itu dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yakni:
1. Pendekatan normative, yakni bertitik tolak dari sumber-sumber otoritatif Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi), terutama tema-tema pendidikan, kemudian dieksplorasi sedemikian rupa sehingga terbangun satu system filsafat pendidikan.
2. Pendekatan filosofis yang diberangkatkan dari mazhab-mazhab pemikiran filsafat kemudian diturunkan ke dalam wilayah pendidikan.
3. Pendekatan formal dengan merujuk pada hasil-hasil keputusan resmi persyarikatan.
4. Pendekatan Historis-filosofis, yaitu dengan cara melacak bagaimana konsep dan praksis pendidikan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kunci dalam Muhammadiyah lalu dianalisis dengan pendekatan filosofis.

K.H. Ahmad Dahlan adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu, untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan kiai mesti lebih banyak merujuk pada bagaimana ia membangun system pendidikan. Namun, naskah pidato terakhirnya yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Kiai terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat kiai dalam pencerahan akal, yaitu:
1. Pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqamah terhadap kebenaran akali dengan didasari hati yang suci.
2. Akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia.
3. Ilmu Mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.

K.H. Ahmad Dahlan memiliki pandangan yang sama dengan Sayyid Ahmad Khan (Tokoh Pembaru Islam di India) mengenai pentingnya pembentukan kepribadian. Ahmad Khan sangat bangga dengan pendidikan para pendahulunya dan mengakui bahwa pendidikan yang demikian telah menghasilkan orang-orang besar sepanjang sejarahnya. Akan tetapi Ahmad Khan juga mengakui bahwa meniru metode pendidikan para pendahulunya tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan. Metode-metode baru yang sesuai dengan zaman harus digali. Ahmad Khan berpandangan bahwa pendidikan sangat penting dalam pembentukan kepribadian. Sayyid Ahmad Khan tidak menganjurkan adanya masyarakat yang sekuler atau pluralis, meskipun ia mencoba mendorong kaum muslimin untuk berhubungan dengan orang-orang Barat, untuk makan bersama mereka, untuk menghormati agama mereka, untuk mempelajari ilmu-ilmu mereka, dan lain-lainnya (Sheila McDonough, 1970: 11).
K.H. Ahmad Dahlan menganggap bahwa pembentukan kepribadian sebagai target penting dari tujuan-tujuan pendidikan. Ia berpendapat bahwa tak seorangpun dapat mencapai kebesaran di dunia ini dan di akhirat kecuali mereka yang memiliki kepribadian yang baik. Seorang yang berkepribadian yang baik adalah orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Karena Nabi merupakan contoh pengamalan Al-Qur’an dan Hadis, maka dalam proses pembentukan kepribadian siswa harus diperkenalkan pada kehidupan dan ajaran-ajaran Nabi saw. (H.Suja’i, 1989:17).
K.H. Ahmad Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manar. Sehingga, meskipun ia tidak punya latar belakang pendidikan Barat, ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taklid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu model dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan titik pusat dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam system pendidikan dan kejumudan paham agama Islam.
Bagi K.H. Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali dipraktekkan. Betapa pun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak dipraktekkan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, K.H. Ahmad Dahlan tidak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ia lebih banyak mempraktikkannya dalam amal nyata. Praktek amal nyata yang fenomenal ketika menerapkan apa yang disebut dalam surah Al-Maun yang secara tegas memberi peringatan kepada kaum muslim agar mereka menyayangi anak-anak yatim dan membantu fakir miskin.
Aplikasi dari surah Al-Maun ini ditandai dengan terealisirnya rumah-rumah yatim dan menampung orang-orang miskin.
Ketika menerapkan Al-Qur’an surah 26 ayat 80 yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, Muhammadiyah mendirikan balai kesehatan masyarakat atau rumah-rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberi perawatan pada masyarakat umum, bahkan yang miskin digratiskan, juga untuk memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat. Berbagai bentuk penyuluhan diselenggarakan, agar masyarakat bisa hidup secara sehat, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bila umat sehat, mereka akan menjadi produktif yang manfaatnya untuk keluarga, umat dan Negara.
Al-Qur’an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Dengan pendidikan, buta huruf diberantas. Bila umat tak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan tentang agamanya. Dari lembaga pendidikan ini muncul pula bahan-bahan bacaan, dalam bentuk buku-buku, Koran, majalah dan sejenisnya. Inilah yang terjadi pada tahun 1920 sampai tahun 1930-an. Dengan melek huruf, mereka bisa baca, dan ketika sudah mampu membaca, mereka bisa melihat dunia. Membaca, kata pepatah adalah jendela dunia.
K.H. Ahmad Dahlan tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh kawan-kawannya di Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, Haji Tamim, Haji Hisyam, Haji Syarwani dan Haji Abdul Gani. Sedangkan anggota Budi Oetomo yang paling keras mendukung segera didirikan sekolah agama yang bersifat modern adalah Mas Rasyidi siswa Kweekchool di Yogyakarta, dan R. Sosrosugondo seorang guru di sekolah tersebut. Sekitar sebelas tahun kemudian setelah organisasi Muhammadiyah didirikan K.H.Ahmad Dahlan meninggal dunia pada tanggal 23 Pebruari 1923.

Penutup
K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh pembaharu di Indonesia. Beliau adalah pendiri persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912 M/1330 H di Kauman Yogyakarta. Gerakannya adalah memperbaiki arah kiblat masjid umat Islam. Melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memberantas bid’ah, takhayul dan khurafat. Mendirikan pesantren sebagai tempat mendidik para santri. Cita-cita yang digagas K.H. Ahmad Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama intelek atau intelek ulama, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan ruhani. K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus, yaitu memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri dimana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Sekolah-sekolah dan madrasah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan dan persyarikatan Muhammadiyah sampai saat ini telah berjumlah 5701 buah mulai dari tingkat sekolah dasar/madrasah Ibtidiyah sampai perguruan tinggi. Dan ribuan Raudhatul attfal/taman kanak-kanak, serta panti-panti asuhan dan rumah sakit yang tersebar di seluruh Inonesia. Dilihat dari segi kepribadiannya, K.H. Ahmad Dahlan termasuk seorang ulama dan da’i yang memiliki komitmen pada cita-cita kemajuan bangsa (khususnya umat Islam) dan Negara Republik Indonesia, dengan berdasarkan pada upaya mewujudkan cita-cita ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Daftar Pustaka
BP3K. 1976. Sejarah Pendidikan Swasta di Indonesia (Pendidikan Muhammadiyah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Agama R.I. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji.
Ihsan, Hamdani dan Fuad Ihsan. 1998. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
McDonough, Sheila. 1970. The Authority of thae Past: A Study of Three Muslim Modernis. Pennsylvania: America Academy of Religion.
Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Noer, Deliar. 1985. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3S
Nugraha, adi. 2009. Biografi Singkat K.H.Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suja, H. 1989. Muhammadiyah dan Pendirinya. Yogyakarta: Majelis Pustaka.
Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1990. Muhammadiyah Sejarah,Pemikiran dan Amal Usaha. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang kerja sama dengan PT.Tiara Wacana Yogya
Tim Penyusun Majelis Dikti PP Muhammadiyah. 2002. Pengembangan Civic Education di PTM. Jakarta: Majelis Dikti PP Muhammadiyah
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2002. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H . Jakarta: Jambatan.
Truna, Dody S, dan Ismatu Ropi. 2002. Pranata Islam di Indonesia Pergulatan Sosial, Politik, Hukum dan Pendidikan. Jakarta: Logos Wacana Ilmu dan Pemikiran.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: