STRATEGI DAN KEBIJAKSANAAN DAKWAH DI ERA INFORMASI


Oleh:

Akhmad Sukardi, M.Sos.I

Abstrak: Dakwah dan informasi secara formal memiliki kesamaan yaitu menyampaikan pesan kepada orang lain. Tetapi secara substansial memiliki perbedaan. Dakwah tidak netral karena memihak pada nilai-nilai Islam. Informasi dapat dikatakan netral kerana interpretasinya diserahkan kepada obyeknya, tetapi sering kali tak netral karena biasa dikemas untuk interes tertentu dari sumber informasi. Penyebaran informasi yang deras menimbulkan kompetisi yang kuat dari ide-ide dan nilai-nilai yang ditawarkan. Ide dan nilai-nilai yang unggul karena masyarakat memandangnya mampu mengatasi masalahnya dan memberikan kesegaran dan atraktif yang tinggi. Karena itu, di era informasi ini dakwah harus memiliki kebijaksanaan dan strategi tertentu yaitu informasi dikendalikan untuk mendukung dinamika dakwah agar nilai Islam yang ditawarkan menjadi pilihan tepat bagi masyarakat untuk mengatasi problema hidupnya. Kebijaksanaan dakwah untuk pencapaian strategi tersebut adalah akomodatif, kontributif, kompetitif, antisipatif, dan evaluasi-kritis.

Kata Kunci: Dakwah dan informasi

Pendahuluan
Di era informasi ini berkembang dengan pesat media-media massa dan alat komunikasi yang canggih yang dapat melahirkan apa yang disebut globalisasi. Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi dakwah. Disebut tantangan, bukan hambatan karena tantangan bukan seharusnya menjadi penghambat tetapi justru bisa menjadi pendorong bagi dakwah untuk lebih tampil secara efektif dan efisien menyampaikan pesan-pesan Islam.
Tantangan di era informasi semakin kompleks karena pesan-pesan melalui media massa memberikan tawaran-tawaran ide dan nilai-nilai yang dikenal dalam suatu paket yang menarik. Hal tersebut bisa menyebabkan pergeseran nilai dalam masyarakat yang jauh dari norma-norma Islam. Akan tetapi, sebaliknya dakwah dapat pula memanfaatkan media modern itu untuk intensifikasi dakwah.
Penyebaran informasi yang deras menimbulkan kompetisi yang kuat dari ide-ide dan nilai-nilai yang ditawarkan. Ide dan nilai-nilai yang unggul karena masyarakat memandangnya mampu mengatasi masalahnya dan memberikan kesegaran dan atraktif yang tinggi. Karena itu, dakwah perlu membuat strategi dan langkah-langkah kebijakan agar nilai Islam yang ditawarkan menjadi pilihan tepat bagi masyarakat untuk mengatasi problema hidupnya. Karena itu masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana strategi dan kebijakan dakwah di era informasi sekarang ini?

Era Informasi dan Masalahnya
Alfin Toffler, seorang ahli futurologi Amerika Serikat dalam bukunya The Third Wave (1980) membagi sejarah manusia atas tiga gelombang, yaitu:
1. Gelombang pertama (Tahun 7000 SM-1700 M). Di masa ini manusia sudah menerapkan tekhnologi sederhana yang menggunakan energi yang disimpan oleh alam seperti: energi tumbuhan, energi tenaga hewan, energi angin energi air dan sebagainya.
2. Golongan kedua (tahun 1700-1970), bermula dari era revolusi industri di Inggris. Di era ini, teknologi berkembang pesat dengan ditemukannya energi batu bara, gas dan minyak bumi yang menggerakkan mesin uap, mesin elektro mekanis, kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik yang menghasilkan barang-barang komsumsi secara massal. Akibat temuan-temuan tersebut memperluas ekspansi pasaran ke seluruh dunia. Ketamakan akan bahan-bahan akan baku untuk menjalankan alat-alat produksi di negara-negara Barat akhirnya mengubah pola perdagangan Barat di dunia Timur menjadi kolonialisme. Prinsip yang berkembang di era ini adalah manusia harus menaklukkan alam dan harus mampu survive di tengah-tengah perubahan-perubahan yang deras untuk selanjutnya mengejar kemajuan denga jiwa progresifisme.
3. Gelombang ke tiga dimulai sejak tahun 1970 sampai sekarang yang disebut sebagai era informasi. Mulai pada saat ini teknologi di bidang komunikasi berkembang pesat. Negara-negara maju berlomba-lomba meluncurkan satelit dan penemuan alat-alat komunikasi lainnya seperti: Facsimile yang mampu melakukan pengiriman jarak jauh, Fiber Optics yang mampu membawa pesan bebas gangguan dan hambatan untuk jarak jauh serta microprosessor dengan pengolahan maksimal, internet, dan berbagai temuan lainnya.

Alat-alat komunikasi dan informasi tersebut meskipun juga telah digunakan oleh negara-negara berkembang terutama satelit tetapi masih minim dibanding di negara-negara maju (Barat). Disamping itu, kemampuan negara-negara maju menguasai informasi itu sendiri demikian tinggi sehingga distribusi materi informasi cenderung didominasi oleh negara-negara maju.
Teori dependensia khususnya di bidang informasi yang dicetuskan oleh Johan Galtung menteorikan bahwa negara-negara Barat yang maju adalah pusat jendela dunia bagi negara-negara berkembang. Peranan negara-negara maju dalam menguasai informasi sangat rasialis dan deterministik. Kantor-kantor berita barat di New York, London, Paris dan sebagainya memproduksi berita-berita dan menentukan mana berita yang layak di salurkan ke negara-negara berkembang.
Terdapat dua pola implikasi dari arus penyebaran informasi seperti ini. Pertama, adalah menyangkut akurasi pemberitaan dan kedua menyangkut preferensi obyek pemberitaan.
Dalam hal yang pertama, Edward W. Said dalam bukunya Covering Islam menjelaskan bahwa Islam dan dunia Islam menjadi salah satu obyek pemberitaan yang menaruh perhatian besar negara-negara Barat. Para wartawan Barat yang dikirim ke dunia Islam melakukan manifulasi faktor-faktor dunia Islam. Mereka tidak mengerti bahasa dan asing terhadap wilayah di mana ditugaskan. Berita yang disajikan sangat memihak pada kemauan dan kepentingan Barat dan sangat negatif namun tidak disoroti oleh konsumen Barat.
Hal yang kedua, preferensi obyek pemberitaan erat kaitannya dengan soal ideologi dimana Barat menganut ideologi Free flow of ideas by words and images, (penyebarluasan ide-ide dengan cara bebas dengan kata-kata dan pelukisan-pelukisan). Ideologi ini mengandung makna kebebasan memberitakan apa yang menarik diketahui umum. Ideologi tersebut menjadi kekuatan untuk menjadikan Barat sebagai “Jendela dunia bagi negara-negara berkembang. Prinsip “kebebasan” dan “daya tarik” suatu berita kadang-kadang lebih penting dari kebenaran isi berita itu.
Kecenderungan masyarakat dunia dewasa ini melihat informasi sebagai kebutuhan primer, siapa yang menguasai informasi Dialah yang akan menguasai masa depan. Terdapat semboyan bahwa : “The New source of Power is not money in the hand of afew, but informasion in the hand of many|” (Sumber kekuatan baru masyarakat bukanlah uang dalam tangan segelintir orang, tetapi informasi di tangan banyak orang). Ziandian Sardar juga menjelaskan bahwa dewasa ini informasi menjadi barang komoditi primer dan bisa menjadi sumber kekuasaan. Dimasa yang akan datang informasi akan menjadi sarana penting untuk alat manipulasi dan alat kendali serta dapat menjadi penentu untuk menetapkan kekuasaan riel.
Penyebaran informasi keseluruh kawasan dunia akan dapat menciptakan terobosan-terobosan baru dalam suatu masyarakat dan sekaligus dapat membentuk opini, mengubah sikap serta menggeser nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat itu. Akibat-akibat tersebut disamping memberikan kontribusi bagi kemajuan, tetapi juga sangat memprihatinkan dari segi nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat itu.
Era informasi akan dapat menciptakan masyarakat terbuka (open society) menurut konsep Karl R. Popper, yaitu masyarakat yang mengadopsi nilai-nilai luar untuk mengentaskan keterbelakangan. Bagi Popper, tidak ada nilai absolut dan universal. Nilai selalu hasil produk zaman. Pandangan seperti ini akan menjadi ancaman bagi Islam, Karena dalam Islam ada nilai universal dan nilai absolut yang harus dipertahankan ke autentikannya, walaupun juga Islam tidak menutup diri dari perubahan.
Di zaman sekarang ini, kata Ernest Gallner, banyak agama tersekularisasi. Orang masih sering beranggapan “bahwa dalam masyarakat ilmiyah-industri, iman dan amalan agama akan menurun. Seseorang dapat memberikan topangan intelektual terhadap pandangan ini: Doktrin agama bertentangan dengan pandangan ilmiah yang memiliki banyak kelebihan dan yang menjadi dasar teknologi dan ekonomi modern. Maka iman agama akan merosok. Derajatnya menurun pada saat derajat lawannya naik. Akan tetapi, kata Ernest Gellner selanjutnya, di tengah-tengah semua itu, ada lagi pengecualian yang lebih nyata, dramatis dan mencolok, yaitu Islam. Menganggap sekularisasi telah melanda Islam tidaklah berlebihan, tetapi anggapan itu salah belaka. Saat ini Islam tetap kuat seperti seabad yang lampau. Bahkan mungkin lebih kuat.
Bahkan ada optimisme di kalangan cendekiawan Muslim tertentu bahwa dikala sosialisme komunisme mengalami kebangkrutan, dan ketika rapuhnya liberalisme-kapitalisme, maka Islam bisa menjadi alternatif.
Tentu dalam tahap keyakinan dan dari segi konseptual Islam seperti apa yang digambarkan dan diharapkan, karena ia adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin. Akan tetapi, apakah Islam yang ada dalam kenyataan, Islam yang ada dalam realitas kehidupan sosial, adalah sejalan dengan gambaran dan harapan itu. Bukankah negara-negara yang masuk kategori negara-negara dunia ketiga, bahkan negara-negara yang diidentifikasi sebagai negara miskin di dunia, kebanyakan adalah yang penduduk (masyarakatnya) beragama Islam.
Posisi ummat Islam Indonesia di tengah-tengah perkembangan peradaban dunia seperti digambarkan oleh DR. Alwi Dahlan: Di kota-kota besar mulai banyak yang menerapkan cara dan gaya kehidupan peradaban kehidupan informasi. Rakyat kebanyakan pun mulai akrab dengan berbagai peralatan teknologi mutakhir. Kita berpijak pada beberapa zaman sekaligus. Kaki yang satu sudah diabad informasi, tapi yang satu lagi tertinggal jauh di belakang. Keadaan yang mendua ini terdapat pada berbagai bidang kehidupan. Teknologi modern telah masuk tapi sikap serta keadaan belum berubah. Peralatan gelombang ketiga dipakai dengan cara dan kebijaksanaan gelombang pertama, yang mutakhir bercampur dengan yang antik (kuno). Kita bagaikan berada di selat tempat titik beradunya ketiga gelombang tadi. Ini tentu lebih berat jika dibandingkan dengan perubahan yang dihadapi negara maju, yang hanya menghadapi tantangan gelombang dua atau gelombang tiga saja. Keadaan seperti itu tentu tidak dapat dibiarkan terus, karena lama-kelamaan perbenturan gelombang peradaban ituakan mengganggu fungsi masyarakat sebagai suatu sistem yang utuh, efektif dan efesial.
Infiltrasi budaya yang masuk melalui berbagai media massa, televisi, film, majalah, buku-buku bacaan, juga melalui kunjungan para wisatawan mancanegara yang keberadaan mereka selain untuk melihat panorama negeri tercinta Indonesia juga secara tidak langsung memperkenalkan pola kehidupan keseharian tertentu terutama cara berpakaian.

Kebijaksanaan dan Strategi Dakwah di Era Informasi
Dalam menghadapi era informasi, dakwah harus memiliki perhitungan-perhitungan yang jitu, melakukan analisis kondisi antisipasi masa depan, pemikiran-pemikiran teoritik serta kebijakan-kebijakan praktis dan sistematis.
Dakwah adalah ajakan dan seruan kepada umat manusia agar berada dan tetap berada dalam nilai-nilai dan norma-norma Islam, menjadikan Islam sebagai prisip hidupnya. Pengertian dakwah tersebut dimaknai sebagai sebuah proses, yaitu proses obserpsi nilai untuk transformasi individual dan proses for warding nilai untuk transformasi sosial. Transformasi individual adalah mengubah dan membobotkan pribadi sebagai pribadi muslim yang menjadikan Islam sebagai kekuatan transenden dan kekuatan ekspressif untuk diwujudkan dalam tatanan sosial, dan sel;anjutnya mewujudkan transformasi sosial.
Dakwah informasi secara formal memiliki kesamaan yaitu menyampaikan pesan memihak kepada nilai-nilai Islam. Informasi dapat dikatakan netral karena interpretasinya diserahkan kepada obyeknya, tetapi juga sering kali tak netral dikemas untuk interes tertentu dari sumbeer informasi. Karena itu,di era informasi ini dakwah harus memiliki strategi tertentu yaitu informasi dikendalikan untuk mendukung dinamika dakwah. Dakwah harus memperluas cakrawala pandang ummat Islam dan sekaligus memperkokoh ketahanan nilai-nilai Islam.
Ada 5 kebijaksanaan dakwah yang merupakan penjabaran operasional strategi dakwahyang perlu diwujudkan di era informasi dewasa ini adalah:

1. Akomodatif
Akomodatif, artinya dakwah harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, terutama dalam menggunakan media komunikasi atau alat informasih Akomodatif juga berarti penyesuaian materi dawah dengan issu yang berkembang. Bila dakwah hanya bernostalgia pada kejayaan Islam masa lalu justru bisa menimbulkan pandangan sinis terhadap Islam dan umatnya. Disamping itu issu mengenai Islam kontekstual juga perlu diangkat, didasarkan pada pandangan bahwa Islam tidak identik dengan Arab. Rasa tak simpati Barat terhadap Islam karena mereka mempersepsikan Islam sebagai agama Arab.

2. Kontributif
Kontributif, artinya dakwah dalam sajiannya benar-benar dirasakan dan dihayati masyarakat sebagai kebutuhan kemanusiaan yang memberikan air Islam yang segar. Dakwah dalam hal ini harus mampu mengisi dan menyejukkan kegersangan rohani manusia di alam modern ini.
Agar dakwah lebih kontributif harus memadukan dua metode pendekatan yaitu :
a. Pendekatan doktriner, yaitu mengindoktrinasikan nilai-nilai Islam yang tidak terkait dengan realitas empiris dan tidak dijangkau dengan rasio manusia. Pendekatan doktriner ini dapat diterima manusia atas asumsi bahwa manusia mengakui ada otoritas di luar dirinya yang lebih tinggi dari otoritas manusia. Dalam masyarakat komunisme otoritas tertinggi adalah negara-negara yang bisa mendaulat kebebasan dan kemauan individu manusia. Dalam masyarakat Barat, otoritas tertinggi adalah kebenaran ilmiyah yang diidealisasikan. Otoritas Gereja di Barat tergeser oleh otoritas idealisme ilmiyah. Dalam Islam, otoritas tertinggi adalah nilai yang bersumber dari Allah (wahyu). Akan tetapi ajaran Islam tidak mengekang kebebasan berfikir dan berkreasi. Karena itu, pendekatan doktriner perlu dibarengi dengan pendekatan empirik-saintifik.
b. Pendekatan empirik-saintifik, digunakan untuk menjelaskan Islam disertai dengan bukti-bukti empiris dan ilmiyah bila nilai Islam itu terkait dengan realitas empirik.

3. Kompetitif
Kompetitif, artinya dakwah harus mampu bersaing dengan informasi-informasi dan komunike-komunike yang lain. Persaingan tidak hanya dalam pemakaian media dan metode, tetapi juga masalah kualitas materi dakwah yang disajikan. Dakwah yang bermutu adalah dakwah yang meresap ke dalam hati sanubari, dirasakan kebenaran, kesegaran dan keindahannya, mampu memberikan kepuasan rasional (karena sejalan dengan rasio atau diterima/diakui oleh rasio walaupun di atas rasio/ supra- rasional), mampu membangkitkan prilaku serta memiliki resistensi (daya tahan) yang kokoh terhadap kemungkinan pengaruh yang menggesernya.
Bila dakwah tidak mampu berkompetisi dengan komunike dan informasi lainnya, maka bekas dakwah sulit bertahan dalam jiwa obyeknya. Meskipun dakwah berisi kebenaran dari Allah, tetapi bila tidak dikemas dengan baik akan sulit diterima oleh khalayak. Karena itu aspek atraktif sangat penting dalam dakwah di era informasi sekarang ini agar dakwah tetap unggul dalam suasana kompetitif.

4. Antisipatif
Antisipatif, artinya dakwah berorientasi ke depan, mengantisipasi perkembangan masa depan agar tidak tertinggal oleh zaman. Dakwah harus menjadi garda depan kemajuan dan bukan pengekor kemajuan.

5. Evaluasi-Kritis
Da’i dalam menjalankan tugasnya dituntut daya kritis yang tinggi. Kritis artinya mampu melihat dan mendudukkan masalah secara proporsional dan memberikan koreksi terhadap trend-trend negatif yang berkembang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam evaluasi-kritis ini adalah:
a. Kritik yang dilontarkan yang didasarkan atas bukti-bukti empiris dan bukti rasional, bukan didasarkan pada rekaan-rekaan emosional atau terkaan intuitif.
b. Kritikan yang dilontarkan untuk mengabdi kepada kebenaran bukan didasarkan pada atas interes pribadi.
c. Perkiraan hasil yang dicapai lebih besar dari efek negatif yang ditimbulkan.
d. Kritikan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Evaluasi kritik di era informasi ini diharapkan agar informasi-informasi yang berkembang dikendalikan untuk mewujudkan masyarakat dinamis Islami, bukan masyarakat yang tertutup terhadap “bursa” pendapat.
Kelima hal tersebut di atas merupakan jabaran operasional strategi dakwah yang perlu diwujudkan di era informasi dewasa ini.

Penutup
Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Era informasi dewasa ini didominasi oleh barat dengan segala sifat arogannya dan mengarahkan informasi itu untuk mendukung dominasi Barat atas dunia Timur.
2. Era informasi menciptakan dan akan terus menciptakan arus perubahan yang deras. Perubahan tersebut meliputi: Perubahan sosial, perubahan institusi, perubahan nilai dan sebagainya.
3. Strategi dakwah di era informasi dengan pemanfaatan alat informasi yang efektif untuk mendorong dinamika Islam dan memperkokoh ketahanan nilai Islami dalam masyarakat.

Daftar Pustaka
Ahmad, Hamrullah (ed). Dakwah dan Perubahan Sosial. Jakarta: PLP2M, 1985
Azis, H.M Amin, “Ummat Islam Menyongsong Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Penyunting), Islam dan Era Informasi (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989).
Efendi Bahtiar, “Tata Informasi Dunia Baru: Sebuah Upaya Untuk Menghilangkan Hegemoni Komunikasi Dunia Maju?” Dalam Rusjdi Hamka dan Rafiq (Penyunting), Islam dan Era Informasi, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989.
Sudirman, H. Problematika Dakwah di Indonesia, Jakarta. Pusat Dakwah Indonesia, 1972.
Zarkasi, Efendy, Ilmu Dakwah Pembangunan, Ujung Pandang. t.th.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: