SINTAKSIS BAHASA ARAB DAN METODE PENGAJARANNYA


Oleh:

Abdul Azis, M.Si

Abtraksi: Untuk mahir berbahasa Arab baik untuk membaca menulis dan berbicara diperlukan pengetahuan tentang ilmu yang berkaitan dengannya seperti metode, tata bahasa atau dalam bahasa Arab dikenal dengan Qawaid, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dikenal dengan istilah sintaksis dan morfologi yang membahas masalah kata benda/isim perubahan baris akhir kata benda sedangkan morfologi adalah şaraf atau yang membahas masalah jumlah huruf pada kata kerja/fi’il serta timbanagannya. Secara umum teori belajar bahasa adalah dapat dibagi menjadi struktural, generatif transformatif, behaviorisme dan kognitifisme sedangkan metode pengajaran sintaksis bahasa arab dapat dibagi menjadi dua yaitu metode umum dan metode khusus. Metode khusus adalah metode gramatikal (grammer method), metode terjemahan (grammar transation), metode langsung (direct method) dan lain-lain, sedangkan metode khusus adalah metode deduktif (al-ţariqah al-qiyasiyah), metode induktif (al-ţariqah al-istiqraiyyah), metode modifikasi (al-ţariqah al-muaddalah), metode keaktifan individu (al-ţariqah al-nasyaath al-fardiyah) dan metode prablem solving (al-ţariqah al-musykilaat) dari teori teori tersebut dilengkapi dengan teknik masing-masing dalam oprasionalnya.

Kata Kunci : sintaksis, metode pengajaran

Pendahuluan
Masyarakat Indonesia secara sosio-linguistik tidak saja menggunakan satu bahasa di dalam pergaulannya melainkan paling sedikit dua bahasa yakni bahasa ibu dan bahasa nasional. Dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban modern, bahasa yang secara umum berfungsi sebagai alat komunikasi dalam kehidupan bermasayarakat ternyata makin menampakkan eksistensinya sebagai media komunikatif efektif, baik dalam perkembangan politik, pendidikan, teknologi, sosial, ekonomi dan agama.
Dewasa ini penguasaan terhadap ragam bahasa tak terkecuali bahasa asing, dirasakan sangat penting. Hal ini disebabkan banyaknya informasi yang dikenal dalam berbagai macam bahasa. Sehingga dengan itu, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dan membenahi diri, semakin sadar akan pentingnya bahasa asing dikuasai oleh masayarakat. Upaya itu telah lama direalisasikan oleh pemerintah, dengan adanya kurikulum pendidikan bahasa asing (bahasa Inggris, Arab dan Jerman) di sekolah-sekolah. Baik itu di tingkat menengah pertama, tingkat menengah atas, maupun perguruan tinggi. Bahkan pada lembaga-lembaga non formal, pendidikan bahasa asing telah diterapkan.
Pada tahun 1973, secara resmi bahasa Arab disahkan sebagai bahasa internasional yang digunakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini makin memperkokoh eksistensi bahasa Arab di mata dunia. Ini bukan sekedar anggapan kosong melainkan telah lama disadari dan dilaksanakan oleh bangsa-bangsa maju seperti Amerika Serikat maupun negara Eropa lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa dengan bahasa Arab dapat menjalin hubungan kerjasama dengan bangsa-bangsa Timur Tengah yang kaya karena kilang minyak dan tambang-tambang lainnya yang menghasilkan triliun dolar.
Pada akhir tahun 1990 yang lalu. Televisi Republik Indonesia (TVRI) menyelenggarakan penayiarangan Bahasa Arab, yang dapat disaksikan pemirsa di seluruh Nusantara dan dapat disimak oleh semua golongan awam. Semua ini terlaksana atas prakarsa Mempen Bapak Harmoko, Bapak Munawir Dzajali dan Ketua MUI Bapak KH. Hasan Basri.
Bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang memiliki banyak karakteristik. Di samping karena cabang ilmunya yang luas seperti ilmu tata bunyi atau ilmu al-Ashwat, maka ilmu bentuk kata atau ilmu al-Sharaf, dan dasar atau proses pembentukan kalimat atau ilmu al-Nahwu merupakan cabang lain dari Bahasa Arab yang tak kalah pentingnya untuk kita ketahui.
Namun dalam pembelajaran bahasa asing seperti Bahasa Arab di sekolah, madrasah, pesantren dan perguruan tinggi dimana dalam proses pengajarannya masih terdapat suatu problem, yang harus dicarikan jalan penyelesaiannya. Tiap tahun, ribuan orang bahkan mungkin ratusan ribu orang saja yang mampu berhasil dengan baik dan mencapai tujuan dari target mempelajarinya (Akrom Malibary 1987: 77).
Bahasa Arab merupakan bahasa asing yang telah lama dikenal oleh orang Indonesia, jauh lebih lama dibandingkan bahasa Inggris dan Perancis. Bahasa Arab sudah dipelajari di sekolah-sekolah agama dan pesantren dan dipelajari oleh orang-orang Indonesia yang belajar di Arab Saudi serta perguruan tinggi di Timur Tengah. Begitu juga para cendikiawan yang pernah belajar di pesantren dan tempat-tempat lain, tetapi pada umumnya bahasa Arab hanya dipelajari dan dipahami oleh golongan tertentu saja, yaitu mereka yang ingin mendalami agama Islam secara sempurna (Harun 1988: 2).
Selain itu, terasa pula betapa sukarnya belajar bahasa Arab. Ada yang mengatakan bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang tersukar di dunia. Hal ini mungkin disebabkan metode belajar yang digunakan itu keliru dan masih tradisional. Sebenarnya, zaman sudah berubah, metode pengajaran bahasa Arab juga sudah memasuki era baru sehingga tidak kalah dengan metode pengajaran bahasa-bahasa asing lainnya.
Memang sekarang telah banyak beredar buku terjemahan dari bahasa Arab. Buku-buku tersebut penting untuk kita baca terutama untuk memperluas wawasan keagamaan kita. Namun demikian, buku terjemahan tersebut tidak bisa memberi zauqul lugah (rasa bahasa) Arab sebagai bahasa al-Qur’an serta keluasan cakupan arti kalimat-kalimatnya. Dalam struktur bahasa Arab, satu kata dapat berubah menjadi beberapa kata, tiap perubahan tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri. Mungkin karena inilah satu kalimat dalam bahasa Arab sering menimbulkan penafsiran interpretasi dan pengertian yang berbeda-beda.
Dengan demikian, maka sangat wajar apabila umat Islam bertekun diri untuk mempelajari bahasa Arab karena mengandung unsur syari’. Yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana agar mudah mempelajari bahasa Arab? Betulkah bahasa Arab sangat sulit dan diperlukan waktu yang panjang untuk mempelajarinya? Pertanyaan seperti ini bisa mendatangkan jawaban positif atau sebaliknya negatif. Bahasa Arab sangat sulit dipelajari bagi mereka yang salah jalan dalam mempelajarinya, sebaliknya akan mudah bagi mereka yang mengikuti sistem/metode yang tepat. Kesulitan dan lamanya waktu mempelajari bahasa Arab lebih disebabkan oleh sistem/metode belajar yang digunakan (Harun, 1988: 8).
Kesulitan mempelajari bahasa asing seperti bahasa Arab dapat dimaklumi, karena ia bahasa asing dan fenomena linguistik dari kedua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arab belum bisa ditemukan kerjasamanya. Robert Lado mengatakan fenomena linguistik yang identik dengan bahasa pertama, akan mempermudah proses belajar, sedangkan fenomena yang berbeda akan menjadikan penghalang dalam memahami bahasa asing (Robert Lado, 1979 :111).
Sintaksis bahasa Arab (ilmu nahwu) merupakan salah satu unsur pokok dalam bahasa Arab. Maksudnya, untuk mempelajari dan memahami teks-teks yang berbahasa Arab, baik yang klasik maupun yang modern, orang yang bukan Arab mutlak menguasai ilmu nahwu, karena ilmu tersebut membantu dalam pemahaman arti dan maksudnya, dari perubahan-perubahan kata dalam bahasa Arab. Oleh karena itu metode pengajaran sintaksis bahasa arab merupakan metode dan pendekatan yang baik dan tepat dalam mempelajari bahasa Arab. Sintaksis bahasa Arab (ilmu nahw) menekankan pada perubahan baris kata, dan kedudukan kata/kalimat.
Persoalan lain, kenapa sintaksis bahasa Arab sangat krusial karena, menurut pengetahuan penulis, untuk mahir berbahasa Arab baik secara aktif maupun pasif orang yang bukan Arab harus terlebih dahulu mengetahui sintaksis bahasa Arab, agar tidak keliru dalam membaca, memahami dan menerjemahkan isi makna teks bahasa Arab. Sedangkan sintaksis bahasa Arab adalah bagian dari bahasa Arab yang banyak menentukan pemakaian kata-kata dalam bentuk perubahan baris kata yang berkembang menjadi beberapa baris kata yang masing-masing kata mempunyai arti yang berbeda dan sintaksis bahasa Arab merupakan kunci awal untuk dipelajari sebelum belajar aspek bahasa Arab yang lain, seperti ilmu sharaf, balaghah dan sebagainya.

Pengertian
1. Metode
Kata “metode” berasal dari perkataan Yunani yaitu methodos yang berarti ‘jalan’…atau ‘cara me…sesuatu’. Harimurti Kridalaksana memberikan batasan bahwa suatu metode adalah cara mendekati, mengamati, menganalisa, dan menjelaskan suatu fenomena (Harimurti Kridalaksana 2008: 153). Secara paedagogis, metode adalah cara untuk sampai kepada sesuatu tujuan (Djaka 1978 : 24) Dalam arti yang luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu, supaya kegiatan dapat terlaksana dengan praktis dan rasional serta terarah untuk mencapai hasil yang optimal (Bakker 1986 :10).
Menurut Winarno Surakhmad metode adalah cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku bagi dunia pendidikan dan pengajaran. Semakin baik metode itu akan semakin efektif pula pencapaian tujuan, dengan memiliki pengertian secara umum mengenai kelemahan-kelemahannya, seseorang akan lebih mudah memilih dan menetapkan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi (Surakhmad 1990:23).
Secara spesifik Mulyanto dan Kafrawi menegaskan pula dalam buku penelitian mereka Pedomana Pengajaran Bahasa Arab bahwa definisi metode adalah rencana menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan tidak saling bertentangan dan didasarkan atas suatu pendekatan untuk menyampaikan suatu tujuan pembelajaran. Adapun pengajaran sebagai penyampaian materi pelajaran oleh seseorang pengajar ke dalam otak atau pikiran pelajar serta pengasahan daya konitifnya dengan ketrampilan-ketrampilan dan ilmu pengetahuan (Yunus 1991:3). Dengan demikian metode pengajaran merupakan sebuah mekanisme dari proses belajar mengajar yang melibatkan unsur-unsur pengajaran, guru, siswa dan materi pelajaran.

2. Pengajaran
Pengajaran berasal dari kata “ajar” yang secara etimologi adalah barang apa yang dikatakan orang supaya diketahui (Purwadarminta 1976: 735). Sedangkan secara terminologi adalah proses penyampaian bahan pelajaran dari seseorang pada orang lain dengan tujuan agar orang lain menerima, menguasai dan mengembangkan bahan itu (Jatriana 2001:35). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengajaran memiliki tiga arti, pertama: proses, perbuatan, cara mengajar/mengajarkan; kedua : perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, dan ketiga : peringatan.(Depdikbud, 1990: 13) oleh karena itu pengajaran biasa diartikan sebagai salah satu daya upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Sementara “mengajar” menurut pengertian mutakhir merupakan suatu perbuatan yang kompleks, perbuatan mengajar yang kompleks dapat diterjemahkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar untuk menyampaikan pesan pengajaran. Dengan kata lain, pengertian “mengajar” secara umum adalah menyampaikan pengetahuan (baca : ilmu pengetahuan) dari seorang pengajar kepada pelajar. Jadi dengan demikian, ‘mengajar’ adalah menanamkan sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan ketrampilan dasar dari seorang yang telah mengetahui dan menguasai kepada orang lain.
Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik satu benang merah bahwa mengajar adalah membantu, membimbing dan mengarahkan pelajar untuk memperoleh perubahan tingkah laku, sikap dan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Sistem pengajaran baru dapat berlangsung dengan baik apabila pengajar mengetahui peranannya dan pelajar mengetahui kedudukannya sehingga interaksi kegiatan belajar mengajar melahirkan hubungan yang harmonis dan memungkinkan terjadinya peningkatan hasil belajar.

3. Bahasa Arab
Kata “Arab” adalah nama bangsa dan bahasa di jazirah Arab dan Asia Tenggara. Bahasa Arab termasuk salah satu rumpun bahasa Semit (‘Ali Yunus dalam Abdul Muin 2004:19) yaitu bahasa yang dipakai bangsa-bangsa keturunan Syam putra Nabi Nuh as yang tinggal di sekitar sungai Tigris dan Eufrat, daratan Syiria dan jazirah-jazirah Arbania (Timur Tengah). Sejak dahulu hingga sekarang, catatan-catatan sejarah mengungkapkan bahwa tempat asal-usul bahasa Semit adalah suatu kawasan yang berdekatan dan meliputi kawasan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), Semenanjung Arab dan Etiopia. Dalam lingkungan daerah ini, para pakar bahasa telah mengungkapkan penyebaran geografis utama bahasa-bahasa Semit. Bahasa Semit dari kawasan Timur Laut terdapat di Mesopotamia, yang terdiri dari bahasa Akkadia, suatu bahasa Semit yang paling tua dan tercatat kira-kira 3000 tahun sebelum masehi (Anwar G Chejne 1996:29).
Bahasa Arab dan bahasa Etiopia merupakan dua bahasa utama dari pembagian geografis di atas. Bahasa Arab sendiri dapat dibagi menjadi dialek-dialek Selatan dan dialek-dialek Utara. Prasasti-prasasti tertua dalam bahasa Arab Selatan dapat ditelusuri sejak abad ke-8 sebelum masehi. Prasasti ini memberikan pula informasi tentang adanya kerajaan-kerajaan seperti Saba, Minea, Qabatia, dan Himyar (Anwar G. Chhejne 1996:30).
Bahasa Arab Utara muncul belakang walau pun prasasti-prasasti Thamud, Lihyan dan Safaiti masih mempunyai hubungan dengan bahasa tua Arab Utara. Barulah pada abad ke-6, kita mendapatkan informasi tentang bahasa Arab yang ternyata telah berkembang menjadi bahasa al-Qur’an pada abad berikutnya. Dan bahasa Arab inilah yang sering disebut sebagai bahasa Arab Fusha pada masa Islam (Anwar G. Chhejne, 1996: 30).
Pad beberapa tahun terakhir bahasa Arab memperoleh perhatian dunia non-Arab yang lebih besar dibandingkan dari waktu-waktu sebelumnya (Sumardi dan Kafrawy, 1976:24) bahasa Arab mendpat tempat sebagai pemersatu umat Islam. Peranan bahasa Arab sebagai bahasa yang hidup, baik yang berbentuk klasik maupun yang berbentuk modern mempunyai peranan penting dalam bidang agama, ilmu pengetahuan dan hubungan internasional, bahkan mempunyai peranan penting pula dalam pembinaan dan pengembangan nasional (Sumardi dan Kafrawy, 1976: 63). Maka secara umum bahasa Arab merupakan kata-kata yang dipakai oleh bangsa-bangsa (di negara-negara) Arab khususnya dan umat Islam pada umumnya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Lebih spesifik lagi bahasa Arab yang dimaksudkan dalam tesis ini adalah bahasa Arab sebagai bidang studi yang diajarkan di sekolah-skolah ataupun perkuliahan, dengan tujuan agar para pelajar bahasa arab dapat mengkomunikasikannya baik dalam berinteaksi secara langsung antara orang perorang maupun secara tidak langsung. Oleh karena itu kemudahan dalam berbahasa Arab, baik secara pasif apalagi secara aktif, menjadikan bahasa Arab memasyarakat. Sebab segala upaya untuk memudahkan bahasa Arab, merupakan langkah-langkah pemasyarakatan bahasa itu sendiri.
Berikut ini akan dijelaskan tentang teori tentang belajar bahasa dan metode pengajaran sintaksis bahasa arab.

Metode Pengajaran Bahasa
Sebelum menjelaskan tentang metode pengajaran nahw, perlu terlebih dahulu menyingkap tentang metode pengajaran bahasa secara umum, karena metode pengajaran nahw ini mengambil bentuk dari metode pengajaran bahasa tersebut. Banyak metode yang dikemukakan oleh pakar linguistik tentang pengajaran bahasa, puluhan bahkan ratusan. Sebagian metode menekankan pada pengajaran kemahiran berbahasa dan sebagian yang lain menekankan pada pengajaran materi bahasa. Sehingga dalam pemberian nama suatu metode pun berdasarkan penekanan-penekanan tersebut, sebagian nama metode diambil dari kemahiran yang ingin dicapai seperti metode membaca (reading method). Sebagian nama yang lain diambil dari materi yang diajarkan seperti metode gramatika (grammar-method) dan metode fonetik (phonetic method). Nama sebagian yang lainnya diambil dari proses pelaksanaannya seperti metode langsung (direct method) dan metode audio-lingual (audio-lingal method). Secara umum teori belajar bahasa dapat dibagi menjadi:

1. Struktural
Di antara tokoh teori ini adalah Jakobson, sehingga terkadang teori ini juga disebut dengan teori Jakobson. Adapun prinsip-prinsip perolehan dalam teori struktural menurut Jakobson adalah sebagai berikut (Simanjuntak, 1990: 25-36): 1) Perolehan dan perkembangan fonologi dibedakan menjadi dua masa, yaitu masa membabel pra bahasa (pre-language babbling period) dan masa perolehan bahasa murni (the acquisition of language proper); 2) Keseringan suatu fon dalam bahasa-bahasa di dunialah yang menentukan bahwa fon itu lebih dulu diperoleh, sedangkan bunyi-bunyi yang tidak muncul dalam semua bahasa di dunia akan diperoleh kemudian; 3) Sifat kesejagatan perolehan bahasa mempunyai hubungan yang erat dengan jagat-jagat linguistik.

2. Generatif Transformatif
Penerbitan karya Chomsky “Syntactic structures” pada tahun 1957 mengantar abad baru dalam linguistik. Data serta metode analisis linguistik pun mengalami perubahan besar-besaran (Tarigan 1986:129) Bentuk konkret dari teori ini akan terlihat dalam teori belajar bahasa kognitivisme yang akan dijelaskan dalam uraian tentang teori belajar bahasa.
Di sisi lain, Jack C. Richards dan Thodore S. Rodgers mengemukakan bahwa sekurangnya terdapat tiga pandangan (teori) yang berbeda tentang bahasa yang secara eksplisit ataupun implisit telah mengilhami pendekatan dan metode pengajaran bahasa, yaitu teori struktural, teori fungsional teori interaksional dan tergolong klasik adalah teori struktural yang memandang bahasa sebagai sebuah sistem yang terstruktur, saling berhubungan antara unsur-unsurnya dalam membangun makna. Target pengajaran bahasa menurut teori ini adalah untuk menguasai unsur-unsur dari sistem yang secara umum terdiri dari unsur fonologi, gramatika dan leksikal. Yang kedua adalah teori fungsional yang memandang bahasa sebagai media mengekspresikan makna yang fungsional. Teori ini mengilhami pergerakan komunikatif dalam pengajaran bahasa. Teori ini lebih mengutamakan dimensi semantis dan komunikatif dari pada gramatikal bahasa dan mengarahkan spesifikasi dan organisir materi pengajaran bahasa pada pembahasan-pembahasan yang penuh makna dan fungsional ketimbang unsur-unsur struktur dan gramatika. Ketiga adalah teori interaksional yang memandang bahasa sebagai media untuk merealisasikan dan menginterpretasikan hubungan-hubungan dan sebagai sarana komunikasi antar individu. Teori interaksi memusatkan perhatian pada pergerakan-pergerakan, aksi-aksi negosiasi dan interaksi sebagaimana yang ditemukan dalam hubungan konvensional. Sehingga materi pengajarannya juga mengarah pada pola-pola ini. Struktural, fungsional dan interaksional merupakan aksioma dan kerangka teoritis yang akan mempengaruhi metode pengajaran.

3. Behaviorisme
Teori behaviorisme sebagai teori belajar bahasa dipengaruhi oleh teori bahasa struktural, dan teori ini biasa disebut juga dengan teori mekanistis. Tokoh aliran ini diantaranya adalah Leonard Bloomfield dan Skinner.
Aliran behaviorisme dalam bahasa disarikan dari pandangan kaum behavioris tentang conditioning yang menganggap bahwa hewan bisa dilatih untuk melakukan apapun. Untuk melakukan ini, harus mengikuti prosedur yang terdiri dari tiga tahap: stimulus, response, dan reinforcement. Suatu perilaku akan muncul bila didahului oleh stimulus. Perilaku itu dapat diperkuat, dibiasakan, dengan memberi penguatan (reinforcement).

4. Kognitivisme
Kognitivisme dipengaruhi oleh teori bahasa generatif transformasi dan biasa disebut mentalisme yang timbul sebagai reaksi terhadap behaviorisme, teori ini dipelopori oleh linguis Noam Chomsky. Dengan teori ini segera terlihat bahwa linguistik baru itu tidaklah sesuai dengan psikologi behaviorisme, baik dari segi alasan-alasan filosofis maupun empiris.

Metode Pengajaran Sintaksis/Nahw
Dalam pengajaran sintaksis/nahw digunakan dua jenis metode, yaitu:

1. Metode umum pengajaran bahasa Arab
Sebagai salah satu materi dalam pelajaran bahasa Arab, maka metode pengajaran nahw mengambil bentuk dari metode pembelajaran bahasa secara umum. Pembelajaran nahw tersebut bisa menggunakan metode pengajaran bahasa yang dibangun berdasarkan pendekatan komunikatif ataupun struktural.
Di antara metode yang dikemukakan oleh Francis Mackey di atas, yang memberikan perhatian pada gramatika bahasa adalah metode gramatika (grammar method), metode terjemahan gramatika (grammar-translation method), metode langsung (direct method) dan lain-lain. Metode gramatika sebagai metode yang paling konsen terhadap pengajaran gramatika bahasa mengarahkan pengajaran bahasa pada penghafalan aturan-aturan gramatika (rules of grammar), kemudian kata-kata dirangkai menurut kaidah gramatika yang berlaku. Gramatika dibelajarkan secara deduktif. Metode terjemahan gramatika dimulai dengan pengajaran kaidah-kaidah gramatika dan daftar-daftar kosa kata dwi-bahasa yang berkaitan erat dengan bahan bacaan pada pelajaran yang bersangkutan. Gramatika dibelajarkan secara deduktif dengan penjelasan-penjelasan yang panjang dan terperinci. Sedangkan dalam metode langsung, kaidah gramatika tidak diajarkan secara eksplisit, kaidah-kaidah tersebut diharapkan dapat dipelajari melalui praktek dan latihan, kemudian anak didik didorong untuk membuat generalisasi-generalisasi tentang kaidah gramatika secara induktif. Kalau kaidah gramatika harus diajarkan secara eksplisit maka harus menggunakan bahas sasaran.
Dari ketiga metode di atas terdapat beberapa hal yang menyangkut pengajaran nahw, yaitu (1) dari metode gramatika nahw menjadi fokus pengajaran, sehingga metode ini kurang tepat disebut metode pembelajaran bahasa tapi lebih mengarah pada metode pengajaran tentang bahasa, (2) dari metode terjemahan gramatika nahw menjadi mejadi bagian dari proses pengajaran, karena fokus metode ini ada dua yaitu gramatika dan kosakata, yang diikuti dengan bacaan yang memuat yang memuat kedua unsur tersebut sehingga memudahkan dalam prose penterjemahannya, dan (3) dari metode langsung nahw dibelajarkan secara implisit sebagai hasil generalisasi dari membandingkan antara beberapa kalimat yang digunakan dalam praktek, atau nahw dibelajarkan secara eksplisit dengan langsung menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar.

2. Metode Khusus Pengajaran Sintaksis/Nahw
Sedangkan dalam pengembangan metode-metode tersebut digunakan metode-metode yang khusus berhubungan dengan pengajaran nahw yang bisa menjadi acuan konkret dalam merumuskan teknik-teknik pembelajaran nahw. Metode-metode tersebut adalah besar-besaran (Syahathah 1979: 208-214)

a) al-Tharîqah al-qiyâsiyyah (metode deduktif)
Metode ini merupakan pioner dalam khazanah metode pengajaran nahw dan memiliki peran penting dalam sistem pembelajaran klasik. Metode ini disusun berdasarkan pola pikir deduktif, berpikir dari umum ke khusus, dari ma ’lûm ke majhûl, dari ketentuan umum menuju penerapan khusus, dari kulli ke juz’i, dari kaidah menuju contoh. Al-qiyâs (analogi) dilakukan setelah mengetahui al-maqîs ‘alaih (kaidah) sebagai model imitatif. Langkah-langkah metode ini adalah; 1) Guru menyebutkan kaidah (ta’rîf) atau konsep umum; 2) Guru menjelaskan kaidah dengan menyertakan contoh-contoh; 3) Penerapan kaidah-kaidah dalam contoh-contoh yang lebih luas. Metode ini tergolong gampang dilaksanakan dengan waktu yang relatif singkat sehingga metode ini banyak digunakan daglam pengajaran nahw. Tapi metode ini membiasakan anak didik menghafal kaidah dan menirukan contoh-contohnya sehingga menyebabkan anak kurang aktif. Sedangkan dari aspek logika penajarannya, metode ini dimulai dengan kaidah-kaidah umum yang biasanya menyulitkan bagi anak untuk memahaminya, sehingga metode ini menyalahi prinsip pengajaran bahwa pengajaran harus dimulai dengan seuatu yang mudah menuju yang sulit.

b) al-Tharîqah al-istiqrâiyyah (metode induktif)
Munculnya metode ini dilatarbelakangi oleh lima langkah pengajaran yang dikemukakan oleh filosof Jerman Frederick Herbart (1776-1844), yaitu: appersepsi, penyajian materi, korelasi materi, konklusi dan aplikasi. Metode ini disusun berdasarkan pola pikir induktif, berpikir dari khusus ke umum, dari penerapan-penerapan khusus menuju ketentuan umum, dari contoh kepada konsep. Metode ini membiasakan siswa untuk menarik kesimpulan sendiri. Walaupun membutuhkan waktu pembelajaran yang agak lama, tapi metode ini mendidik anak untuk menganalisa contoh-contoh yang ada sampai menemukan sendiri kaidah-kaidah yang ada di dalamnya. Pengajaran seperti ini relatif lebih berkesan bagi anak didik.

c) al-Tharîqah al-mu’addalah (metode modifikasi)
Metode ini merupakan hasil modifikasi dari dua metode sebelumnya dengan membelajarkan nahw melalui teks dengan topik-topik yang menarik bagi anak. Dari teks tersebut dipilih kalimat-kalimat yang memiliki karakteristik tertentu kemudian dirumuskan kaidah dan terakhir diaplikasikan.
Dalam metode ini, nahw yang diajarkan bersifat naturalistik, karena nahw dibelajarkan melalui bahasa dengan sifat-sifat kealamiahannya yang digunakan di dalam teks. Metode ini memuat dua aspek utama, yaitu tarkîb (struktur) dan dalâlah (semantis) sehingga terlihat urgensi nahw dalam menemukan makna sebuah teks.

d) Tharîqah al-nasyâth
Metode ini tergolong baru dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya yang dibangun berdasarkan asas psikologis yang mengutamakan keaktifan anak didik sebagai individu yang dibelajarkan. Anak didik diminta untuk mencari nash atau syawâhid dari buku-buku pelajaran atau sumber lainnya yang memuat kaidah-kaidah nahw, seperti mengenai al-fâ ’il, al-istifhâm dan kaidah-kaidah lain. Pola-pola, contoh-contoh, kalimat-kalimat atau perumpamaan yang ada tersebut didiskusikan sehingga didapatkan kesimpulan tentang suatu kaidah tertentu, kemudian kaidah tersebut dianalogikan melalui latihan-latihan.

e) Tharîqah hal-almusykilât (metode problem solving)
Metode ini dilaksanakan atas dasar penyelesaian kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang ditemui anak didik ketika berbicara ataupun menulis, sehingga pelajaran ta’bîr atau qirâ’ah bisa menjadi langkah awal untuk mendeteksi kesulitan-kesulitan nahw yang dihadapi anak didik, kemudian guru mengarahkankan perhatian anak bahwa kesulitan nahw tersebut akan menjadi topik bahasan pelajaran nahw dalam kesempatan berikutnya. Kesulitan-kesulitan nahw yang dihadapi anak didik juga dapat dideteksi melalui karangan-karangn anak. Kesulitan-kesulitan tersebut didiskusikan dan kemudian disimpulkan kaidah-kaidah yang terkandung di dalamnya. Metode ini menuntut kecerdasan guru dalam mendeteksi kesalahan-kesalahan nahw yang dilakukan anak didik.
Teori ini mengutamakan karaktristik psikologis anak dan aspek-aspek kelelemahan individu.
Dari beberapa metode pengajaran nahw yang dikemukan di atas, pada hakekatnya tetap mengacu pada dua metode utama, metode deduktif dan metode induktif. Hanya saja pelaksanaanya mengambil format yang berbada, seperti al-tharîqah almu’addalah, tharîqah al-nasyâth dan tharîqah hal-almusykilât merupakan pengembangan dari metode induktif. Untuk pengembangan metode-metode tersebut –metode pengajaran bahasa Arab umum dan metode pengajaran nahw khusus- bisa digunakan teknik-teknik pengajaran nahw yang sangat beragam tergantung pada kreatifitas dan imajinasi seorang guru nahw dalam mengekspresikan diri dengan seperangkat misi yang dibawanya di hadapan anak didik, di antaranya:
a. Teknik al-ilqâ’ atau al-muhâdharah atau biasa disebut teknik ceramah
yang menuntut keaktifan guru untuk menyampaikan materi-materi, teknik
ini termasuk banyak digunakan karena guru bisa menyampaikan banyak
materi pengajaran dalam waktu yang relatif singkat kepada jumlah anak
didik yang relatif besar, walaupun di satu sisi teknik ini menyebabkan
anak didik menjadi pasif.
b. Teknik hiwâr yaitu dialog antara guru dan anak didik melalui beberapa
pertanyaan dan jawaban sehingga sampai pada esensi materi
pembelajaran.
c. Teknik munâqasyaah yaitu diskusi yang dipandu oleh guru, diskusi bisa
menjadi media bagi guru untuk pemantapan materi yang lalu dan
pengenalan terhadap materi yang baru karena topik-topik yang
didiskusikan akan berkembang sesuai dengan jalannya diskusi.

Dalam menyusun teknik pengajaran nahw, perlu diperhatikan teori-teori tentang sintaksis secara umum. Dalam linguistik modern, dikenal beberapa teori sintaksis yaitu teori tentang pola analisa kalimat yang mempunyai hubungan dan pengaruh yang signifikan terhadap pengajaran pola-pola kalimat dalam nahw. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut: (‘Ali al Kully 1983:61-63)
a. Teori taqlîdi (klasik)
Menurut teori ini, kata-kata terbagi menjadi tiga jenis, yaitu ism, fi’l dan harf. Ism mempunyai beberapa bentuk dan fungsi. Demikian juga fi’l mempunyai beberapa jenis, seperti mujarrad, mazîd, shahîh, mu’tal, lâzim, muta’addi, mâdhi, mudhâri’, amr, mabniy, mu’rab, dan lain-lain. Sedangkan harf mempunyai beberapa jenis, di antaranya harf jarr, ‘athf, syarth, dan lain-lain. Sebagian besar buku-buku qaw ’id mengikuti teori ini.
b. Teori mukawwanât mubâsyarah
Menurut teori ini kalimat tersusun dari dua bagian. Setiap bagian dari kedua bagian tersebut tersusun dari dua bagian lagi. Demikian seterusnya sampai kepada kata-kata per unit.
c. Teori qawâlib
Menurut teori ini bahwa penyusunan suatu kata bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara sharf (morfologis) atau nahw (sintaksis). Teori ini mendefinisikan jenis-jenis kata berdasarkan perannya pada suatu pola.
d. Teori tahwîliyyah
Teori ini muncul di Amerika sekitar tahun lima puluhan pada abad ke-20. Di antara pokok pikiran teori ini adalah: Menurut teori ini, setiap kalimat mempunyai susunan yang sifatnya eksplisit dan implisit. Teori ini serta kaidah-kaidahnya mempunyai keistimewan dalam tingkat kejelasannya dan terhindar dari keambiguan karena teori ini meletakkan aturan untuk setiap langkah perubahan.Teori ini mengikuti model ilmiah.

Pengetahuan terhadap teori-teori di atas dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengembangan pengajaran pola-pola kalimat. Seperti dengan teori taqlîdi guru bisa menjelaskan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasa, dengan teori mukawwanât mubâsyarah guru bisa mengajak anak didik untuk membentuk kalimat yang beragam berdasarkan satu atau beberapa pola tertentu, sedangkan dengan teori tahwîliyyah guru bisa membuat latihan-latihan mengubah kalimat sesuai dengan situasi yang mengitarinya. Pembelajaran nahw bersifat fleksibel menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi, seperti yang dijelaskan oleh Mildred A. Dawson dkk, Pada tingkat yang sudah tinggi gramatika mungkin diajarkan dalam bentuk functional way atau diperkenalkan sebagai bahasa studi. Sedangkan bagi pemula guru dapat menggunakan textbook sebagai panduan dalam memperkenalkan faktor-faktor dasar kata atau kalimat sekalipun textbook tersebut tidak dapat mencakup keseluruhan aspek gramatika, tapi setidaknya dapat mendorong anak didik untuk belajar mandiri dari hasil-hasil observasi dan analisisnya tentang bahasa sebagaimana yang mereka lihat dan mereka dengar.

Daftar Pustaka
Abdul Mu’in, Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia: Tela’ah Terhadap Fonetik dan Morfologi, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2004
Agus Mirwan, Teori Mengajar, Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 1989.
A. Akrom. Malibary, Pengajaran Bahasa Arab di Madarasah Aliyah, Jakarta, Bulan Bintang, 1987
Ali Maksum, al-Sharful Wadhi, Yogyakarta, PP al-Munawir, 1989
Lukman Harun, Bahasa di Tengah-tengah Bahasa Dunia Lainnya, Makalah Seminar Fakultas Sastra UGM, 1988
Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986
Anwar G. Chejne, The Arabic Language: Its Role in History, (terj.) Aliudin Mahjudin, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1996
A. Samana, Sistem Pengajaran, Yogyakarta: Kanisius, 1992
A. Tabrani Rusyan, dkk., Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1989
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990
Djaka, Rangkuman Ilmu Mendidik, Jakarta: Mutiara, 1978
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Edisi IV, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI Bandung bekerjasama dengan PT. Remaja Rosdakarya, 2008
Jatriana, “Peranan Direct Methjod dalam Aplikasi Pendekatan All in One System; Telaah Metode dalam Pembelajaran Bahasa Arab”,Skripsi, IAIN Sunan Kalijaga, 2001
JP.Rambepajung, Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Asing, Jakarta: Dirjen Dikti PPLPTK, 1989
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Yayasan al-Hidayah, 1965
Mulyanto Sumardi dan Kafrawi, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama Islam, 1976
Robert Lado, Linguistik di Berbagai Budaya, Terjemahan Soedarjono Pardjono, Bandung, Ganeo, 1979
Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar, Bandung: Tarsito, 1990
W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: