URGENSI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM BAGI PERSOALAN PSIKOLOGIS WANITA MONOPAUSE


Oleh

Nurdin, S.Ag, M.Pd

Abstrak: Persoalan monopause berkaitan dengan dua aspek sekaligus, fisik dan psikis. Karenanya sangat diperlukan studi-studi multifaktor yang bertujuan mendapatkan pendekatan multifaktor dalam menangani problema wanita manopause.
Studi yang secara khusus mengamati fenomena monopause dengan pendekatan ilmu psikologi masih jarang dilakukan-untuk tidak menyebutnya tidak ada. Termasuk studi yang menggunakan pendekatan konsep bimbingan dan konseling Islam. Tulisan ini mencoba menelaah konsep bimbingan dan konseling Islam dalam kaitannya dengan persoalan psikologis wanita monopause. Dengan demikian diharapkan bisa melihat problematika monopause pada sisi yang lain.

Kata Kunci: bimbingan konseling Islam, monopouse

Pendahuluan
Dalam perkembangan laki-laki dan wanita masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda. Seorang gadis yang beranjak dewasa akan ditandai dengan menarche yang berarti telah datang masa subur (Ibrahim Mohammad Jamal, t.t.: 46-51). Sedangkan berlalunya masa subur seorang wanita ditandai dengan berhentinya haid untuk serlamanya, atau disebut dengan istilah monopause.
Pada laki-laki fase masa suburnya ditandai dangan kejadian mimpi basah. Masa subur laki-laki tersebut tak pernah berhenti sampai masa tuanya, hanya saja ia mengalami penurunan dalam kuantitas produksi spermanya jika dibandingakn dengan masa mudanya (Ali Baziad, 2001).
Persoalan monopause pada dua dekade l
alu belum banyak dibicarakan. Bahkan sampai saat inipun bagi sebagian orang isu monopause dianggap terlalu mengada-ada. Monopause dianggap sebagai hal yang alami, termasuk gangguan fisik yang menyertai (KOMPAS, 2001). Perilaku wanita monopause banyak disosroti dalam kaitannya dengan pembicaraan mengenai para wanita lansia (lanjut usia).
Akan tetapi, masih banyak yang mengkaji dalam kaitannya dengan nilai-nnihlai atau steorotip yang berlaku dalam masyarakat. Kajian-kajian monopause selama ini tersita pada disiplin ilmu kedokteran saja. Kajian dengan menggunakan perspektif disiplin ilmu yang lain, seperti psikologi, masih jarang dilakukan.
Persoalan monopause berkaitan dengan dua aspek sekaligus, fisik dan psikologis. Karenanya sangat diperlukan studi-studi multifaktor yang bertujuan mendapatkan pendekatan multifaktor dalam menangani problema wanita manopause (Dwia Aries Tina NK, 23 April 2001).
Sejauh pengamatan penulis dan hasil bacaan penulis melalui pembelajaran pendidikan agama yang diajarkan pada Perguruan Tinggi Kesehatan selama ini, studi yang secara khusus mengamati fenomena monopause dengan pendekatan ilmu psikologi masih jarang dilakukan-untuk tidak menyebutnya tidak ada. Termasuk studi yang menggunakan pendekatan konsep bimbingan dan konseling Islam.
Monopause adalah proses fisiologis normal yang akan dialami setiap wanita. Dalam masa ini terjadi perubahan pada organ tubuh dan kejiwaan (psikis). Secara fisik sistem organ (alat) berangusr-angsur mengalami kemunduran (degradasi) secara struktural dan fungsional. Hal ini membawa perubahan anatomis, fisiologis dan biokimiawi pada organ. Sedangakan secara psikologis, perubahan pada wanita monopause terjadi karena produksi hormon estrogen diindung telur tiba-tiba berhenti. Biasanya peristiwa ini ditandai dengan terjadinya rasa panas dalam tubuh (hot flushes), perasaan mudah cemas dan mudah berkeringat. Secara medis, pengertian monopause menunjukan pada suatu keadaan berhentinya menstruasi (H. Hasyim, 1993: 16).
Sebelum seorang wanita memasuki masa monopause, ia mengalami perubahan-perubahan fisik pada tubuhnya, yang ditandai dengan menurunnya produksi hormon, menstruasi tidak teratur, dan keadaan fertilitas digantikan dengan infertilitas.
Monopause merupakan proses fisiologis (normal) yang akan dialami oleh semua makhluk hidup termasuk manusia. Dalam masa itu terjadi perubahan yang menyangkut seluruh organ tubuh (Hardyanto Soebono, 1997). Semua sistem organ (alat) berangsur-angsur mengalami kemunduran (degradasi) baik struktural maupun fungsional, sampai kemudian tidak berfungsi sama sekali (mati). Proses menjadi tua ini berlansung terus menerus secara kontinyu (berkesinambungan) dan berangusr-angsur membawa perubahan anatomis, fisiologis dan biokimiawi pada jaringan atau organ yang akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan, hingga akhirnya berhenti berfungsi atau mati. Di samping perubahan fisik, monopause juga menimbulkan perubahan secara psikologis. Hal ini terjadi karena produksi hormon estrogen di indung telur tiba-tiba berhenti.
Dalam masa ini biasanya wanita monopause sering mengalami depresi (monopausal depression) yang ditandai dengan the emptyness syndrom. Sindrom ini muncul dalam bentuk perilaku yang seringkali berada di luar kontrol dan susah dimengerti oleh lawan interaksinya. Secara psikis sindrom ini terjadi karena wanita kehilangan peran reproduksinya (SENIOR, ”Monopause, Siapa Takut’, 29 Juli 2002).
Di samping dipengaruhi oleh terjadinya berbagai perubahan yang menimbulkan keluhan-keluhan fisik dan psikologis, seperti terjadi sakit pada punggung dan kepala, badan panas, keringat malam, pikiran kacau, vagina mengering dan menciut dan kulit mulai mengeriput. Keadaan-keadaan tersebut secara psikologis sangat menekan meskipun ada juga wanita yang tidak merasakan apa-apa atau tidak ada keluhan-keluhan fisik saat datangnya monopause.
Bagi seorang wanita, monopause itu sendiri berarti datangnya masa tua. Monpause yang dikenal sebagai masa berakhirnya menstruasi atau haid sering dianggap momok dalam kehidupan wanita. Masa ini umumnya terjadi pada usia 50-an tahun. Masa ini mengingat wanita terhadap proses menjadi tua yang disebabkan organ reproduksinya yang tidak berfungsi lagi. Pada masa monopause ini sel telur tidak diproduksi lagi oleh ndung telur yang menyebabkan wanita tidak subur lagi, sehingga tidak dapat hamil. Monopause terjadi dalam masa klimakterium, sebuah masa dimana terjadi peralihan dari fase reproduksi ke fase non reproduksi. Datangnya monopause sendiri sangat individual (variatif) sifatnya, namun umumnya berkisar pada umur 48-55 tahun.
Peralihan dari haid menjadi tidak haid, otomatis menyebabkan perubahan pada organ reproduksi seperti terjadinya perubahan fungsi indung telur yang berpengaruh pada produksi hormon-hormon (esterogen, progesteron, androgen) dalam tubuh wanita. Dari sisi kosmetis juga banyak kemunduran karena elastisitas kulit menurun dan pigmen pada rambut berkurang, yang menimbulkan pengeriputan pada kulit, dan rambut menjadi beruban. Selain itu produksi hormon pada masa klimakterium menjadi tidak menentu. Perubahan ini memunculkan berbagai gejala berupa keluhan fisik, baik yang berhubungan dengan organ reproduksi maupun organ tubuh secara umum. Perubahan fisik pada menopause, biasanya juga diikuti dengan keluhan fisikis, yang akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Perubahan fisik pada masa monopause ditandai dengan berbagai gejala seperti berkurangnya ketajaman indra, berkurangnya pigmen rambut yang menyebabkan rambut berwarna putih, berkurangnya elastisitas kulit, dan gangguan-gangguan kesehatan tidak berbahaya seperti sakit kepala, sakit pinggang, hot flushes, dll. Namun monopause dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti dimensia, osteoporosis, kunker dan stroke.
Pada masa monopause secara perlahan produksi hormon akan menurun, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Begitu pula pelepasan telur setiap 28 hari akan berhenti. Konsekwensi dari penurunan kegiatan ini adalah kemungkinan untuk hamil menurun drastis. Jika tidak ada telur berarti tidak ada haid dan peluang untuk pembuahan menjadi nihil. Tetapi yang drastis adalah penurunan hormon secara besar-besaran, sehingga zat-zat kimia yang bertanggungjawab atas perilaku tubuh swecara umum dan kegiatan normal bagian pinggul terhenti sama sekali. Hal ini sulit dihindari dan mengarah pada timbulnya berbagai gejala baru. Akibat produksi hormon yang tidak stabil terwsebut menyebabkan kecendserungan mudah marah bahkan depresi. Masa ini hampir mirip dengan masa pancaroba (pubertas) pada remaja ketika hormon-hormonnya mulai bekerja.
Selain perubahan fisik ini, perubahan psikis juga sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup wanita dalam menjalani masa monopause, meskipun hal ini sangat tergantung pada individu masing-masing; bagaiimana mereka memandang monopause dan sejauh mana pengetahuannya tentang monopause. Selain itu latar belakang sosial dan keluarga juga turut membentuk persepsi dan sikapnya.
Saat memasuki monopause, ada wanita yang menaut dengan biasa karena menganggap kondisi ini sebagai bagian dari siklus kehidupan alamiah. Sebaliknya ada yang penuh kecemamasan, karena berakhirnya masa reproduksi dimana vitalitas dan fungsi organ-organ tubuh menjadi menurun. Namun plada umumnuya ketidaksatabilan emosi ini sementara sifatnya dan kestabilan emosi akan diperoleh kembali setelah memperoleh informasi yang akurat tentang monopause. Kondisi emosi tidak stabil ini bisa karena pengaruh perubahan hormon dalam tubuh (Dini Kasdu, Kiat Sehat, h. 31) atau bisa karena faktor yang sifatnya sangat induvidual. Selain itu, fase monopause sering berbaengan dengan keadaan menegangkan lain dalam kehidupan wanita seperti merawat orang tua lanjut usia, memasuki masa pensiun, melihat anak-anak tumbuh dewasa dan meninggal rumah serta penyesuaian-penyesuaian lain dalam kehidupan setengah baya. Ketegangan ini dapat menimbulkan gejala pada fisik dan psikis, termasuk menjadi pelupa, kurang dapat memusatkan perhatian, mudah cemas, mudah marah dan depresi,yang secara keliru dianggap sebagai akibat monopause.
Keadaan-keadaan seperti di atas sesungguhnya telah ditegaskan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Q.S al-Baqarah (2):155:
Dan sesungguhnya kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (QS. al-Baqarah [2]:155).

Dalam menghadapi berbagai cobaan ini ada orang yang kuat dan tabah sehingga dapat mengatasi masalahnya, tapi tidak sedikit yang tidak tabah dan kuat. Hal ini sesuai dengan sifat dasar manusia yang selalu berkeluh kesah dan lemah, sehingga membutuhkan bantuan orang lain, (lihat Al Quran, Surat Al Ma’arij (70) ayat 19-20 dalam konteks yang demikian inilah bimbingan dan konseling Islam berperan, dengan membantu individu atau kelompok dalam mengatasi masalah yang dihadapi agar dapat mencapai kehidupan yang sejahtera (Alif Rifa’i, Makalah).
Dalam pandangan Agama Islam, Segala sesuatu diciptakan Allah dengan kodrat:
Sesungguh segala sesuatu kami ciptakan dengan Qadar. (Q.S Al Qamar [54]:49).

Oleh para pakar, qadar disini diartikan sebagai “Ukuran-ukuran, sifat-sifat yang ditetapkan Allah bagi segala sesuatu,” dan itulah kodrat. Dengan demikian, laki-laki atau perempuan, sebagai induvidu dan jenis kelamin memiliki kodratnya masing-masing. Namun demikian, seperti tulisan mantan Pimpinan tertinggi Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut yang dikutip oleh Nazaruddin Umar,
Tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan pada laki-laki, kepada mereka berdua diangerahkan Tuhan potensi dan kemampuan.

Akan tetapi, pada prinsipnya Islam tidak membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan, yang membedakan manusia disisi Allah hanyalah ketaqwaannya Firman Allah dalam Surat An-Nisa (4):1
Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri (nafs) yang satu, dan darinya Allah mencipatakan pasangannya dan keduanya Allah mengembangkan biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Kalaupun Allah memberikan keistimewaan diantara mereka, itu karena keberadaan mereka adalah untuk “saling”. Saling memberi, saling mengisi, saling melengkapi dan tak ada pihak yang merasa dirugikan. Masing-masing dari mereka diciptakan keistimewaan yang berbeda. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat An-Nisa (4):32:
Jangan kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebahagian yang lain laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahak dan perempuan juga mempunyai hak atas apa yang diusahakannya. (al-Nisa [4]:32).

Kalaupun ada pendapat bahwa wanita harus tunduk terhadap laki-laki, karena laki-laki diciptakan sebagai peminpin dan wanita adalah yang dipimpin, dan karena wanita diciptakan dari tualng rusuk laki-laki, dan dalam masyarakat kita yang ideal sebagai pemimpin dalam wilayah domestik adalah lelaki (suami), maka ini bukan berarti lelaki lebih istimewa dari pada perempuan, tetapi memiliki posisi yang sederajat. Hal ini sesuai dengan fungsi keberadaan manusia untuk saling mengisi jadi kalau ada yang dipimpin berarti harus ada yang memimpin, demikian sebaliknya. Namun dalam kebudayaan dan tradisi masyarakat seringkali terjadi dikotomi hak-hak antara laki-laki dan perempuan.
Dalam masyarakat kita pada umumnya wanita dianggap sempurna, atau wanita merasa sempuran karena kecantikannya serta kemudahannya. Saat peran reproduksinya berlangsung. Jadi lebih pada fisik oriented. Anggapan seperti ini memberikan efek terhadap mentalitas wanita untuk mandiri menjadi kecil, takut berpendidikan tinggi karena (ada anggapan) akan sulit mendapat jodoh, dan sebagainya. Hal ini juga bisa dilihat dari mashi jarangnya wanita yang berperan dalam wialyah publik di bandingkan dengan laki-laki, rata-rata wanita lebih banyak berkecimpung di wilayah domestik. Terkadang hal ini masih diperparah dengan anggapan bahwa peran seorang wanita atau seorang istri hanya untuk melayani kebutuhan bilologis serta memberikan keturunan untu suaminya. Konstruksi semacam ini secara tidak langsung akan turut mempengaruhi sikap perempuan dalam menghadapi masa monopause.
Dalam konteks ini bimbingan dan konseling menjadi strategis dalam membantu memecahkan problematika psikologis wanita monopause. Hal ini sesuai dengan lingkup garapan dari bimbingan dan konseling, yaitu masalah-masalah psikologis, bukan masalah-masalah fisik (Tohari Musnamar, 1992: 4). Masalah fisik ini diserahkan kepada bidan yang relevan, misalnya kedokteran.
Bimbingan islami berarti proses pemberian bantuan terhadap induvidu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Jadi bimbingan Islami adalah konsep bimbingan yang berlandaskan pada ajaran Islam, yaitu Alquran dan al-Hadits. Dengan menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah, berarti seseorang akan berperilaku sesuai dengan petunjuk Allah. Sedangkan konseling Islami merupakan suatu proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Bimbingan dan konseling Islami berbeda dengan bimbingan dan konseling Barat. Bimbingan dan konseling Barat bersifat antroposentris, berpusat pada manusia: dari, oleh dan untuk manusia, jadi tidak berkaitan dan dikaitkan dengan eksistensi Tuhan. Sedangkan bimbingan dan konseling Islami bersifat theosentris, berpusat padfda Allah SWT. Menurut Kamal Ibrahim Mursi, dalam tradisi Islam klasik aktivitas bimbingan dan konseling dikenal dengan sebutan hisbah, atau ihtisab. Konselornya disebut muhtasib, dan kliennya disebut muhtasab ‘alaih.
Menurut Ahmad Mubarok hisbah berarti menyuruh orang (klien) melakukan perbuatan baik yang jelas-jelas ia tinggalkan, dan mencegah perbuatan munkar yang jelas-jelas dikerjakan oleh klien (amar ma’ruf nahi munkar) serta mendamaikan klien yang bermusuhan. Sedangkan menurut Ibnu Khaldun, hisbah merupakan tugas keagamaan dan bidang amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh pemerintah. Dengan demikian, bimbingan dan konseling Islam ini sekaligus merupakan bimbingan dan konseling agama. Bimbingan dan konseling agama dapat dirumuskan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada seseorang yang mengalami kesulitan lahir dan batin agama, yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran batin (iman) di dalam dirinya untuk mendorongnya mengatasi masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu penanganan persoalan psikologis menopause menjadi sangat efektif melalui pendekatan ini. Ketika seorang wanita mengalami menopause maka ia dibangkitkan kekuatannya untuk mengatasi persoalannya, yaitu dengan menyadari kembali eksistensi dirinya sebagai makhluk Allah.
Dasar dari pemikiran bimbingan dan konseling agama adalah satu asumsi bahwa agama itu merupakan kebutuhan fitri dan semua manusia. Menurut Hasan Al-Bana agama adalah alat yang pas untuk terapi psikologis, karena agama bisa membantu menajamkan hari nurani, menghidupkan perasaan dan mengingatkan hati. Agama secara konsisten selalu mendorong jiwa menuju kebaikan, dan menolak kekejian. Agama juga selalu mengajak manusia untuk meningkatkan kualitas jiwanya. Imam Ghazali bahkan mengatakan bahwa tidak ada kesulitan pada manusia yang asal usulnya bukan dari kelemahan iman, atau dari tidak mengikuti petunjuk agama. Seseorang, menurut Al-Ghazali, tidak akan bisa melepaskan diri dari kesulitannya, kecuali ketika imannya sedang menguat, dan ketika sedang berpedoman pada petunjuk agama dalam menghadapi realita hidup.
Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menekankan kan pentingnya aktivitasnya bimbingan dan konseling keagaman terhadap problematika psikologis manusia. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar islam yang mengutamakan kemaslahatan manusia, baik kemaslahatan dunia atau kehidupan pasca-dunia. Kemaslahatan ini utamanya ditujukan untuk menjamin hak-hak dasar kemanusiaan (ushul al-khamsah) yang meliputi: hak dan kebebasan beragama (hifz ad-din), keselamatan fisik atau jiwa (hifz al-nafs), keselamatan keluarga atau keturunan (hifz al-mal) dan keselamatan akal atau kebebasan berfikir (hifz al-aql).
Dengan demikian bimbingan dan konseling berbasis agama merupakan solusi yang tepat bagi problem psikologis wanita menopause. Hal ini sesuai dengan sifat naluriah dasar manusai yang secara fitri memang membutuhkan agama. Allah menciptakan manusia dan telah meniupkan ruh-Nya, sehingga iman kepada Allah merupakan sumber ketentraman, keamanan dan kebahagian manusia, seperti firman Allah dalam surah al-Ra’du ayat 28 yang terjemahnya:
Ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. al-Ra’du [13]: 28).

Dan sebaliknya, dalam paradigma ini, ketiadaan iman kepada Allah menjadi sumber kegaulan, kegelisahan dan kesengsaraan bagi manusia. Agama juga berfungsi sebagai polisi yang selalu mendorong jiwa pada kebaikan dan menolak kekejian, dan senantiasa mengajak manusia untuk meningkatkan kualitas jiwanya.
Seorang mukmin kata Nabi senantiasa beruntung, karena jika sedang memperoleh keberuntungan ia bersyukur, dan jika ia dilanda cobaan ia bersabar. Sementara itu orang yang tidak beriman ketika sedang dalam puncak keberuntungan ia lupa dan ketika ia dilanda kesulitan yang amat sangat ia lupa ingatan.
Dalam konteks bimbingan dan konseling Islam, ketika seorang sedang mengahadapi problematika menopause ia diajak untuk menyadari kembali eksistensi dirinya sebagai hamba Allah (‘abdullah) dan sebagai Khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Predikat pertama menunjukkan kelemahan, kekecilan dan keterbatasan serta ketergantungan manusia kepada yang lain sehingga setiap manusia potensi untuk mengindap masalah, sedangkan predikat kedua menunjukkan kebebasan manusia sekaligus besarnya tanggung jawab yang dipikul dalam kehidupannya dimuka bumi. Dari sudut pandang tersebut, maka urgensi bimbingan dan konseling bagi manusia merujuk pada dua predikat. Pertama, sebagai makhluk yang lemah (abdul) suatu ketika manusia tidak tahan menghadapi realita kehidupan yang pahit, sembit dan berat. Dalam kondisi fisik yang tak berdaya, orang membutuhkan bantuan orang lain, dokter misalnya untuk memulihkan kesehatannya. Demikian pula dalam kondisi mental yang kacau seseorang membutuhkan kejiwaan, untuk memulihkan rasa percaya, meluruskan cara berpikir, cara pandang dan cara merasanya sehingga ia kembali realistis, mampu melihat kenyataan yang sebenarnya dan mampu mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang dapat dipertanggung jawabkan.
Kedua, sebagai Khalifah Allah, manusia dibebani tanggung jawab kebaikan dirinya maupun untuk masyarakat. Setiap manusia diberi kebebasan untuk memutuskan apa yang baik untuk dirinya asal bukan perbuatan maksiat yang dilakukan terang-terangan. Sebagai khalifah Allah yang dibebani tanggung jawab untuk kemaslahatan masyarakatnya, maka seorang muslim harus merasa terpanggil untuk memelihara ketertiban masyarakat.
Oleh karena itu, ia terpanggil untuk meluruskan hal-hal yang menyimpang, menata hal-hal yang salah tempat, mendorang hal-hal yang mandeg dan menghentikan kekeliruan-kekeliruan yang berlangsung. Dalam perspektif bimbingan dan konseling seorang muslim sebagai khalifah Allah terpanggil untuk membantu orang lain yang sedang mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan orang itu tidak mampu mengatasi tugas-tugasnya dalam kehidupan. Jadi secara kodrati manusia membutuhkan bantuan kejiwaan termasuk konseling agama.
Dengan demikian, persiapan secara dini pengertian dari keluarga serta konstruksi budaya dari masyarakat yang simpatik dan kondusif bagi proses aktualisasi diri para wanita menopouse merupakan hal yang akan sangat membantu penemuan jati diri seorang menopausal. Hal ini juga memuat pengertian bahwa wanita juga makhluk Tuhan yang sudah semestinya mendapat perlakuan yang sama dengan makhluk Tuhan yang lain (laki-laki). 

Daftar Pustaka
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Madinah: Lembaga Percetakan al-Qur’an Raja Fahd, 1418 H.
Baziad, Ali dalam “Konsultasi Kesehatan”, SENIOR,7 Oktober 2001
Halim, Sally, Memelihara Kesehatan Reproduksi. Jakarta: obor, 1996.
Jamal, Ibrahim Mohammad. Fiqh Wanita. Semarang: CV Asy-Syifa’,t.t.
Janes MD, Derek L. Wellyn. Wanita dan Masalahnya (terj) Budhi Tjahyono. Surabaya: Usaha Nasional, 1978.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud). Jakarta: Balai Pustaka, 1988.
Kasdu, Dini. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta: Puspa Swara, 2002.
Knight, Jojn F. Wanita Ciptaan Ajaib (terj.) Joshua L. Tobing. Bandung: Indonesia Publising House, 2001.
KOMPAS, “Menopause Menakutkan atau Menyenangkan” 1 Oktober 2001.
___, “Menopause Menakutkan atau Menyenangkan” 1 Oktober 2001
Mackenzie, Raewyn. Menopause Tuntunan Praktis untuk wanita(terj) Gianto Widianto dan Yustina Risitawati (Jakarta: Arcan, 1995), cet.V.
Masdar, Umarudin. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais tentang Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999.
Mubarok, Ahmad. Konseling Agama Teori dan Kasus. Jakarta: Bina Bena Pariwara, 2000.
Musnamar, Tohari, dkk. Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Yogiakarta: UII Press 1992.
Rifa’i, Afif. “Pokok-pokok Bimbingan dan Konseling Islam”, makalah tidak diterbitkan, h. I., tanpa keterangan tahun dan tempat
Roitz, Rosetta. Menopause Suatu Pendekatan Positif (terj) Laila H. Hasyim. Ttp.: PT. Bumi Aksara, 1993.
SENIOR, ”Menopause, Siapa Takut”, 29 Juli 2002
___.”Menjadi Tua dengan Penuh Rahmat”, 28 Juli 2002
___.”Bias Kultural dalam Menopause”, 23 April 2001.
Soebono, Hardyanto. Masalah Kulit dalam Menopause. Diktat Kuliyah Bagian I, pada Fakultas Kedokteran UGM/RSUD Dr. Sardjito, Yogyakarta,1997.
Syamsiyah MS, “Tip Bagi Wanita yang akan Menghadapi Menopause”, Mawas Diri, Januari 1985.
Tina NK, Dwia Aries. Menopause dan Seksualitas. Gajah Mada University Press, 1999.
Umar, Nasarudin. Argumen Kesetaraan Gender. Jakarta: Paramadina, 1999, cet. I
Yafie, Ali. “Agama dan Kesehatan”, Kata Pengantar dalam Ahmad Mubarok, Konseling Agama Teori dan Kasus. Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2000.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: