WAWASAN MULTIKULTURAL DALAM KONTEKS PENYEBARAN AGAMA


Oleh
Akhmad Sukardi, S.Ag, M.Sos.I
Abstrak: Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui keberagaman berdasarkan asas Bhineka Tungal Ika. Islampun mendukung adanya keberagaman sebagaimana dijelaskan pada surat al-Hujurat ayat 13.
Tulisan ini berusaha menyelami bagaimana penyebaran agama di tengah-tengah keragaman budaya. Islam menawarkan tentang metode penyebaran agama di tengah-tengah keberagaman budaya di samping disebutkan pada surat al-Nahl ayat 125 dan harus terbuka menerima perbedaan kultural tanpa harus menyalahkan kultur lain sehingga dapat menimbulkan sikap simpati, juga keteladanan.

Kata Kunci: multikultural, penyebaran agama

Pendahuluan
Di kalangan bangsa-bangsa yang memiliki sistem budaya yang bersifat majemuk tampaknya perilaku komunikasi masyarakatnya tidak seragam. Sistem komunikasi yang ditemukan pada suatu bangsa tampaknya seirama dengan kebudayaan bangsa yang bersangkutan, cara sesuatu bangsa berkomunikasi mencerminkan sistem budaya bangsa itu. Norma-norma budaya bangsa itu mempengaruhi perilaku komunikasi warganya (A. Muis, 2001: 3). Itulah sebabnya dikatakan bahwa komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi sehingga antara budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan.
Kenyataan di berbagai negari Islam menujukkan bahwa Islam mengungkapkan dirinya sangat beragam sesuai dengan karakteristik masyarakat dan kebudayaan masing-masing. Meskipun secara teoretik, perbedaan antaragama dan budaya tampak jelas dalam realitas kehidupan masyarakat di Negara-negara tersebut, tetapi agama dan budaya saling mempengaruhi dan saling mengisi sedemikian rupa sehingga keduanya seringkali sulit dibedakan (M. Thoyibi, et al., 2003: 3). Dalam konteks tertentu antara agama dan budaya dapat berjalan secara mulus, tetapi menimbulkan ketegangan antara keduanya. Akan tetapi, dalam konteks-konteks yang lain agama dan budaya tampil sebagai kekuatan yang berlawanan.
Sekarang dan di masa mendatang masih akan terus berlangsung proses diversifikasi kegiatan penyebaran agama (dakwah). Proses ini belum selesai, itu disebabkan oleh mekarnya pluralisme nilai, keragaman budaya serta meluasnya pelapisan sosial.
Memasuki abad ke-21 memang terjadi sindrom globalisasi. Seakan-akan menciptakan tuntutan baru terhadap agama agar agama melakukan adaptasi dengan globalisasi yang sarat dengan multi kultural. Itu berarti timbulnya keperluan agama untuk menjalankan reaktualisasi firman-firman Tuhan dalam Alquran. Jika tidak demikian, maka ajaran Islam sulit dilibatkan untuk menerangkan globalisasi dalam berbagai dimensi kehidupan umat.

Persepsi Islam terhadap Multikultural
Menurut pandangan teologi dan orang-orang yang beragama; kebudayaan adalah perpanjangan dari perilaku agama. Agama bagaikan roh yang datang dari langit, sedangkan budaya adalah jasad bumi yang siap menerima ruh agama sehingga pertemuan antara keduanya melahirkan peradaban. Ruh tidak dapat beraktivitas dalam pelataran sejarah tanpa jasad, sedangkan jasad akan mati dan tidak sanggup terbang menggapai langit-langit makna Ilahi tanpa ruh agama (M. Thoyibi, et.al., 2003: 7).
Dari sekian agama-agama besar di dunia, Islam adalah agama yang memiliki kitab suci paling terjaga kemuliaannya baik dalam segi makna maupun teksnya. Umat Islam sangat fanatik dan penuh antusias, mensucikan keberadaannya, menghafalkan ayat-ayatnya dan mempelajari kandungan maknanya. Tidak hanya Alquran, ucapan Rasulullah saw. yang merupakan penjelasan Alquran juga tetap terpelihara. Semakin kuatnya tradisi penghormatan dan pemeliharaan teks keagamaan sehingga Islam telah melahirkan sebuah peradaban teks.
Dunia pada abad lalu bukanlah dunia yang kita huni hari ini. Agama-agama dan budaya-budaya yang pada mulanya tumbuh secara isolatif, sekarang mau tidak mau harus berinteraksi dengan yang lain ketika pluralitas agama dan multikultural tidak dapat lagi dibendung.
Suatu masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari beragam etnik dan ras yang berbeda (Alo Liliweri, 2003: 157). Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui pluralisme. Pelaksanaan pluralisme (kebhinnekaan) yang tidak dibarengi rasa tangung jawab sosial dapat berakibat pelanggaran terhadap norma-norma kesusilaan yang pada akhirnya menimbulkan benturan budaya.
Memang tidak mudah menyatukan asas “kebhinnekaan” atau pluralisme dan asas “Tunggal Ika”. Asas Tunggal Ika hanya dapat diwujudkan jika makna dan pelaksanaan “kebhinnekaan” (pluralisme nilai budaya) tunduk kepada sila Ketuhanan yang Maha Esa. Dengan kata lain, semua perilaku-perilaku yang bertentangan dengan norma-norma agama harus dihapuskan.
Sebenarnya kemajukan budaya bukanlah merupakan sarang konflik, tetapi justru kemajemukan itu dapat menjadi motivator untuk menyatu, sehingga sangat tepat ungkapan yang mengatakan berbeda-beda, tetapi satu juga. Jika demikian adanya dimana posisi agama dalam konteks multikultural?
Agama hendaknya mampu mentransendensikan diri, berada di atas pluralitas budaya dan bangsa lalu memberikan visi, motivasi dan pencerahan kemanusiaan dalam bingkai kebangsaan dan kebudayaan. Gerakan keagamaan pada akhirnya adalah gerakan kebudayaan karena manifestasi akhir dan perilaku seseorang tampil dalam ranah budaya. Jika semua agama tidak mampu mengartikulasikan diri dalam wadah budaya sebagai gerakan emansipatoris, maka agama akan ditinggalkan orang.
Sebaliknya, gerakan kebudayaan yang tidak memiliki dimensi transenden juga tidak akan memperoleh dukungan abadi. Dalam pada itu, agama apapun pada akhirnya akan diuji oleh sejarah dengan ukuran-ukuran kemanusiaan secara empiris. Dengan begitu, tugas para intelektual dan budayawan muslim adalah bagaimana membudayakan Islam sehingga Islam lalu menjadi pohon peradaban yang akarnya di bumi, sekalipun benih asalnya dari langit.
Ini berarti Islam perlu membuka diri dan bersikap inovatif serta akomodatif terhadap dinamika keragaman budaya (multikultural) maupun modern, dan janganlah langkah sejarah yang tengah berjalan ke depan dipaksa berputar ke belakang dengan dalil keemasan.
Kalau diyakini bahwa kebenaran Islam bersifat perenial, maka situasi apapun, walau keaaan selalu berubah dan keragaman kultur yang telah melanda kehidupan agama tetap dijadikan sebagai pedoman hidup, sebab Islampun sangat mengakui perbedaan termasuk perbedaan budaya, ras, suku, dan bangsa. Hal ini dijelaskan dalam Alquran pada surat al-Hujurat ayat 13:
 ••           •      •    
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Berdasarkan ayat tersebut di atas maka jelas bahwa Islam sangat menghargai perbedaan atau keragaman, termasuk keragaman budaya.

Metode Penyebaran Agama di Tengah Keragaman Budaya (Multikultural)
Penyebaran agama sesungguhnya adalah hal yang wajar dan semestinya. Agama Islam dan Kristen sebagai agama dakwah misalnya sangat mementingkan hal ini. Para pemeluknya menanggung kewajiban agama untuk mengemban tugas dakwah.
Oleh karena itu, sangat esensial apabila orang beagama merasa terpanggil untuk menyelamatkan orang lain, lewat ajakan pemeluk agama yang diyakini sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Ini berarti bahwa pada dasarnya penyebaran agama adalah konsekuensi dan bagian dari keberagaman itu sendiri.
Penyebaran agama di tengah-tengah masyarakat yang majemuk tentu tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan. Semua butuh waktu, butuh proses dan lain-lain.
Ketika berkomunikasi dengan orang-orang lain, dalam pengertian menyebarkan agama kepada orang lain, seorang dai akan dihadapkan dengan bahasa-bahasa, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berbeda-beda (Deddy Mulyana, et al., 2003: viii), paham-paham dan pegangan-pegangan tradisional yang sudah berurat dan berakar, dengan setengah orang yang apriori mau menolak tiap-tiap yang baru (M. Natsir, 1991: 161).
Masing-masing jenis itu harus dihadapi dengan cara yang sepadan dengan tingkat kecerdasan, sepadan dengan alam pikiran dan perasaan serta tabiat masing-masing.
Ayat Alquran memberikan petunjuk pokok bagi para penyebar agama (mubalig). Cara bagaimana menyampaikan dakwah kepada manusia yang berbagai jenis (multikultural) itu yakni pada surat al-Nahl ayat 125:
             •     •       
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. al-Nahl [16]: 125).

Di samping metode al-hikmah, nasihat yang baik dan bertukar pikiran yang lebih baik, dalam berkomunikasi tidak boleh cenderung menganggap budaya sendiri sebagai suatu kemestian, tanpa mempersoalkannya lagi, tetapi perlu menggunakannya sebagai standar untuk mengukur budaya-budaya lain, bila seseorang tidak menyetujui nilai-nilai kita, sebenarnya bukan berarti orang itu salah, bodoh, tetapi secara kultural orang itu sedikit berbeda dari kita. Ini menandakan kepada kita bahwa sebagai anak bangsa yang mengakui keragaman (pluralitas) harus terbuka kepada budaya-budaya lain kemudian menghormatinya tanpa harus menyalahkan kultur lain. Dengan demikian, akan timbul sikap simpati yang merupakan modal utama dalam menyebarkan atau menyampaikan misi kepada pihak lain sekalipun berbeda kultur.
Metode dakwah lain yang cocok dengan konteks multikultural adalah keteladanan. Sangat mustahil jika pesan dakwah membuahkan hasil yang maksimal di tengah-tengah masyarakat yang multikultural, jika tokoh dakwah yang tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan ucapannya. Keteladanan adalah kata kunci berhasilnya pesan dakwah di tengah masyarakat multikultural.

Ciri-ciri Komunikasi (Penyebaran Agama) yang Efektif
Dengan meminjam teori komunikasi, suatu dakwah atau penyiaran agama dinilai efektif dalam konteks multikultural manakala menimbulkan lima tanda:
1. Melahirkan pengertian, yakni apa yang disampaikan dimengerti oleh yang menerima.
2. Menimbulkan kesenangan, yakni orang yang menerima pesan dalam hal ini mad’u merasa bahwa seruan dakwah yang disampaikan oleh da’i itu menimbulkan rasa senang, sejuk dan menghibur, tidak memuakkan atau menyakitkan meskipun sifat tegurannya boleh jadi tajam dan mendasar.
3. Menimbulkan pengaruh pada sikap mad’u maksudnya ajakan atau seruan da’i dapat mempengaruhi sikap mad’u dalam masalah-masalah tertentu, misalnya dari sikap sinis kepada tradisi keagamaan menjadi netral, simpati atau empati, dari stereotif terhadap ajaran Islam tentang wanita menjadi ingin mengetahui ajaran sebenarnya, dari sikap eksklusif (merasa benar sendiri) menjadi menghargai golongan lain dan sebagainya.
4. Menimbulkan hubungan yang makin baik, maksudnya semakin sering komunikasi dengan mad’u, baik melalui ceramah, konsultasi, bermuamalah, atau pergaulan dapata, membuat hubungan antara kedua belah pihak semakin dekat dan semakin akrab serta saling membutuhkan.
5. Menimbulkan tindakan, maksudnya dengan dakwah yang dilakukan terus menerus, mad’u kemudian terdorong bukan hanya dalam mengubah sikap, tetapi sampai pada mau melakukan apa yang dianjurkan oleh da’i, dari tidak menjalankan shalat menjadi patuh, dari kikir menjadi pemberi, dari berlaku kasar menjadi lemah lembut, dari pemalas menjadi rajin dan sebagainya (Achmad Mubarak, 1999: 12-13).

Menurut Abdul Munir Mulkhan dalam ideologisasi gerakan dakwah episode kehidupan M. Natsir dan Azhar Basyar bahwa setidaknya ada dua hal yang amat menentukan efektivitas suatu proses komunikasi (dakwah).
1. Apakah pesan yang disampaikan oleh komunikator sampai (didengar, dilihat, dirasakan, dan dipahami) pada komunikan.
2. Kalau pesan itu sampai, apakah pesan itu diterima (disetujui dan dijadikan dasar tindakan/perbuatan) sehingga menimbulkan perubahan pada komunikan (Abdul Munir Mulkhan, 1996: 207).
Suatu hal yang sangat menentukan sampai tidaknya pesan pada umumnya berkaitan dengan masalah strategi komunikasi yang digunakan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi objek dakwah.
Sebenarnya tujuan utama penyebaran agama di tengah masyarakat yang multikultural adalah supaya tercipta hubungan insani dimana kedua belah pihak yang memberi informasi maupun yang menerima saling memuaskan, artinya kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan.
Dari uraian tersebut diketahui bahwa hal-hal yan menentukan model pendekatan dakwah ialah menyangkut: a) Kondisi objektif (ciri-ciri) objek dakwah, b) kondisi subjektif (kebutuhan, persoalan yang mereka hadapi), c) faktor lingkungan dakwah.

Hambatan-Hambatannya
Dalam rangka mengidentifikasi atau mengenali hambatan dakwah, perlu dikaji permasalahan umat di bidang sosial budaya sebagai akibat perkembangan ilmu dan teknologi pada beberapa dasawarsa mendatang. Salah satu persoalan pokok yang dihadapi umat menjelang dan awal abad ke-21 ialah dampak sosial budaya masyarakat yang padat akan teknologi.
Masyarakat yang demikian cenderung mengalami proses objektivitas manusia, yaitu terperangkapnya manusia dalam kerangka sistem budaya dan teknologi sedemikian rupa sehingga dirinya menjadi komponen yang amat tergantung pada sistem tersebut. Gemparan budaya yang beragam melalui terpaan media dengan berbagai sajiannya kepada masyarakat telah membawa imbas yang tidak saja bersifa positif, tetapi dampak negatifnya merupakan sesuatu yang niscaya. Dakwah yang semula diharapkan mampu mengeleminir aspek-aspek negatif yang menggerogoti peradaban manusia, ternyata belum sepenuhnya fungsional.
Betapapun tepatnya metode dakwah yang diterapkan dalam penyebaran agama di tengah-tengah masyarakat pluralis, yang pasti kendala atau hambatan-hambatan tetap selalu menyertai setiap ayunan langkah seorang mubalig, antara lain:
1. Mubalig sebelum mengayunkan langkahnya akan berhadapan dengan paham-paham dan pegangan-pegangan tradisional yang sudah berurat dan berakar, dengan setengah orang yang apriori mau menolak tiap-tiap apa yang baru. Dengan kegigihan orang-orang yang ingin mempertahankan kedudukan gengsinya dan yang khawatir kalau-kalau apa yang hendak disampaikan itu akan merugikannya dan lain-lain (Abdul Munir Mulkhan, 1996: 207).
2. Penyebaran agama itu sendiri adalah merupakan hambatan karena mengandung menggaet kuantitas pemeluk ajaran agama lain (Arfah Sidiq, Kuliah Komunikasi Antar Budaya dan Agama).
3. Sentimen sejarah, dikatakan bahwa salah satu penyebab kegagalan Islam dewasa ini justru disebabkan oleh keberhasilan yang gilang gemilang di masa lalu. Baik karena akan keyakinan akan ajarannya yang sudah mutlak sempurna serta warisan budaya masa lalu yang amat kaya dan menakjubkan, seakan tidak ada lagi ruang bagi umat Islam untuk melakukan inovasi, yang ada adalah kembali kepada kaidah-kaidah lama yang dipersepsikan sebagai zaman keemasan (M. Thoyib, 2003: 10-11).
4. Apabila masing-masing mubalig memasuki masalah akidah, hal ini akan dapat menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat yang majemuk atau yang multikultural.

Penutup
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Suatu masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari beragam etnik dan ras yang berbeda. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui pluralisme sebagaimana dikatakan pada azas Bhineka Tunggal Ika. Islam sebagai agama yang diyakini kebenarannya juga mendukung adanya keberagaman itu dari segi etnis, bangsa, ras, agama dan lain lain sebagamana dijelaskan dalam surat al-Hujarat ayat 13.
2. Metode penyebaran agama di tengah-tengah keberagaman budaya (multikultural) di samping disebutkan pada surat al-Nahl ayat 125, dan harus terbuka menerima perbedaan kultur itu tanpa harus menyalahkan kultur lain, sehingga dapat menimbulkan sikap simpati di samping itu adalah keteladanan.
3. Dalam teori komunikasi suatu penyampaian (penyiaran agama) dikatakan efektif dalam konteks multikultural apabila menimbulkan lima tanda yaitu: a) Melahirkan pengertian; b) menimbulkan kesenangan; c) menimbulkan pengaruh pada mad’u, d) menimbulkan hubungan yang makin baik; dan e) menimbulan tindakan.
4. Hambatan-hambatannya adalah: a) Paham-paham dan pegangan-pegangan tradisional yang sudah berurat dan berakar di tengah-tengah masyarakat yang sangat jelas bertentangan dengan ajaran agama dari manapun; b) penyebaran agama itu sendiri mengandung merekrut kuantitas agama lain; c) sentimen sejarah, yaitu kembali kepada kaidah-kaidah lama yang dipersepsikan sebagai zaman keemasan yang gemilang; dan d) apabila masing-masing mubalig memasuki masalah akidah.

Daftar Pustaka
A. Muis. Komunikasi Islam. Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
M. Thoyibi, et al. Sinergi Agama dan Budaya Lokal. Cet. I; Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2003.
Liliweri, Alo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Cet. I; Yogyakarta: Lkis, 2003.
Mulyana, Deddy, et al. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang yang Berbeda Budaya. Cet.VII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
M. Natsir. Fiqhu al-Dakwah . Cet. IX; Solo: Ramadhani, 1991.
Mubarak, Achmad. Psikologi Dakwah. Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Mulkhan, Abdul Munir. Ideologisasi Gerakan Dakwah, Episode Kehidupan M. Natsir dan Azhar Basyir. Cet. I; Yogyakarta: SI Press, 1996.
Sidiq, Arfah. Penjelasan pada Kuliah Komunikasi Antar Budaya dan Agama.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: